My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
28. (28)



Anggi buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menutup pintu dan bersandar di sisi pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang. Dia meraba-raba dadanya yang berdegup kencang sambil mengatur nafasnya yang memburu karena banyak berlari. Dia mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya pelan, mengambil nafas panjang lagi dan menghembuskan nya pelan. Hal ini terus-menerus dia ulangi sampai nafasnya tidak berantakan lagi dan dia akhirnya menjadi tenang.


"Mas Adit keterlaluan. Dia sangat pandai berbohong kepada keluargaku. Jika nanti keluargaku tahu bila semua ini hanyalah kebohongan mas Adit saja, aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka." Kataku cemberut.


Aku melepaskan sepatuku di samping rak dan berjalan menuju kasur empuk ku. Begitu menyentuh tempat yang akrab juga asing ini, aku lalu membaringkan diriku sembari menutup mataku untuk mengekstrak semua yang terjadi hari ini.


Kata-kata Adit kepada keluarganya dan semua janji yang Adit ikrar kan di depan keluarganya, Anggi tidak bisa melupakannya begitu saja. Suara itu sangat hidup di dalam kepalanya dan tidak mau menyingkir dari kepala Anggi. Anggi resah dan dia merasa cemas. Tubuhnya tanpa sadar berguling-guling ke sana kemari untuk mencari kenyamanan tapi hatinya tetap tidak bisa ditenangkan.


Lalu muncul sebuah pertanyaan di benaknya,"Tapi bagaimana jika mas Adit tidak berbohong?"


Ada kemungkinan ini di dalam hatinya. Awalnya Anggi masih ragu tapi setelah mengekstrak semua yang dia lewati bersama Adit membuatnya menyadari satu hal bila Adit memiliki sikap yang berbeda bila sedang bersamanya. Adit terkadang lebih banyak bicara bila bersamanya, terkadang dia juga akan tertawa lepas, dan seringkali Anggi mendapati bila Adit banyak tersenyum bersamanya. Senyumannya hangat dan dia juga tidak sedingin yang dikatakan orang-orang. Benarkah?


Mungkinkah dia memiliki peluang bersama Adit?


Mungkinkah dia memiliki kesempatan untuk bersanding dengan Adit melihat semua perhatian dan kehangatan yang Adit berikan kepadanya. Bisakah Anggi melayangkan harapan kepadanya?


"Namun...bila sekelas Bunga saja ditolak oleh mas Adit, lalu bagaimana dengan diriku yang memiliki banyak kekurangan? Hah...tidak, Anggi. Jangan terlalu berharap. Ayo tenangkan dirimu, tenangkan dirimu setenang mungkin. Mungkin saja itu semua hanyalah penilaian kamu sendiri karena terlalu berharap kepada mas Adit." Anggi buru-buru menggelengkan kepalanya menyangkal.


Dia harus menenangkan pikiran beraninya agar tidak membuat masalah untuk dirinya. Setelah merasa lebih tenang, Anggi memutuskan untuk mandiri dan berganti pakaian. Setengah jam kemudian Anggi keluar dari kamar dan menemukan rumah tampak lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya.


Ada tawa anak-anak dimana-mana. Anak-anak sedang bermain dengan Rangga dan tawa mereka begitu renyah di dalam pendengaran Anggi. Lalu ketika dia berpaling ke ruang keluarga, para laki-laki sedang berkumpul di sana. Dari Ayah, Paman, dan Adit tampak sedang mengobrol serius di sana. Anggi tidak bisa ikut campur karena itu adalah urusan laki-laki. Dan dia juga tidak ingin mengganggu dunia anak-anak karena tampaknya Aldi dan Aldo sangat senang bermain dengan Rangga. Yah, Rangga masih remaja dan cukup akrab dengan anak-anak. Di tempat tinggalnya dia terbiasa di upah untuk menjaga anak-anak bila sedang tidak pergi kuli.


Karena dia tidak bisa menganggu pihak manapun, maka Anggi memutuskan untuk pergi ke dapur saja menyusul Ibu dan Bibi yang sedang menyiapkan makanan ringan untuk semua orang.


"Ibu, Bibi, apa yang sedang kalian lakukan?" Anggi masuk ke dalam dapur dan menghentikan acara gosip mereka.


