My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
227



"Sudah 11 tahun berlalu. Aku tidak menyangka bila hubungan kita sudah sampai sejauh ini." Ucap Davin dengan nada nostalgia.


Rein tersenyum lembut,"Jangankan bisa melewati waktu sejauh ini, memikirkan anak-anak saja aku belum berani, Mas. Tapi lihatlah apa yang Tuhan siapkan untuk kita berdua. Ada anak-anak yang menghidupkan rumah kita dengan suara canda dan tawa mereka, ini adalah salah satu anugrah Tuhan yang paling berharga." Balas Rein tidak lepas dari senyuman lebar apalagi ketika memikirkan anak-anaknya yang kini tengah tinggal di rumah Adit.


Khusus malam ini dia meminta Adit mengamankan anak-anak dulu karena dia ingin menghabiskan malam-malam penuh romantis bersama suaminya.


"Hem, ini adalah anugrah dari Tuhan. Dan tahukah kamu anugrah dari Tuhan mana yang paling penting buat aku di dalam hidup ini?" Tanya Davin langsung menatap kedua bola mata Rein yang berbinar terang.


Rein tersipu malu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua mata gelap Davin. Seolah-olah mata Davin menguncinya, menyeretnya ke suatu tempat yang mengikat seperti penjara tapi bukan penjara karena dia sama sekali tidak sesak atau merasa tidak nyaman di dalamnya. Bukannya tidak nyaman, tapi dia malah merasa tenang dan santai. Itu karena orang yang menatapnya adalah Davin Demian, kekasih sekaligus suami tercintanya.


"Tahu, ini aku kan?" Jawab Rein percaya diri.


Davin tersenyum lebar,"Bukan.."


Senyum di wajah Rein langsung menguap. Dia sangat malu karena terlalu percaya diri. Tangannya yang memegang Davin menggeliat ingin membebaskan diri tapi Davin mengeratkan genggaman tangannya di tangan sang kekasih.


"Tapi ini benar-benar kamu... Rein Xia." Sambung Davin lagi membuat Rein perlahan-lahan berhenti meronta.


Rein malu,"Mas Davin bohong..." Dia sudah terlanjur malu.


Davin tertawa kecil,"Aku tidak berbohong. Ini benar-benar kamu. Sejak ada kamu, hidupku jauh lebih lengkap dan semakin sempurna, apalagi ada anak-anak di antara kita. Tapi jujur, bahkan tanpa anak-anak aku akan selalu bahagia bila bersama kamu. Tanpa kamu mungkin aku akan menjadi orang yang bengis dan tidak berhati, itulah yang Adit katakan kepadaku ketika aku kehilangan kamu."


Itu adalah masa-masa yang paling berat untuk mereka berdua dan Rein mengerti bagaimana perasaan kekasihnya saat itu.


"Mas Davin... sekarang kita sudah bersama. Tidak ada lagi yang memisahkan kita kecuali Tuhan." Kata Rein membalas genggaman erat tangan suaminya.


Ini adalah malam yang membahagiakan dan bukan malam sesi curhat-curhatan jadi Rein langsung mengubah topik pembicaraan agar Davin tidak terlalu mengenang masa-masa pahit mereka berdua.


"Aku punya hadiah untuk Mas Davin." Kata Rein seraya beranjak dari tempatnya.


Dia mengambil sebuah kotak persegi panjang dari dalam lemari pakaiannya dan meletakkan kotak itu atas meja makan mereka.


"Apa isinya?" Tanya Davin penasaran seraya menyentuh kotak itu.


Dari bentuknya ini sudah pasti bukan jam tangan ataupun sesuatu yang berhubungan dengan perhiasan karena kotak ini sangat ringan, mungkin bisa dikatakan kosong saking ringannya. Saat di goyangkan pun tidak ada suara ataupun pergerakan benda di dalamnya yang cukup sulit untuk ditebak Davin.


"Buka saja, Mas. Nanti juga Mas Davin tahu kok." Kata Rein santai.


Rein memperhatikan ekspresi kekanak-kanakan suaminya yang sangat penasaran dengan kotak hadiah yang telah dipersiapkan untuknya. Dengan wajah kebingungan Davin lalu menarik pita kotak persegi panjang tersebut dan membuka kotak, dan lihatlah apa yang ada di dalamnya. Sebuah amplop biru khas rumah sakit di kota tempat mereka tinggal.


"Rein?" Jantung Davin berdebar kencang menatap amplop biru itu.


Segala pemikiran menyerbu kepalanya namun hanya satu yang terus bergema di dalam hatinya, ini...


Padahal kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca dan terasa perih. Air matanya akan jatuh jika dia tidak menahan diri sekuat tenaga.


Dengan tangan gemetaran Davin mengambil amplop biru itu, menyentuh permukaannya dengan hati-hati sebelum membukanya, merusak segel rumah sakit dan menarik keluar selembar kertas putih yang telah dinodai tinta biru dan terlipat dengan rapi.


Srek


Bunyi kertas itu terdengar sangat nyaring di telinga Davin. Perlahan-lahan tinta hitam yang telah menodai kertas putih itu mulai memasuki mata gelap Davin.


Satu detik telah berlalu.


Dua menit telah berlalu dan Davin masih menatapnya.


Tujuh menit telah berlalu, tapi Davin tidak kunjung mengalihkan pandangannya dari kertas putih tersebut.


Sembilan menit telah berlalu tanpa reaksi apapun dari Davin.


Rein bingung dan ingin menegurnya, tapi belum sampai dia membuka mulutnya, Davin lebih dulu membuat gerakan besar. Dia tiba-tiba bangun dari duduknya dan datang menghampiri Rein. Rein pikir dia akan digendong oleh suaminya tapi perkiraannya salah karena Davin tidak menggendongnya melainkan hanya memeluk pinggangnya. Tiba-tiba duduk berlutut di atas lantai yang telah dilapisi karpet, Davin segera menguburkan wajahnya di atas perut Rein yang masih datar tanpa lemak, mengecupnya berkali-kali dengan kebahagiaan terpendam di dalam hatinya.


Perut Rein memang terlihat datar tanpa lemak, tapi ketika wajah Davin menyentuhnya, dia bisa merasakan bila perut bagian bawah Rein sudah agak menggembung. Tidak besar, hanya lekukan samar yang tidak akan terlihat jika tidak disentuh.


"Mas Davin, selamat kamu akan kembali menjadi Ayah dan memiliki tambahan anggota keluarga lagi." Kata Rein ikut bahagia.


Dia mengusap puncak kepala suaminya, mengelusnya ringan untuk menenangkan kegembiraan suaminya.


"Mas Davin?" Panggil Rein ragu.


Bajunya tiba-tiba basah dan Rein curiga bajunya basah karena suaminya menangis. Tapi apa, iya?


Tapi semakin mustahil lagi bila Rein berpikir bajunya basah karena air liur Davin. Ini benar-benar mustahil kan?


"Mas Davin, lihat aku!" Suaminya tidak merespon jadi Rein terpaksa mengangkat wajah suaminya agar mendongak menatapnya.


"Jangan menangis, Mas..." Hati Rein langsung sakit melihat air mata suaminya yang telah membasahi sebagian besar wajah suaminya.


Davin tersenyum, menggelengkan kepalanya dengan putus asa untuk menunjukkan jika dia baik-baik saja.


"Aku hanya... sangat bahagia Rein..." Kata Davin mengakui.


Rein mengerti perasaannya, jadi dia hanya diam mendengarkan setiap kata-kata yang ingin suaminya ucapkan.