My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
42. (42)



"Kamu terus melihatnya tadi. Jika bukan karena dia tampan, lalu apakah ada alasan lain?" Suara Adit menarik Anggi dari lamunannya.


Anggi segera tersenyum malu karena tertangkap basah sedang memandangi laki-laki lain. Namun perilaku Adit sekarang mengingatkannya pada tingkah laku orang yang sedang dirundung rasa cemburu. Apakah iya?


"Ada, mas. Aku merasa bila laki-laki tadi agak tidak asing. Siapa dia, mas?" Tanya Anggi seraya menaruh paper bag yang dia bawa ke atas meja.


Berhubung Adit hanya memiliki waktu satu jam untuk sarapan, maka Anggi tidak membuang waktu lagi. Dia segera mengeluarkan sarapan yang sudah dia siapkan untuk pagi ini dan mengesampingkan makanan yang akan Adit makan untuk makan siang nanti. Kedua tangannya bergerak cepat menyajikan makanan dan minuman di atas meja tanpa menyadari tatapan dalam Adit terhadapnya.


Adit berdiri di sampingnya tanpa bergerak. Kelopak matanya berkedip ringan memandangi setiap gerakan tangan Anggi yang sangat telaten hingga matanya jatuh pada jari manis Anggi yang telah lama tidak dilingkari cincin sakral. Adit menatapnya sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya menatap makanan lezat yang telah Anggi buatkan untuknya. Bau masakan itu tercium sangat lezat dan menggugah selera. Dampak visualnya semakin diperparah tatkala matanya menangkap kepulan asap ringan yang menguap dari setiap hidangan yang menunjukkan bahwa makanan ini baru saja di buat khusus untuknya.


"Mas?" Panggil Anggi bingung melihat Adit yang diam membisu.


"Terima kasih. Wanginya sangat lezat." Akui Adit tidak berbohong.


Anggi rasanya ingin melambung tinggi mendengar pujian langsung Adit kepadanya. Pipi putihnya mengembangkan rona merah yang manis tanpa bisa Anggi hentikan. Rona merah di pipinya membuat senyuman malu-malu Anggi terlihat lebih manis dan tampak jinak.


"Aku sengaja membuatkan mas Adit bubur ayam untuk sarapan pagi ini." Kata Anggi seraya meremat kuat dress selutut nya.


Adit sering melewatkan waktu makan karena terlalu sibuk bekerja selama beberapa hari ini. Anggi rasa perut Adit pasti tidak akan sanggup langsung memakan makanan keras dan berminyak jadi di antara banyak pilihan dia akhirnya memutuskan untuk membuat bubur ayam yang lebih mudah dicerna perut daripada makanan yang lain.


"Yah, kebetulan sekali aku dari kemarin ingin makan bubur ayam buatan kamu." Kata Adit membuat Anggi langsung tersipu.


Adit menekan bahu Anggi untuk duduk di sofa bersama dirinya. Dia mengambil mangkuk bubur dengan porsi besar yang memiliki wangi yang sangat lezat. Di piring-piring lainnya tersedia berbagai macam pelengkap bubur yang bisa Adit tambahkan sesuka hati seperti suwir ayam, bagian ayam goreng yang masih utuh, bawang goreng, daun bawang, telur goreng, dan telur rebus.


"Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Adit kepada Anggi.


Anggi dengan jujur menggelengkan kepalanya. Dia belum sarapan tadi pagi karena terlalu gugup dan sibuk menyiapkan makanan untuk Adit. Rencananya dia ingin gabung sarapan bersama Adit hari ini. Tapi dia malu mengatakannya.


"Ayo sarapan bersama. Porsi ini terlalu banyak untukku." Adit menggeser mangkuk bubur itu diantara mereka berdua.


Anggi tercengang menatap mangkuk bubur diantara mereka berdua. Beberapa detik kemudian dia langsung bereaksi mengambil set alat makan lain dari tas paper bag.


"Terima kasih, mas." Kata Anggi seraya menundukkan kepala pura-pura serius mencari satu set alat makan di dalam tas paper bag.


"Kami ngapain?" Tanya Adit polos.


"Mau ambil mangkuk baru, mas." Kata Anggi.


