My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
23. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri



"Rein, please berhenti."


Dimas tiba-tiba merasa kembali ke malam dingin itu. Malam dimana Rein tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya dengan tas buntut yang sudah basah karena hujan. Malam itu Rein juga menangis seperti ini. Dia terlihat sangat menyedihkan, entah malam itu juga malam ini.


"Ini salah gue, Dimas! Seandainya gue gak pernah lahir ke dunia ini-"


"Rein!" Teriak Dimas sedih.


Dia menarik bahu Rein agar berhadapan dengannya.


"Lo mau Ayah untuk Tio? Fine Rein, ayo kita nikah. Gue bisa jadi Ayah yang baik buat Tio sekaligus suami yang baik buat lo. Lo mau kaya? Gue akan kerja lebih giat lagi buat lo sama Tio. Kalau perlu kita jual semua warisan gue di desa biar Tio gak di remehin lagi sama mereka. Gue bisa lakuin semua itu buat lo asalkan lo berhenti menyalahkan diri sendiri, Rein." 


Dimas memaksakan senyum di wajahnya yang lelah. Dia lelah karena bekerja lembur tapi lebih lelah lagi melihat sahabatnya terpuruk. Dia ingin melihat sahabatnya bahagia tapi ternyata sumber bahagianya masih belum ditemukan.


"Ini jelas bukan salah lo, Rein. Ini salah Davin karena ninggalin lo sama Tio. Ini salah Davin karena gak bisa menjaga harta seberharga lo. Ini salah dia dan bukan salah lo. Jadi gue mohon.." Dimas memohon agar Rein berhenti menyakiti diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan mulai mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


"Berhenti menyalahkan diri sendiri apalagi mengatakan kalau lo manusia cacat. Lo harus tahu bahwa kita diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Kalaupun lo berbeda dari manusia yang lain itu bukan karena lo cacat tapi karena lo diciptakan spesial sama Tuhan. Dia sayang sama lo, Rein. Tuhan gak pernah ninggalin lo dan senantiasa selalu ada bersama lo. Jadi please, berhenti menyalahkan diri sendiri apalagi sampai menjatuhkan diri lo sendiri, kali ini aja lo mau kan kabulin permohonan gue?"


Rein memejamkan matanya sejenak. Dia sudah berhenti terisak namun air matanya masih belum berhenti keluar meskipun tidak sederas tadi.


"Gue gak mau nikah sama lo, Dim." Kata Rein dengan suara memelas.


Dimas,"...." Mulutnya bergerak-gerak ingin mengumpat tapi kesadarannya yang jernih meningkatkan jika Rein masih dalam lara.


"Gak apa-apa, Rein, gue hargai keputusan lo."


Rein makin ngeselin,"Gue juga gak sudi lo jadi Ayahnya Tio. Habisnya Tio lebih ganteng daripada muka lo, Dim.".


Di dalam hati Dimas berdoa kepada Tuhan agar dilapangkan hatinya untuk bisa melewati mulut beracun Rein dengan mulus.


Dimas tersenyum paksa,"Gue tahu Tio lebih ganteng daripada muka gue."


"Dan.." Rein menundukkan kepalanya menatap mainan robot-robotan Tio yang sudah rusak parah tidak bisa diperbaiki.


"Lo gak perlu jual warisan lo buat gue sama Tio. Seperti yang lo bilang Tuhan selalu punya jalan untuk gue dan Tio. Jadi lo gak perlu khawatirin gue sama Tio karena udah ada Tuhan yang lindungi." 


Mendengar ini Dimas langsung lega. Dia bersyukur Rein masih mempercayai Tuhan dan tidak menyalahkan Tuhan untuk semua yang terjadi di dalam hidupnya.


Dimas tiba-tiba merasa jika Rein akhirnya dewasa.


"Kekhawatiran gue adalah salah satu bentuk Tuhan melindungi lo, Rein." Ujar Dimas tulus.


"Gue tahu." 


Rein menghapus air mata di wajahnya. Mengambil nafas panjang sebelum merapikan kembali barang-barang Tio.


"Lo gak makan, Dim?" 


Dia mengganti topik pembicaraan.


Dimas meluruskan kakinya di samping Rein. Duduk seharian di depan komputer membuat tangan dan kakinya pegal-pegal. Saat ini dia punya banyak sekali pikiran yang cukup serius mengenai Rein.


"Rein, lo mulai besok lebih baik berhenti kerja ya di kantor gue." 


"Berhenti kerja gimana, becanda lo gak lucu, Dim."


Dimas gak bercanda, dia malah sangat serius.


"Berhenti kerja dari kantor gue. Em...menurut gue lebih baik lo cari kerja di tempat lain aja asal jangan di kantor gue."


Rein tidak bisa lagi menganggap ini sebagai bercandaan karena Dimas sepertinya sangat serius.


"Kenapa, lo malu kalau gue kerja di sana?"


Rein asal bicara.


"Enggak-enggak, siapa bilang gue malu! Ini malah gak ada hubungannya dengan tuduhan lo." Dimas segera membantah.


Rein kemudian menghentikan aktivitasnya. Dia berdiri menghadap Dimas sambil berkacak pinggang.


"Terus apa alasannya gue berhenti dari perusahaan lo? Padahal baru tadi pagi lo bilang gue cuma bisa kerja di sana." Rein tidak marah, bagaimanapun juga Dimas pasti punya alasan kenapa dia harus memintanya berhenti.


"Gue gak bisa jelasin tapi ini demi kebaikan lo, Rein." Dimas terlihat gusar.