My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
207



Sesampai mereka di rumah, mereka menemukan jika anak-anak sudah tertidur di sofa ruang tamu. Rupanya mereka ketiduran karena terlalu lama menunggu kepulangan Rein dan Davin yang tidak kunjung pulang. Karena terlalu lama menunggu dan kelelahan bermain, anak-anak kehabisan energi dan mulai mengantuk. Mereka pada akhirnya tertidur di sofa. Untung lah Davin mengintruksikan salah satu bodyguard pribadinya untuk mengawasi anak-anak saat mereka pergi ke acara makan malam di rumah utama tadi. Jika tidak, Rein mungkin tidak akan tenang selama acara tadi.


"Aku akan membawa anak-anak masuk ke dalam kamar." Kata Davin dalam suasana hati yang sangat baik.


Hatinya langsung menghangat saat melihat wajah-wajah damai anak-anaknya. Semua rasa lelah dan jenuhnya segera tersapu oleh pemandangan hangat ini. Dan bibirnya tidak bisa tidak menarik garis senyuman untuk pemandangan hangat ini.


"Malam ini kita akan tidur dengan anak-anak?" Rein bertanya geli.


Pasalnya Davin adalah orang yang posesif jika menyangkut Rein. Anak-anak pun tidak lepas dari sikap posesifnya ini. Untuk menjauhkan anak-anak dari Rein agar mereka tidak terlalu lengket, Davin akan menggunakan berbagai macam alasan untuk menipu mereka berdua. Seringkali, dia akan menggunakan alasan kakinya yang sakit agar anak-anak tidak tidur di kamar yang sama dengan mereka berdua. Dan karena anak-anak masih polos untuk melihat penipuan Davin, mereka secara alami akan menyetujuinya dengan enggan, membiarkan Rein dan Davin berada di kamar yang sama sedangkan mereka berdua di kamar yang lain.


"Yah, hanya malam ini saja." Kata Davin bermurah hati.


Rein sontak tertawa mendengarnya. Dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya dan tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk menanggapi betapa posesifnya Davin kepadanya.


Rein cukup senang tapi agak kasihan dengan anak-anak yang harus menjadi korban.


"Baiklah, aku akan menyiapkan selimut anak-anak dulu." Kata Rein sembari berjalan menjauh dari ruang tamu.


Dia pertama-tama kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah itu dia pergi ke kamar anak-anak untuk mengambil selimut baru yang sengaja Rein siapkan di dalam lemari sebagai cadangan jika sewaktu-waktu mereka jatuh sakit atau selimut mereka kotor.


Selesai mengambil selimut dan merapikannya di atas ranjang, Rein sekali lagi keluar dari kamar dan masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan sederhana yang paling cepat dimasak. Kebetulan dia dan Davin tidak makan dengan baik saat di rumah utama karena situasinya benar-benar menegangkan saat itu. Untuk menebusnya Rein memasak hidangan sederhana yang disukai oleh Davin dan juga dirinya.


"Dav?" Rein pergi ke ruang tamu tapi tidak menemukan Davin maupun anak-anak.


Sepertinya Davin sudah membawa anak-anak ke kamar mereka. Maka dia langsung pergi ke kamarnya dan Davin.


Cklack


Dia membuka pintu seringan mungkin agar tidak mengganggu tidur anak-anak.


"Davin?" Panggilnya dengan volume suara yang kecil.


Dia melihat ke dalam, di atas ranjang kedua putranya sudah dibaringkan dengan manis oleh kekasihnya. Namun ada yang salah ketika melihat posisi tidur anak-anaknya. Mengapa Davin membaringkan anak-anak ke posisi ranjang yang paling pinggir?


Jika anak-anak terlalu banyak bergerak mungkin dia akan jatuh ke lantai.


"Davin, kamu dimana?" Rein masuk ke dalam.


Rein pikir kekasihnya sedang berganti baju di ruangan rias jadi dia tanpa ragu membawa kakinya menuju ruang rias. Akan tetapi pikirannya segera berubah saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Davin sedang mandi.


Tok


Tok


Tok


"Kenapa, Rein?" Suara Davin dari dalam kamar mandi.


"Itu...aku sudah menyiapkan makan malam di luar. Jadi pergilah ke meja makan jika kamu sudah selesai mandi."


