
"Nyonya bercanda. Aku akan menikahi Anggi maka tentu saja Aldo dan Aldi akan menjadi putra sah ku. Tidak perduli kami mirip atau tidak, itu tidak akan mengubah fakta bahwa mereka adalah anak-anak ku." Kata Adit acuh tak acuh mengabaikan ekspresi kaku Mama Sera.
Mama Adit menganggukkan kepalanya setuju. Dia memegang tangan calon menantunya itu sembari menepuk punggung tangannya pelan.
"Anakku akan menikahi Anggi jadi anak-anak juga menjadi tanggungjawab Adit. Rasanya tidak menyenangkan bila Mamanya dinikahi sedangkan anak-anak dibiarkan terlantar, aku dan suamiku tidak menyetujuinya, Kak. Lagipula Adit sangat menyukai anak-anak jadi kami tidak keberatan bila dia langsung memiliki dua putra di dalam pernikahannya. Eh lihatlah, Kak. Anak-anak sangat lucu. Mereka mengingatkan ku pada masa kecil Adit puluhan tahun yang lalu. Saat itu Adit juga pendiam dan patuh ketika digendong oleh suamiku." Kata Mama Adit tanpa sadar mempermalukan Mama Sera.
Mama Sera tersenyum canggung. Tangannya yang tersembunyi di kain gaunnya mengepal ringan guna menahan amarah. Mulutnya hampir berbusa agar bisa mempengaruhi Mama Adit mengenai Anggi dan hubungan mereka. Dia pikir semua upayanya membuahkan hasil dan jalan putrinya akan dipermudah. Namun melihatnya sekarang semua itu hanya ilusi belaka. Putrinya mungkin tidak akan bersama dengan Adit dalam hidup ini bila seperti ini terus.
"Ma, Bibi, dan Paman." Setelah bersembunyi lama dibalik tembok, Sera akhirnya keluar memecahkan rasa canggung yang dirasakan oleh Mamanya.
Dia tersenyum lembut dan berperilaku baik, menyapa para orang tua dengan sopan menggunakan nada yang lembut. Baik sikap maupun perilakunya sangat tenang seolah dia tidak tahu apa yang telah dibicarakan oleh semua orang.
"Sera, kemari lah." Mama Sera menjangkau putrinya ke samping.
"Iya, ma." Kata Sera patuh.
Mama Sera tersenyum puas dengan penampilan putrinya yang ayu juga lembut.
"Adik, lihat putriku dan coba pertimbangkan semuanya dengan baik-baik." Kata Mama Sera berterus terang.
Orang tua Angkat Adit langsung terkejut mendengar suara Mama Sera yang terus terang. Mereka pikir dia masih memiliki kesopanan dalam hal ini namun melihatnya sekarang, Mama Sera rupanya tidak sebijak yang mereka pikirkan. Sangat berani meminta mereka untuk menghancurkan hubungan Adit dan Anggi langsung di depan semua orang, mereka jelas tidak pernah berpikir sepicik itu.
"Kakak, apa maksud semua ini?" Tanya Mama Adit dengan kemarahan teredam.
Mama Sera tersenyum simpul,"Apa maksudnya, apa aku perlu menjelaskannya kepada adik? Lihat putriku. Dia adalah seorang dokter yang sangat berpengalaman di usianya yang begitu muda, cantik, dan yang lebih penting dia juga masih gadis. Sebagai anggota keluarga Demian yang Adit layani, kami tentu berharap hubungan persaudaraan kita akan semakin erat dengan pernikahan mereka. Bukankah begitu, adik?" Kata Mama Sera membawa-bawa nama keluarga Demian.
Bukan rahasia lagi Adit melayani keluarga Demian- tidak, lebih tepatnya yang Adit layani dalam hidup ini adalah Davin dan bukan Demian. Dia berjanji akan mengikuti kemanapun Davin pergi dan akan selalu memiliki satu suara dengannya, sebab Davin adalah sahabat terbaiknya sekaligus dermawan yang penting keluarganya. Kebaikan yang pernah Davin berikan kepada mereka sesungguhnya tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Demian karena pada masa itu keluarga Demian malah memusuhi Davin.
Sekarang menggunakan alasan klise ini untuk menekannya menikah bersama barang yang rusak, bukankah kepala mereka mengalami masalah?
"Mendengar apa yang nyonya baru saja katakan tadi mengingatkan aku pada satu hal," Adit meringkuk kan sudut mulutnya mencemooh seraya menatap pasangan Ibu dan anak yang tidak tahu malu itu.
"Bahwa faktanya, tidak hanya bangkai saja yang bisa membusuk namun hati manusia juga ternyata sangat rentan terhadap pembusukan. Bukankah begitu?" Tanpa menunggu Mama Sera berbicara Adit langsung menyambung kata-katanya.
Kedua bola mata pasangan Ibu dan anak itu membola karena kaget. Mereka tidak berharap Adit mengucapkan kata-kata kasar penuh penghinaan ini untuk menggambarkan mereka berdua.
