My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
199



"Apa...apaan ini..." Mereka berseru kaget, menatap shock kedua kaki Davin yang dapat berjalan dengan normal.


Lelucon apa yang Davin mainkan di sini?


Padahal jelas-jelas sebelumnya mereka melihat dengan jelas dan sudah memastikannya sendiri lewat pemeriksaan rumah sakit jika Davin mengalami kelumpuhan atau dalam artian lain bisa dikatakan jika dia tidak akan bisa berjalan lagi selama sisa hidupnya.


Tidak sampai di sini saja. Jauh dari sebelumnya Revan telah mengirim mata-matanya ke negara A untuk memastikan kondisi Davin yang sudah tidak tertolong lagi. Laporan itu sangat masuk akal dan jelas karena ditulis langsung oleh dokter yang merawat Davin selama berobat di negara A. Dan bagaimana mungkin mereka bisa memiliki keberanian untuk mendorong Davin mundur dari posisinya jika tidak melihat semua informasi besar ini?


Mereka diyakinkan dan mempercayai jika Davin kali ini benar-benar tidak bisa tertolong lagi bahkan akan jatuh merosot dari kekayaannya yang luar biasa sebelumnya.


"Kamu...kamu membohongi kami semua?" Tukas Revan terkejut sekaligus marah.


Diantara semua orang, dialah satu-satunya orang yang paling memiliki reaksi besar. Dia terpukul oleh kenyataan bahwa Davin ternyata masih bisa berjalan. Dia tidak menyangka kejutan ini karena Dimas dan bawahannya yang lain sudah mengkonfirmasi situasi Davin yang sangat serius. Dan sekarang fakta yang ada telah membungkamnya. Davin tidak cacat ataupun lumpuh, dia baik-baik saja, masih sangat baik. Melihat pemulihannya yang begitu cepat, bukankah Davin tidak terluka serius?


Jika tebakannya benar, maka apakah laporan yang Dimas berikan kepadanya palsu?


Tidak, tidak mungkin! Dimas tidak mungkin membohongiku. Apa yang dia katakan pasti benar karena dia juga sangat membenci Davin sama seperti ku. Batin Revan buru-buru membantah kecurigaannya.


Revan telah melihat perjuangan Dimas merebut Rein dari Davin. Dimulai dari kejadian bertahun-tahun yang lalu sampai usahanya kembali menghubungi Kakek Demian. Dia melihatnya dan tidak meragukan usaha Dimas selama ini.


"Aku tidak pernah membohongi kalian semua." Kata Davin acuh tak acuh sembari merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan mati rasa di pinggirnya karena terlalu lama duduk di atas kursi roda.


Hem, perasaan ini sangat menyegarkan.


"Jika kamu tidak membohongi kami, lalu kenapa kamu datang dengan menggunakan kursi roda, hah?!" Nenek juga tidak kalah shock nya dengan yang lain.


Dia...dia telah bermimpi putranya duduk nyaman di atas singgasana kekuasaan tapi siapa yang mengira jika mimpinya tidak bisa diwujudkan?!


"Hem, kursi roda?" Kata Davin seraya melirik kursi roda yang telah menemani perjuangannya untuk bisa berjalan.


"Bukankah aku sudah menjelaskannya kepadamu jika aku mengalami kecelakaan kecil di negara A dan untuk sementara tidak bisa berjalan? Ini hanya sementara, hanya sementara saja. Kenapa kamu tidak mendengar baik-baik apa yang aku katakan saat itu?" Ejek Davin tanpa memberikan Nenek itu wajah sedikitpun.


"Di samping itu kekasihku baru-baru ini agak malas. Dia sangat menyukai kursi roda ini karena selalu mengingatkannya pada kenangan pahit yang dia alami di negara A. Jadi, untuk beberapa waktu dia lebih suka didorong dengan kursi roda daripada berjalan sendiri." Tambah Rein dengan suara tawa teredam.


Beberapa orang tahu bila Rein sedang mengejek mereka tapi apa yang harus mereka lakukan?! Mereka sungguh tidak berdaya menghadapi kejutan yang Davin siapkan. Sebab mereka tidak menyangka bila Davin akan membuat rencana se apik ini hanya untuk mengelabui mereka.


