
Davin benar-benar bingung dengan tingkah Rein baru-baru ini. Pasalnya Rein memiliki mood yang sangat buruk dan mudah tersinggung. Apalagi baru-baru ini Rein tidak hanya mudah tersinggung tapi juga sangat galak. Rein tidak suka didekati olehnya padahal pada awal-awal kehamilan Rein selalu menempeli nya kemana-mana, melarangnya mandi jika sedang berkeringat sampai menjelang tidur dan memaksanya berkeringat bila sedang tidak berkeringat.
Saat itu Davin memiliki duka dan cita. Duka karena jarang mandi, dalam 1 minggu dia bisa mandi 3 kalian itupun kalau Rein sedang lengah dan dia juga harus berakhir kena marah oleh Rein. Lalu citanya, Hem...Davin memang sangat menikmatinya. Karena kemanapun dia pergi Rein akan terus menempeli nya seperti perangko. Seringkali Rein lebih suka digendong daripada jalan sendiri ketika bersama Davin.
Tapi setelah memasuki kehamilan 7 bulan, Rein langsung berubah menjadi orang yang baperan, mudah tersinggung, mudah marah, dan tidak suka terlalu dekat dengan Davin. Alasannya?
Muka Davin terlalu menyebalkan, dia memiliki bau yang selalu membuat Rein semakin mual, dan setiap kali melihat Davin di rumah Rein pasti akan memiliki keinginan melempar Davin dari rumah ini.
Davin tidak bisa menerimanya, jujur. Apalagi saat tidur, tidak hanya Rein tidak mau dekat dengannya tapi juga tidak mau bersentuhan dengannya. Davin sungguh tersiksa tinggal jauh dari istrinya. Tapi apalah daya, ini adalah kemauan bayinya yang telah membuat masalah bahkan sebelum keluar melihat dunia.
"Masih di dalam rahim saja sudah membuat banyak masalah apalagi setelah lahir ke dunia nanti. Kayaknya anak itu laki-laki karena nakalnya sudah seperti kedua Kakaknya." Gumam Davin nelangsa meratapi nasib di pinggir halaman rumah.
Dia di sini mengawasi istrinya yang sedang piknik dengan anak-anak dan Anggi.
Frustasi rasanya. Davin ingin memeluk istrinya tapi sang istri justru melemparinya sendal jepit agar segera menjauh.
"Bos...bos, lihat deh. Nyonya besar sedang berjalan ke arah kita." Adit buru-buru melapor kepada bosnya yang sedang duduk meratapi nasib di balik semak-semak.
Davin terkejut dan langsung menegakkan badannya antusias,"Seriusan?"
Adit tidak menjawab tapi langsung menyeret bosnya untuk segera berdiri menyambut kedatangan Nyonya besar kebanggaan mereka.
Begitu berdiri Davin akhirnya bisa melihat dengan jelas kekasihnya yang sedang berbadan dua perlahan berjalan menuju ke arahnya. Perut Rein sudah sangat besar dan tubuhnya pun jauh lebih berisi daripada sebelumnya. Tapi meski begitu Davin merasa bila Rein anehnya berkali-kali lipat lebih menggoda dari sebelumnya. Dia sangat suka tampilan perut besar Rein dan dia juga sangat suka menyentuh tubuh berdaging Rein yang jauh lebih sintal daripada beberapa bulan yang lalu.
"Sayang?" Davin tersenyum lebar tapi tidak berani mendekat.
Takutnya Rein kembali melemparkannya sendal jepit lagi. Bukan karena malu tapi karena sakit, woy. Istrinya kalau udah marah pasti tenaganya power full.
"Mas Davin, aku mau minta tolong sama kamu, Mas." Kata Rein menghentikan langkahnya agak jauh dari Davin.
Tampilannya sangat lembut dan menipu, jika Davin tidak pernah merasakan sendal jepit sebelumnya, dia pasti akan tertipu.
"Minta tolong apa, kamu bilang aja. Nanti pasti aku usahain cari kok." Kata Davin perhatian.
Rein tersenyum puas. Tangannya yang agak berdaging bergerak secara teratur mengelus lembut permukaan perutnya yang sudah sangat menonjol. Pemandangannya ini sangat manis dan menghangatkan hati Davin.
"Terima kasih, Mas. Ini lho Mas, akhir-akhir ini aku sering banget mikirin Dimas sebelum tidur ataupun lagi makan. Aku pikir ini pasti permintaan baby kita ingin bertemu dengan Dimas. Jadi Mas Davin tolong cariin aku Dimas yah karena ini permintaan baby kita. Kalau Mas Davin enggak turutin nanti baby kita ileran lho lahirnya."
Davin yang tadinya bersemangat tinggi dan memiliki gelar suami siap siaga,"...." Apa sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang?