My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
Jangan Dibaca (Promo Terakhir )



Azira tidak tahu mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman dan gelisah. Ia seakan merasakan sebuah firasat buruk yang mengancam keselamatan jiwanya namun ia tidak yakin apakah ini hanya halusinasi saja atau tidak.


"Ini minum dulu, non." Mbok Yem menyerahkan satu gelas air putih yang memang sengaja ia sediakan saat berbincang-bincang dengan Azira sebelumnya.


Azira tidak menolak dan menerimanya dengan patuh, lagipula ia juga merasa haus sekembalinya dari wanita serakah tua bangka yang tidak tahu diri itu.


Dia sangat berharap wanita serakah itu tidak mengganggu hidupnya lagi. Selain muak, dia ingin terlepas dari penderitaan Ibunya ketika masih bekerja di wanita serakah itu. Hah.. jelas-jelas dia sudah tua tapi masih saja berdandan selayaknya seorang gadis, menyedihkan.


"Terima kasih, Mbok." Ia meminumnya sekali nafas tanpa menyisakan satu tetes pun di dalam gelas bening itu.


"Non mau lagi?" Tanya Mbok perhatian.


Melihat Azira yang begitu kehausan ia pikir satu gelas tidak akan cukup karena biasanya orang-orang yang hidup di kampung tidak terbiasa meminum minuman mahal seperti ini.


Hei, jangan salah.


Ini bukan air putih biasa tapi air mineral asli yang diambil dari pegunungan. Biasanya perusahaan air mineral ini akan mengirimkan mereka pasokan air 3 hari sekali. Itupun masih tersisa banyak karena terlalu melimpah di rumah.


"Tidak, terima kasih." Tolak Azira sopan dengan mata lurus ke depan.


Saat ini dia masih terjebak di dalam pikirannya.


"Mbok, ini bukan air putih biasa yah?" Tanyanya tidak serius.


Tapi jika dilihat-lihat rasa dan warnanya agak berbeda dengan yang dia miliki di rumah dulu, atau mungkin air putih dirumahnya saja yang jelek rasanya melihat tempat tinggalnya begitu kumuh dan tidak terawat.


Sedangkan air putih yang ia minum tadi rasanya sangat berbeda seperti ada manis-manisnya, tidak berbau, dan jernih. Bagaimana cara menjelaskannya yah..ini adalah wangi yang alami dan menenangkan. Apalagi rasanya yang enak, Azira tidak pernah tahu ada air putih yang seenak ini padahal tidak dicampurkan apapun.


"Ini bukan air putih biasa non tapi ini air putih yang khusus didatangkan dari pegunungan. Tuan dan Nyonya ingin semua orang meminum air putih yang mempunyai kandungan tinggi mineral karena bagus untuk tubuh. Oleh karena itu rasanya sedikit berbeda dibandingkan dengan minuman air putih diluar sana." Kekaguman Mbok Yem kepada keluarga ini sungguh tidak bisa disembunyikan.


Di dalam hati kecilnya Azira mulai bertanya-tanya apakah Mbok Yem tahu sisi gelap dari keluarga ini?


Apakah Mbok Yem tahu betapa kejam orang-orang di rumah ini?


Jika tahu, akankah dia berhenti mengagumi mereka atau justru sebaliknya, dia tidak perduli.


Minuman ini tidak hanya diminum oleh anggota keluarga saja, akan tetapi para pekerja dan pembantu pun di rumah ini bebas meminumnya sesuka hati asal jangan sampai membuangnya, takutnya mubasir.


"Oo.." Jadi seperti ini.


Orang kaya memang selalu tahu bagaimana menggunakan uang yang melimpah, tidak seperti dia dan Ibunya yang harus menempuh jalan tidak biasa untuk mendapatkan segepok uang receh.


Tuhan, lagi-lagi tidak adil.


"Non, yang tadi itu teh siapa?" Tanya Mbok Yem dengan wajah kalemnya.


Tertegun, sejenak Azira bingung ingin menjawab apa karena Mbok Yem dimatanya bukanlah orang yang berbahaya.


"Itu bukan siapa-siapa, Mbok. Ah, sepertinya sudah masuk waktu magrib, jadi berada di luar rumah bukanlah solusi terbaik saat magrib." Lalu ia langsung pergi meninggalkan Mbok Yem yang belum sempat mengatakan apapun.


Azira sudah memutuskan meski kesannya pada wanita tua ini baik akan tetapi ini baru sehari ia mengenalnya. Bagaimana jika wajah polos ini hanya topeng belaka?


Siapa yang tahu bukan jika ia adalah mata-mata dari mereka.


"Azira, kita sholat berjamaah yuk." Ketika memasuki rumah ia sudah diserbu oleh Humaira.


Humaira menempel padanya dengan setelan mukena indah yang lengkap, begitu cantik ketika Humaira menggunakannya.


"Aku..aku sedang berhalangan, Humaira." Tentu saja ini adalah kebohongan.


