My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
164



Semua orang makan dengan berbagai macam perasaan. Ada yang gembira karena kejutan malam ini, ada juga yang terbakar cemburu karena calon istri Davin telah diganti wanita lain, dan ada yang acuh tak acuh terhadap situasi.


Diam, Anya mengepalkan kedua tangannya tanpa niat menyentuh makanan di atas piring sajinya. Hatinya sangat masam hingga melihat makanan saja membuatnya mual. Di samping, Kakek juga tidak memiliki nafsu makan. Untuk sebuah rasa hormat kepada Kakek Demian, Kakek terpaksa menggerakkan sendok nya dan makan sedikit sambil mengawasi situasi cucunya.


Kakek juga sama kecewanya dengan Anya. Cucunya terluka, mana mungkin dia tidak sedih. Hanya saja keluarga mereka tidak sebaik keluarga Demian sehingga mereka tidak bisa melakukan protes ataupun menyampaikan keberatan.


"Nak, makanlah." Bujuk Kakek.


Anya menggelengkan kepalanya sedih. Dia melirik tempat Davin dan Rein. Di sana mereka terlihat sangat harmonis, saling mengirim makanan ke masing-masing piring dan menyuapi anak di pangkuan masing-masing. Oh, keluarga kecil yang sangat harmonis.


"Kakek, aku ingin pulang." Katanya tidak sanggup berada di sini lagi.


Dia lalu berdiri tanpa menunggu respon Kakeknya. Karena gerakan besar kursinya, orang-orang yang ada di atas meja makan kini sedang menatapnya- menunggu drama apalagi yang akan Anya mainkan.


"Kakek Demian, Nenek. Aku pamit pulang. Malam ini aku tiba-tiba mendapat kabar dari agensi ku mengenai kontrak kerjaku di selama tinggal di sini." Kata Anya membuat alasan, dia berbohong.


Kakek Demian bersikap normal. Seolah tidak melihat keanehan yang Anya tunjukkan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Nenek masih kesal dengan keputusan yang dibuat oleh laki-laki tua bangka itu.


Anya tersenyum pahit,"Apa aku terlihat baik-baik saja, Nek?" Kata Anya tidak menutupi kesedihannya.


Semua orang harusnya tahu betapa hancur hatinya malam ini. Dan itu semua dikarenakan oleh Rein, wanita entah berantah yang tiba-tiba datang dengan putra Davin di tangannya. Sungguh sial pikirnya. Bila dia tahu Rein akan membuat segalanya hancur di masa depan, maka melenyapkan Rein pada saat itu seharusnya menjadi solusi terbaik.


Tapi semuanya sudah terjadi. Dia tidak bisa memutar waktu- ah, lagi-lagi dia berdelusi lagi, Anya mau tidak mau cemberut dengan pikiran konyolnya.


"Jika-"


"Pulanglah dan luangkan waktumu untuk beristirahat sebelum kamu benar-benar sibuk." Potong Kakek Demian tidak memberikan istrinya kesempatan untuk berbicara.


Anya mengangguk lemah. Dia melirik Davin sekali lagi untuk melihat bagaimana reaksinya saat ini. Tapi Davin tidak menunjukkan reaksi apa-apa sehingga dia langsung menarik pandangannya. Mengucapkan salam perpisahan kepada semua orang dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.


Kakek melihat kepergian cucunya tidak bisa menyusul karena dia harus berada di sini sampai acara selesai.


"Apa mantan kekasihmu sekarang sudah menyerah?" Bisik Rein sambil melirik punggung ramping Anya yang mulai menghilang.


Davin sama sekali tidak mengangkat kepalanya ketika menjawab,"Dia bukan mantan kekasihku. Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan siapa pun kecuali denganmu." Kata Davin mengoreksi.


Rein diam-diam tersenyum, buru-buru menundukkan kepalanya menyuapi Aska untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Tanpa tahu tempat, mereka bertindak selayaknya pasangan suami-istri yang manis. Bertindak harmonis tanpa mengetahui ada beberapa pasang mata yang menyimpan kebencian.


Sedangkan Kakek Demian selaku tuan rumah. Sempat beberapa kali dia mengangkat kelopak mata tuanya melirik tindakan manis Davin dan Rein. Tidak diketahui apa yang dia pikirkan namun yang pasti, dia cukup menikmati makan malamnya malam ini.


