
Pada sore hari yang damai, Davin dan Rein menghabiskan waktu mereka berdua di dalam dapur untuk memasak. Tujuan awalnya mungkin memasak tapi setelah Davin membuat beberapa kali kecerobohan, fungsi dapur tiba-tiba beralih menjadi tempat untuk berkencan.
"Dav, aku ingat pernah ada hari dimana kamu mengatakan akan menyempatkan diri untuk belajar memasak. Sekarang bagaimana perkembangan 'study' memasak mu?"
Davin memainkan spatula di tangan kirinya dengan gaya arogan dan malas, Rein seketika termangu, tindakan Davin saat ini mengingatkannya pada hari dimana mereka berdua masih memiliki persimpangan jalan. Terjebak dalam kesalahpahaman tiada akhir yang menggelikan. Kini, mengingat hari itu Rein tiba-tiba merasa geli.
"Aku memang ingin menyempatkan diri tapi waktuku benar-benar terbatas, sayang. Aku tidak bisa membagi waktu ku lagi, karena waktu ku semua telah aku dedikasikan untuk kamu anak-anak, dan terakhir pekerjaan. Selain daripada itu aku sungguh sangat sibuk." Jawab Davin masih dengan rasa malas yang menggoda.
Mendengar jawaban Davin, Rein sontak memutar bola matanya tidak menganggap serius jawaban Davin. Bagaimana mungkin dia tidak tahu seperti apa perangai kekasihnya itu?
"Aku tahu kamu memang bisa melakukannya, dan setelah melihatnya sekarang aku memang telah diyakinkan sepenuhnya. Davin, jika kamu ke sini hanya untuk membuat masalah, maka aku sarankan kamu segera pergi atau makan malam kita tidak akan pernah jadi." Usir Rein sambil mendorong tubuh maskulin Davin keluar dari dapur.
Tapi memang tubuh Davin pada dasarnya kuat sehingga dorongan Rein sama sekali tidak mempan untuknya. Davin tidak bergerak dan malah memanfaatkan kesempatan untuk membawa Rein ke dalam dekapannya. Memeluknya kuat sebelum mengangkatnya ke atas meja.
"Anak-anak sedang ada diluar." Kata Rein memperingatkan Davin.
Davin tidak perduli. Tangan besarnya terangkat menjangkau wajah cantik Rein sedangkan tangannya yang lain melingkari pinggang ramping milik Rein.
Posisi mereka berdua terlihat sangat ambigu dan mudah disalahartikan oleh orang yang kebetulan Melihatnya.
"Rein, aku ingin menggigit bibirmu..." Keluh Davin tampak sangat centil dan imut.
Ah, penggambaran ini memang agak berlebihan tapi untuk Rein pribadi ini sangat cocok. Davin suka bertindak centil bila sedang menginginkan sesuatu.
Rein tersenyum lembut, tangannya tanpa ampun mencubit puncak hidung Davin seraya mendorongnya menjauh.
"Tidak sampai kita benar-benar menikah." Kata Rein menolak.
Pernikahan adalah ikatan yang sangat sakral karena Tuhan adalah saksinya. Rein sangat mengganggap serius sebuah ikatan pernikahan sehingga dia memiliki kesadaran diri untuk tidak melakukan tindakan aneh-aneh sebelum hari sakral itu tiba.
Sudah terlambat memang tapi euforia yang Rein rasakan di dalam hatinya sungguh tidak bisa dibohongi. Dia sangat menantikan momen penting ini.
Tapi Davin adalah orang yang tidak sabaran, setidaknya bila itu menyangkut segala sesuatu tentang Rein.
Rein mengatakannya dengan tegas,"Tidak lama. 3 hari lagi kita akan menikah."
Davin cemberut. Dia tahu menikah itu penting tapi dia sungguh tidak tahan untuk tidak menyentuh Rein, apalagi mereka tinggal di bawah atap yang sama jadi bagaimana bisa Davin menahan diri?
"3 hari sangat lama Rein...aku ingin-"
"Dav, ketika hari itu tiba aku sepenuhnya menjadi milikmu dan kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan kepadaku. Potong Rein dengan nada yang sangat lembut.
Seolah-olah dia lawan bicaranya adalah anak kecil seusia Aska dan Tio. Tapi Davin senang diperlakukan seperti ini, dia merasa diperhatikan dan diperlakukan dengan baik.
"Sungguh, apapun yang ingin aku lakukan?" Air liur Davin hampir keluar saat membayangkannya.
Jujur, Rein agak ngeri melihat tatapan lapar Davin ketika menatapnya tapi dia masih menganggukkan kepalanya agar Davin tidak membuat masalah.
"Lakukan apapun yang kamu ingin lakukan." Rein bersedia.
Davin tersenyum aneh,"Menggigit mu?"
Rein tidak masalah,"Lakukan saja."
Davin meneguk ludahnya haus,"Memakan mu?"
Rein pasrah,"Lakukan saja."
Davin semakin liar,"Memakan mu sampai bersih?"
Rein benar-benar pasrah,"...lakukan saja, Dav."
Davin berseru senang. Dia lantas mencium pipi Rein tampak sangat bahagia,"Ingat janjimu Rein, pada saat itu kamu tidak boleh mengeluh!"