Ia tidak bisa sholat, ah.. lebih tepatnya ia tidak bisa bacaan sholat. Ibadah atau apapun yang berkaitan dengan Tuhan, Azira memilih untuk mengabaikannya.


Jika dia mau berpura-pura sholat bersama mereka maka bisa saja karena dia bisa mengikuti gerakan sholat mereka dari belakang. Tapi bagaimana jika dia diminta untuk membaca kita suci Al-Qur'an?


Hahahaha.. itu sama saja bunuh diri, bukan?


Jadi, pilihan terbaik untuk Azira saat ini adalah berbohong. Sampai kapan?


Sampai ia bisa menemukan solusi dari masalah ini.


"Hah.. sayang sekali kamu sedang berhalangan, tidak apa-apa lagipula kita juga bisa sholat dan mengaji sama-sama ketika kamu sudah selesai halangan." Seru Humaira menghibur dirinya sendiri karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan saudaranya dalam hal agama.


"Humaira, ayo segera ke mushola. Yang lain sudah berkumpul di sana dan tidak baik menunda sholat." Panggil Mama Humaira lembut pada putrinya yang asik menempeli Azira.


"Kalau begitu aku pergi dulu yah, sampai jumpa di makan malam nanti." Pamit Humaira sambil melepaskan tangannya dari lengan Azira.


Mereka pergi dan hanya menyisakan Azira yang berdiri seorang diri. Menatap punggung mereka yang semakin mengecil dan menjauh, melihat itu hati Azira tiba-tiba rasanya kosong. Dia kosong dan dia tidak mengerti kenapa itu menjadi hampa.


"Wah, akting yang cukup bagus." Suara seseorang tiba-tiba menginterupsi lamunan Azira.


"Bibi Safa?" Ternyata orang yang mengganggunya adalah Bibi Safa yang kini sudah rapi terbalut kain mukena.


Dia tampak anggun dan cantik, luar biasa..gen keluarga ini memang tidak main-main.


"Tapi sayang Azira, kebohongan mu ini tidak akan bertahan lama karena cepat atau lambat kau akan ikut bergabung bersama kami untuk melakukan ibadah. Dan di saat hari itu tiba, akan ku pastikan kau kehilangan muka karena tidak tahu apa-apa mengenai agama kita. Katakan Azira, Ibumu tidak pernah mengajarkan mu tentang agama kita bukan? Hahah..ya iyalah jawabannya iya. Bukan begitu Azira?" Ejek Bibi Safa begitu menikmati wajah terdistorsi milik Azira.


Seperti yang ia duga, sebenarnya mereka tahu jika ia kekurangan agama dan sengaja memancingnya agar berbohong.


Lihat, bukankah mereka tidak ada bedanya dengan ular?


"Bibi Safa, orang-orang sudah berkumpul di mushola, apa kau tidak takut telat sholat berjamaah bersama yang lain?" Ucap Azira mengalihkan pembicaraan, mengusir Bibi Safa dari jangkauannya dengan cara yang halus.


Mendengus tidak suka, "Dasar sampah tidak tahu malu." Geramnya sambil menjauh dari Azira.


Dia pergi menyusul yang lain untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Ini selalu rutin mereka lakukan setiap hari dan tidak pernah libur sekalipun.


"Kau mungkin bisa menginjak-injak ku sekarang, tapi suatu hari nanti..aku akan membalas apa yang telah kau lakukan padaku. Dan aku juga tidak lupa orang yang dengan kejam menyakiti Ibuku selama ini adalah kamu, Nyonya kaya raya." Gumamnya benci bercampur muak.


Lalu ia dengan dingin membawa langkahnya menjauh dari tempat ia berdiri tadi. Tidak langsung ke kamar ia terlebih dahulu menyempatkan diri untuk mengambil sepiring nasi hangat beserta lauknya yang menggunggah selera. Ia tidak bisa makan satu meja dengan mereka karena Azira tahu, Bibi Safa pasti akan mempermalukannya di depan semua orang lagi.


Maka hal terbaik yang ia bisa lakukan adalah menyelamatkan diri sambil berpikir peluang mana yang akan ia lakukan untuk menghancurkan mereka. Ia sudah tidak tahan tinggal di sini dan ingin segera pergi ke luar kota untuk memulai kehidupan baru dan melupakan semua ini.


Ia sudah tidak sabar.


"Non Azira kok udah makan aja, gak mau ikut gabung sama yang lain nantinya?" Tiba-tiba seorang wanita dewasa berpakaian sederhana mendekatinya. Wanita itu tidak sendiri karena ada wanita yang berpenampilan sama juga di sampingnya.


Menggeleng pelan, "Besok malam aja makan barengnya." Jawab Azira singkat sambil membawa piring makanannya kembali ke kamar.


