My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
151



Tapi dia mencintai Davin, dia mencintainya!


Tidak bisakah Davin melihat betapa besar dan tulus perasaannya?


Tidak bisakah Davin memikirkan betapa sakit posisinya saat ini?


Kenapa Davin masih tidak mengerti dan kenapa Davin menolak untuk mengerti?


"Maaf Anya, tapi hatiku sepenuhnya sudah menjadi milik Rein." Kata Davin tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Dia masih berdiri di depan pintu dengan jarak yang cukup aman dari Anya. Dia bagaikan anjing Husky jantan yang ditugaskan untuk menjaga rumahnya dari serangan hewan lain. Tampak garang dan pada saat yang bersamaan acuh. Bahkan tamunya sudah berdiri lama di depan pintu tapi kata-kata kesopanan untuk mempersilakannya masuk begitu enggan keluar dari tenggorokannya.


Seolah-olah pita suaranya berkarat dan kesulitan untuk membentuk sebuah kata 'masuk'.


"Jadi...kamu benar-benar kembali dengannya lagi." Ucap Anya getir.


Rein, nama ini sudah lama tidak ia dengar. Mungkin tepatnya nama ini terakhir kali ia dengar 5 tahun lalu saat mereka menyelesaikan acara pesta tunangan di hotel X.


"Jangan terlalu terbawa suasana dalam hubungan palsu ini. Aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan siapapun karena hatiku sudah lama menjadi milik Rein." Saat itu wajah Anya langsung menjadi pucat pasi kehilangan warna.


Senyuman kebahagiaan di wajahnya menjadi redup. Sambil menahan patah hati dia bertanya,"Siapa Rein?" Padahal dia sudah tahu jawabannya.


Davin membawa tatapannya menatap ke arah langit berbintang di luar sana, sorot matanya sangat lembut seperti melihat sang kekasih, Anya jelas cemburu dan berharap suatu hari bisa ada di posisi ini.


"Rein adalah kekasihku, wanita yang harus terluka karena ulah mu dan mereka semua. Kalian adalah penyebab mengapa Rein meninggalkan ku pergi." Dia berkata dengan sorot dingin yang menakutkan.


Saat itu Anya patah hati untuk yang pertama kalinya karena Davin. Sayap harapan yang sempat mengudara karena akhirnya bisa bersanding dengan Davin segera dipatahkan sebelum bisa mengepak terbang tinggi di langit.


Davin masih mencintai wanita itu.


"Lalu, wanita berambut pendek yang masuk ke dalam rumah mu bersama dua anak laki-laki itu adalah... Rein?" Tanya Anya ragu.


Bagaimana mungkin wanita itu adalah Rein karena penampilannya terlihat sangat biasa, Anya tidak percaya.


Davin mengangguk tanpa ragu, sorot matanya sangat lembut saat menyebut nama Rein,"Dia adalah wanita yang berhati lembut dan sangat luar biasa."


Anya tercengang. Ia pikir Rein adalah wanita yang sangat cantik dan memiliki penampilan luar biasa. Tapi ternyata hanya wanita biasa dan agak kolot?


Anya tiba-tiba meragukan selera Davin. Sisi mana coba yang Davin lihat dari wanita biasa itu karena dia perhatikan dari segi manapun dia masih yang terdepan.


Memikirkan penampilan biasa Rein, dia tiba-tiba memiliki sebuah harapan. Karena perasaannya dia melupakan hal yang paling penting bahwa Davin bahkan tidak bisa berpindah hati sejak bertahun-tahun berpisah dari wanita yang dia cap biasa tersebut. Jadi, bagaimana mungkin dia masih bisa merebut posisi Rein disaat Davin akhirnya bisa membawanya kembali.


"Kenapa? Aku juga berhati lembut dan jauh lebih tulus darinya. Bahkan dari segi penampilan aku jauh lebih-"


Cklack


Kata-kata Anya tiba-tiba diinterupsi oleh kedatangan seseorang. Davin dan Anya secara kompak menoleh ke arah pintu masuk. Seketika mereka dibuat terkejut oleh pelaku yang membuka pintu tersebut.


Memakai sepatu hak tinggi merah, langkah kakinya terdengar seksi dan menarik perhatian. Dia terlihat seperti orang asing dengan gaun selutut merah menyala di tubuhnya. Tapi pada saat yang sama, dia juga terlihat seperti orang yang tidak berbeda ketika melihat sorot mata lembutnya. Hanya saja, riasan wajahnya yang tipis dan anggun membuat Davin begitu enggan hanya untuk mengerjap kan matanya. Dia takut akan kehilangan pemandangan indah ini bila ia mengerjap kan kelopak matanya sekali saja.


