My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
209



Keesokan harinya berita mengenai tertangkapnya Nenek, Revan, dan beberapa anggota keluarga Demian lainnya segera menjadi pembicaraan trending di dalam negeri. Hampir seluruh media menyiarkan masalah ini, mengundang para pengamat dan psikiater untuk menilai sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam keluarga Demian. Mereka menciptakan berbagai macam opini berdasarkan pendapat mereka pribadi seolah-olah mereka pernah melihat secara langsung bagaimana orang-orang di dalam keluarga Demian hidup bersama.


Tidak hanya media dan para pengamat saja yang yang tertarik untuk membicarakannya, masyarakat pun yang jauh dari gosip keluarga kaya juga tertarik membicarakannya. Ini menjadi topik yang wajib dibicarakan saat berkumpul dengan teman atau keluarga mengingat betapa besar pengaruh keluarga Demian di dalam bisnis luar negeri.


Mereka adalah keluarga konglomerat yang sering dipuji-puji dalam bisnis dan membuat cemburu beberapa pasang mata. Maka wajar saja masalah keluarga Demian begitu menyita perhatian banyak pihak.


Namun, apapun yang dikatakan oleh media dan orang-orang di luar sana, Davin maupun Rein sama sekali tidak terpengaruh pembicaraan tersebut. Mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk perduli soal dunia luar sebab mereka berdua sibuk mengurus pernikahan mereka yang akan berlangsung 1 hari lagi.


Meskipun Davin sudah mengurus semuanya tapi Rein masih harus campur tangan di dalamnya. Seperti memilih warna dekor untuk acara pernikahan yang menurut Rein agak tidak sesuai dengan keinginannya. Jadi, mereka segera mengubah warna dan memperbaiki dekor di hari itu juga agar pernikahan bisa dilaksanakan sesuai jadwal dan tidak mengalami penundaan.


Lalu, satu hari lagi terlewati dengan sangat cepat dan cukup melelahkan. Karena besok Rein dan Davin akan melaksanakan akad pernikahan di sebuah pulau pribadi, siang itu mereka akhirnya berangkat ke pulau tersebut dengan pesawat pribadi Davin. Mereka di sana sampai pada malam hari dan langsung beristirahat di kamar masing-masing.


Berhubung besok mereka menikah, Davin dengan enggan membiarkan Rein tidur dengan anak-anak sedangkan dirinya tinggal di kamar yang lain, sayangnya jarak kamar mereka cukup jauh sehingga Davin tidak bisa mendengar suara calon istri dan anak-anaknya berbicara.


Rasanya agak kosong.


"Mom, Bibi Sera bilang besok Daddy dan Mommy akan menikah, lalu kalian akan memberikan kami seorang adik. Apakah itu benar, Mom?" Aska bertanya dengan rasa ingin tahu.


Saat ini mereka sudah ada di dalam kamar dan sedang berbaring di atas ranjang. Untuk beberapa alasan Rein mengalami kesulitan tidur jadi kedua matanya masih terbuka saat Aska bertanya. Rein agak terkejut. Dia kira Aska sudah lama tidur melihat Tio juga sudah lama masuk ke alam mimpi.


"Benar, sayang. Besok Mommy akan menikah dengan Daddy....dan... mungkin Mommy gak bisa secepat itu memberikan kalian seorang Adik." Jawab Rein ragu.


Bagaimanapun kehadiran Tio adalah sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka Rein. Dia pikir tidak akan pernah memiliki anak dalam hidup ini, namun siapa yang mengira jika Tuhan berkehendak lain. Dia mengirimkan Tio disaat yang paling krusial dalam hidupnya namun meski begitu Rein sama sekali tidak menyesali kedatangannya. Daripada menyesal, Rein merasa sangat bersyukur karena dia memiliki seseorang untuk menemani hari tuanya- ini jauh sebelum Rein tahu dia juga memiliki kesempatan kembali bersama dengan Davin.


"Hem, kenapa, Mom?" Aska tidak mengerti.