"Dia kan orang kampung jadi gak bisa lihat makanan enak dikit aja diembat, lagian dia juga bukan majikan resmi kita kok. Cuma-"


"Khus! Kamu teh gak boleh bilang gitu. Nanti kalo di dengar sama dia terus kamu dilaporkan ke Tuan besar, bagaimana? Mau kamu di usir jadi gelandan-"


Dan seterusnya, Azira tidak ingin lagi mendengarnya.


Bodoh memang, mereka begitu bodoh. Bagaimana bisa ia tidak mendengar percakapan mereka jika suaranya saja bukan lagi disebut bisik-bisik. Apalagi kamarnya dan dapur begitu dekat, bahkan tadi Azira pun masih belum sempat masuk ke kamarnya sehingga pembicaraan mereka bisa terdengar dengan jelas di dalam pendengarannya.


Namun Azira tidak ambil pusing dengan mereka berdua yang bukan siapa-siapa di sini. Ia tidak ingin membuat masalah dan berakhir memutuskan mata pencaharian mereka.


Ia tahu betapa sakitnya mencari makan maka dari itu biarkan saja, toh Azira juga tidak akan perduli.


Setelah mengunci pintu kamarnya, Azira tidak perlu menunggu lama untuk melahap habis makanannya. Dan benar seperti yang mereka bilang makanan ini begitu lezat dan menggunggah selera, Azira menyukainya.


Setelah menghabiskan makanannya, Azira tidak langsung mengantarkan piring bekasnya ke dapur. Ia duduk sebentar termenung menatap jendela yang menampilkan halaman belakang rumah yang tidak begitu gelap.


Sesekali angin yang menderu ringan menerpa pepohonan yang berdiri kokoh. Meniup pohon-pohon itu dengan belaian ringan sehingga pohon-pohon itu bisa mengayun tanpa terganggu.


Begitu terbiasa.


"Aku ngantuk.." Ia menguap lelah, menandakan bahwa ia sudah mulai mengantuk.


Menjatuhkan dirinya di atas ranjang, perlahan mata persik yang bersinar gelap itu menutup matanya lelah.


Meniadakan sinar apapun yang masuk ke dalam mata dan menggantikannya dengan kegelapan yang tidak berujung.


...🍒🍒🍒...


"Dia sudah makan duluan?"  Bibi Safa terlihat begitu geram dengan kelakuan anak haram itu, sangat tidak sopan dan tidak tahu malu.


"Benar Nyonya, non Azira sudah makan malam duluan magrib tadi." Lapor salah satu pembantu yang sempat menegur Azira beberapa waktu lalu di dapur.


Berdecak kesal, "Dasar sampah, betapa tidak sopannya ia mendahului kita sebagai pemilik rumah. Sebenarnya pendidikan akhlak apa yang Ibunya pernah ajarkan kepada dia sehingga bisa bertindak seperti ini?" Kesal Bibi Safa tidak bosan-bosannya mengumpati Azira.


Dia sangat tidak menyukai anak haram itu dan lebih terganggu lagi setiap kali mengingat bila anak haram itu kini tinggal di rumah ini.


"Benar nyonya, padahal sebelumnya kami sudah mengingatkan non Azira agar menunggu yang lain tapi dia bilang tidak mau dan langsung mengambil makanan yang ada di atas meja semaunya." Lapor pembantu yang lain berbohong. Dia jelas tidak menyukai Azira karena terlahir dari rahim perempuan yang tidak baik.


Sekalipun dia adalah darah daging Tuan besar, ia masih berpikir bila Azira tidak pantas masuk dan bergabung dengan keluarga ini, alasannya itu karena ia kotor dan berbau na'jis.


"Kurang ajar-"


"Hentikan Safa, ia adalah keluarga kita sekarang." Tiba-tiba Bibi Sifa muncul dari belakang, memegang pundak Kakaknya yang begitu pemarah.


"Dan kalian berdua di masa depan nanti tidak boleh menegur ataupun melarang Azira mengambil apapun di dapur. Azira adalah majikan kalian sekarang dan selayaknya kalian memperlakukannya seperti halnya memperlakukan Humaira, mengerti?" Sorot tajamnya seolah mengatakan bahwa Azira dan mereka adalah dua hal yang berbeda.


Azira adalah majikan dan mereka adalah pembantu, maka seharusnya mereka bertindak sesuai dengan posisi mereka saat ini.


Menunduk takut, "Mengerti, Nyonya." Patuh mereka tidak ingin membuat Bibi Sifa marah.


Bibi Sifa adalah orang yang lembut dan melihatnya semarah ini benar-benar langka sekaligus menakutkan bagi mereka berdua.


"Ya sudah, kembalilah ke pekerjaan kalian." Perintah Bibi Sifa yang langsung di angguki cepat oleh mereka berdua.


"Sifa, perhatikan sikap mu!" Marah Bibi Safa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Bibi Sifa.


"Aku melakukannya agar mereka tidak meremehkan anggota keluarga kita-"


"Azira bukan-"


"Aku paham, sulit bagi Kakak menerimanya. Tapi pikirkanlah secara baik-baik bahwa Azira tidak tahu apa-apa tentang masa lalu, ia tidak bersalah."


Bibi Sifa pikir Azira hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu dan tidak sepantasnya mereka memperlakukannya dengan sebelah mata karena bagaimanapun juga ia adalah anak biologis dari Kakaknya.


Meski ia tahu..jauh dari dalam hatinya, keluarganya lah yang bersalah di sini.


"Apapun yang kamu katakan, sampah tetaplah sampah jadi itu tidak bisa merubah apapun."


"Meskipun darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Mas Rama?" Tanya Bibi Sifa cepat.


Menatap tajam mata Bibi Sifa yang terlihat tulus, "Aku tidak mengakuinya." Lalu ia pergi meninggalkan Bibi Sifa.


Menghela nafas, tatapan sendu Bibi Sifa jatuh pada pintu kamar yang tertutup rapat di dekat dapur. Pintu itu begitu sunyi dan sepi, bahkan tidak ada sinar yang mengintip keluar dari dalam kamar itu.


Gelap.


"Andai waktu dapat terulang, mungkin semuanya tidak akan serumit ini." Gumamnya berharap.


Tersenyum tipis ia kemudian membawa langkahnya menyusul Bibi Safa yang sudah terduduk manis di meja makan. Bersikap seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka.


...🍃🍃🍃...


"Azira ayo, Nak, bangun sholat subuh." Suara seseorang berbisik lembut berusaha mengusik tidur lelap Azira dengan halus.


"Ibu?" Panggilnya penuh kerinduan.


"Ayo, Nak, bangun sholat subuh." Bisiknya lagi merayu, menarik Azira agar terbangun dari tidurnya.


"Ibu..Ibu dimana?" Berlari ke sana kemari, hanya kegelapan yang tidak berujung menyapanya.


"Sholat subuh, sayang, ayo bangun." Bisiknya lagi dengan penuh kasih, memancing Azira untuk mengikutinya.


Terengah-engah, Azira tidak tahu dari arah mana datangnya suara ini. Tidak, maksudnya ia bingung dari arah mana Ibunya memanggil.


"Ibu.. apakah kau ingin membawa ku pergi?" Seketika pikiran ini terlintas di kepalanya.


Ia bahkan tidak perduli dengan ajakan Ibunya untuk bangun sholat subuh. Tidak ada suara yang menjawabnya, Azira pikir diamnya pertanda Ibunya mengiyakan pertanyaannya.


"Tapi..tapi bagaimana dengan balas dendam ku kepada mereka?" Azira ingin ikut bersama Ibunya namun entah kenapa ia sedikit tidak rela membiarkan mereka bersenang-senang di dunia ini.


Sunyi, tidak ada balasan apapun. Lagi-lagi Azira berpikir Ibunya sudah melupakan kejahatan keluarga itu.


"Ibu, mereka adalah orang yang membuat mu seperti ini. Terutama Ayah-"


"Aku tidak perduli dan bangunlah!"


"Hah..hah.. mimpi.." Mengusap keningnya yang sudah berkeringat banyak.


"Ternyata hanya sebuah mimpi." Gumamnya linglung.


Pasalnya perasaan itu benar-benar nyata. Ia juga sempat dibuat kebingungan dengan kelembutan Ibunya yang langka karena biasanya, Ibu akan berteriak keras kepada Azira agar mendengarnya.


"Mimpi sialan, mengganggu tidur ku saja." Gerutunya kesal sambil mencoba tidur kembali.


Namun belum sempat ia memejamkan matanya, azan Subuh sudah berkumandang merdu. Memanggil dan membangunkan orang-orang dari tidur lelapnya, menyeru agar mereka memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa.


"Sial!" Umpatnya tidak puas.


Ia tidak lagi berselera untuk tidur kembali dan membawa langkahnya langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


20 menit kemudian, Azira keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar. Acara mandinya memang singkat karena ia sendiri bukan tipe gadis yang memakai banyak perawatan di dalam kamar mandi. Sehingga ia hanya perlu menggunakan sabun, shampoo, dan pasta gigi saja untuk mandi.


Bagaimana bisa ia melakukan perawatan karena ia adalah orang miskin dan tidak mampu membeli barang-barang seperti itu.


Bahkan walaupun dulu tidak punya sekarang di kamar ini ia punya segalanya jika berbicara tentang kecantikan. Namun sayang, karena ia tidak terbiasa dari dulu dengan barang-barang ini maka jadilah Azira tidak meliriknya.


Hei, jangan salah, meskipun tidak menggunakan perawatan apapun kulitnya tetap halus dan cantik. Tidak ada bedanya dengan menggunakan perawatan, begitu membuat iri.


Yah, walaupun tidak sebersih kulit Humaira yang selalu melakukan perawatan, Azira bisa dibilang murni.