...🌪️🌪️🌪️...


"Tuan sangat mencintai Rein. Dia bahkan mengumumkan kepada semua orang tentang pernikahan mereka. Membuat beberapa orang cemburu." Gumam Anggi kagum setelah menonton pertunjukan di meja makan utama.


Rein, sahabatnya ternyata memiliki hubungan yang dalam dengan bos besar tempat perusahaan mereka bekerja dulu. Anggi tidak pernah tahu karena Rein tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai kisah cintanya.


Dan hal yang paling mengejutkan dari semua ini adalah, Tio, anak kecil yang selama ini disembunyikan keberadaannya ternyata milik Davin. Pantas saja Rein bertindak protektif kepada putranya karena Ayah Tio sendiri ternyata seorang bos dari keluarga konglomerat, Davin Demian.


"Kehidupan tuan dan istrinya tidak bisa kita campuri. Di masa depan nanti kamu harus belajar menutup rapat mulutmu." Suara datar nan dingin Adit memperingatinya dengan serius.


Anggi tersadar dari lamunannya. Dia buru-buru menganggukkan kepalanya dengan panik dan kembali fokus pada makanan di atas mejanya.


Sejak masuk ke dalam mansion Demian, Adit selalu ada di sampingnya. Mengarahkan apa yang harus dia lakukan dan mengingatkan apa yang harus tidak dia lakukan. Dan untung saja, karena dia datang bersama Davin dan Rein, gaun yang dia gunakan pun tidak kalah dengan milik tamu yang lain sehingga tidak ada yang curiga tentang identitasnya kecuali...cara makannya yang aneh.


Dia berasal dari keluarga miskin, putus kuliah, dan memiliki dua anak yang harus dibesarkan. Karena kemiskinan dia terpaksa bekerja sebagai office girl untuk menghidupi anak-anak dan suami- yang pada akhirnya meninggalkannya.


"Makanlah lebih banyak. Makanan di mansion Demian dimasak oleh koki bersertifikat internasional. Semuanya adalah hidangan kelas atas yang sulit ditemukan di tempat lain." Kata Adit datar sambil mengirim beberapa hidangan ke piring Anggi.


Anggi mengangguk malu. Kedua pipinya tiba-tiba terasa panas diperlakukan dengan baik oleh Adit. Laki-laki ini memang dingin tapi dia sebenarnya tidak sedingin yang terlihat karena Anggi bisa merasakannya.


"Terima kasih, ini sangat lezat." Ucap Anggi malu-malu.


Dia menundukkan kepalanya, diam-diam membawa makanan di piringnya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan perasaan manis yang samar.


"Adit?" Suara lembut seseorang memanggil Adit dari belakang.


Adit dan Anggi kompak menoleh ke belakang, ternyata orang yang memanggil Adit tadi adalah seorang wanita cantik yang memiliki penampilan berkelas dan cantik.


Sekali pandang saja Anggi tahu bila wanita ini berasal dari keluarga terhormat.


Hem, apa yang aku pikirkan? Bagaimana bisa aku menyandingkan diriku dengan seorang wanita dari keluarga terhormat?! Batin Anggi membuang pikirannya jauh-jauh.


"Oh, kamu masih mengingatku!" Seru Sera senang tidak bisa menutupi kegembiraan diwajahnya.


Karena Adit mengenalnya, dia sekarang tidak perlu sungkan untuk duduk di meja Adit.


"Kamu adalah sepupu tuanku jadi bagaimana mungkin aku melupakan mu." Kata Adit masih dengan nada datarnya.


Tapi Sera sepertinya sudah terbiasa dan tidak canggung dengan sikap dingin Adit.


"Inilah masalahnya, aku pikir karena kamu terlalu lama bekerja untuk Kak Davin, kamu akhirnya melupakan ku dan yang lain." Keluh Sera terdengar manja tapi tidak memuakkan sama sekali.


"Aku tidak pernah melupakan kamu dan yang lainnya." Kata Adit menegaskan.


