
Rein diam-diam setuju dan mulai merindukan rumah hangatnya. Bertanya-tanya apa yang sedang anak-anak lakukan di rumah saat ini dan apakah mereka menikmati makanan yang dia buat untuk mereka tadi.
"Pa, sebagai pemimpin keluarga, tolong berikan kami keputusan yang adil demi keluarga kita." Revan sekali lagi mengarahkan tombak masalah kepada Kakek Demian.
Kakek Demian perlahan membuka mata tuanya. Menyapu penglihatannya kepada semua anggota keluarga yang ada di sini dengan ekspresi yang sangat rumit. Menghela nafas panjang, dia akhirnya mengeluarkan suara dan berhasil membuat semua orang tercengang.
"Kenapa kalian bertanya kepadaku? Aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Jika kalian ingin bertanya, maka seharusnya kalian mengarahkannya pertanyaan ini kepada pemimpin keluarga kita, Davin." Ujar Kakek tanpa emosi.
BOM
Mereka semua langsung tercengang begitu mendengarnya.
Mengabaikan keterkejutan semua orang, Kakek kembali memejamkan matanya untuk bersantai dan mulai mengisolasi diri dari keributan.
"Pemimpin keluarga? Apa maksud, Papa?!" Otak Revan lambat mencerna informasi besar ini atau lebih tepatnya, katakan saja dia menolak untuk mempercayai kebenaran ini.
"Kamu bahkan tidak mengerti kata-kata sederhana tapi masih bermimpi ingin menduduki tempat ku?" Suara rendah dan malas Davin begitu segar di dalam pendengaran semua orang.
"Kamu...kamu masih pewaris dan belum resmi menjadi kepala keluarga Demian!" Bantah Nenek panik. Dia bahkan berdiri dari duduknya dan melupakan etiket yang seharusnya dia miliki sebagai Nyonya- ops, lebih tepatnya mantan Nyonya keluarga Demian.
"Aku pikir beberapa orang di sini mengalami masalah kepala, tidakkah mereka seharusnya minum obat, hubby?" Rein berbicara dengan nada arogan yang sangat menyebalkan.
Dia bahkan tidak takut bertatapan langsung dengan mata Nenek yang kini tengah menatapnya dengan mata tajam nan mengerikan.
Hubby,
Panggilan ini tiba-tiba Rein sematkan di waktu yang sangat tidak tepat. Membuat Davin langsung membeku di tempat dan memiliki keinginan untuk segera mengunci Rein!
"Lancang! Apakah kamu tahu dengan siapa kamu berbicara sekarang?!" Teriak salah satu Paman yang berdiri di pihak Revan.
Tanpa menunggu Rein maupun Davin berbicara, Adit lebih dulu mengambil kesempatan.
"Tuan, tolong hati-hati saat berbicara. Saat ini Anda sedang berbicara dengan Nyonya besar keluarga Demian dan bukan sembarang orang." Adit membuat suasana semakin riuh dan tegang. Mereka jelas tidak mempercayai apa yang Adit katakan, namun diamnya Kakek Demian seolah menyatakan bahwa Rein benar-benar telah menjadi Nyonya besar keluarga Demian.
"Nyonya besar?!" Mereka berbisik-bisik dengan rasa kejutan yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.
"Omong kosong apa yang kamu katakan?! Aku adalah Nyonya besar keluarga Demian! Hanya ada aku dan tidak ada yang lain. Tidak ada yang diizinkan untuk mengambil kursi ku-"
"Aku bilang beberapa orang di sini mengalami masalah kepala dan harus minum obat. Jika tidak, hasilnya akan seperti ini. Dia masih tidak sadarkan diri saat membuat masalah dan berteriak seolah-olah dia adalah penguasa bumi. Hah...ini sangat menggelitik ku." Ucap Rein bernada sinis.
Mendengar penghinaan Rein kepadanya. Nenek semakin marah dan ingin mengatakan sesuatu tapi lebih dulu diinterupsi oleh suara dingin nan malas milik Davin.