Setelah selesai menggunakan pakaian yang ada di lemari lengkap dengan jilbab asal pakainya, ia lalu keluar dari kamarnya sambil membawa piring bekas semalam.


Masuk di dapur, lagi-lagi dua pembantu tadi malam ia temukan di sana.


"Pagi, non." Sapa mereka terlihat sopan namun Azira bisa melihat sikap mereka sedikit kaku.


Menganggukkan kepalanya, Azira lantas mencuci piring yang tadi untuk ia gunakan sarapan lagi.


"Non, Azira.." Panik mereka sambil mengambil alih piring yang ada di tangan Azira.


Mengernyit tidak suka, Azira berpikir apakah pembantu ini ingin menghentikannya?


"Non pakai piring yang sudah kering saja daripada piring ini, lihat, ini masih basah non."


Dengan panik salah satu pembantu memberikan Azira piring yang sama namun sudah kering.


"Hem." Responnya tidak perduli seraya melanjutkan tangannya menyendok nasi goreng seporsi.


Menaburkan suir ayam diatasnya, tangan Azira dengan lancar mengambil 2 telur mata sapi yang setengah matang.


Sebenarnya ini sudah matang namun karena Azira orang kampung yang biasa makan telur mata sapi yang sudah sangat matang, maka jadilah ia menganggap telur ini sedikit tidak matang karena masih basah di wilayah kuningnya.


Melirik Humaira yang sedikit pucat namun tidak terlihat kesakitan sama sekali.


"Pagi." Sapanya balik.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya bingung karena sedari tadi Humaira terus saja membuntutinya.


"Aku ingin sarapan bersama dengan mu." Jawab Humaira langsung tanpa menyembunyikan apapun.


Mengernyit terganggu, Azira tidak tahu motif apa yang Humaira gunakan untuk mendekatinya. Apakah ia itu alasan baik atau tidak, ia tidak bisa menebaknya.


Melihat kewaspadaan Azira, Humaira tahu jika saudaranya ini mungkin terganggu dengannya. Tapi harus bagaimana lagi, Humaira tidak ingin menjauh dari saudaranya. Ia ingin terus dengan Azira.


"Baiklah." Putus Azira sulit menolak.


"Sarapan di taman?" Tanya Humaira girang.


"Baiklah."


Sesampainya di taman, mereka langsung melahap sarapan masing-masing dengan damai. Entah pemahaman diam-diam apa yang mereka telah tanamkan tetapi yang pasti tidak ada yang saling mengganggu.


"Kenapa tidak ikut sarapan dengan yang lain?" Tanya Azira memulai pembicaraan ketika ia sudah menyelesaikan sarapannya.


"Aku sedang tidak sholat jadi langsung saja sarapan, lagipula jam setengah tujuh nanti aku akan langsung pergi kerja."


Mengangguk paham, diam-diam Azira mengamati wajah cantik Humaira yang indah. Lalu pandangannya kemudian berpaling menatap langit yang perlahan mulai terang.


Entah mengapa Azira merasa jika Humaira sama persis dengan suasana pagi ini, begitu indah dan damai.


"Aku dengar..kau akan segera menikah, apa benar?" Tanya Azira dengan suara kecilnya.


"Ahaha.. pasti Mbok Yem yang sudah menceritakannya kepada mu, astagfirullah.. itu benar Azira, aku akan segera menikah."


Humaira tidak bisa menahan emosi kebahagiaannya yang meluap-luap ketika mengatakan ini.


Mata persik Azira tiba-tiba menyipit penuh muslihat, "Kapan?"


Tidak terpengaruh dengan ekspresi aneh Azira.


"Insya Allah satu minggu lagi dan mulai besok kami akan mulai persiapan." Jawab Humaira jujur.


Karena Azira sekarang adalah saudaranya maka kenapa tidak mengatakan semuanya saja?


Humaira ingin semua orang berbahagia di saat pernikahannya nanti dan ia berharap adanya Azira bisa menghidupkan suasana rumah setelah kepergiannya nanti.


"Aku turut bahagia mendengarnya." Bisiknya lemah.


Menundukkan kepalanya, diam-diam pikiran licik Azira bekerja. Terus berputar-putar untuk menemukan celah mana yang akan ia gunakan dihari itu.


"Ahaha..aku harap kau juga segera menemukan jodohmu agar segera menyusul ku nanti."


Humaira dengan tulus berdoa agar Azira juga bisa menemukan laki-laki yang pantas untuknya. Menjadi imam untuknya dan mampu membimbing saudaranya ini ke jalan yang benar.


Jauh dalam hatinya ia berdoa untuk Azira, untuk saudaranya terkasih.


Meskipun beda Ibu tapi tetap saja mereka adalah saudara dan Humaira pun tidak perduli dengan hal itu karena saudara tetaplah saudara baginya.


"Ya, aku akan segera menyusul mu." Bisik Azira dengan senyuman simpulnya.


...🍃🍃🍃...


