My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
105. Davin-nya Kembali



"Janji untuk memaafkan ku, untuk semua kesalahan ku di masa kau berjanji untuk memaafkan ku. Bila kamu masih mengingkarinya maka kita tidak akan pulang ke penginapan dan aku pribadi tidak masalah menginap di sini. Lagipula tempat ini tidak seburuk yang aku pikirkan dan masih bisa ditinggali." Ancam Davin- yang lagi-lagi membuat Rein jengkel.


Bertahun-tahun tidak bertemu Rein heran mengapa Davin sangat suka mengancamnya?


Padahal dulu ia tidak pernah seperti ini.


"Kamu gila? Aku gak mau tinggal di sini." Rein menolak mentah-mentah.


Davin mengangkat bahunya tidak perduli.


"Maka itu terserah kamu, semuanya ada di tanganmu. Bila kamu menepatinya maka kita akan pulang tapi bila tidak maka tinggal di sini semalam tidak menjadi masalah, bukan?"


Rein paling takut dengan kegelapan jadi dia pasti akan langsung menyerah.


Rein cemberut- atau lebih tepatnya malu.


"Oke, fine! Aku memaafkan kamu, puas?" Kata Rein tidak rela.


Davin kian tersenyum lebar,"Untuk semua kesalahan ku?" Tanya Davin balik.


Untuk semua kesalahan- kesalahan Davin hanya satu, yaitu menolak untuk mempercayainya dengan bertindak bodoh menyelesaikan masalah sendirian. Rein tidak suka caranya.


Rein menghela nafas panjang,"Untuk semua kesalahan mu."


Suasana tiba-tiba berubah, tidak ringan juga tidak berat. Ini seperti mereka sedang berbicara dari hati ke hati.


"Untuk tahun-tahun itu?" Tanya Davin lagi.


Rein membawa pandangannya berpaling, diam, kebisuannya yang datang tiba-tiba membuka Davin dilanda perasaan cemas. Dia khawatir bila Rein berubah pikiran karena sungguh ia tidak menginginkan hasil ini.


"Aku memaafkannya, Davin." Bisik Rein pada akhirnya.


Dia sudah memaafkannya. Entahlah, sejak kapan ia memiliki perasaan ini akan tetapi jauh di dalam hatinya Rein tidak ingin berbohong bahwa ia masih mencintai Davin dan perasaan itu tidak pernah berubah meskipun telah melewati banyak tahun-tahun sulit. Hatinya masih mengenai Davin, masih tentang Davin, dan masih dimiliki oleh Davin.


"Untuk semua luka yang aku torehkan kepadamu, maukah kamu memaafkannya?"


Untuk semuanya, rasa sakit atas pengkhianatan, kata-kata kasar yang merendahkan, dan kesepian yang melingkupi, Davin berharap hati Rein masih terbuka lebar untuk mau memaafkan semuanya.


Rein memejamkan matanya menahan sesak. Dia sudah memaafkannya tapi kenapa Davin masih saja bertanya?


"Davin," Rein ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini.


"Aku bilang sudah memaafkan mu untuk semuanya, untuk semua rasa sakit dan tahun-tahun sulit di masa lalu jadi- ugh!" Belum selesai ia menyelesaikan kata-katanya, Davin tiba-tiba menarik pinggangnya dan sebuah pelukan erat lah yang Rein rasakan.


Davin memeluknya begitu erat, sampai-sampai rasanya sangat sulit untuk bernafas. Namun, Rein tidak mengeluh. Dia tidak mengeluh karena ia tidak ingin menjadi orang yang munafik. Ia rindu dekapan hangat Davin, sekali saja tidak apa-apa.


"Davin?" Panggil Rein seraya meremat kuat pakaian Davin, meremat nya kuat untuk melampiaskan semua kerinduan di hatinya.


"Rein, aku sungguh sangat bahagia. Aku bahagia kamu masih mau memaafkan ku. Aku sungguh sangat bahagia." Bisik Davin serak.


Davin sudah lama menantikan momen penting ini, momen dimana ia akhirnya bisa memeluk Rein dengan hati yang penuh akan kelegaan.


"Maka jangan ulangi lagi kesalahan yang sama karena aku tidak akan memberikan kesempatan yang lain. Ini yang terakhir Davin, ini yang terakhir." Bisik Rein menahan sesak.


Ia berusaha tidak terdengar terlalu emosional, ia berusaha untuk tidak menangis, ia berusaha menjadi Rein yang selalu mengenakan wajah topeng baik-baik saja di depan Davin. Padahal ia sama tersiksanya dengan Davin, ia sungguh merindukan laki-laki arogan yang kini sedang memeluknya.


"Tidak lagi, tidak lagi. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Bisik Davin berjanji.


Rein tersenyum tipis,"Kamu harus-"


Wajahnya tiba-tiba ditarik oleh Davin dan sebelum ia bisa bertanya ada sebuah sentuhan ringan di bibirnya.


Cup


Davin mengecup bibir Rein singkat dengan sorot matanya yang meneduhkan dan menenangkan, seolah-olah mereka telah kembali pada tahun-tahun hangat dimana mereka berdua hidup dalam sebuah rumah sederhana yang sangat nyaman.


"Rein, apa kamu mau memulai semuanya dari awal lagi?" Bisik Davin dengan suara yang sungguh lembut tanpa ada nada arogan ataupun merendahkan seperti waktu-waktu sebelumnya.


Ini adalah Davin yang Rein kenal, Davin yang telah mengisi hati dan hari-harinya menjadi sebuah memori kebahagiaan.


Davin-nya akhirnya kembali.


Bersambung...


Inshaa Allah besok up lebih dari chapter 🍃