Kening Adit mengkerut tampak tidak senang. Dia jelas memiliki itikad baik barusan dengan menggeser mangkuk bubur ke tengah. Tidakkah Anggi menangkap maksud hatinya yang ingin mereka makan berdua tanpa ada mangkuk tambahan?


"Enggak perlu ambil mangkuk baru. Kita bisa makan bubur ini bersama-sama." Adit menarik tangan Anggi agar jangan nakal.


Anggi tersipu malu. Wajahnya yang merona terasa panas dan mengembang. Bila Adit tidak berada sedekat ini dengannya maka mungkin kedua tangannya pasti telah memegang pipinya yang bengkak dan panas, memegangnya untuk mendinginkan panas yang tersisa. Tapi ada Adit di sampingnya jadi dia tidak mungkin melakukan tindakan itu. Untuk menutupi wajah panas dan bengkaknya, dia tidak punya cara selain menundukkan kepalanya agar tidak diperhatikan oleh Adit.


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Anggi ragu-ragu.


Adit mengangguk acuh tak acuh tapi sikapnya tidak sedingin sebelumnya. Dia kali ini jauh lebih hangat dan mudah didekati daripada beberapa saat yang lalu.


"Aku yakin memintamu." Kata Adit santai.


Adit memberikan sendok ditangannya ke Anggi lalu mengambil sendok lain dari dalam tas paper bag untuk dirinya sendiri. Setelah itu Adit duduk dengan patuh menatap makanan di atas meja. Menunggu Anggi melengkapi bubur di dalam mangkuk.


Anggi melihat diamnya. Awalnya dia tidak mengerti tapi saat matanya menangkap wajah serius Adit melihat bawang goreng dan kawan-kawan di atas meja, Anggi rasanya ingin menepuk jidatnya panik. Dia lalu mengambil mengambil daun bawang dan bawang goreng untuk ditaburi di atas bubur. Kemudian dia bertanya untuk toping bubur yang lainnya.


"Telur goreng atau telur rebus, mas?" Tanya Anggi kepada Adit.


Adit menatap telur rebus dan telur goreng dengan ekspresi serius seolah-olah sedang mengahadapi proyek besar yang sangat sulit. Jujur saja ekspresi Adit terlihat sangat lucu saat ini. Anggi tidak bisa menahan senyum di bibirnya.


"Kamu suka yang mana?" Tanya Adit kepada Anggi.


Anggi tanpa ragu akan mengatakan telur rebus. Sebenarnya dia suka dua-duanya tapi khusus pagi ini dia kira makan telur rebus agak cocok dengan suasana saat ini.


"Kalau begitu dua-duanya." Kata Adit memutuskan.


Anggi menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan tindakan imut Adit. Melihat tingkahnya saat ini sudah seperti tingkah anak-anaknya.


"Lalu mas Adit suka yang mana, ayam suwir atau ayam goreng?" Tanya Anggi lagi.


Ketika Anggi berbicara, Adit tiba-tiba tertarik dengan bibir ranum Anggi yang memiliki warna merah muda menggoda. Adit menebak bila Anggi tidak menggunakan lipstik karena warnanya terlihat jauh lebih ringan dan manis dibandingkan biasanya. Dagingnya yang ranum bagaikan kelopak bunga mawar yang merekah segar di pagi hari, ada daya tarik tersendiri ketika kelopak bunga mawar itu bergerak di bawah ayunan lembut angin. Seolah-olah menggoda saraf orang yang melihatnya untuk segera memetiknya dan merasakan betapa lembutnya kelopak bunga itu.


Anggi bingung karena Adit tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Dia pikir Adit mungkin tidak mendengar suaranya jadi dia bertanya lagi.


"Mas Adit suka yang mana?" Tanya Anggi kepada Adit.


Namun Adit masih belum kunjung menjawab pertanyaannya. Anggi heran. Dia lalu mengangkat kepalanya dan melihat Adit dengan rasa ingin tahu sembari bertanya.


"Mas Adit suka suwir ayam atau-" Belum selesai dia berbicara, dagunya tiba-tiba ditarik oleh Adit dengan tangan kiri sedangkan tangan lainnya meraih tengkuk Anggi, menekannya dengan satu nafas lalu sedetik kemudian sebuah sentuhan hangat menyentuh permukaan bibirnya.


Anggi sangat terkejut dan tak sempat bereaksi karena setelah itu bibir Adit tiba-tiba menyentuh bibir bawahnya, menggigit daging bibir Anggi yang ranum dan menggoda.


