My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
17. (17)



Pukul 4 sore aku dibawa pergi oleh mas Adit ke sebuah pasar yang selalu ada saat ada acara-acara tertentu di kota. Pasar ini mirip seperti pasar malam yang menjajakan beraneka macam makanan atau hal-hal yang mampu menarik minat, terutama untuk para perempuan seperti ku.


Ugh, hari ini mas Adit membawaku jalan-jalan ke berbagai macam tempat di kota ini. Berawal dari pantai, lalu berkunjung ke tempat hiburan di dekat pantai, kemudian beralih ke kebun buah-buahan yang sangat menggiurkan, dan terakhir kami ke sini.


Tidak seperti di pantai, kali ini mas Adit tidak menggenggam tanganku. Namun ini bukan masalah karena memang pada kenyataannya aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa. Fiuh, bisa berjalan dengannya saja merupakan suatu kebahagiaan di dalam hidupku, apalagi sampai lebih jauh lagi...argh...aku tidak bisa membayangkannya!


"Pilih sesuatu yang kamu suka, aku akan mentraktir mu."


Aku jelas terkejut dan betapa senangnya aku mendengar tawaran mas Adit. Bukan karena di traktir tapi karena mas Adit mengambil inisiatif untuk mentraktir ku!


"Tidak perlu, mas. Aku punya uang kok dan masih sanggup bayar." Nah, aku masih harus bersikap rendah hati kepada mas Adit dan jangan terlalu terburu-buru menerima.


Hei, jual mahal itu perlu!


"Tidak apa-apa, kamu datang bersamaku dan akan pulang bersama ku juga. Sudah seharusnya semua pengeluaran mu ditanggung oleh ku."


Memang benar bila beberapa hari di kota ini aku tidak pernah mengeluarkan uang karena semua biaya penginapan hingga makan pun ditanggung oleh mas Adit. Setiap kali aku ingin membayar mas Adit selalu menolak.


"Sungguh tidak perlu, mas. Aku tidak mau merepotkan mas Adit untuk urusan sekecil ini." Aku masih kukuh menolak.


Ehem, percakapan kami berdua sudah seperti sepasang kekasih yang baru saja pacaran! Ah, apa sih yang aku pikirkan! Anggi! Anggi, sadarlah!


Mas Adit melihatku dengan pandangan aneh,"Baiklah jika kamu memaksa. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa."


Ah apa-apaan perkembangan dialog ini?!


Aku sampai tidak bisa berkata-kata! Aku pikir masih ada kelanjutannya dialog saling dorong mendirikan ini tapi aku rupanya terlalu banyak menonton drama!


Ya Tuhan, Anggi... Anggi! Kurangi asupan drama mu mulai dari sekarang!


Lalu tidak lama kemudian terdengar suara tawa renyah di samping ku, mengangkat kepalaku menatap wajah tertawanya yang langka, jujur aku tak bisa memungkiri betapa berdebar nya jantung ku saat ini. Desiran hangat mengalir lembut di dalam nadiku, mengirimkan perasaan lembut dan penuh kerinduan yang membasahi hatiku.


"Aku bercanda. Aku bercanda! Aku tidak mungkin menarik apa yang sudah aku ucapkan. Jadi, kamu bisa membeli apapun yang kamu suka di sini. Jika perlu kita bisa ke mall kota ini untuk membelikan Ibu, Ayah, serta anak-anak sebuah oleh-oleh."


Ah, betapa tampannya. Apalagi ketika mendengar suaranya yang sangat seksi, aku tidak bisa menahan kejutan di hatiku-


Oh apa yang aku pikirkan, malu, aku buru-buru menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan rona merah yang menodai pipiku. Ku sentuh pipiku yang panas dingin karena gugup, em, rasanya sangat panas!


Ini sangat memalukan.


"Tidak...tidak perlu, mas. Mereka pasti tidak senang bila aku membeli barang-barang di dalam mall. Lebih baik...lebih baik di sini saja, mereka pasti akan senang. En, aku berterima kasih karena mas Adit mau mentraktirku."


"Bukan masalah besar, aku senang menghabiskan uang untukmu."


Suara rendah itu seolah merasuki indera pendengaran ku.


"Ah, mas Adit?" Panggilku spontan.


"Hem?"


Dengan malu-malu aku mengintip wajahnya untuk melihat bagaimana ekspresinya sekarang.


Deg


Apa mas Adit benar-benar tersenyum?


Dia...dia tersenyum kepadaku?! Apakah ini hanya ilusi ku semata?!