My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
83. Bikin Repot



Besoknya, Davin bangun sangat pagi-pagi. Ia sudah rapi dengan pakaian santainya saat Rein dan Tio keluar dari kamar.


"Daddy!" Tio segera melemparkan dirinya ke dalam pelukan Davin.


"Pagi, sayang." Sapa Davin seraya mengelus puncak kepala Tio.


"Pagi, Dad!"


Bibir merahnya mulai berceloteh,"Mommy hali ini mau masak bubul lho, Dad!"


Ini adalah murni permintaan Tio ingin makan bubur ayam sejak dari kemarin.


"Oh, ya?"


Tio mengangguk lucu,"Iya, Dad! Daddy suka, enggak?"


Davin mengakui dengan jujur,"Daddy suka banget sama masakan Mommy, apalagi bubur buatan Mommy juara!"


Mendengar itu, Rein hanya memutar bola matanya malas. Sikapnya kepada Davin sejak tadi malam telah berubah 180 derajat!


Meskipun Davin meminta maaf kepadanya dan meskipun Davin masih memiliki rasanya kepadanya- ini hanya kemungkinan saja! Rein tidak akan pernah memberikannya maaf!


Mengabaikan mereka berdua, Rein memilih sibuk di dalam dapur. Menyiapkan beras putih, kaldu ayam rebus, membersihkan daun bawang, mengiris bawang putih dan merah, fiuh...dia akan mengerjakannya sendirian!


"Apa kamu butuh bantuan?" Entah sejak kapan Davin sudah berdiri di pintu dapur.


Rein menolak.


"Tidak perlu. Ini adalah pekerjaan seorang pembantu dan seorang majikan pantasnya duduk bersantai di meja makan untuk menunggu hidangan tersaji." Balada Rein dengan nada juteknya yang langka.


Davin mengangkat bahunya tidak perduli. Sekalipun Rein melarang ia tetap membawa langkahnya masuk ke dalam dapur. Mengambil pisau sayur seperti Rein dan mulai mengupas bawang putih.


"Dasar keras kepala!" Gumam Rein tapi masih di dengar oleh Davin.


Davin tersenyum kecil,"Aku ini masih bos mu, Rein." Davin iseng mengancam.


Tapi Rein sama sekali tidak takut. Dia malah menganggap apa yang Davin katakan sebagai angin lalu!


"Justru karena itulah aku memintamu untuk jangan membantu!" Sahut Rein dengan nada jengkel.


Davin menanggapinya dengan santai.


"Aku bosnya, aku bebas melakukan apa pun yang aku inginkan."


Rein memutar bila matanya malas untuk yang kedua kalinya. Karena Davin sudah mengatakannya, Rein tidak akan mengatakan apa-apa lagi.


"Ough!" Davin tidak sengaja mengiris tangannya- ah, mungkin lebih tepatnya dia berpura-pura tidak sengaja mengiris tangannya.


Rein terkejut mendengar suara ringisan nya dan menjadi marah ketika melihat darah merah segar mulai keluar dari jari telunjuk tangan kiri Davin.


"Tuh kan aku juga bilang apa, keras kepala sih!" Dumel Rein seraya membawa tangan berdarah Davin ke wastafel.


Ia menyalakan keran dengan air kecil agar tidak menyakiti luka, lalu pergi mengambil kotak P3K di dekat laci.


"Bukannya bantuin masak tapi kamu malah semakin menambah pekerjaan. Jadi orang susah banget sih dibilangin!" Rein masih betah marah tidak sadar jika orang yang sedang ia marahi saat ini sedang menatapnya geli.


Davin tahu Rein sangat marah sejak perkataannya semalam dan ini dibuktikan oleh sikap berani Rein dari pagi ini. Rein lebih berani memarahinya, memberikannya sikap acuh tak acuh, dan sering berbicara dengan nada jengkel sejak tadi pagi.


Tapi Davin tidak marah dan malah menganggap jika semua ini adalah sebuah kemajuan. Ada baiknya Rein menunjukkan emosi yang ia rasakan agar Davin tahu apa yang sedang ia rasakan.


"Ya Tuhan, sakit Rein!" Kali ini Davin tidak membuat-buat atau berpura-pura karena jarinya memang sangat sakit.


Rein mendelik,"Udah tahu sakit tapi masih aja maksa bantu di dapur!" Semprot Rein kian jengkel saja dibuatnya.


Ia mengolesi luka Davin dengan cairan alkohol sebelum memberikannya obat merah dan menutupnya dengan kain kasa steril.


"Masih mau bantu?" Tanya Rein masih belum menghilangkan mode galaknya.


