
"Nah, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Aku terpaksa mengundang mereka karena ini menyangkut apa yang ingin aku katakan kepada semua orang." Revan berkilah, diam-diam mengamati wajah Kakek Demian. Untungnya Kakek Demian tidak marah karena dia tiba-tiba mengundang wartawan ke rumah ini. Jadi dia merasa lega.
Akan tetapi hal yang paling sulit di sini sekarang adalah menghadapi sikap sok berkuasa laki-laki cacat dan lumpuh ini. Dia harus bisa menanganinya dengan cepat dan benar, agar Davin tidak memiliki kesempatan untuk duduk di posisi itu lagi.
"Paman kecil ingin mengatakan apa kepada kami?" Tanya Sera memecahkan keheningan semua orang.
Dia tidak memihak siapapun tapi lebih suka Davin tetap menjadi pewaris keluarga ini karena Davin jauh lebih mampu untuk menanggungnya. Di samping itu Davin tidak pernah berfoya-foya diluar sana, mengabiskan uang perusahaan untuk bersenang-senang bukanlah gaya Davin jadi memilihnya sebagai pewaris adalah keputusan yang terbaik. Davin Demian, dia layak berada di tempat itu.
Selain itu Davin memiliki hubungan yang sangat baik dengan Adit, asisten pribadinya. Sama seperti Davin, sepupunya. Adit juga orang yang tidak suka berbicara dan terbilang bermuka tembok. Tidak masalah Sera yang mengambil inisiatif untuk mengejar Adit selama Davin mau membantunya. Karena dia yakin, Davin pasti akan mendukung hubungan mereka.
"Baiklah, aku tidak perlu berbasa-basi lagi dengan kalian semua." Kata Revan sambil menatap Davin yang kembali tenggelam dalam mood malasnya.
"Dengar, keluarga kita memiliki banyak kesibukan dan tuntutan yang tinggi. Di samping itu perusahaan juga membutuhkan penanganan yang memadai dan serius sehingga bisa menyita banyak waktu maupun menghabiskan cukup banyak tenaga. Masalah ini sangat serius." Matanya kemudian beralih menatap Kakek Demian yang sedari tadi diam dan menyimak pembicaraan semua orang.
Dia terlihat sangat tua akan tetapi matanya masih jernih dan hidup, seolah-olah usianya yang sudah lanjut sama sekali tidak mempengaruhi vitalitas hidupnya.
"Davin adalah pewaris yang Papa pilih pada awalnya. Aku akui jika dia memiliki kinerja yang sangat baik, ketat, dan tegas untuk perusahaan maupun urusan keluarga utama. Di bawah kepemimpinannya semua berjalan dengan baik dan lancar kecuali untuk kasus Anya kemarin." Revan tersenyum kecil saat mengungkit masalah ini.
Bagaimanapun taktiknya cukup pintar. Dia pertama-tama menyanjung tinggi Davin tapi setelah nya menjatuhkan Davin sejatuh-jatuhnya di depan semua orang. Lagipula apa yang dia katakan semuanya benar dan siapapun pasti akan setuju dengan apa yang dia katakan tadi.
"Davin membawa wanita lain pulang ke rumah dan membatalkan pertunangannya dengan Anya di depan khalayak umum, bukankah masalah ini telah mencoreng nama baik keluarga kita pada saat itu? Di luar sana orang-orang menyebut pewaris keluarga kita adalah laki-laki yang berhati dingin dan tidak memiliki bekas kasih. Demi wanita entah berantah ini dan bibit haramnya, dia rela meninggalkan tunangannya sendiri yang berasal dari keluarga baik-baik dan besar. Tindakannya ini sudah sangat keterlaluan, bukankah begitu?" Revan memulai orasinya yang sok kritis dan sok benar pula, menyalahi Davin karena telah meninggalkan Anya sembari memojokkan posisi Davin sebagai pewaris.
Tidak ada yang tidak tahu alasan mengapa Revan mengatakan ini. Mereka semua dapat menebaknya. Hanya saja rasanya entah mengapa sangat lucu mendengar Revan mengungkit masalah asmara Davin. Dibandingkan dengan tindakan Davin yang memutuskan pertunangannya dengan Anya, tindakan Revan selama ini jauh lebih berbahaya dan menjijikkan.
