
Semua berjalan sesuai dengan harapan Rein dan Davin dalam hidup ini. Berawal dari pertemuan asmara yang disengaja oleh Davin sendiri hingga berakhir menjadi sepasang kekasih yang telah melewati berbagai macam rintangan untuk tetap bersama. Air mata, pengorbanan, patah hati, kecewa, marah, bingung, dan berbagai macam emosi lainnya, mereka telah melewatinya dengan susah payah hingga mereka akhirnya sampai pada sebuah garis- yah, sebuah garis dimana Tuhan mengizinkan mereka bersatu kembali dalam sebuah ikatan yang sakral atas restu Tuhan.
"Mas, aku tidak percaya kita sekarang telah resmi menjadi sepasang suami-istri." Kata Rein lembut sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Saat ini mereka sedang duduk di atas pasir menikmati sinar matahari terakhir hari ini. Cahayanya memiliki warna keemasan yang indah, terpantul samar di atas gelombang air laut yang tidak pernah berhenti menabrak batu karang di pantai, terlihat sangat keras kepala dan tidak pernah putus.
"Tuhan selalu memiliki jalan untuk hamba-hamba-Nya yang tidak pernah putus asa memperjuangkan kemenangannya. Kita akhirnya menang, Ga. Kita menang melawan orang-orang yang memiliki niat jahat untuk menjatuhkan dan memisahkan kita berdua. Yah, kita menang dan Tuhan menghadiahi kita dengan pernikahan ini. Sungguh, betapa bahagianya aku dapat menikahi kamu. Memiliki kamu seorang diri dan menjadi satu-satunya orang pemilik hatimu. Rein Xia, Rein Xia istriku, aku tahu sejak pertama kali aku melihatmu bila bahagiaku ada bersamamu. Dan Tuhan telah menunjukkannya selama bertahun-tahun terakhir ini jika aku tidak akan pernah lepas dari dirimu selama sisa hidupku. Ini bukanlah sebuah hukuman, Rein, tapi ini adalah sebuah nikmat yang Tuhan limpahkan kepadaku untuk menebus semua ujian yang telah berhasil kita lewati." Ujar Davin mulai mengenang setiap pengorbanan yang telah dia lakukan.
Dia harus mengorbankan kedua orang tuanya untuk kekuasaan yang tidak dia harapkan, dia juga harus mengorbankan hubungannya untuk kekuasaan yang tidak pernah di inginkan, dia...dia hampir kehilangan dirinya untuk sesuatu yang tidak pernah dia inginkan.
Tapi Tuhan... Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Dia selalu berdiri di sisinya sembari mengingatkannya untuk terus berjuang melewati semua ujian ini.
Dan lihat sekarang, Davin berhasil melewati semua ujian dan Tuhan telah menyiapkan hadiah yang sangat luar biasa untuk semua perjuangannya.
Davin puas dan dia pun sangat bahagia.
Davin tersenyum. Tangan besarnya menjangkau puncak kepala sang istri, mengelusnya dengan ringan dan hati-hati, lalu mengecupnya lama untuk mengungkapkan perasaan sayangnya.
"Yah, ada kamu dan anak-anak, aku pikir hidupku sudah lengkap karena ada kalian." Kata Davin mengakui.
Tidak bisa dipungkiri anak-anak sangat berperan penting terhadap keberhasilan mengejar cinta Rein kembali. Dan karena itu pula Davin telah berjanji di dalam hatinya untuk memanjakan anak-anak dan istrinya, berusaha sekuat mungkin meluangkan waktu lebih banyak untuk rumahnya yang hangat.
Seolah angin menyampaikan suara kerinduan mereka berdua, Aska dan Tio tiba-tiba keluar dari vila, berlari cepat dengan suara tawa riang gembira yang menyegarkan pendengaran kedua orang tua mereka di sisi pantai.
"Daddy, Mommy!" Tio berteriak nyaring.
Tampaknya Aska sedang mengejar Tio dan ingin menangkapnya. Tio sangat ketakutan dan terus berlari sekencang mungkin untuk mengindari jangkauan Kakaknya, namun meskipun takut, wajah gembil nya memerah terang karena bahagia.