
Rein dengan panik menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal dengan laki-laki yang telah menjadi sumber kehancuran hidupnya?
Tidak, dia tidak bisa melakukan itu lagi apalagi perasaannya kepada laki-laki ini belum juga menghilang.
Di samping itu dia tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan Davin dan tunangannya- tidak, tidak!
Lebih tepatnya dia tidak mau memperburuk luka di hatinya dengan melihat adegan mesra mereka berdua suatu hari nanti. Rein tidak sanggup.
"Aku tidak mau, aku tidak ingin tinggal denganmu." Rein segera menolak.
Davin tidak puas,"Maka kamu harus siap berpisah dengan Tio karena aku akan membawanya tinggal bersamaku."
Rein panik, dia menggelengkan kepalanya memohon.
"Jangan ambil Tio dariku..."
Davin bertanya dengan nada malas,"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan mu, Rein? Kenapa kamu masih belum mengerti apa yang aku katakan?"
Dia harus cukup bersabar untuk menarik Rein.
"Jika aku membiarkan Tio tinggal bersamamu maka dia akan menderita dan dipandang rendah, tidakkah kamu kasihan melihatnya?" Davin kian memojokkan.
Rein merasa bersalah. Dia tidak bisa melupakan betapa polos senyuman di wajah Tio ketika mengatakan memar merah di pipinya adalah bekas lemparan sebuah mainan dari teman kelasnya. Itu sangat menyakitkan untuk seorang Ibu.
"Aku..." Dia sekali lagi tidak bisa menjawab.
Davin melihat kesempatan kian terbuka lebar,"Dimana hatimu sebagai seorang Ibu, Rein?"
Rein memejamkan matanya.
"Aku butuh waktu untuk berpikir." Pada akhirnya dia tidak bisa memutuskan apa-apa.
Antara luka dari masa lalu atau nurani seorang Ibu, Rein tidak bisa memilih diantara mereka.
Posisinya sungguh sulit.
Davin tersenyum aneh,"Maka biarkan Tio pulang bersamaku malam ini." Katanya membuat keputusan tanpa menunggu persetujuan Rein.
"Tidak, Tio akan pulang denganku hari ini." Rein segera menolak.
Davin menuduh,"Jangan bermimpi. Jika aku membiarkannya pulang bersamamu maka siapa yang akan tahu hari esok kamu sudah meninggalkan kota?"
Ini murni hanya alasannya saja untuk mempersulit Rein. Baginya mengawasi Rein 24 jam nonstop bukanlah masalah besar. Dia hanya perlu memerintahkan para pengawalnya saja untuk mengawasi Rein dan dengan begitu semua masalah bisa selesai.
Rein tidak akan bisa lari darinya.
Rein membantah,"Aku tidak akan melakukannya!"
Davin mengangkat bahunya acuh,"Siapa yang akan percaya?"
"Tidak ada perdebatan lagi Rein, mulai malam ini Tio akan tinggal denganku. Adapun kamu, jika hatimu benar-benar ingin Tio bahagia maka kamu pasti tidak akan menolak ikut tinggal bersamaku. Membuat Tio senyaman mungkin dengan kehadiran kedua orang tuanya yang lengkap." Ucap Davin menyamarkan kata-kata terakhirnya.
Rein merasa semakin sulit.
"Aku... sungguh butuh waktu untuk berpikir." Kata Rein linglung.
Davin tersenyum kecil,"Jangan membuatku menunggu Rein, jika terlalu lama Tio akan mulai melupakan kamu." Samar, Davin membuat ancaman.
Rein mengusap wajahnya frustasi. Ia menggelengkan kepalanya menahan sakit juga perasaan marah.
"Aku ingin pulang." Dia merasa sangat pusing.
"Pergilah, aku tidak akan menghentikan kamu. Lagipula Tio juga aman bersamaku di sini." Kata Davin santai.
Rein memohon,"Izinkan aku membawa Tio pulang."
Menjawab dingin,"Ingat Rein, jangan terus membuatku mengulangi kata-kata yang sama. Aku tidak akan membiarkan kamu membawa Tio pulang karena mulai hari ini Tio Demian akan tinggal bersamaku terlepas kamu menemaninya atau tidak. Dan satu lagi, jika kamu terus memaksa, aku tidak akan pernah ragu membawa masalah ini ke meja hijau. Aku akan melaporkan kamu atas tuduhan sengaja menyembunyikan Tio dariku, dengan kata lain jika selama ini kamu telah menculik Tio dariku!" Ancam Davin serius.
Rein menahan nafas, menatap wajah tampan Davin dengan berbagai macam perasaan. Dia benar-benar muak sebenarnya tapi dia sungguh tidak bisa menampik bahwa semua yang Davin katakan mengenai Tio adalah benar adanya.
Dia tidak bisa terus menerus menjebak Tio hidup dalam kemiskinan, dipandang rendah, dan tidak punya teman.
Rein tidak ingin anaknya terus menderita.
"Aku tidak akan membawa Tio pulang tapi tolong izinkan aku melihatnya sebelum pergi." Rein memohon.
Karena mungkin untuk beberapa hari ke depan dia tidak akan datang bekerja, menghabiskan waktu di apartemen sambil berpikir keputusan apa yang akan dibuat nantinya.
Davin menatap Rein, beberapa detik kemudian dia mengalah, berdiri dari duduknya dan memimpin jalan ke kamar.
"Masuklah," Davin bersandar di kusen pintu, mempersilakan Rein masuk ke dalam untuk menemui Tio.
Tio masih tertidur lelap, tampak sangat nyaman. Bagaimana tidak nyaman, tempat tidur yang ia tiduri jauh lebih lembut dan hangat daripada yang ada di apartemen.
Rein mendesah, tidak tega membangun Tio.
"Jika dia nanti mencariku-"
"Terimakasih karena telah mengingatkan Tio bahwa aku adalah Daddy-nya. Apabila dia bangun nanti aku akan menjelaskan situasi mu. Lagipula dia adalah anak yang cerdas, dia akan mengerti setelah aku jelaskan nanti jadi kamu bisa tenangkan saja dan luangkan waktumu untuk berpikir." Davin menjawab santai.
Rein menghela nafas panjang, ia menatap Tio sayang, mengusap kepalanya lembut, dan mengecup keningnya penuh kerinduan.
"Jangan nakal ya, Nak. Baik-baik sama Daddy, okay?" Bisiknya enggan.
Bersambung...
Lanjut?