"Non Humaira gak dijemput sama Mas Furqon, yah?" Tanya Mbok Yem penasaran karena melihat majikan tersayangnya itu sedang memanaskan mobil.


Tersenyum lembut, "Enggaklah Mbok, kita kan lagi masa penenangan sebelum akad."


"Sudah tahu masa penenangan tapi masih aja pergi kerja."


"Mama, ih!" Manja Humaira seraya memeluk Mamanya sayang.


"Hari ini dan seterusnya Humaira gak usah pergi kerja soalnya tadi calon mu udah nelpon kalo ia sudah urusin kamu surat cuti selama pernikahan." Bisik Mamanya lembut.


"Ih, kok gak bilang-bilang Humaira sih? Mas Furqon kok tega yah!" Gerutu Humaira kesal.


Tersenyum lembut khas seorang Ibu, tangan Mama dengan lembut mengelus puncak kepala putri satu-satunya yang akan menjadi milik orang lain.


"Dia tahu kalau kamu gak bakal setuju makanya langsung telpon Ayah. Ya udah, kamu ganti baju dulu gih soalnya hari ini ada pengukuran baju dari Mbak Yana."


Ia tahu Humaira tidak akan setuju diberikan cuti seperti ini oleh karena itu Furqon memilih langsung menghubungi dengan sang suami.


"Pokoknya Mas Furqon bakal aku kasih pelajaran nanti. Oh yah, tadi Mama bilang yang ngulur baju aku nanti Mbak Yana yah?"


Mama mengangguk dengan yakin.


"Mbak Yana yang kemarin urusin acara pernikahan Annisa?, Ya Allah Mama tahu aja kalau Humaira suka banget sama gaun pengantin yang dibuat Mbak Yana untuk Annisa. Bagus banget Ma, Mama kemarin lihat kan?" Histerisnya sambil berjingkrak-jingkrak senang.


Bagaimana ia tidak senang jika orang yang akan membuat gaunnya adalah orang yang juga membuat gaun pengantin yang ia suka.


Melihat betapa cantiknya gaun pengantin itu, Humaira tidak bisa memalingkan matanya dari sosok Annisa yang begitu indah dalam balutan gaun pengantin itu.


"Iya sayang, kemarin Mama lihat makanya langsung Mama hubungi dia untuk gaun pengantin mu nanti." Mama tahu betul jika Humaira jatuh cinta dengan hasil karya Yana sehingga ia langsung menghubunginya kemarin.


Ia ingin segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan Humaira nantinya adalah semua yang anaknya sukai.


"Ya Allah..Mama ih, Humaira senang banget tahu!"


"Ya udah, masuk dulu yuk.. ganti baju kamu dulu."


"Oh, Ayo Ma."


...🍃🍃🍃...


Dan di sinilah Azira, terduduk santai di sebuah ruang kerja yang minimalis. Semua barang-barang di sini begitu tertata rapi dengan tata letak yang unik.


Sejujurnya ini begitu menyenangkan mata.


"Ternyata kau masih berhubungan dengan orang-orang dari club malam itu, kenapa? Apa kau berniat menjual tubuh mu seperti wanita itu?" Suara berat Ayahnya menginterupsi suasana santai Azira.


Seketika wajah santai Azira berubah menjadi ekspresi datar, tidak ada emosi di dalam matanya kecuali hanya rasa benci yang terus saja bergejolak.


"Aa..jadi ia sama saja, tidak ada yang dapat dipercaya." Suara Azira dingin, melirik sang Ayah yang juga menatapnya tanpa ekspresi.


Sudah ia duga bukan bahwa Mbok Yem tidak jauh berbeda dengan mereka, bahkan disaat ia dengan terang-terangan memintanya untuk tutup mulut, ia dengan santai menceritakan ini kepada laki-laki sampah yang ada di depannya ini.


"Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa tinggal di sini berarti memutuskan hubungan mu dengan dunia kotor itu, tapi kenapa kau masih saja bertingkah?"


Mendengar ada rasa kekejaman di nada suaranya, Azira tidak bisa menahan tawa ejekannya. Pantas saja, pantas saja Ibunya menderita karena laki-laki yang ia cintai dengan tulus adalah sampah busuk yang licik, Azira benci mengetahui bahwa ia adalah benih laki-laki ini.


"Dengar, aku mau tinggal di sini bukan berarti kau bisa mengaturku sesuka hatimu. Aku bukan Ibu yang patuh dengan aturan sampah mu, tapi aku Azira, anak haram yang kau tidak inginkan ada di dunia ini. Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan jika aku mau dan aku bisa tidak melakukan apa yang kau inginkan, aku bukan siapa-siapa mu di sini." Ujarnya sarkas.


Bangun dari duduknya, "Lagipula kau tidak perlu bersusah payah melihatku seperti anakmu sendiri karena aku pun tidak ingin ditatap seperti itu oleh mu. Rasanya kau tahu? Rasanya begitu menjijikkan ketika harus sedekat ini dengan mu, aku benci dengan mu!" Ungkapnya muak.