"Karena semuanya tergantung ridho Tuhan, Nak. Bila Tuhan ridho Mommy punya anak lagi maka Aska dan Tio akan memiliki seorang adik. Tapi bagaimana jika Tuhan tidak meridhoi Mommy memiliki anak lagi? Sekeras apapun Mommy dan Daddy berusaha, Aska dan Tio tidak akan pernah memiliki seorang adik. Jadi, serahkan saja semuanya kepada Tuhan dan biarkan Tuhan yang memutuskan takdir Mommy." Penjelasan Rein agak berat untuk anak-anak tapi dia sungguh tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara apa karena kondisinya pun agak spesial.


Aska mungkin tidak akan mengerti jika dia menjelaskan Situasinya.


"Mom, aku tidak suka anak-anak selain Tio.." Akui Aska tiba-tiba.


Rein tidak terlalu terkejut dan sudah menebaknya karena anak-anak biasanya memberikan reaksi seperti ini saat mengetahui orang tua mereka akan memiliki anak yang lain.


Rein tercengang. Beberapa detik kemudian dia menarik Aska ke dalam pelukannya dan menghujani wajah tampan Aska dengan kecupan ringan. Kata-kata polos nan kekanak-kanakan Aska memang tidak berarti banyak, tapi untuk seorang Ibu kata-kata ini adalah harta yang sangat penting di dalam hidupnya. Dengan menerima kehadiran anggota baru, Aska perlahan mulai menumbuhkan rasa tanggungjawabnya sebagai anak laki-laki tertua di dalam keluarga. Dia pasti bisa tumbuh menjadi laki-laki yang dapat diandalkan dan kelak bisa melindungi adik-adiknya dengan baik.


"Aska, kamu sangat lucu!"


"Mom, Aska gak lucu! Tapi Aska tampan." Sanggah Aska tidak senang disebut lucu.


Rein terperangah,"Tapi Aska kan emang lucu." Dia tidak bisa membohongi perasaannya.


"No, Mom. Lucu hanya untuk anak perempuan dan Aska adalah anak laki-laki jadi panggilannya harus tampan!" Entah darimana Aska belajar mengenai hal ini namun yang pasti sikap kekanak-kanakannya ini membuat hati Rein menjerit-jerit.


Semakin Aska membantah maka semakin lucu pula dia di dalam mata Rein. Ini adalah sifat kekanak-kanakan yang alami dan Rein sungguh gatal mau mencubit atau meremas wajah tampan Aska yang masih kekanak-kanakan, tapi dia segera mengurungkan niatnya saat menimbang kulit Aska yang masih anak-anak.


"Okay. Mommy boleh tahu enggak Aska belajar darimana kata-kata ini?"


Sebenarnya dia sudah memiliki tebakan di dalam hatinya tapi dia tidak mau mengatakannya sekarang.


"Uncle Adit yang memberitahu Aska dan Tio masalah ini. Uncle bilang kami adalah anak laki-laki yang tampan dan tidak boleh dipanggil lucu, sebab anak perempuan yang cengeng dan mudah menangis adalah yang lucu."


Rein, perempuan, dan pernah melewati masa kecil yang cengeng,"...." Dia kira Davin yang mengajarkan tapi tebakannya salah.


"Tapi...tapi menurut Mommy anak laki-laki juga bisa lucu, kok." Rein melobi.


"Itukan menurut Mommy sebagai perempuan, tapi menurut aku sebagai anak laki-laki, kami tidak boleh dipanggil lucu."


Rein tersedak,"...." Putranya pembicara yang baik. Dia takut putranya akan tumbuh menjadi Davin kedua di masa depan.


Karena tidak bisa mengalahkan prinsip anaknya, Rein memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan membujuk putranya tidur. Hasilnya, tidak hanya Aska yang memasuki alam mimpi namun dia juga ikut menyusul. Mungkin karena lelah setelah perjalanan panjang, rasa gugup dan gelisah Rein dikalahkan oleh rasa kantuknya yang tiba-tiba datang melanda.


Rein menguap, menyesuaikan posisinya senyaman mungkin dengan anak-anak di samping kiri dan kanannya, dia akhirnya bisa tenang dan memasuki alam mimpi dengan damai.