"Eh, Anggi. Kamu sekarang jauh lebih cantik setelah mandi dan ganti baju." Goda Bibi membuat Anggi langsung salah tingkah.


Anggi melambaikan tangannya malu.


"Dia selalu seperti ini kalau digoda." Kata Ibu seraya menepuk pundak Bibi.


"Dia seperti anak gadis yang belum menikah." Goda Bibi lagi.


Ibu tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dia sampai memukul pundak putrinya dengan tawa yang tidak bisa berhenti.


"Ibu, Bibi, hentikan. Jika tidak, aku lebih baik kembali ke rumah nyonya Rein ku saja." Ancam Anggi tidak tahan dengan lelucon para Ibu-ibu.


Di depan mereka berdua Anggi sangat takut bicara. Takutnya apa yang dia katakan disalahpahami jadi lebih baik diam saja atau kalau tidak ganti topik saja agar dia tidak membuat kesalahpahaman yang lain.


"Baiklah... baiklah, tuan putri kita sangat mudah marah." Ibu menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


Anggi memutar bola matanya tidak berdaya dengan kelakuan mereka berdua.


"Apakah Adit sudah makan siang?" Tanya Ibu kepada Anggi.


Harapannya sih Adit lebih baik belum makan saja agar dia bisa makan di rumah ini.


"Belum, Bu. Kami tidak sempat makan siang waktu ke sini." Kata Anggi.


Ibu dan Bibi lantas saling pandang, mereka diam-diam saling melemparkan pemahaman. Bagaimana mungkin Anggi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh mereka berdua?


Dia tahu tapi membiarkannya saja, toh, walaupun dijelaskan juga mereka tidak akan mau mendengarnya.


"Baiklah. Buatkan Adit sesuatu dan kalian bisa makan siang bersama. Khusus untuk anak-anak, Ibu sudah menyiapkan mereka makanan di atas meja. Buka saja tudung saji di atas meja nanti." Ibu memberikan arahan dengan semangat tinggi seolah-olah dia lah yang dibuatkan makanan oleh putrinya.


Anggi mengangguk paham.


"Iya, Bu. Aku akan membuatkan mas Adit makanan. Lalu bagaimana dengan Bibi dan Paman, apakah kalian sudah makan?" Tanya Anggi hangat.


Bibi tersenyum hangat, dia menganggukkan kepalanya kepada Anggi.


"Kami tadi sudah makan bersama Ibu dan Ayahmu, makanannya sangat lezat dan kami semua makan dengan lahap." Kata Bibi malu.


Mereka tidak punya banyak uang jadi tidak pernah berpergian ke tempat makan mewah atau ke restoran untuk membeli makanan yang lezat. Jadi begitu mereka melihat lautan seafood dan aneka daging juga sayuran di atas meja tadi, mereka tidak bisa menahan diri untuk makan banyak. Karena selain semua yang belum pernah mereka lihat tersedia di atas meja, makanan yang tersaji juga enak dan lezat jadi mana mungkin mereka bisa menahan diri untuk tidak makan.


Anggi tahu Bibi orangnya tidak enakkan.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Bibi dan Paman juga Rangga harus makan banyak di sini. Kalau kalian menahan diri, Anggi akan merasa sedih. Jadi makanlah dengan baik di sini dan jangan menahan diri." Kata Anggi dengan kata-kata mengancam.


Bibi menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Keponakannya sangat perhatian dan dia pun merasa lega.


Setelah cukup berbicara, Ibu dan Bibi membawa makanan ringan serta buah-buahan yang telah di cuci bersih kepada orang-orang di luar. Meninggalkan Anggi sendirian di dalam dapur berkutik dengan berbagai macam alat-alat dapur.


Satu jam kemudian Anggi selesai memasak 3 hidangan seafood yang dia ambil dari dalam kulkas. Ibu dan Ayah pagi-pagi tadi langsung pergi ke pasar untuk membeli banyak bahan makanan mulai dari sayuran, segala macam seafood, dan beberapa daging segar dengan jumlah besar. Melihat stok melimpah di dalam kulkas Anggi bisa membayangkan betapa bahagianya Ibu dan Ayah saat mengetahui kerabat dekat mereka akhirnya datang berkunjung karena itulah yang Anggi rasakan hari ini dapat pergi berbelanja di supermarket bersama Adit.