Davin menggelengkan kepalanya menolak. Sejujurnya penampilan Davin saat ini mengingatkan Rein pada Tio yang telah ketahuan bermain lumpur. Saat itu Tio sangat takut melihat Rein dan hanya bisa menutup mulutnya tertunduk bersiap menerima kemarahan.


Hah,


Davin masih di tempat yang sama tanpa niat keluar dari dapur. Tangannya yang telah diperban dengan kain kasa terlihat sangat menyenangkan matanya. Dia tersenyum kecil, duduk di kursi belakang Rein dan diam-diam mulai mengamati Rein memasak.


Membuat Rein menjadi canggung dan jengkel pada saat yang bersamaan. Jika diperhatikan seperti ini bagaimana bisa ia memasak dengan mudah, ah!


"Jika ada kesempatan aku akan belajar memasak." Kata Davin tiba-tiba dalam suasana hati yang baik.


Rein tertegun, anehnya ia merasa jika kata-kata Davin terdengar cukup lucu di pendengarannya. Karena bagaimana mungkin seorang Davin Demian, laki-laki pecinta kerja akan mau meluangkan waktu masuk ke dalam dapur untuk belajar memasak.


Hell, Rein pikir itu mustahil dan tidak akan pernah terjadi.


"Kenapa kamu tidak keluar?" Tanya Rein mengganti topik.


Ia memberikan kode agar Davin segera keluar dari dapur.


Tapi sayangnya Davin berpura-pura tidak melihat poin ini.


"Aku ingin melihatmu memasak." Jawabnya santai.


Rein kian canggung saja rasanya.


"Sangat membosankan melihatku memasak. Daripada melihatku lebih baik kamu temani saja Tio bermain di luar agar dia tidak bosan."


Davin mengalihkan perhatian melihat ke arah luar. Di sana, putranya sedang bermain bersama Adit, sekretaris pribadi sekaligus sahabatnya.


"Dia sedang bermain dengan Adit. Lagipula aku tidak bisa menemaninya bermain dengan keadaan tangan seperti ini." Katanya terdengar berlebihan untuk Rein.


Lagi, untuk yang ketiga kalinya Rein memutar bola matanya mengahadapi sikap absurd Davin yang tiba-tiba muncul hari ini. Yah, memang sikap Davin agak melunak sejak ia pindah ke sini tapi itu masih sedikit lunak dan jauh terbalik dengan hari ini.


Kemana sikap dingin dan arogansinya yang menjengkelkan itu?


Rein tidak bisa tidak bertanya.


"Itu hanya luka kecil tapi kamu memperlakukannya seperti cidera besar saja!" Ucap Rein jengkel.


Davin tersenyum,"Sekalipun hanya luka kecil tapi rasanya sangat sakit, aku tidak berbohong."


Rein tidak mau melayani pembicaraannya lagi. Untuk itu ia berpura-pura tuli tidak mendengar apa yang baru saja Davin katakan.


"Rein," Panggil Davin dengan atensinya yang tidak bisa berpaling dari punggung kurus Rein.


Jujur, dia ingin sekali membawa Rein ke dalam pelukannya tapi ia mencoba menahan dirinya meskipun ia sangat rindu.


"Hari ini temani aku pergi ke perusahaan dengan Tio." Kata Davin tiba-tiba.


Rein tidak bisa menahan keterkejutannya.


"Apa kamu gila! Orang-orang kantor akan tahu jika Tio adalah anak kamu!" Dan Rein takut jika kabar ini sampai ke telinga tunangan Davin.


Ah benar, dia lupa jika tunangan Davin sewaktu-waktu bisa kembali.


Davin tidak perduli,"Aku adalah bos di sana, memangnya apa yang bisa mereka lakukan jika tahu aku memiliki seorang putra?"


Rein gatal ingin mencubit ginjalnya tapi tetap menahan diri.


"Terserah! Tapi aku tidak akan ikut." Rein membuat keputusan.


"Tidak ada bantahan Rein. Kamu harus ikut denganku. Lagipula Tio tidak akan betah di sana jika kamu tidak ikut." Ucap Davin memancing.


"Davin...kamu! Kamu.." Rein kesulitan mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


Davin tersenyum kecil,"Hanya sebentar saja, kita tidak akan lama di sana." Bujuk Davin.


Rein menghela nafas panjang mengalah.


"Fine, terserah! Toh aku hanya mengikuti perintah 'majikan' ku saja." Sindir Rein kesal.


Davin tidak membalas, dia malah merasa bila kemarahan Rein saat ini cukup lucu.


Bersambung..