
"Mommy sama Daddy mau bikin Adek buat Tio, ya?"
Suara polos Tio membuat mereka kompak membeku. Bila Rein saat ini tengah memasang ekspresi ngeri di wajahnya, maka Davin justru sebaliknya. Dia tersenyum lebar, sorot matanya terlihat sangat bangga dengan pemikiran cerdas Tio. Di dalam hatinya, sudah ada puluhan ribu jempol ia berikan kepada Tio. Entah darimana ia mempelajari kata-kata ini, Davin tidak terlalu memikirkannya. Sebab, putranya benar-benar pintar mengatakan kata-kata ini di waktu yang sangat tepat.
"Tio mau Adek?" Davin iseng bertanya.
Wajah polos Tio mengembangkan senyum kekanak-kanakan. Dia mengangguk semangat, membuat helaian rambut hitam pendeknya mengayun berantakan mengikuti anggukan kepala Tio.
"Tio mau, Dad. Tio bosen main sama lobot telus, Tio maunya main sama Adek." Kata Tio mengeluh.
Davin memasang ekspresi sok prihatin kepada putranya, faktanya di dalam hati ia sangat gembira dengan celotehan polos Tio.
"Daddy sama Mommy akan-"
"Kamu ngomong apa, sih?" Potong Rein sudah tidak tahan lagi.
Dia mendorong badan Davin menjauh tapi masih tidak bisa. Hah, salahkan sendiri badan Davin yang terlalu besar dan kuat. Jika tidak, mungkin Rein sudah bebas dari beberapa menit yang lalu.
"Ngomongin Adek buat Tio, sayang." Davin menjawab jahil.
Rein memutar bola matanya malas.
"Gak ada Adek-adek'an. Udah ah, turun Davin! Aku gerah tahu!"
"Mana gerahnya? Sejuk gini kok. Di sini kan banyak AC jadi kamu harusnya merasa lebih sejuk. Oh, jangan bilang kamu gak mau buatin Tio kita, Adek?" Tuduh Davin dengan suara yang sengaja dibesar-besarkan.
Tio cemberut, kaki kecilnya menghentak lantai tidak sabar."Mommy, Tio mau Adek!" Rengek Tio manja.
Semenjak tinggal dengan Davin, sikap dan perilaku Tio mengalami banyak perubahan. Dia menjadi lebih mudah marah bila keinginannya tidak mau dituruti, menjadi lebih mudah merajuk jika ada yang membuat hatinya tidak senang, dan lebih tidak sabaran lagi.
Tio benar-benar menuruni sifat 'buruk' Davin. Padahal Rein sudah bersusah payah menumbuhkan sifat 'baik hati' ke dalam hidup Tio. Berharap bila Tio tumbuh menjadi seseorang yang bisa dibanggakan dan sederhana.
Tapi semua jerih payahnya hancur tatkala Davin hadir kembali di dalam hidupnya dan Tio.
"Mommy jahat! Tio kan mau punya Adek bial ada temen main di lumah!" Suara rengekan Tio menarik Rein kembali dari lamunannya.
"Davin, kamu... keterlaluan!" Rein marah kepadanya.
Tapi Davin tidak takut karena marahnya Rein tidak akan serius. Ini hanya sebentar saja.
"Mommy! Tio mau Adek!" Volume suara Tio semakin besar.
Davin tersenyum miring, dia mencubit pipi Rein gemas sebelum menyingkir dari atas tubuhnya.
"Ibu yang baik."
Yang direspon dengan lemparan tatapan tajam dari Rein. Dia ingin menonjok wajah sok ganteng Davin sekali saja, tapi sayangnya dia tidak memiliki tenaga- ah, mungkin lebih tepatnya dia masih lemah berhadapan langsung dengan Davin!
Hatinya masih belum sekuat itu!
"Istirahatlah, aku akan membangunkan mu setelah makanan siap. Tio," Panggil Davin pada putranya yang masih asik berdiri di dekat pintu masuk dengan mainan robot-robotan di tangan.
"Ya, Dad?" Tio menjawab patuh.
Davin memanggil Tio dengan lambaian tangan,"Temani Mommy tidur okay, Daddy janji tidak akan lama lagi kamu akan memiliki seorang adik." Janji Davin yang langsung dilempari bantal oleh Rein.
Davin langsung menangkap bantal itu, menaruhnya kembali di samping Rein dengan santai sekalipun saat ini ada laser tajam yang terus menyorotinya.
"Janji, Dad?" Tio membuang mainannya dan langsung berlari naik ke atas ranjang.
Davin tersenyum, ia mengusap puncak kepala putranya sayang.
"Daddy, janji."
Lahirnya Tio dari dalam lahir Rein saja sudah merupakan sebuah keajaiban untuknya dan Rein. Jadi, Davin tidak bisa menjanjikan kepada putranya jika ada kesempatan lain bayi imut nan mungil lahir dari rahim Rein.
Hah... apapun itu ia akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
...🍃🍃🍃...
Hari pertama di sini mereka tidak melakukan apapun kecuali istirahat dan bagi beberapa orang untuk mencoba menjelajah, melihat-lihat lingkungan agar tidak tersesat nantinya.
Lalu di malam harinya semua orang berkumpul di luar mendirikan tenda untuk para laki-laki yang mau sedangkan para wanita tidak diizinkan karena udara malam sangat dingin di sini. Selain mendirikan tenda, mereka juga membuat api unggun besar dan makan bersama-sama di luar.
Setelah makan panitia acara menjelaskan acara apa saja yang akan mereka lalui selama dua hari tersisa di sini. Mulai dari mandi bersama-sama di pemandian umum, menaiki perahu di danau, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah acara jurit malam. Dimana panitia sudah menyiapkan hantu bohongan di dalam hutan untuk menakut-nakuti para peserta. Jika mereka berhasil melewatinya, akan ada hadiah menggiurkan yang menanti dan tentu saja acara ini sangat dinanti-nantikan para karyawan yang ingin menguji nyali diri masing-masing.
Besoknya acara benar-benar dimulai. Dimana-mana terdengar tawa yang menyenangkan dan ceria. Bahkan Davin juga ikut berpartisipasi di dalam acara tersebut bersama Tio. Mereka berdua dikelilingi oleh banyak petinggi perusahaan dan para karyawan penjilat. Terutama para karyawan perempuan, mereka tanpa malu-malu mendekati Tio dan mencoba berperan menjadi wanita yang baik di depan Tio.
Sementara itu di sisi lain, Rein dari jauh hanya bisa menatap mereka karena ia tidak bisa ikut meskipun Davin sudah mengajaknya. Yah, alasannya simpel saja. Rein bukan siapa-siapa di sini. Dia bukan lagi pekerja kasar perusahaan dan yang lebih parahnya lagi dia bukan dari karyawan perusahaan. Dia hanyalah pembantu yang mengikuti majikannya pergi kemana saja.
"Mereka berdua benar-benar menyita banyak perhatian." Gumam Rein ikut tersenyum melihat betapa lepas anaknya tertawa di sana.