"Tapi kamu tidak pernah mengatakan jika kamu baik-baik saja. Jika kamu mengatakannya lebih awal maka kami tidak akan mengajukan Revan sebagai penggantimu." Paman yang sebelumnya berkobar meminta Davin mundur dan menyuarakan Revan kini merubah haluannya secepat yang dia bisa dengan nada menjilat.


Davin adalah kepala keluarga mereka saat ini jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mewujudkan mimpinya mendapatkan beberapa bagian dari saham Kakek Demian. Selain itu dia juga takut Davin mendendam dan menyulitkannya di masa depan.


Davin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Rahangnya sampai sakit karena terus tertawa. Entahlah, orang-orang ini menurutnya sangat lucu. Apa mereka pikir Davin masih bisa dibodohi setelah mereka sebelumnya dengan acuh tak acuh menyudutkannya?


"Kalian terus berbicara dan membuat berbagai macam orasi tanpa meminta respon dariku terlebih dahulu. Dan ketika aku mengatakan yang sebenarnya, kalian beralih menuduhku telah membohongi kalian semua? Hah, apakah kalian begitu bodoh? Kalian menyalahkan aku untuk kesalahan yang kalian perbuat sendiri." Ejek Davin dengan nada merendahkan.


Davin berkilah, membuat alasan santai untuk membenarkan posisinya di sini. Lagipula mereka tidak akan bisa melawannya karena dia sekarang adalah kepala keluarga.


"Kamu adalah orang yang sangat licik, Davin. Jika aku tahu kamu mempermainkan semua orang malam ini, aku tidak akan pernah mengumpulkan semua orang di sini. Bubar, aku tidak akan berbicara lagi denganmu." Revan memutuskan untuk melarikan diri secepat mungkin.


Situasinya bila dilihat dari segi manapun sangat tidak menguntungkan. Dia telah kalah telak dan tidak punya pilihan selain kembali ke tempatnya untuk membuat rencana yang lain.


"Hah, kamu ingin pergi begitu saja setelah membuang banyak waktuku?" Davin tersenyum dingin,"Tidak diizinkan. Tidak seorangpun di sini yang diizinkan pergi dari tempat ini." Kata Davin melarang.


Adit telah mendengar kode dari Davin jadi langsung memanggil semua orang-orangnya untuk menjaga rumah Demian. Menghalangi siapapun yang bermaksud keluar dari rumah ini sebelum mendapatkan titah dari Davin.


"Davin, jangan terlalu sok. Kamu memang kepala keluarga kami tapi bukan berarti kamu dapat menyita waktu dan kehidupan pribadi kami." Kata Nenek sangat tidak puas dengan hasil ini.


"Jadi kamu dan putramu bisa menyita waktuku tapi aku tidak bisa melakukannya kepada kalian? Aneh, bukankah aku adalah kepala keluarga di rumah ini namun mengapa kamu dan putramu bertindak seolah kalian lah kepala keluarga?"


Nenek tersedak air ludahnya sendiri. Dia ingin membantah tapi mungkin percuma saja karena Davin pasti akan semakin mencari-cari kesalahan mereka lagi.


"Oh, atau apa yang aku pikirkan selama ini benar jika kamu dan putramu sebenarnya menginginkan posisiku?" Tanya Davin tepat sasaran.


"Omong kosong apa yang kamu katakan! Jika bukan karena kamu menipu kami maka putraku tidak akan berani mengadakan pertemuan ini!" Nenek langsung membantah dengan suara keras.


"Oh, syukurlah. Melihat kalian sangat gigih barusan aku sempat berpikir jika beberapa dari kalian berkolusi untuk menyerang ku. Tapi karena kamu membantah maka aku sangat bersyukur. Nah, ini sedikit membingungkan. Kalian membantah ingin merebut tempat ku, lalu bagaimana dengan kejutan yang akan aku berikan kepada kalian?" Davin berpura-pura bingung di hadapan keluarganya, mencoba menarik keingintahuan semua orang tergelitik dengan ekspresi bingungnya yang dibuat-buat.