Melihat kebekuan mereka berdua, bibir merah Rein membentuk sebuah senyuman manis. Ia melirik Anya ramah sebelum melangkah ringan mendekati kekasihnya yang masih kaku di tempat menatapnya.


"Sayang, kenapa kamu hanya berdiri saja dan tidak membiarkan tamu kita masuk? Kamu sangat tidak sopan!" Keluh Rein dengan nada manja yang tidak disengaja.


Ia memeluk lengan Davin secara alami di depan Anya, menepuk pundak Davin sambil berpura-pura marah kerena tidak memperlakukan 'tamu' mereka dengan baik.


"Dia.." Davin meneguk ludahnya kasar karena dihadapkan pada sebuah godaan besar.


"Ekhem." Dia berdehem ringan, meringankan suara seraknya karena godaan halus Rein.


Kenapa dia tidak tahu jika Rein juga memiliki sisi galak saat sedang berdandan?


Perubahan ini diam-diam Davin catat di dalam hatinya.


"Dia apa, hem?" Tanya Rein masih berpura-pura marah- hanya Tuhan yang tahu betapa marahnya ia melihat Anya menggoda Davin-nya!


Tapi untuk harga diri ia rela menelan semua kemarahannya sambil bersandiwara untuk mempermalukan tamu tidak diundang ini.


Huh, berani-beraninya dia datang ke sini!


"Dia bukanlah tamu," Kata Davin setelah berhasil menenangkan dirinya. "Jadi, aku tidak bisa membawanya masuk ke dalam rumah kita." Aku tidak mau mengotori rumah kita. Batinnya di dalam hati.


Rein mencibir,"Oh, jika dia bukan tamu lalu dia siapa? Jangan bilang jika dia adalah selingkuhan mu karena aku sempat mendengar tadi dia memanggil kamu dengan sebutan 'babe'." Fiks, Rein tidak pernah mendengarnya tapi diberitahu oleh Mbak Anggi jadi dia menggunakan alasan ini untuk memojokkan Davin.


Anggap saja ini hukuman untuk Davin meskipun ia tidak membuat kesalahan.


"Enggak-enggak, kamu salah paham! Aku setia sama kamu dan aku juga gak pernah selingkuh!" Davin membela diri.


Dia terlihat sangat imut pikir Rein.


Rein melambaikan tangannya meminta Davin berhenti bicara,"Jangan berbicara diluar dan bawa masuk 'selingkuhan' mu. Aku tidak mau tetangga membicarakan tentang masalah ini dikemudian hari. Huh, mau taruh dimana wajahku." Katanya sambil membawa langkah kakinya masuk ke dalam rumah.


Suara hak tinggi Rein bergema seksi di dalam gendang telinga Davin. Dalam hidup ini dia tidak pernah mengira bila ada hari dimana dia sangat tergoda mendengar suara benturan tajam hak tinggi dengan permukaan dingin lantai.


Dia menyukainya, dia senang mendengar suara langkah Rein. Biasanya dia akan terganggu tapi hari ini dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk membawa Rein berdansa di antara putaran musik yang romantis dan menggairahkan.


"****," Umpat Davin merasakan panas di dalam tubuhnya.


Tapi dia harus menahan keinginan itu untuk sementara waktu, setidaknya sampai Anya pergi dari rumah mereka.


Dia lalu melirik Anya yang masih membeku tidak bersuara di tempat, entah apa yang wanita ini pikirkan di dalam kepalanya namun Davin tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu. Sebab yang lebih penting saat ini adalah menyelesaikan masalah lalu..


"Hem, aku harus memikirkannya lagi." Bisiknya mulai berfantasi.


"Sayang~ apa yang kamu tunggu, masuk dan bawa selingkuhan mu ke dalam!" Teriak Rein merusak fantasi liar Davin.


Davin menggelengkan kepalanya bersemangat, menyimpan dulu pikiran-pikiran itu ke belakang sebelum digunakan.


"Masuklah. Jelaskan kepada Rein bahwa kita tidak memiliki hubungan apa-apa." Kata Davin kembali menggunakan wajah datarnya.


Tanpa menunggu Anya berbicara, dia langsung masuk ke dalam untuk menyusul sang kekasih yang sedang merajuk. Meninggalkan Anya yang masih belum melangkah masuk ke dalam.