
Rein menghela nafas panjang menahan resah. Dia lalu menaruh ponselnya di atas meja rias sebelum keluar dari kamar Davin setelah memperbaiki ekspresi di wajahnya.
"Aska, malam ini kamu-" Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika melihat di meja makan tidak hanya ada Aska seorang tapi juga ada Tio.
Entah sejak kapan Tio bangun dan dan keluar dari kamar, Rein tidak mendengar suara apa pun dari kamar Davin. Biasanya Tio akan berteriak memanggilnya bila bangun tidur tapi kenapa kali ini ia tidak melakukannya?
Oh, mungkin saja Rein tidak mendengarnya karena terlalu sibuk berbicara dengan Davin.
Tapi masalahnya bukan hal ini yang menarik perhatian Rein. Dia berdiri tercengang di tempat ketika melihat Aska dan Tio saat ini sedang duduk berhadapan di atas meja makan dengan wajah datar yang seharusnya tidak dimiliki seorang anak kecil.
Melihat wajah datar membisu mereka, Rein seolah-olah kembali pada tahun-tahun di SMA ketika ia dan Davin belum berpacaran ataupun saling mengenal.
Saat itu Davin selalu menggunakan wajah datar ini di sekolah, memberikan kesan laki-laki yang tidak mudah di dekati dan menjadi idola banyak gadis di sekolah.
Bertahun-tahun telah berlalu dan sekarang Rein melihat ekspresi itu kembali di wajah kedua anak ini.
"Mom, aku tidak suka anak ini." Kata Aska sambil menunjuk Tio dengan ekspresi datar di wajahnya.
Nada suaranya sarat akan cemoohan- yang mana hal ini membuat Rein semakin kebingungan. Dia bertanya-tanya pendidikan apa yang didapatkan Aska selama ini sehingga membuatnya menjadi orang yang tidak bersahabat-
"Mom, aku juga tidak menyukainya."
Belum selesai lamunan Rein merambat, suara ketidaksenangan Tio menariknya dari fokus lamunan. Ia menatap Tio tercengang, muncul perasaan tidak rela di dalam hatinya saat melihat sikap maupun nada tidak suka Tio memiliki kemiripan dengan Aska, anak laki-laki berwajah datar yang kini tengah menatap Tio dengan kedua mata melotot.
"Siapa yang kamu panggil Mommy?! Mommy adalah Mommy ku dan Mommy bukanlah Mommy kamu!" Teriak Aska mengklaim dengan rasa dominasi.
Aska tidak rela bila Rein juga dipanggil Mommy oleh Tio karena baginya Rein hanya memiliki satu putaran dan itu adalah dirinya, Aska!
Sedangkan Tio, dia hanya mengaku-ngaku saja dan Aska sungguh tidak menyukainya!
"Enggak boleh! Mommy adalah Mommy Tio! Mommy Tio bukan Mommy kamu!" Tio juga menyuarakan ketidak relaannya.
Kedua mata besarnya menatap Aska tajam, pemandangan ini seharusnya tampak lucu dan menggemaskan karena ekspresi datar Tio perlahan terkikis digantikan oleh ekspresi menyedihkan nan teraniaya.
"Mommy adalah Mommy Tio!" Katanya menahan isak tangis.
Padahal jelas-jelas sudah ada air mata yang kini mengalir lancang dari sudut matanya.
Rein tersentuh, dia buru-buru mendekati Tio, duduk berlutut di samping kursi putranya dan dengan lembut mengusap wajah gembil nya yang menggemaskan minta dicubit.
Setelah didekati Rein, suasana hati Tio kembali membaik. Dia senang karena Rein lebih perhatian kepadanya daripada kepada Aska.
"Tio jangan nangis lagi yah-"
"Hiks... Mommy, jahat! Mommy udah gak cinta lagi sama Aska!" Suara isakan Aska mengintrupsi ucapan Rein.
"Jangan nangis, okay. Sini peluk Mommy dan adik kamu." Rein berusaha membujuk.