"Hem, wanginya lezat. Aku harap mas Adit menyukainya." Harap ku.


Tapi karena candaan tadi dan kata-kata mas Adit yang belum pasti kebenarannya, Anggi agak canggung memanggilnya untuk makan. Untungnya ada anak-anak di sekitar mereka sehingga rasa canggung setidaknya tidak terlalu terasa.


Anggi lalu memindahnya ke piring saji dan membawanya ke meja makan. Setelah semuanya tersusun rapi, Anggi pergi memanggil anak-anak untuk makan dan tidak lupa juga memaksa Rangga untuk ikut bergabung. Awalnya Rangga menolak tapi karena terus menerus dipaksa Anggi, dia akhirnya mau ikut bergabung. Anggi tahu bila Rangga masih lapar karena diusia Rangga saat ini dia sedang laju-lajunya makan untuk masa usia kedewasaannya. Jadi karena itulah Anggi memaksanya ikut bergabung.


"Terima kasih kak Anggi." Kata Rangga sopan. Tubuh kurusnya terlihat sangat menyedihkan seperti orang yang kekurangan gizi.


Anggi tersenyum, mengusap kepalanya lembut sebelum memintanya ikut bergabung ke meja makan bersama anak-anak.


"Pergi ke meja makan dulu bersama Aldi dan Aldo." Kata Anggi.


"Iya, kak." Rangga lalu membawa anak-anak ke meja makan.


Membantu mereka duduk di kursi dan duduk dengan tertib menunggu kedatangan Anggi.


Beres dengan anak-anak, Anggi dengan ragu-ragu masuk ke ruang tengah untuk memanggil Adit.


"Mas Adit, makanannya sudah siap." Kata Anggi tidak berani menatap Adit.


Adit melihatnya singkat sebelum berbicara kepada para tetua dan izin pergi ke ruang tengah untuk makan.


"Ayo pergi." Kata Adit saat melewati Anggi.


Anggi dengan manut mengikutinya dari belakang. Berjalan beberapa langkah agak jauh dari Adit karena dia masih malu.


"Hari ini kamu memasak apa?" Tanya Adit tampak sangat santai, seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi.


Anggi langsung menjelaskan apa yang dia masak.


Mas Adit menoleh ke belakang menatap Anggi, bibirnya membentuk senyuman simpul sambil berkata,"Lidahku baik-baik saja selama itu kamu." Katanya ambigu.


"Maksud mas Adit?" Anggi mulai meragukan kinerja pendengarannya.


Adit tidak menjawab. Dia tertawa ringan dengan langkah riang menuju meja makan. Di meja makan dia bertegur sapa dengan anak-anak dan Rangga.


Rangga sangat patuh dan tampak sangat pendiam, dia adalah anak yang sopan, Adit menyukai sikap anak ini.


"Lezat. Seperti yang ku harapkan." Kata mas Adit langsung membuat Anggi malu.


Telinga Anggi rasanya agak panas jadi dia diam-diam menyentuhnya.


Saat sedang makan Adit sesekali berbicara dengan Rangga. Dia bertanya apa cita-citanya, apa dia memiliki pekerjaan sekarang, dan apakah dia memiliki bakat. Jawaban Rangga sangat sopan dan terkesan monoton tapi Adit tidak merasa jengkel sebab dia tahu bila anak ini agak segan terhadapnya.


"Apakah kamu pernah bertemu dengan mantan suami Anggi?" Akhirnya pertanyaan ini keluar juga dari mulutnya.


Anggi hampir saja menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya. Dia tidak mengerti mengapa Adit menanyakan ini di atas meja makan. Em, sebenarnya tidak apa-apa. Anggi merasa diperhatikan sejujurnya.


Rangga melirik wajah merah Anggi, tampak agak ragu ingin menjawab apa.