Ia lalu keluar dari ruangan itu, membanting pintu ruangan tersebut dengan kemarahan. Kemudian emosinya semakin memburuk ketika melihat Mbok Yem yang sedang sibuk mengganti bunga di vas bunga.


"Non-"


"Tutup mulut mu sialan, dasar munafik." Marahnya bergejolak. Bahkan tanpa menunggu Mbok Yem merespon ia sudah berjalan jauh.


Pikiran Azira benar-benar kacau sehingga ia memutuskan untuk menenangkan diri di luar rumah. Berjalan sesuka hati tidak terasa cairan hangat sudah memenuhi mata persiknya yang menyendu.


"Aku membencinya!" Gumamnya benci.


"Aku benci laki-laki tua bangka tidak tahu malu itu!" Ia terisak lelah.


Begitu lelah rasanya harus berpura-pura tidak perduli pada laki-laki yang telah menghancurkan Azira dan Ibunya. Ia sesungguhnya sudah putus asa dengan semua ini, ia rasanya ingin mati saja.


"Azira!" Mendongak kaget, dari jauh ia bisa melihat nyonya Bara mendekatinya.


"Sial." Umpatnya sambil mengusap cepat air mata diwajahnya.


"Azira, akhirnya aku menemukan mu juga."


"Ada apa lagi nyonya, bukankah sudah jelas aku tidak ingin bergabung dengan mu?"


Azira masih tidak habis pikir mengapa orang ini begitu keras kepala. Padahal ini sudah kesekian kalinya ia menolak ajakan wanita ini tapi tetap saja ia terus mencarinya.


"Yah, mungkin kemarin kau bisa menolak ku tapi tidak dengan hari ini." Nyonya Bara tersenyum sinis, menampilkan wajah congkaknya yang menjijikkan.


"Maksud kamu.."


Seketika Azira menjadi was-was menatap sekitarnya. Ia seakan bisa ada beberapa mata yang sedang mengawasinya.


"Tangkap, dia!" Perintah nyonya Bara langsung.


Tiba-tiba dari gang di samping Azira, muncul dua laki-laki kekar yang berjalan cepat dan ganas menuju Azira.


Merasa terancam, Azira tahu bahwa ia tidak punya jalan lain selain berlari menjauh yang ia bisa. Ia terus berlari di sekitar jalanan yang anehnya tiba-tiba menjadi sepi.


"Neng geulis teh mau kemana atuh?" Salah satu preman menarik kasar lengan kurus Azira, membuatnya hampir jatuh terjungkal.


"Lepas!" Teriak Azira meraung.


"Lepaskan aku, sialan!" Ia berteriak putus asa, rasanya ia ingin sekali menangis keras di sini.


Azira dengan sekuat tenaga memukul-mukul lengan kekar preman itu, berharap pukulannya bisa membuat preman ini kesakitan. Namun harapan hanya sekedar harapan karena tiba-tiba preman yang satu juga menarik tangan yang ia gunakan untuk memukul.


"Neng geulis teh jangan galak-galak atuh, nanti muka cantiknya hilang lho." Senyumnya menggoda yang mana membuat Azira merasa muak.


"Aku bilang lepaskan! Lepaskan aku!" Teriak Azira tidak tahan.


Betapa liciknya wanita tua bangka itu, ia bahkan menggunakan cara kotor ini hanya untuk membawanya masuk ke dalam bisnisnya. Padahal masih banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dari Azira, tapi mengapa wanita ini terus mengincarnya!


"Cek...cek..jangan nangis atuh neng-"


Drittt


"Aww!" Tiba-tiba sebuah mobil datang menyerempet preman gondrong bertampang sangar di sampingnya. Membuatnya terjatuh kesakitan sehingga cengkeramannya pada tangan Azira terlepas.


"Sakit sialan!" Teriaknya mengumpat kesakitan.


Melihat situasi itu, Azira langsung memanfaatkannya untuk memukul-mukul preman yang satu lagi. Preman itu masih shock melihat rekannya yang jatuh di atas trotoar menahan sakit.


"Diam, gadis sialan! Jangan bergerak lagi."  Perintah preman itu marah.


Namun Azira tidak perduli dan terus saja meronta-ronta minta dibebaskan, apalagi saat melihat seorang laki-laki muda yang keluar dari mobil itu semangat Azira semakin kuat untuk berontak.


Ini adalah kesempatan untuk lepas dari cengkeraman preman ini, maka dari itu ia terus saja bertingkah meskipun lengan kirinya telah memerah menahan sakit.


Plak


Karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Azira, maka preman itu langsung menamparnya sekuat tenaga. Sejenak, Azira benar-benar linglung dengan tamparan preman itu, ia pusing dan tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


Di samping itu, dalam waktu yang bersamaan laki-laki yang turun dari mobil tersebut langsung menendang keras perut preman itu karena marah melihatnya menampar seorang gadis dengan kasar.