Dia mencoba menarik Aska ke dalam pelukannya. Meskipun Aska masih kecil dan kurang lebih memiliki tinggi yang sama dengan Tio, tapi Rein yakin bila usia Aska jauh lebih tinggi daripada putranya, Tio.
"Mom?" Tio menatap bingung Aska.
Aska di seberang sana tampak ragu-ragu turun dari kursinya ingin mendekati Rein. Dia tidak suka Tio tapi dia tidak mau jauh dari Rein. Dia mencintai Rein, dia ingin dipeluk oleh Rein sama seperti bagaimana Rein memeluk Tio. Dia juga ingin merasakan perasaan hangat itu.
"Dia adalah adikku?" Tanyanya tidak percaya.
Pasalnya Davin tidak pernah mengatakan bila dia telah memiliki seorang adik- yang terlihat sangat menyebalkan.
"Benar, sayang. Tio adalah adikmu, anak Mommy juga sama seperti dirimu." Bujuk Rein sembari menjangkau tangan basah Aska.
Aska tidak menolak, berjalan patuh masuk ke dalam pelukan hangat Rein. Dia memeluk Rein kuat, kedua matanya secara alami terpejam merasakan usapan lembut di pipi basahnya. Benar, Rein masihlah Mommy nya, Ibu yang telah melahirkannya. Aska sangat merindukan Rein.
Setelah melalui waktu-waktu sulit, malam pun datang. Rein sangat sibuk memasak dan menyiapkan kue lezat untuk kedua putranya yang masih belum akur. Meskipun tidak akrab tapi mereka berdua dengan patuh mendengarkan apa yang Rein katakan sampai akhirnya mereka tidur di dalam kamar Rein. Tidak ada yang mau mengalah, tangan-tangan kecil mereka dengan erat memeluk Rein. Membuat Rein kewalahan menghadapi perang dingin di antara mereka berdua.
"Davin belum mengangkat telpon dariku, sepertinya dia sangat sibuk." Bisik Rein saat menatap layar ponselnya yang menunjukkan id kekasihnya.
Dia sudah beberapa kali mencoba menelpon tapi Davin tidak kunjung mengangkat telpon darinya. Padahal biasanya Davin adalah orang pertama yang menghubunginya tapi untuk pertama kalinya, malam ini Davin tidak melakukannya.
Ting~
Pesan masuk ke dalam ponselnya. Itu dari Davin, orang yang coba ia hubungi beberapa kali.
Sayang maaf, hari ini aku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menghubungi mu. Nanti setelah semua pekerjaanku selesai aku akan menghubungimu. I love you, Rein.
Rein menghela nafas panjang. Seperti dugaannya, Davin pasti sangat sibuk di ujung sana. Rein tidak ingin membuatnya kesulitan jadi dia buru-buru membalas.
Tidak Davin, jangan pikirkan aku. Luangkanlah waktu mu untuk beristirahat nanti dan hubungi aku setelah semuanya baik-baik saja. Aku merindukanmu, Dav.
Rein awalnya ingin mengetik 'I love you too' tapi rasanya agak canggung sehingga ia memutuskan untuk mengetik kata-kata yang lain saja.
Setelah mengirim pesan Rein menaruh ponselnya di atas nakas, menarik selimut hangat untuk kedua putranya sebelum ikut memejamkan mata terbang ke dunia mimpi.
...🍃🍃🍃...
Dua hari berlalu dengan cepat- atau mungkin sedikit lambat untuk Rein pribadi. Untungnya Aska dan Tio mulai akrab untuk satu sama lain. Mereka sering menghabiskan waktu di depan tv untuk menonton film animasi yang sama, duduk di meja belajar untuk belajar bersama-sama, saat Rein sering mendengarkan celotehan mereka berdua mengenai sebuah pelajaran. Karena Aska lebih besar dan lebih dulu bersekolah, maka dia mengajarkan Tio dengan beberapa pelajaran yang ia ketahui dengan ekspresi datar di wajahnya. Lalu setelah sesi belajar, mereka akan makan bersama dengan celotehan topik yang sejujurnya terdengar sangat sepele untuk Rein pribadi.
Tapi ini adalah dunia anak-anak, Rein sudah dewasa dan tidak bisa menyamakannya.