
Sejuk, inilah yang aku rasakan ketika melihat angin malam di pantai ini menerpa sisi wajahku yang lain. Bersama dengan suara deburan ombak yang mengalun kasar menabrak kerasnya karang jauh di sana tidak merusak kebahagiaan yang kurasakan secuil pun. Ya Tuhan, hatiku malah kian gugup mendengarnya karena ombak, pantai, pulau kecil ini, dan langit akan menjadi saksi bisu pernikahan ku bersama mas Adit.
Pernikahan keduaku dalam hidup ini namun penuh akan harapan sekali seumur hidup. Ya Tuhan, Engkau lebih tahu apa yang aku rasakan saat ini dan Engkau pun lebih tahu betapa diriku ingin pernikahan ini menjadi rumah terakhir yang ku singgahi.
Mas Adit. Laki-laki dingin yang sering ku kira tembok berjalan ini dulunya tidak tersentuh di dalam benakku. Ku kira bila wanita yang berhasil mendapatkannya adalah wanita yang hebat, wanita yang terlahir dari segudang prestasi dan memiliki daya tarik yang tinggi sebab mas Adit selalu menunjukkan citra yang tinggi dihadapan banyak orang.
Dan dua tahun sudah berlalu semenjak aku bergabung dalam kehidupan keluarga nyonya Rein dan tuan Davin, dan baru beberapa saat yang lalu aku meresmikan hubungan ku dengan mas Adit. Lalu beberapa hari kemudian mas Adit menarik ku ke dalam pulau ini untuk mengikat hubungan kami ke ikatan yang lebih sakral dan serius, yaitu menikah.
"Mbak Anggi?"
"Ah." Aku menoleh ke belakang.
"Nyonya." Sapa ku sembari menghampirinya.
Nyonya Rein melambaikan tangannya kepadaku. Dia lalu meraih tangan ku, menarik ku ke depan, berdiri ditempat awal ku berdiri. Kami berdiri bahu membahu menatap langit malam yang ditaburi oleh cahaya bintang. Sekalipun malam ini agak mendung dan berawan, tapi itu tidak bisa menyurutkan sama sekali cahaya bulan yang menerangi pulau ini. Karenanya, suasana malam ini sangat menyenangkan dengan suara ombak yang menggebu-gebu sebagai latarbelakang nya.
"Mbak, selamat. Akhirnya sebuah kebahagiaan yang lengkap datang menghampiri kehidupan mbak Anggi."
Aku menoleh menatapnya. Wajahku tanpa sadar mulai memanas karena ucapan langsung nyonya Rein.
"Terima kasih, nyonya. Aku ..aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan ku saat ini selain dari kata bahagia. Yah, aku sangat bahagia, nyonya. Aku... sungguh tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa kepada nyonya karena kesempatan yang nyonya berikan ku dulu menjadi peluang terbaik dalam hidupku dapat bertemu dengan laki-laki terbaik yang pernah ku temui dalam hidup ini. Terima kasih sedalam-dalamnya untuk nyonya dan tuan Davin." Ucapku tak kuasa menahan air mata yang mengalir dari mata ku.
Oh, entah sejak kapan mata ini mudah sekali menangis?
Aku tidak pernah memperhatikannya tapi yang pasti malam ini aku tidak menyalahkannya sebab ini adalah air mata tanda rasa syukur ku yang paling tulus kepada nyonya Rein dan tuan Davin. Mereka adalah orang-orang yang baik, memiliki hati yang tulus hingga aku akhirnya bisa bertemu dengan laki-laki sebaik mas Adit.
"Apa yang mbak Anggi bicarakan? Ini semua adalah garis takdir yang Tuhan garis kan kepada kita. Aku dan mas Davin hanya menjadi perantara saja di dalam hubungan kalian, selebihnya Tuhan yang mengatur semuanya. Tapi mbak Anggi, terlepas dari semua yang kita lalui mbak Anggi harus memahami satu hal bahwa hubungan mbak Anggi dan mas Adit pasti mendapat restu Tuhan. Tuhan meridhoi hubungan mbak Anggi dan mas Adit, menyatukan kalian dengan skenario yang tidak disangka-sangka, bukankah hasilnya begitu indah dan memukau mbak? Sebab skenario fantastis ini juga pernah ku rasakan, mbak. Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan dua hati yang sedang merindu dengan tulus. Dan untuk semua rahmat Tuhan tersebut, sampai dengan detik aku tidak pernah berhenti bersyukur. Bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan ku dan mas Davin, bahkan memberikan kami hadiah yang sangat luar biasa. Tuhan hadirkan Tio dan Aska di dalam kehidupan kami untuk mewarnai keraguan yang sempat melilit hati kami. Lalu untuk hari-hari selanjutnya aku tidak bisa menebak hadiah apa yang akan Tuhan berikan kepada kami lagi... mungkin...akan ada anak lagi di dalam kehidupan kami atau mungkin semua rencana atau karir mas Davin semakin gemilang. Aku tidak tahu dan aku tidak berani menebak, hanya berani berharap sembari bersyukur untuk semua yang Tuhan limpahkan."