Sera adalah adik sepupu Davin. Bekerja sebagai dokter hewan, Sera sangat berbeda dengan anggota keluarga Davin yang lain. Dia adalah gadis yang ramah, tidak ambisius pada kekuasaan keluarga Demian, dan memiliki hati yang lembut. Siapapun yang baru pertama kali bertemu dengannya pasti langsung merasa nyaman karena senyum ceria yang Sera sebarkan.


"Oh, astaga. Aku senang mendengarnya." Kedua mata Sera menyipit melihat Anggi yang duduk di samping Adit.


Dengan hati-hati, dia lalu bertanya,"Em, bolehkah aku tahu siapa dia?" Rasanya canggung.


Adit memperkenalkan Anggi tanpa menyembunyikan identitasnya.


"Perkenalkan, namanya Anggi. Dia adalah sahabat calon istri tuanku." Kata Adit singkat.


Ternyata identitas Anggi hanyalah sahabat dari calon istri Kakak sepupunya dan tidak memiliki hubungan lebih dengan Adit. Mengetahui ini, Sera lebih nyaman dan akhirnya santai. Lagipula dia bukannya meremehkan selera Adit pada kecantikan wanita. Anggi ini meskipun tidak jelek tapi kecantikannya terbilang standar dan agak tidak cocok bila bersanding dengan Adit.


"Oh, jadi namamu Anggi. Hallo Anggi, perkenalkan namaku Sera Angelista. Kamu bisa memanggilku Sera." Sapa Anggi ramah dan bersahabat.


Anggi tersenyum malu,"Senang bertemu denganmu." Kata Anggi tidak nyaman.


Entahlah, sejak kedatangan Sera, hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Apalagi saat melihat interaksi Sera kepada Adit, seolah-olah mereka berdua sangat akrab.


Tapi lagi-lagi dia mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa dia tiba-tiba memiliki pemikiran aneh ini?


Jika Adit dan Sera memiliki hubungan, jadi apa?


Tidak masalah bukan mereka berdua menjadi pasangan, toh mereka berdua serasi terlepas dari identitas masing-masing yang luar biasa.


Dengan paksa, Anggi lalu membuang pikirannya jauh-jauh- untuk yang kesekian kalinya.


Tapi, Sera merasa pernah melihat Anggi sebelumnya di suatu tempat. Tapi dia ragu pernah melihatnya dimana.


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya Sera kepada Anggi.


"Bertemu?" Anggi ingat tidak pernah bertemu dengan Sera sebelumnya.


Malah malam ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.


"Aku pikir kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Kata Anggi yakin seyakin-yakinnya.


Sera mengangguk mengerti. Dia pikir ini hanya perasaannya saja karena wajah Anggi agak umum.


"Oh, mungkin itu hanya perasaanku saja." Katanya malu.


"Makanlah, semua makanan ini dibuat oleh kesayangan keluarga kami jadi hidangannya pasti sangat lezat dan tidak mengecewakan." Kata Sera akrab.


Anggi menganggukkan kepalanya, menundukkan kepalanya dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya lagi.


Aneh, sebelumnya makanan ini sangat enak tapi kenapa tiba-tiba rasanya sangat aneh di dalam mulutnya?


Tidak hanya merasa aneh, tapi selera makannya juga mulai menghilang. Makanan yang sangat menggugah selera seketika tampak biasa-biasa saja di depannya.


Sementara Anggi mulai memaksakan diri memakan makanannya. Adit malah diam-diam mengirimkan perintah kepada bawahannya untuk mengawasi daftar anggota keluarga Demian yang hadir malam ini. Pasalnya dia mengantisipasi keberadaan Revan yang memiliki obsesi terhadap Rein dan memiliki masalah dengan Anggi.


Mengenai pertanyaan Sera tadi, Adit curiga bila Sera pernah melihat Anggi ketika sedang bersama dengan Revan.


Benar atau tidaknya, Adit berharap itu hanyalah kecemasannya saja karena dia tidak ingin menambah masalah untuk Adit.


"Adit, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Sera ketika melihat wajah mengkerut Adit.


Adit segera menyingkirkan ponselnya, dan menggelengkan kepalanya.


"Situasi malam ini agak canggung, tapi syukurlah semuanya baik-baik saja." Jawab Adit mengalihkan topik pembicaraan.