"Kejutan?" Nenek, Revan, dan beberapa orang yang membenci Davin tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk.


Tidak, mereka langsung membantah pikiran ini. Rencana mereka telah dilaksanakan dengan hati-hati jadi mana mungkin Davin dapat melihatnya?


"Kejutan apa yang disiapkan Davin untuk mereka?" Gumam Rein tidak tahu.


Davin tidak memberitahunya masalah ini sebelumnya. Nah, karena ini bagian dari kejutan pesta maka Davin mungkin ingin merahasiakannya sampai hari ini benar-benar tiba, pikir Rein tidak mau ambil pusing.


"Hem, aku akan menunjukkannya kepada kalian semua." Kata Davin santai.


Tanpa menunggu respon lambat mereka, dia langsung memerintahkan Adit untuk membuat file yang telah Dimas siapkan kepada mereka sebelumnya. Isinya fantastis, walaupun tidak cukup untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu tapi Davin masih melonggarkan hatinya untuk Dimas.


Bisa dibilang...dia tidak terlalu membencinya lagi.


"Tuan, semuanya siap." Kata Adit melapor.


Davin mengangguk,"Putar." Perintahnya.


Tidak sampai sedetik kemudian sebuah suara berat dan serak terdengar. Ini adalah sebuah file rekaman pembicaraan Dimas dengan seseorang yang telah memerintahkannya untuk mencelakai Davin.


"Kamu ingin aku membunuh Davin? Aku pikir ini tidak akan semudah itu." Suara serak Dimas langsung bergema di dalam pendengaran semua orang.


Rein tercengang. Dia tidak berharap akan mendengarkan suara ini lagi setelah sekian lama tidak bertemu dengan Dimas.


Situasinya langsung Wajah Nenek, Revan, dan beberapa orang yang ikut campur langsung pucat pasi. Terutama Revan sendiri. Dia sangat hafal situasi dan momen pembicaraan di dalam rekaman. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Dimas.


"Kamu benar. Ini tidak akan semudah itu. Biar bagaimanapun Davin juga tidak mudah ditangani dan akan mengundang perhatian polisi jika dia mati. Lalu bagaimana dengan ini, kamu tidak harus membunuh Davin tapi cukup melukainya saja agar tidak menarik perhatian polisi di negara A." Dan suara ini sangat tidak asing untuk semua orang, mereka telah mendengar suara ini sejak bertahun-tahun yang lalu.


Tiba-tiba pandangan semua orang jatuh kepada tubuh Revan yang kini tengah berdiri kaku di tempat tanpa sedikitpun warna diwajahnya. Di dalam hati mereka, berbagai macam ungkapan kasar dan belasungkawa bergema untuk ditujukan kepada Revan.


"Tidak, tidak! Ini pasti palsu! Putraku tidak mungkin melakukan perbuatan jahat kepada Davin! Ini pasti akal-akalan Davin untuk menjatuhkan putraku!" Nenek mulai meraung tidak terkendali untuk menyelamatkan putranya dari situasi ini.


Jika semua orang mendengar rekaman ini maka putranya tidak hanya akan diusir dari rumah ini tapi juga akan dikeluarkan dari keluarga Demian! Nenek tidak bisa melihat putranya terlantar di luar sana.


Namun faktanya Nenek berpikiran terlalu dangkal karena Davin tidak hanya berencana untuk mengusir dan mengeluarkan Revan dari keluarga, tapi dia juga berencana untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.


"Sangat menjengkelkan. Bawa dia pergi. Jangan biarkan dia masuk kembali ke sini dan mengacaukan acara kekasihku." Perintah Rein dalam suasana hati yang sangat buruk.


Benci dan marah rasanya, tapi dia juga sangat sedih. Nyawa kekasihnya hampir saja lenyap jika Tuhan tidak berbelas kasih. Dan betapa kecewanya dia saat mengetahui orang yang akan menghancurkan kekasihnya adalah orang yang sama menghancurkan hubungannya. Dia adalah mantan sahabatnya, orang yang pernah dia sangat percayai sebelumnya.


"Ya, Nyonya." Kali ini Anggi yang turun tangan langsung dibawah perintah Rein.