"Ugh..." Ada rasa sakit yang timbul dari bibir bawahnya.


Adit hanya menggigitnya sebentar karena setelah itu dia segera menjauh saat mendengar suara ringisan Anggi. Dia melepaskan daging bibir Anggi, menjauh beberapa sentimeter dari bibir Anggi. Dari jarak sedekat ini Anggi bisa merasakan nafas hangat Adit menerpa wajahnya. Jaraknya begitu dekat sampai-sampai Anggi bisa melihat wajah tampan Adit yang telah Tuhan ciptakan dengan sentuhan keindahan yang sangat mendebarkan.


Suara detak jantungnya bergema panik di dalam dadanya. Membuat darahnya berdesir nyaman merasakan kehangatan yang disebarkan oleh pembuluh darah di dalam tubuhnya.


"Manis." Bisik Adit melihat wajah merah Anggi yang masih shock sebelum beralih menatap bibir ranum Anggi.


Matanya tertuju dengan bangga pada luka yang telah dibuat oleh gigi tangguhnya. Luka itu berdarah ringan dan meninggalkan jejak bengkak di daging bibir bawah Anggi. Dan dia semakin bangga saat memikirkan mata-mata yang tertuju melihat bibir Anggi nanti. Mereka pasti menebak bila Anggi sudah memiliki kekasih karena bibirnya telah ditandai oleh orang lain. Dan laki-laki itu tiada lain dan tiada bukan adalah Adit sendiri, asisten pribadi Davin Demian yang terkenal berwajah dan berhati dingin terhadap perempuan.


"Aku suka ini.." Bisik Adit seraya mengecup ringan bibir Anggi singkat sebelum melepaskan Anggi.


Melihat tanda bengkak berdarah di bibir bawah Anggi, Adit lalu terkekeh ringan. Dia lalu menatap bubur di atas meja yang sempat dia abaikan karena sibuk menyentuh kelopak bunga mawar ranum yang telah menggoda saraf waras di dalam kepalanya.


"Aku suka suwir ayam dan aku juga suka ayam goreng. Jadi ambil dua-duanya saja." Kata Adit dalam suasana hati yang baik.


Dia menyendok suwir ayam dan nenaburi nya di atas bubur. Lalu dia mengambil piring ayam goreng, menggesernya di dekat mangkuk bubur agar bisa diambil oleh mereka berdua.


"Ayo makan." Ajak Adit seraya melihat Anggi yang berwajah lebih merah dari sebelumnya.


Hem, wajahnya sudah seperti kepiting rebus saja saling merahnya. Adit senang melihatnya terlebih lagi dialah orang yang membuat pipi Anggi memerah.


"Kenapa diam saja? Ayo makan." Ajak Adit lagi.


Anggi tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum malu dan buru-buru menundukkan kepalanya untuk mengindari tatapan panas Adit. Dia menunggu Adit bergerak mengambil bubur sebelum ikut menyendok bubur. Mereka sarapan dalam suasana yang aneh dan canggung. En, meskipun begitu rasanya masih begitu damai dan nyaman. Anggi jelas menyukai suasana ini sekalipun mereka tidak berbicara sedikit pun.


"Laki-laki di luar adalah asisten pribadi ku di perusahaan dan di luar perusahaan. Jadi tentu saja kamu akan melihatnya berbicara dengan ku di luar. Namanya Dino, di sudah memiliki kekasih jadi kamu tidak punya jalan untuk mendekatinya." Kata Adit dengan nada bercanda.


Anggi langsung panik mendengarnya. Dia menggelengkan kepalanya serius membantah apa yang baru saja Adit katakan.


"Aku tidak memiliki niat apa-apa kepadanya, mas. Aku hanya merasa dia tidak asing saja." Kata Anggi serius.


Melihat tingkah lucu Anggi, Adit lantas tertawa keras. Suara tawanya begitu renyah di dalam pendengaran dan wajah lembut tanpa sentuhan datar itu, Anggi langsung terpesona melihatnya. Hem, kelembutan ini sama seperti saat Adit tiba-tiba menarik dagunya dan menekan tengkuknya dengan tangan lain, lalu setelah itu disusul dengan sentuhan lembut-


Ah, apa yang baru saja aku pikirkan?! Batin Anggi malu.


