
Melihat anggukan santai Niko, kedua tangan Dina langsung mengepal karena rangsangan cemburu di dalam hatinya.
"Oh."
Dina duduk dengan tenang di kursinya namun matanya tak pernah lepas dari pintu ruangan Adit. Dikira Adit tidak memiliki wanita khusus di dalam hatinya karena itulah Dina mulai mengembangkan sebuah harapan di dalam hatinya.
Ada kebanggaan tersendiri saat melihat tidak ada satupun wanita yang berhasil mendekati Adit selain dirinya, tentu saja. Dengan hak istimewa ini Dina berusaha membentuk dirinya menjadi gadis yang baik, tampak lembut dan ramah agar menarik perhatian Adit. Sebab dia memiliki pesona wanita cantik yang penurut dalam sekali pandang.
Dia pikir dengan peran dan posisi istimewanya ini dia akhirnya bisa menjalin hubungan dekat dengan Adit. Walaupun tidak langsung menjadi sepasang kekasih, akan tetapi mereka setidaknya melakukan pendekatan.
Tapi hubungannya hanya berjalan di tempat bahkan setelah berbagai macam upaya besar dia lakukan. Dia sejujurnya kecewa tapi bukan berarti menyerah begitu saja. Dia masih memiliki keyakinan bila Adit suatu hari akan menyadari keberadaannya dan menjatuhkan perhatian sepenuhnya kepada dirinya.
Dia telah lama mengharapkan momen ini sampai batas dia sering kali berhalusinasi. Tapi lihatlah sekarang. Adit akhirnya memiliki kedekatan dengan seorang wanita- Dina kecewa sekaligus cemburu karena itu bukan dirinya. Tempat itu bukan ditempati olehnya melainkan oleh wanita lain yang tidak tahu malu.
"Ada apa?" Tanya Niko heran melihat tingkah laku tenang Dina.
Ketenangannya sungguh tidak biasa dan Niko perhatikan mata rekan kerjanya selalu menatap ke arah pintu masuk kantor Adit.
Dina memulihkan senyumnya kepada Niko.
"Bukannya pagi ini pak Adit udah mulai kerja ngikutin jadwal, yah?" Tanya Dina kepada Niko- berpura-pura tampak bingung dengan pertanyaannya sendiri.
"Pak Adit sudah mengatur jadwal pagi ini untuk digeser selama satu jam." Jawab Niko mengabaikan Dina.
Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dina? Bukan ingin sombong tapi karena sering ditugaskan oleh Adit untuk menjalankan misi Niko menjadi orang yang tanggap dan peka terhadap ekspresi orang.
Dia telah lama menebak bila Dina juga salah satu di antara para wanita itu. Sebab dia bisa merasakan bagaimana cara Dina memandang Adit dan bagaimana sikap Dina terhadap Adit.
Hanya sayang sekali Adit buta terhadap semua perhatian yang dia rasakan dan hanya menganggap Dina sebagai bawahan biasa.
"Pak Adit terlalu impulsif. Dengan cara ini dia akan semakin lelah bekerja hari ini. Dan wanita itu juga harusnya tidak mengganggu kinerja mas Adit. Dia harusnya tidak datang ke sini dan menghambat pekerjaan pak Adit." Keluh Dina sambil mengepalkan kedua tangannya marah dan cemburu.
Jika keberadaan Anggi tidak penting, mana mungkin Adit mau mendorong jadwal hari ini yang sudah disusun dengan rapi.
Niko meliriknya dengan penuh arti. Dia lalu berkata untuk mengingatkan Dina.
"Jaga bicaramu. Mbak Anggi ke sini karena diutus langsung oleh nyonya Rein. Kalau tidak untuk apa dia begitu berani datang ke sini dan mengganggu waktu pak Adit? Jika salah satu orang-orang nyoya Rein mendengar apa yang kamu katakan tadi, percayalah karir mu di perusahaan ini tidak tertolong lagi." Kata Niko serius dengan ekspresi cemberut di wajahnya.
Mendengar teguran keras Niko, wajah Dina langsung memerah karena malu.