My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
225



23 menit kemudian Davin sampai di rumah. Gelap, inikah yang Davin lihat pertama kali begitu masuk melewati gerbang rumah. Rein tidak suka kegelapan sehingga muncul kecurigaan di dalam hatinya bila sang istri mendapatkan suatu masalah. Namun, bila itu terjadi maka Anggi pasti akan memberitahunya. Sebagai seorang asisten yang selalu melekat dan mengikut Rein kemanapun dia pergi, maka dia pasti orang pertama yang mengetahui bila istrinya mendapatkan masalah. Baiklah, bahkan tanpa laporan dari Anggi saja dia bisa mendapatkan laporan dari bawahannya yang dia tugaskan mengawasi keluarga kecilnya.


Namun sampai dengan detik ini dia tidak mendapatkan laporan apa-apa dari asisten pribadi Rein ataupun bawahan yang dia tempatkan di rumah ini. Memikirkannya kekhawatiran di hati Davin perlahan mereda.


"Tuan, selamat datang kembali ke rumah." Seorang laki-laki berjas hitam datang menghampiri Davin.


Davin menyerahkan kunci mobilnya kepada laki-laki itu.


"Dimana istri dan anak-anakku?" Tanya Davin kepadanya.


"Tuan, Nyonya dan anak-anak sudah tertidur dari beberapa saat yang lalu."


Tapi kenapa harus mematikan lampu?


Inilah yang Davin pertanyakan di dalam hatinya. Tapi dia tidak menanyakannya kepada laki-laki itu dan segera masuk ke dalam rumah.


Cklack


Rumah ini sangat gelap. Satupun, tidak ada satupun cahaya yang menerangi rumahnya.


"Sayang, aku pulang?" Panggil Davin di tengah-tengah kegelapan.


Namun panggilannya hanya direspon oleh kesunyian yang tidak biasa.


Davin mengernyit heran, tangan kanannya lalu merogoh ponsel di dalam sakunya sebagai cahaya penerangan di sini.


"Gak biasanya Rein matiin semua lampu di rumah. Dia kan penakut dan enggak suka gelap, jadi-"


Prang


Suara pecahan kaca terdengar dari lantai dua dan disusul oleh suara teriakan nyaring yang terdengar agak ketakutan.


Argh!


"Rein?!" Panggil Davin berteriak.


Dia dilanda perasaan khawatir yang mencekam. Maka tanpa sempat menyalakan saklar lampu, dia buru-buru naik ke lantai dengan bermodalkan cahaya penerangan dari ponselnya sendiri.


"Rein, Rein! Kamu enggak apa-apa kan, sayang?!" Teriak Davin cemas juga dilanda perasaan ketakutan.


Dia sangat takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya akan tetapi orang yang dikhawatirkan tidak kunjung-kunjung membalas panggilannya. Sesak hatinya. Kedua tangan Davin mengepal erat. Buru-buru dia membawa kaki jenjangnya menaiki tangga dan langsung melompati beberapa tangga untuk memperpendek jarak.


"Sayang, jawab aku sayang! Kamu gak apa-apa kan, sayang?!"


Nihil. Dia masih tidak kunjung mendapatkan balasan dari sang istri. Hati Davin gentar dalam ketakutan. Sesak, setiap kali dia bernafas rasanya agak sulit dan berat. Ini adalah perasaan paranoid berlebihan yang sudah lama tidak kambuh.


"Rein,"


Cklack


"Aku mohon, tolong jawab aku bila kamu baik-baik saja-" semua kata-katanya tersekat ketika melihat orang yang selama ini dia khawatirkan kini tengah berdiri di samping cahaya lilin dengan gaun malam yang indah melingkupi tubuh rampingnya.


Berbanding terbalik dengan kekhawatiran Davin, Rein justru terlihat sangat baik-baik saja. Wajah lembutnya yang terukir indah menarik garis senyuman cerah yang melegakan ketegangan hati Davin.


"Rein," Davin tidak menyangka istrinya diam-diam telah menyiapkan kejutan untuknya.


Benar, sebuah kejutan. Berdiri di samping cahaya lilin merah yang berkibar lembut, Rein terlihat sangat harmonis dengan meja bundar putih di belakangnya yang sengaja dihiasi dengan beberapa batang bunga mawar yang tidak terlalu mencolok. Di atas meja sudah tertata rapi makanan sederhana favorit Davin yang Rein masak sendiri dengan dua gelas susu yang tidak pada tempatnya.


Em, Rein tidak suka wine ataupun minuman keras lainnya. Daripada minum minuman beralkohol tinggi, dia lebih baik minum susu.


"Sayang, selamat datang kembali ke rumah kita." Ucap Rein dengan senyuman manis di bibir ranumnya yang merah menggoda.


Davin tidak berdaya,"Rein, kamu benar-benar membuatku ketakutan." Keluh Davin masih belum bisa menghilangkan perasaan paranoid nya.