"Aku adalah kepala keluarga Demin dan tentu saja, kekasihku adalah Nyonya besar keluarga ini. Jika kalian masih bersikeras menentang kekasihku, maka aku tidak masalah memindahkan beberapa dari kalian ke tempat yang baik untuk menenangkan pikiran." Katanya dengan nada mengancam.
Davin selalu tidak main-main dengan ancamannya dan semua orang di rumah ini tidak pernah meragukannya.
Davin mengerti dan dia sama sekali tidak terkejut melihat reaksinya.
"Aku tidak suka membuang-buang waktu untuk menjelaskannya kepada kalian jadi silahkan buka ponsel kalian dan lihat situs perusahaan Group Demian." Instruksi Davin tidak mau nanya bicara.
Mendengar instruksi Davin, mereka langsung membuka ponsel dan masuk ke dalam situs perusahaan Group Demian. Begitu masuk mereka dibuat sangat terkejut dengan jumlah saham yang dimiliki oleh Davin saat ini.
50 persen?!
Kedua mata mereka membola karena terkejut. Bertanya-tanya sejak kapan Davin memiliki saham sebanyak ini?
Dengan 50 persen saham yang dimiliki ditangannya, Davin adalah pemilik perusahaan Group Demian. Posisinya tidak tergoyahkan dan tidak bisa diganggu gugat kecuali Davin menyelewengkan tugasnya sebagai pemimpin atau memilih mundur secara pribadi.
"Ini... darimana kamu mendapatkan saham sebanyak ini?" Tanya salah satu Paman dengan kedua tangan gemetaran hebat.
Davin dengan malas menjawab,"Satu setengah tahun yang lalu, Kakek secara resmi memberikannya kepadaku." Jawab Davin mengakui.
Setelah kecelakaan mobil dan mengalami kelumpuhan, Kakek diam-diam mengubungi untuk meminta maaf dan mentransfer semua saham yang dia miliki kepada Davin. Awalnya Davin menolak karena kondisinya yang sangat hancur, tapi Kakek tetap memasaknya dan mengatakan jika Davin akhirnya lulus dari berbagai macam ujian, dia akhirnya resmi menjadi kepala keluarga Demian sejak saham Kakek berpindah tangan menjadi miliknya.
"Apa-apaan ini, kenapa Papa tidak memberitahu kami terlebih dahulu?!" Beberapa orang sulit menerima kenyataan ini.
Saham Kakek Demian sebelumnya adalah yang terbanyak dan menjadi incaran semua orang. Mereka pikir kekayaan itu akan menjadi milik mereka setelah dibagi rata, tapi siapa yang mengira jika saham itu justru telah masuk ke dalam dompet Davin?!
"Ini tidak akan seru jika kalian mengetahuinya lebih awal." Ujar Davin santai, menikmati betapa tertekannya mereka saat ini.
"Saham suamiku tidak bisa menjadi milikmu! Itu adalah saham suamiku dan harus dibagi sama rata dengan anak-anak suamiku yang lainnya!" Teriak Nenek ingin memprovokasi semua orang.
Lagipula semua orang menyukai uang jadi dia yakin mereka semua pasti ingin mendapatkan uang dari saham itu.
Dengan begini, orang-orang harusnya menjauhi Davin dan menyudutkannya.
Namun orang-orang dikubu Davin sama sekali tidak menunjukkan pergerakan dan hanya diam menunggu Davin menunjukkan rencananya. Hei, melihat sikap Davin malam ini bagaimana mungkin mereka tidak bisa melihat jika Davin sedang merencanakan sesuatu?!
"Aku juga berpikir begitu. Tapi mau bagaimana lagi, Kakek sendiri yang memberikannya kepadaku jadi aku minta maaf kepada kalian semua karena tidak mendapatkan apa-apa dariku."
"Kamu-" Nenek sangat marah dan hampir kehilangan kendali.
"Aku lelah melihatnya terus berbicara. Adit, minta seseorang untuk membungkam mulut wanita tua itu." Potong Rein dingin dan acuh tak acuh.
Adit langsung melaksanakan tugasnya. Dia tanpa ragu memanggil beberapa bawahannya untuk menyeret Nenek pergi.
"Kamu berani?!"