My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
85. Kenapa, Mom?



Oh ayolah, Rein tidak akan percaya dengan ilusi sesaat yang dia rasakan tadi.


"Mommy!" Tio berteriak nyaring, merentangkan tangannya ingin digendong oleh Rein.


Panggilan manja ini sontak membuat orang-orang yang ada di sini hampir tersedak air ludahnya sendiri. Hei,


Rein tampak sangat sederhana dan memiliki hubungan yang agak buruk dengan Davin, jadi bagaimana bisa ia menjadi Ibu dari putranya Davin?


Wanita itu segera mengatupkan mulutnya panik karena telah begitu lancang menganggap Rein adalah teman Davin!


"Jangan berteriak sayang." Rein mengingatkan dengan panik tidak berani melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.


"Kenapa, Mom? Daddy bilang Tio bisa melakukan apa saja asal jangan menangis kalena laki-laki yang menangis bukan lah laki-laki sejati." Tio bertanya bingung, sebab Davin bilang ia bisa melakukan apa-apa sesuka hatinya di sini.


Rein melirik Davin tajam, Davin mengangkat bahunya tidak perduli tapi senyuman hangat diwajahnya tidak bisa disembunyikan.


"Jangan dengarkan, Daddy! Apa yang dia katakan itu tidak semuanya benar, okay?" Rein membujuk dengan sabar.


Tio kian bingung saja dibuatnya, ia menatap Rein dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan dan lucu.


"Kenapa, Mom? Daddy bilang olang kaya bebas melakukan apa saja?" Tanyanya polos.


Semua orang yang ada di sana,"...." Ya Tuhan, dari kecil saja kamu sudah didik menjadi sombong, Nak! Tapi apa yang Daddy mu katakan benar jika orang kaya bisa melakukan apa saja!


Rein mengerjap ringan, kedua mata persik nya menatap Davin dengan tatapan membunuh.


"Davin, kamu! Kamu... benar-benar..." Dia kesulitan mengucapkan kata-katanya.


...🍃🍃🍃...


Sekali lagi kedatangan Davin bersama Tio menarik perhatian para karyawannya- oh, tapi kali ini keberadaan Rein dengan pakaian santainya sambil menggendong Tio adalah fokus utama mereka. Apalagi Davin sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Rein dan malah sesekali akan terlihat berbicara dengan Rein.


Dan sekali lagi pula, para karyawan mulai menebak-nebak apa hubungan Rein dan Tio, atau hal yang paling memungkinkan adalah apakah Davin dan Rein memiliki sebuah hubungan mengingat sebelumnya Rein pernah menjadi pelayan pribadi Davin di kantor.


"Itu benar-benar, dia!" Orang-orang mulai berbisik penuh semangat.


"Siapa?" Yuni ikut mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu masuk perusahaan mengikuti mata-mata rekan kerjanya.


"Dia?" Yuni awalnya tidak mengenal Rein tapi perseteruannya hari itu di dalam lift segera mengingatnya.


"Aku dengar dia sudah dipecat." Rekan-rekan Yuni mulai asik bergosip.


"Benar, aku dengar juga begitu. Selain itu sudah 2 minggu dia tidak pernah datang ke perusahaan untuk bekerja jadi aku pikir bila dia benar-benar dipecat."


Obrolan rekan-rekan kerjanya membuat Yuni terbakar cemburu. Ia tidak rela dan marah melihat Rein begitu bebas berjalan di samping Davin. Padahal Rein hanyalah pegawai rendah sedangkan Yuni adalah karyawan tetap perusahaan dan memiliki jabatan yang lumayan tinggi di sini. Tapi kenapa Rein begitu mudah mendekati Davin sedangkan ia sendiri kesulitan!


"Apakah mereka memiliki hubungan-"


"Hubungan apa?" Potong Yuni marah.


"Buka mata dan pikiran kalian baik-baik! Bagaimana mungkin wanita miskin itu berpacaran dengan Pak Davin! Selera Pak Davin tidak akan serendah, itu!" Sembur Yuni terlihat sangat tidak terima dengan tebak-tebakan dari rekan-rekan kerjanya.


"Jangan marah, Yuni. Kami tidak serius dengan apa yang kami bicarakan karena kami sudah tahu jika Pak Davin telah memiliki tunangan seorang model." Salah satu rekan berkata dengan ekspresi cemberut.


Yuni menghembuskan nafas kasar. Mengepalkan tangannya kesal, ia lalu masuk ke dalam departemennya tanpa niat melihat pertunjukan lagi.


"Sial! Aku sekarang benar-benar membenci pegawai rendahan itu!" Umpatnya kesal setelah duduk di mejanya.


Setelah Lisa sekarang Rein yang memancing kemarahannya. Ia tidak tahu siapa lagi yang akan menjadi batu sandungannya mendapatkan Davin.


"Aku kan sudah bilang lebih baik Tio kamu gendong saja! Lihat sekarang! Orang-orang jadi membicarakan ku." Kesal Rein seraya menundukkan kepalanya tidak berani melihat para karyawan Davin yang secara terang-terangan menatapnya.


"Hati-hati!" Peringat Davin sambil menarik Rein lebih dekat dengannya.


Jika ia tidak segera menarik Rein, maka saat ini kepala Rein pasti sudah membentur dinding putih itu.


"Oh ..oh," Rein terkejut, tangannya sontak memeluk erat Tio takut terjadi apa-apa.


"Kenapa harus malu? Aku ini pemilik perusahaan ini jadi kenapa kamu harus takut dibicarakan mereka? Dan juga, jangan menunduk ketika berjalan di masa depan nanti atau jika tidak kejadian ini akan terulang lagi. Apa kamu mendengar ku?" Suara Davin sangat serius dan sarat akan tekanan.


Rein tertegun, ia tiba-tiba merasa canggung apalagi tangan Davin masih melingkari pinggangnya.


"Aku dengar...aku dengar!" Rein mundur beberapa langkah berusaha menjaga jarak dari Davin.


Bersambung..