Grab


Lalu, ia dengan cepat menangkap tubuh Azira yang akan jatuh karena kehilangan penyokong tubuhnya.


Pandangan Azira menjadi buram, ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah laki-laki ini. Akan tetapi yang pasti, tubuh laki-laki ini begitu hangat dan nyaman, membuat Azira tanpa sadar terbuai.


"Apa yang terjadi di sini dan siapa laki-laki ini?" Nyonya Bara tiba-tiba muncul menengahi, mencegah anak buahnya dipukul sampai babak belur.


"Tante, kenapa tidak langsung tanyakan saja pada kedua laki-laki ini lebih jelasnya." Mata dingin laki-laki ini begitu enggan untuk berkompromi, namun itu hanya sekedar kesan karena ia masih mempertahankan sikap sopan santunnya pada pihak lain.


"Nyonya, kami tadi sudah berhasil menangkap gadis ini namun karena laki-laki ini, rencana kami akhirnya gagal." Lapor preman yang masih merasa kesakitan diperutnya.


Mendengar laporan preman tersebut, mata hitam pekat nan tajam laki-laki itu pun jatuh pada sosok glamor tante-tante yang ada di depannya.


Dari tatapan matanya, laki-laki bisa menilai bahwa wanita dan kedua laki-laki sedang berkomplot untuk menculik gadis yang di pelukannya ini.


"Ah, pemuda tampan sepertinya ada kesalahpahaman diantara kita." Nyonya Bara mendekati laki-laki itu dengan senyuman palsunya.


"Kesalahpahaman apa maksud, Anda?" Tanya laki-laki itu tidak tertipu dengan senyuman manis nyonya Bara.


Tertawa kecil, tangan kanannya yang bersih dan lentik menunjuk Azira yang masih linglung di dalam pelukan pemuda itu.


"Dia adalah keponakan ku, tapi karena terjadi perdebatan di rumah ia melarikan diri ke sini. Jadi karena tidak punya pilihan lain aku harus menyewa dua orang ini untuk menemukannya." Jelas nyonya Bara dengan ekspresi yang meyakinkan.


Tersenyum lembut, pemuda itu dengan teguh menatap lurus nyonya Bara.


"Apakah sampai harus menggunakan kekerasan?" Tanya pemuda itu santai, namun menyiratkan sesuatu.


"Ah..itu karena dia terlalu nakal jadi mereka terpaksa menggunakan kekerasan." Elak nyonya Bara mencari pembenaran.


Namun sayangnya pemuda ini sama sekali tidak tertipu sekuat apapun ia memberikan alasan.


"Maka untuk memastikannya kenapa kita tidak menghubungi polisi saja untuk mengetahui apakah alasan kalian dapat diterima atau tidak meskipun kalian ini keluarga." Tawar pemuda itu mencari jalan tengah.


Spontan, ekspresi nyonya berubah pucat. Memperlihatkan ketakutan yang samar namun dapat dilihat dengan jelas oleh pemuda itu.


"Sepertinya tidak perlu karena-"


"Karena kalian berniat menculiknya, bukan?" Potong pemuda itu cepat.


Tertegun, tubuh nyonya Bara seketika membeku. Ia bahkan tidak bisa memberikan senyuman palsu yang biasa terbentuk manis di sudut bibir berkerut nya.


"Aku kenal gadis ini dan ia tinggal di komplek perumahan edelweis. Aku juga kenal keluarganya jadi bagaimana bisa kau mengaku-ngaku menjadi keluarganya?" Serang pemuda itu tajam, mencoba mengikis keberanian lawan bicaranya.


"Jadi, nyonya yang terhormat aku harap ini adalah terakhir kalinya aku melihat mu dan jika suatu hari aku mendengar kabar bahwa gadis ini tiba-tiba menghilang, maka orang pertama yang akan aku cari adalah-"


Cekrek


"Kamu." Ucapnya serius seraya memperlihatkan nyonya Bara fotonya yang baru saja pemuda itu ambil menggunakan handphonenya.


"Anda tahu bukan bahwa mencari Anda tidak akan sulit jika menyangkut aparat hukum, jadi aku harap berhati-hatilah lain kali." Ancam pemuda itu seraya memperbaiki posisi Azira agar senyaman mungkin di dalam pelukannya.


"Sial, ayo pergi." Perintah nyonya Bara sambil berlari menjauh dari pemuda itu.


Bersambung...


Jangan marah yah, ini promo terakhir wkwkwkw...


Bagi reader yang berkenan mampir silakan ke lapak orange (W. A. T. T. P. A. D) dengan judul Aku Bukan Humaira 🍃



Gak tahu hari ini bisa update episode selanjutnya karena hari ini saya agak sibuk. Bila ada waktu luang saya akan segera menulis malam ini agar bisa update episode selanjutnya, insya Allah 🍃