My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
73. Tugas Pembantu



"Kamu menanam bunga mawar?" Rein iseng bertanya ketika melihat banyak bibit mawar yang tampak baru ditanam.


Davin hanya melirik sekilas,"Hem." Responnya singkat.


Davin berjalan cepat menuju pintu masuk tanpa menyadari jika Rein di belakang agak kewalahan mengikuti langkah besarnya. Walaupun kewalahan, Rein tidak mengeluh dan berusaha tidak mengejarnya.


"Tuan, Nyonya, kalian akhirnya pulang." Suara dingin Adit menyambut kedatangan mereka di depan pintu masuk vila.


"Ekhem," Davin berdehem ringan. Melirik Rein dari sudut matanya.


"Cukup panggil dia Rein mulai dari sekarang."


Adit sontak memperbaiki panggilannya dan meminta maaf kepada Rein.


"Paman baik hati! Mommy, ini adalah paman baik hati yang membelikan (memberikan) Tio mainan!" Lapor Tio dengan semangat tinggi.


Rein mendelik sudah menebak dari sebelumnya jika orang yang memberikan Tio mainan adalah orang suruhan Davin. Ia semakin yakin saat Davin memberikannya hasil tes DNA Tio.


Rein hanya menyapa Adit dengan anggukan penuh keengganan. Setelah itu ia buru-buru mengikuti Davin masuk ke dalam vila.


...🍃🍃🍃...


"Ini adalah kamarmu," Davin menunjuk pintu di sebelah kiri.


"Dan ini adalah kamarku." Sambungnya sambil menunjuk pintu di sebelah kanan.


Kamar mereka hanya terhalangi dinding saja dan sungguh sangat berdekatan. Rein bahkan sampai harus menutup mulutnya serapat mungkin untuk mencegah kata-kata mutiara keluar dari mulutnya.


"Apa kamu tidak punya kamar lain?" Tanya Rein heran.


Ia tidak percaya jika vila sebesar ini hanya memiliki dua kamar. Ia yakin jika di sini ada lebih dari dua kamar karena apartemen Dimas saja yang kecil mempunyai dua kamar jadi tidak menutup kemungkinan jika vila ini memiliki kamar lebih.


"Ada," Katanya sambil menunjuk pintu coklat di samping dapur.


"Sudah ku jadikan sebagai ruang kerjaku." Jawab Davin mengecewakan.


Rein mendesah tidak percaya. Bagaimana mungkin tempat kerja harus bersanding dengan dapur karena pikirkan saja, dapur sarat akan suara berisik dimana berbagai macam alat dapur bisa menghasilkan suara yang seharusnya cukup menjengkelkan untuk orang yang butuh konsentrasi seperti Davin.


Rein tidak mungkin memasak di dapur dengan gerakan hati-hati apalagi sampai menghilangkan suara. Itu amat sangat tidak mungkin.


"Bagaimana... bila ruang kerjamu pindah ke kamar ini-"


"Kenapa aku harus mendengarkan perintah mu? Di sini aku adalah bosnya, apa kamu lupa?" Potong Davin tidak suka.


Rein memutar bola matanya malas.


"Baik, kamu adalah bosnya. Tapi aku meminta pindah karena suara-suara dari dapur pasti akan menggangu pekerjaan mu." Rein menjelang dengan sabar.


Davin tersenyum miring,"Apa kamu bodoh? Dunia sekarang sudah maju dan canggih. Aku bisa menghidupkan mode kedap suara di dalam jika ada suara mengganggu diluar."


Oh, Rein benar-benar melupakan hal sepenting ini, ah!


"Aku tidak tahu. Tapi tetap saja-"


"Pindahkan barang-barang mu ke dalam dan segeralah memasak. Aku dan Tio sudah lapar." Porong Davin santai.


Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya, mendorong pintu coklat dengan kaki kanannya dan,


Bam


Kamar ini lumayan luas dan cukup bersih seolah tidak pernah disentuh sebelumnya. Tidak ada hal khusus yang menarik perhatian dan Rein merasa cukup nyaman berada di dalamnya. Apalagi dari jendela kamarnya ia bisa melihat pemandangan danau di depan vila, jujur Rein tidak rugi tinggal di kamar ini.


Yah, dia tidak akan rugi.


Rein lalu memindahkan barang bawaannya ke dalam lemari. Menyusun pakaiannya dengan rapi di dalam lemari pakaian sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa lebih segar, ia keluar dari kamarnya.


Ia tidak menemukan siapapun diluar entah itu Davin atau Tio. Jika tidak mendengar suara Tio diluar, Rein mungkin akan berpikir jika Tio sekarang tidur di dalam kamar Davin.


Sebelum pergi ke dapur Rein sempat mengintip putranya di halaman depan sedang bermain dengan Adit. Wajah beku Adit saat ini menguap entah kemana ketika berhadapan dengan tawa kecil putranya.


"Laki-laki memang aneh." Bisiknya pada entah siapa.


Ia terdiam, melirik pintu kamar Davin yang masih tertutup rapat dengan pandangan rumit, bingung, ia lalu masuk ke dalam dapur untuk mulai memasak.


Waktu berlalu sangat cepat ketika Rein mulai menyibukkan diri di dalam dapur. Ia tidak sadar sudah menghabiskan waktu dua jam di dalam dapur. Jika Tio tidak datang mengatakan lapar, mungkin ia tidak akan bisa melepaskan dirinya dari dapur.


Sejujurnya, di antara semua pekerjaan rumah hanya memasak lah yang paling menarik perhatian Rein. Dia akan melupakan waktu dengan sendirinya ketika berada di dalam.


"Nak, Uncle Adit dimana?" Tanya Rein sembari menyiapkan meja makan.


Dia memasak banyak hidangan untuk ukuran dua laki-laki besar.


Tio menjawab dengan jujur,"Uncle Tio pulang, Mommy."


Rein tidak mengatakan apa-apa lagi. Terdiam, ia menatap semua makanan yang tersaji di atas meja, kemudian beralih menatap pintu kamar Davin yang masih tertutup rapat.


"Apa dia tidak keluar makan siang?" Rein ragu mendekati pintu kamar Davin.


"Bukankah sebelumnya dia mengatakan ingin makan? Tapi.... bagaimana jika dia ketiduran?" Rein membuat kesimpulan.


"Ck, dia sangat menyusahkan." Dia memutuskan memanggil Davin.


Tok


Tok-


Tangan Rein segera berhenti mengetuk ketika Davin tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Rein menurunkan tangan kanannya dengan canggung.


"Makanan sudah siap." Beritahu Rein.


Davin melepaskan kacamata kerja yang telah membebani pangkal hidungnya. Tangan kanannya yang bebas memijat keningnya yang terasa agak pusing.


Dia terlihat tidak baik-baik saja, sama seperti yang Rein lihat di kantor hari itu.


"Aku akan segera ke sana." Kata Davin masih sibuk memijat keningnya.


"Okay, Tio sudah menunggu di meja makan."


"Hem."


Rein lalu kembali ke meja makan. Diam, jari-jarinya bergerak tidak nyaman di atas meja.


"Hah," Pada akhirnya dia mengalah.


"Ini adalah tugas pembantu, ini adalah tugas seorang pembantu!" Ujarnya seraya masuk kembali ke dapur. Ia berencana membuatkan Davin segelas teh hijau untuk menghilangkan rasa penat dan lelahnya karena terlalu lama duduk di depan laptop.