Dia buru-buru menundukkan kepalanya tidak berani menatap Adit langsung. Takutnya Adit melihat apa yang baru saja dia pikirkan tadi. En, dia masih belum bisa melupakan ciuman tadi. Dia tidak bisa melupakan bagaimana rasanya gigi tajam Adit menyentuh daging bibirnya, menekannya hingga menciptakan tanda bengkak di sana. Sensasi itu terlalu menggoda dan sangat penting untuk Anggi. Yah, dia selalu seperti ini. Padahal dia sudah dewasa dan pernah mengalami hal ini namun reaksinya tidak sedalam ini.


Em, mungkin benar apa yang orang-orang katakan jika melakukannya bersama orang yang dicintai sensasi nya akan jauh lebih dalam dan menyentuh hati. Anggi jelas merasakannya sendiri bila reaksinya tidak seperti bila mantan suami menyentuhnya seperti ini dan dia bahkan memiliki reaksi kebencian saat Revan dulu menyentuhnya seperti ini. Dia tidak memiliki reaksi sedalam dan semanis yang dia rasakan ketika bersama Adit. Mungkinkah Adit adalah orang yang dia inginkan jauh dari dalam hatinya yang terdalam karena mantan suaminya pun tidak meninggalkan efek sejauh ini ke dalam dirinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Adit tiba-tiba melihat diamnya Anggi.


Anggi tidak berbicara ataupun menggerakkan sendok makannya, jelas sedang memikirkan sesuatu.


"Itu...mas..." Wajah Anggi terasa panas lagi.


Dia tidak mungkin mengatakan isi hatinya kepada Adit karena itu sama saja mengakui perasaannya. Sedangkan sampai sekarang dia tidak tahu apa hubungannya dengan Adit walaupun mereka sudah dua kali berciuman.


Anggi pikir mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih karena Adit tidak mungkin menciumnya dua kali apalagi sampai menggigitnya jika tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan. Hanya saja...hanya saja Adit masih belum menyatakan perasaannya yang membuat Anggi sangat ragu.


"Kenapa?" Tanya Adit tidak bisa melihat ekspresi ragu di wajah Anggi.


"Aku memang sudah menyiapkan makan siang untuk mas Adit. Tapi apa aku boleh memasakkan mas Adit makan malam untuk malam ini?" Anggi langsung menggeser topik pembicaraan.


Adit sudah tahu ada makan siang untuknya di dalam tas paper bag yang sudah Anggi siapkan dari pagi ini. Dan sudah memiliki rencana untuk malam ini akan makan apa.


"Tidak perlu." Kata Adit seraya menyuap sesendok besar bubur ke dalam mulutnya. Dia makan dengan lahap dan cepat karena sudah lama ingin makan bubur buatan Anggi.


Anggi senang melihatnya melahap bubur buatannya dengan semangat tinggi karena dia sendiri sudah kehilangan nafsu makannya setelah dicium oleh Adit.


Ah, dia sangat gugup sampai-sampai memegang sendok saja tangannya gemetaran.


Namun saat mendengar jawaban singkat Adit, dia sangat kecewa karena tidak bisa bertemu lagi dengan Adit. En, setelah ini dia ragu kapan mereka akan bertemu lagi.


"Kamu tidak perlu memasak malam ini karena kita akan malam di sebuah restoran yang sering ku kunjungi dengan keluargaku bila ada waktu luang." Kata Adit langsung menghilangkan kekecewaan Anggi.


Makan malam ke restoran yang sering dikunjungi Adit dengan keluarganya?


Anggi langsung menjadi gugup. Apakah mereka akan makan malam dengan keluarga Adit malam ini?


Begitu cepat?


Anggi tidak pernah memikirkan skenario ini datang begitu cepat. Dia pikir mereka akan melewati beberapa proses dulu sebelum masuk ke tahap ini.


"Kita...kita akan makam malam bersama keluarga mas Adit?" Tanya Anggi gugup.


Dia sangat gugup. Kedua tangannya tidak bisa diam dan mulai saling meremat saking gugupnya. Bagaimana mungkin dia tidak gugup?


Dia akan bertemu keluarga Adit, catat! Dia akan makan malam bersama dengan keluarga Adit.


Lalu haruskah dia memakai gaun yang indah malam ini agar tidak terlihat memalukan di depan keluarga Adit?