"Aku akan melatih mu untuk sebuah pekerjaan ini. Pelatihan ini memang agak sulit tapi jika kamu mampu dan ingin membanggakan kedua orang tuamu, maka aku pikir kamu pasti melewati nya. Jangan bertanya soal gaji karena siapapun yang bekerja dibawah ku tak pernah protes soal gaji. Kamu akan sangat puas." Melihat keraguannya, Adit segera melemparkannya sebuah Pai besar agar dia menghilangkan semua keraguannya.


Tipe laki-laki seperti Rangga, Adit tahu betul apa yang dia inginkan. Rangga haus akan sebuah ambisi. Dan ambisi itu lahir dari semua penderitaan yang terakumulasi di dalam hatinya. Rangga mungkin ingin menghasilkan banyak uang untuk orang tuanya agar orang tuanya tidak dipandang rendah oleh orang lain di masa depan.


Sementara itu Anggi jelas tercengang dengan tawaran Adit. Dia tidak menyangka bila Adit akan memberikan penawaran besar kepada Rangga untuk sebuah harga informasi. Tapi...Adit melakukan ini untuk mengorek soal mantan suaminya, Anggi ragu bila Adit benar-benar tulus memperkerjakan Rangga.


"Tapi aku tidak punya keahlian apa-apa dan hanya lulusan SMA." Kata Rangga ragu-ragu.


Ini juga yang dipikirkan oleh Anggi.


Adit tersenyum, melambaikan garpu di tangan kirinya santai,"Kamu akan tahu setelah aku melatih mu. Tidak akan ada yang sia-sia di bawah tanganku selama kamu mau bekerja keras." Kata Adit santai.


Rangga goyah. Dia sekali melihat Anggi, tampak ragu-ragu karena ini adalah masalah pribadi Anggi. Anggi melihat kebingungannya dan hanya mengangguk sebagai persetujuan. Toh, dia juga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan mantan suaminya itu.


"Aku sering bertemu dengan mantan suami kak Anggi dulu. Dan karena bantuan kak Rio lah aku bisa bekerja sebagai kuli di beberapa proyek. Kak Rio juga orangnya baik, dia selalu memperlakukan ku dengan baik." Kata Rangga hati-hati sambil menilai perubahan ekspresi Adit.


Tapi Adit tidak marah seperti yang dia takutkan. Bukannya marah dia malah semakin menikmati makan siangnya.


"Oh, kamu harus tahu bila dia tidak sebaik yang kamu pikirkan." Kata Adit tidak banyak bicara.


Rangga juga berpikir begitu karena bila Rio memang orang yang sangat baik lalu kenapa dia menyelingkuhi Anggi dan meninggalkannya pergi?


Karena inilah Rangga agak tidak terlalu menyukai Rio lagi mengingat betapa baiknya Anggi tapi masih ditinggalkan demi wanita lain.


Siang itu makan siang berjalan dengan sangat damai dan nyaman, bahkan para pasangan paruh baya di ruang tengah pun tidak kalah damainya. Mereka membicarakan banyak hal, sesekali tertawa, sesekali tersenyum, dan sesekali merasa sedih ketika mengungkit masa lalu. Untungnya semua telah berlalu dan mereka kini berkumpul dalam keadaan yang lebih baik dan lebih nyaman daripada waktu-waktu sebelumnya.


Lalu pada malam harinya setelah selesai makan malam Paman, Bibi, dan Rangga izin pulang ke rumah tapi Anggi tidak mengizinkan mereka. Anggi tahu bila Ibu dan Ayah kesepian di rumah ini. Jadi dia berinisiatif meminta mereka menetap di rumah ini bersama kedua orang tuanya sementara Rangga akan memulai pelatihan di bawah asuhan Adit.


"Apakah yang Anggi katakan tadi benar? Apakah Rangga akan bekerja di bawah pengawasan Adit?" Paman bertanya kaget, kedua matanya melebar karena kaget.


Dia sangat senang karena putranya mendapatkan pekerjaan apakah pekerjaan yang Adit tawarkan mungkin bukan sembarang pekerjaan. Dia dengar-dengar dari Ibu dan Ayah bila Adit bekerja sebagai asisten pribadi CEO grup Demian. Itu adalah perusahaan yang sangat besar dan tidak bisa dibayangkan betapa cerah masa depan putranya.