"Jangan marah. Biarkan saja dia berbicara sesuka hatinya. Jangan karena kehilangan kendali semua rencana yang kamu susun jadi hancur." Bisik Rein di samping Davin.
Davin sangat marah saat Revan menyebut Rein sebagai 'wanita entah berantah' dan putra mereka sebagai 'bibit haram'. Jika Rein tidak langsung meremat tangan Davin sebagai pengingat, Davin mungkin sudah diluar kendaraan sekarang.
"Dia sangat menjijikkan." Cela Davin sembari mengatur nafasnya yang memburu.
"Tentu saja. Kamu bisa melampiaskan amarahmu setelah dia selesai membual." Bujuk Rein untuk menenangkan suasana hati kekasihnya.
Davin mengangguk kan kepalanya sebagai persetujuan. Dia diam-diam menyimpan kemarahannya dan berjanji akan melampiaskannya dengan cara yang sangat menyakitkan.
"Tidak hanya itu saja. Tahun lalu kita semua mendengar Davin mengalami kecelakaan di negara A. Karena kecelakaan ini kakinya lumpuh dan divonis cacat seumur hidupnya. Dengan kondisi seperti ini aku pikir dia tidak akan mampu menjalankan tugasnya sebagai pewaris keluarga. Daripada memaksanya untuk menyelesaikan semua pekerjaan dan urusan keluarga, lebih baik biarkan dia memfokuskan diri untuk mencari pengobatan yang bagus atau biarkan dia pergi liburan ke luar negeri untuk meringankan suasana hatinya. Karena masalah ini...kalian harusnya tahu, siapapun pasti akan sangat terguncang jika berada di posisi Davin. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya dan juga sangat membutuhkan hiburan untuk menenangkan suasana hatinya. Jika tidak dan tetap dibiarkan seperti ini, aku takut mental Davin mengalami masalah suatu hari nanti." Ujar Revan membuka pikiran semua orang.
Ketika topik ini diangkat semua orang langsung menyadari jika situasi Davin besar-besaran tidak tahan melakukan tugas-tugas berat seperti dulu lagi. Dia juga pasti sangat tertekan depan kondisinya yang sekarang- karena hei, siapapun di luar sana pasti tidak akan tahan dengan situasi menyedihkan ini. Padahal tubuhnya selalu sehat dan anggota tubuhnya lengkap dari lahir, tiba-tiba karena suatu kecelakaan harus kehilangan salah satu anggota tubuh, katakan, betapa menyakitkannya semua itu.
"Apa yang Revan katakan ada benarnya. Davin adalah pemimpin yang cakap untuk keluarga kita. Tapi semenjak hubungannya putus dengan Anya, beberapa keluarga mulai membicarakan kita sebagai keluarga yang tidak benar. Selain itu kondisi Davin juga sudah seperti ini jadi menurutku dia sudah tidak bisa duduk di tempat ini lagi. Daripada mengurus keluarga dan perusahaan, lebih baik Davin meluangkan waktunya untuk menenangkan hati dan pikirannya agar tidak terlalu tertekan." Dukung Nenek tiba-tiba bersuara.
Dengan dukungan langsung Nenek, orang-orang yang tidak menyukai Davin perlahan menyuarakan pendapat mereka dan memiliki alur yang sama. Mereka meminta Davin mundur dari posisinya melihat kondisinya yang tidak bisa ditolong.
"Benar, Dav. Mungkin mundur dari hak waris adalah yang terbaik untukmu. Kamu membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri." Ucap mereka satu persatu meminta Davin untuk mundur.
Diam-diam mereka menertawakan kemalangan Davin. Oh ayolah, ditangan Davin mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka tidak bisa dengan bebas meminta uang perusahaan karena Davin sangat ketat. Jadi, daripada dipimpin oleh Davin, mereka lebih suka dipimpin oleh Revan yang bodoh dan mudah dibodohi.