"Oke, aku akan keluar setelah selesai. Makanlah lebih dulu jika kamu sudah tidak tahan." Sahut Davin dari dalam kamar mandi.


"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu mu. Dav, aku akan pergi ke meja makan dan menunggumu."


"Ya, tunggu aku."


Menghela nafas panjang. Rein mengusap dadanya yang kini tengah berdebar kencang memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kekasihnya di dalam kamar mandi sana. Oh, jangan salahkan dia karena berpikiran 'liar' karena semenjak mereka kembali bersama, Rein tidak pernah mengizinkan Davin menyentuhnya dalam artian 'selayaknya hubungan suami-istri'.


Jujur saja, Rein bukanlah wanita yang suci dan berpikiran bersih. Dia juga memiliki keinginan yang terpendam di dalam hatinya mengenai sang kekasih. Tapi meski begitu dia masih bisa menahannya dan bertekad akan mengizinkan Davin menyentuhnya setelah mereka resmi menikah.


Hem, menikah. Topik ini kembali berputar-putar di dalam kepalanya. Sudah lama sekali dia dan Davin tidak membahas masalah ini lagi.


Namun situasi sekarang sudah berubah dan jauh lebih terkendali. Davin sudah bisa berjalan dan anak-anak pun mulai berpikir masuk akal. Rein memahami ini. Dia tidak mungkin terus seperti ini, tinggal bersama Davin tanpa status yang baik. Dia membutuhkan status yang jelas agar orang-orang tidak memandang rendah dirinya sebagai pendamping Davin.


"Melamun lagi, apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara berat Davin tiba-tiba membuyarkan lamunan Rein.


Rein tersadar dan baru menyadari jika dia sudah duduk dengan manis di ruang makan. Tidak hanya lupa kapan dia duduk di sini, Rein juga tidak menyadari jika Davin sudah duduk di sampingnya.


Melihat Davin, rambutnya masih basah karena baru selesai mandi dan bau sabun mandi di tubuh Davin menguar bebas di udara. Membuat indera penciuman Rein tergoda sekalipun dia tahu betul jika dia juga menggunakan sabun mandi yang sama.


"Dav, aku hanya sedang memikirkan anak-anak." Bohong Rein tidak memiliki keberanian membahas tentang pernikahan.


Dia adalah wanita dan tidak pantas rasanya membahas masalah ini lebih dulu.


Davin tersenyum,"Anak-anak sudah tidur di kamar kita dan aku perhatikan mereka mengalami hari-hari yang sangat baik. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan situasi mereka."


"Eh, kamu masak apa malam ini?" Davin langsung tertarik dengan bau masakan Rein mengunggah selera makannya.


Dibandingkan dengan makanan di rumah utama, Davin jauh lebih suka memakan makanan Rein walaupun masakan yang Rein buat bukanlah makanan bintang lima seperti yang dibuat koki di rumah utama.


"Aku masak tumis pakis, sambal ayam suwir, dan sup bening yang cukup ringan untuk mengisi perut kita. Aku pikir kita tidak bisa makan makanan yang terlalu berat karena malam sudah larut dan kita akan segera tidur." Kata Rein mulai menjelaskan masakannya.


Kedua tangannya dengan telaten mengambil piring Davin. Mengambil beberapa sendok nasi merah piring Davin, dan melengkapinya dengan satu sendok tumis pakis dan sambal suwir ayam. Untuk sup sendiri Rein hanya menyiapkan satu mangkok dan bisa dimakan berdua dengan Davin.


"Hem, ini sangat lezat!" Puji Davin terdengar berlebihan.


Rein langsung tersipu mendengar pujian kekasihnya. Padahal Davin sudah biasa memuji masakannya tapi dia masih tidak terbiasa dengan pujian itu.


"Yah, ini tidak buruk." Bisik Rein rendah hati sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Ini sangat lezat. Masakan kamu selalu membuatku ketagihan." Akui Davin mengatakan yang sebenarnya.


"Ngomong-ngomong, aku sudah menghubungi perusahaan wedding yang mengurus pernikahan kita. Mereka bilang pernikahan kita bisa dilaksanakan dua hari lagi. Bagaimana, apakah kamu sudah-"


"Uhuk! Uhuk!" Rein tersedak makanannya sendiri.