
Tidak apa-apa, lagipula ini hanyalah sebuah rumor dari mulut ke mulut. Jika mereka bosan menyia-nyiakan air ludah dimana-mana, rumor itu dengan sendirinya akan menghilang.
Dan Rein sungguh tidak perduli dengan masalah harga diri. Toh, di mata Davin saja dia tidak ada bedanya dengan wanita 'malam' di luar sana apalagi di mata para bawahannya.
"Okay, lupakan soal rumor." Dimas angkat tangan, tanda menyerah.
Tapi dia belum mau beranjak pergi karena dia punya satu lagi pertanyaan penting untuk Rein. Pertanyaan yang sudah mengganggu kepalanya dari tadi siang dan dia tidak tahan untuk tidak menanyakannya kepada Rein.
"Lalu, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku jika beberapa hari ini Davin memaksamu untuk bekerja untuknya?" Inilah yang paling membuat Dimas marah.
Setelah mendengar rumor di kantor, dia segera bertanya-tanya kepada rekan kerja Rein mengenai masalah ini. Mereka bilang Rein adalah pengantar kopi langsung Davin dan yang lebih parah adalah, Rein akan tinggal di kantor Davin selama beberapa jam sebelum bisa keluar.
Siapapun pasti akan bertanya-tanya apa yang Rein lakukan di dalam sana sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Ini juga berlaku untuk Dimas, satu-satunya orang yang mengetahui masa lalu Rein dengan Davin. Begitu mendengar berita ini dia tentu saja memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak dan jujur dia sangat takut Rein meninggalkannya.
"Oh itu, gue cuma nganter kopi sama bersih-bersih kantor dia, gak lebih kok. Lagipula ini masalah sepele makanya gue gak ngasih tahu lo." Jawab Rein enteng.
"Ini bukan masalah kecil Rein tapi masalah besar! Lo harus ingat kalau dia adalah orang yang ngebuat lo sampai seperti ini. Dia bukan cowok baik-baik, Rein."
Rein sejujurnya sudah sangat jengkel sekarang. Dia tidak ingin membicarakan Davin tapi Dimas terus saja memojokkannya. Padahal Dimas harusnya tahu jika ia dan Davin tidak lebih dari hubungan atasan-bawahan. Mereka tidak akan punya hubungan yang lebih dari itu.
"Dimas, please! Gue sama dia cuma atasan dan bawahan aja, enggak lebih. Emangnya apa yang lo harapin dari orang yang udah buang gue? Dia gak akan sudi punya hubungan romantis lagi sama gue. Udahlah, gue gak mau bahas apapun tentang dia lagi. Gue capek, Dim."
Rein memuntahkan kekesalannya. Mematikan kompor sebelum pergi meninggalkan Dimas sendirian di dalam dapur.
"Gue kayaknya terlalu berlebihan sama dia."
...🍃🍃🍃...
"Pak, aku sudah bertemu dengan anak itu sesuai dengan perintah Anda." Pemilik suara berat dengan nada formal itu mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas kerja dan menaruhnya di atas meja laki-laki angkuh itu, dia adalah Davin Demian.
Davin Demin segera melepaskan gaya santainya, mengambil dokumen yang ada di atas meja dan mulai membuka dokumen tersebut.
"Adit, apa pendapat mu tentang anak itu?" Davin mengacu pada Tio, anak laki-laki yang tinggal bersama Rein dan Dimas beberapa tahun ini.
Antara percaya dan tidak percaya, Davin berharap bila Tio bukanlah anak Dimas, bukan pula hasil dari hubungan Dimas dan Rein. Meskipun belum pernah melihat Tio secara langsung, tapi Davin entah mengapa menjadi sangat sensitif tentang Tio.
Adit, laki-laki tinggi tanpa ekspresi ini adalah sektretaris pribadi yang telah menemani Davin bertahun-tahun lamanya. Mereka awalnya adalah teman sejak kecil, tapi karena sekarang Adit bekerja kepada Davin, maka hubungan mereka akhirnya berubah dari informal menjadi formal. Dan mereka sudah biasa menggunakan nada ini sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Pak, jika aku boleh jujur Tio tampak sangat mirip denganmu. Aku berani bersumpah jika Anda adalah versi dewasa anak itu dan anak itu adalah versi anak kecil milik Anda." Adit bahkan bersumpah bila Tio dan Davin memang mempunyai kemiripan.
Tadi sore ketika dia mendatangi Tio, langkahnya sempat tertahan karena terkejut dengan kemiripan Tio dan Davin. Adit seolah kembali di masa kecil ketika ia baru pertama kali bertemu dengan Davin.
Mulai dari alisnya yang berbentuk pedang tajam dan agak tebal, bibir mungilnya yang masih merah delima, hidungnya yang tinggi sama persis seperti Davin, semua ini menunjukkan bila Tio mempunyai hubungan yang sangat kental dengan Davin.
Dari semua yang Adit lihat dari wajah mungil Tio, hanya bagian matanya saja yang bukan milik Davin. Setelah itu, Adit seperti melihat kopian Davin kecil di depannya.