"Apa yang aku katakan memang benar, Paman. Aku tidak berbohong." Kata Anggi menegaskan, bibirnya tidak bisa tidak tersenyum melihat tatapan tersentuh Paman.


"Tapi...tapi Rangga hanya lulusan SMA..." Kata Paman ragu.


"Paman jangan khawatir. Rangga akan dilatih langsung oleh bawahan ku. Bahkan walaupun dia hanya lulusan SMA, dia pasti memiliki potensi dan bakat jadi pelatihan ini dilakukan untuk menemukan bakat yang dia miliki." Kata Adit mengambil alih pertanyaan Paman.


Dia menjawabnya langsung untuk menegaskan bahwa dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan.


Paman dan Bibi saling memandang, mata mereka jelas berkaca-kaca hendak menangis.


"Jadi Paman dan Bibi tidak perlu khawatir. Tinggallah di sini bersama orangtuaku karena aku tidak tega meninggalkan kalian sendiri di rumah. Lagipula kedua orang tuaku juga kesepian tinggal di rumah sebesar ini. Mereka tidak bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak ku karena kedua orang tuaku juga membutuhkan waktu untuk membuat diri mereka santai." Kata Anggi terus mendesak mereka untuk tinggal di sini.


Ibu dan Ayah sangat senang karena mereka tidak kesepian lagi. Mereka mendukung keputusan Anggi dan ikut mendesak Paman juga Bibi agar tinggal di sini.


Tidak tahan dengan semua kejutan mereka, Paman dan Bibi akhirnya mengalah. Mereka mau tinggal di rumah ini bersama Ibu dan Ayah.


"Nah, kalau begitu ayo pilih kamar kalian. Rumah ini memiliki banyak kamar jadi aku tidak tahu mana yang cocok untuk kalian." Kata Ibu dengan semangat yang sangat tinggi.


Bibi ragu,"Kami harus tinggal mulai malam ini?"


Ibu mengangguk semangat.


"Tapi bagaimana dengan barang-barang kami?" Tanya Bibi ragu.


Anggi menjawab santai,"Kalian bisa membawanya besok. Aku akan menelpon perusahaan angkut barang agar pergi ke rumah kalian. Besok jika aku diizinkan pergi, aku akan datang membantu kalian untuk membereskan barang-barang." Kata Anggi segera menenangkan pikiran mereka.


"Tidak...tidak, kamu tidak perlu izin. Kami saja sudah cukup melakukannya. Ibu tidak mau kamu mengambil banyak cuti." Kata Ibu tidak setuju.


Keputusan ini juga disetujui oleh yang lain. Jadi diputuskan bila Ibu dan Ayah akan membantu Paman membersihkan rumah setelah mengirim anak-anak ke sekolah. Adit juga telah mengatur orang-orangnya untuk membantu para pasangan paruh baya itu mengangkut barang yang langsung melegakan pikiran semua orang.


Setelah itu para pasangan masuk ke dalam rumah untuk melakukan tur, mengecek kamar satu persatu dan memilih yang paling nyaman untuk Paman juga Bibi. Sementara itu Adit harus pamit pulang karena besok dia memiliki tugas yang harus diselesaikan dari tuan Davin.


Anggi mengantarnya langsung ke depan rumah, ragu-ragu, sebelum Adit masuk ke dalam mobil, Anggi memberanikan diri untuk berbicara.


"Mas Adit jangan berbohong lagi kepada mereka. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa jika suatu hari nanti mereka tahu bahwa mas Adit sebenarnya hanya berbohong." Kata Anggi gugup.


Adit menghentikan tangannya saat membuka pintu mobil.


"Berbohong," Adit berbalik.


Berjalan beberapa langkah ke depan Anggi, dia lalu menyentuh wajah Adit lalu sedetik kemudian sebuah kecupan ringan menyentuh bibir ranum Anggi.


Anggi tercengang. Kepalanya sangat lambat memproses apa yang sedang terjadi di sini hingga suara serak Adit kembali menariknya dari keterkejutan.


"Apakah aku masih berbohong?"


Sebelum Anggi bisa menjawab, Adit lebih dulu masuk ke dalam mobil,"Selamat malam, Anggi."


Anggi dengan kaku menjawab,"Selamat malam, mas Adit."