Tidak bisa tersenyum lagi, Mama Sera langsung bertanya,"Apa maksud mu berbicara begitu? Apa kamu pikir hatiku dan putriku tidak benar?!" Tanya Mama Sera marah tanpa ada senyuman atau nada ramah di buat-buat nya.
Mama Adit melihat ke arah putra dan mama Sera, dia sangat tidak nyaman melihat putranya ditekan oleh Mama sera dengan menggunakan identitas keluarga Demian. Awalnya dia ingin membantu tapi sang suami lebih dulu meraih tangannya. Mama Adit melihat suaminya gugup dan dibalas dengan gelengan kepala oleh sang suami. Sang suami yakin bila Adit bisa menghadapi Mama Sera bahkan walaupun dia membawa keluarga Demian sebagai identitasnya di sini.
"Benar, aku memang mengatakan bahwa kalian memiliki hati yang tak benar dan picik, busuk seperti bangkai menjijikkan. Dalam hidup ini aku memang sering bertemu dengan orang-orang yang tidak tahu malu, tidak hanya sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali. Mereka semua memang menyebalkan tapi tidak semenyebalkan kalian berdua. Aku bahkan bertanya-tanya dimana urat malu mu, nyonya? Sebab nyonya sangat berani meminta orangtuaku untuk memilih putrimu yang busuk dan picik, tidakkah menurut kalian jika apa yang telah kalian lakukan ini sangat tidak berbobot? Jika ada keluarga besar tahu maka kalian akan menjadi bahan olok-olokan mereka. Memalukan." Cibir Adit acuh tak acuh tanpa memberikan wajah sedikitpun kepada mereka berdua.
Di depannya langsung mereka ingin menggali sudut calon istrinya? Betapa tak tahu malu. Adit sekarang memiliki ketakutan tersendiri ketika melihat dua parasit buas ini.
Hati Sera seketika patah hati mendengar ucapan Adit. Dia tidak menyangka bila Adit akan memandangnya serendah dan sehina itu. Sungguh hancur rasanya. Air mata lembut yang mulai mengepul di dalam kelopak matanya segera meleleh seiring rasa sakit yang membanjiri hatinya.
"Beraninya kamu?!" Teriak Mama Sera marah tanpa memperhatikan citra anggunnya lagi.
"Siapapun akan setuju mengatakan bila putriku jauh lebih baik daripada calon istrimu. Putriku tidak memiliki moralitas yang cacat sedangkan wanita murah itu telah lama hina! Tapi kamu tidak tahu mana yang terbaik untuk dirimu sendiri! Aku memberikan putriku kepadamu agar hidupmu tidak sia-sia! Namun kamu sungguh keras kepala dan bahkan mengatakan bila kami adalah orang-orang yang tidak tahu malu! Hah, daripada kami tidak tahu malu justru kamulah yang tidak tahu malu dasar serigala bermata putih! Keluarga Demian ku sudah membantu keluarga mu keluar dari ancaman kebangkrutan tapi inikah balasan mu kepada kami?! Sungguh tidak tahu malu! Jika keluarga Demian ku tahu suatu hari kamu akan melakukan ini kepada kami, maka sebaiknya kami tidak menolong keluarga kalian lagi!" Kata Mama Sera dipenuhi oleh rasa arogansi yang memuakkan.
Kata-katanya yang memang benar tapi orang tua angkat Adit tidak mau menerimanya begitu saja karena dia terlalu kasar dan sok berkuasa. Untuk episode ini Papa angkat Adit hampir saja bicara bila Adit tidak segera menghentikannya.
"Keluarga Demian mu?" Tanya Adit mencemooh.
"Siapa bilang yang menolong keluarga ku waktu itu adalah keluarga Demian mu! Kamu salah besar, nyonya. Orang yang menolong kami adalah Davin dan bukan keluarga Demian mu jadi aku tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga yang kamu agung-agungkan itu. Dan pada waktu itu tidakkah kamu lupa bila kamu dan keluarga Demian memusuhi tuan ku? Tidakkah kamu lupa bahwa kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan uluran tangan tuanku? Tak tahu malu dan kamu bilang akulah yang tidak tahu malu?! Kamulah yang tidak tahu malu karena sudah mengaku-ngaku sebagai dermawan keluarga ku. Jika tuan ku tahu kamu mengambil kebaikannya, maka lihat apa yang akan dia lakukan kepadamu!" Balas Adit dengan ekspresi dingin di wajahnya.
Semua orang langsung tercengang mendengar jawaban balasan Adit. Terutama untuk orang tua angkat Adit. Mereka pikir bantuan itu atas nama keluarga Demian karena itulah dia sangat menghormati keluarga Demian. Tapi kebenarannya kini sudah terungkap. Orang yang membantu mereka adalah Davin, ini adalah bantuan individu. Pada saat itu mereka bertanya-tanya seberapa tertekan Davin menghadapi semua masalah namun masih memiliki simpati untuk membantu keluarganya bangkit?
Memikirkannya membuat hati mereka tersentuh.
"Kamu-"
"Apa? Nyonya masih ingin menyangkalnya? Apa aku perlu menghubungi tuanku untuk mengkonfirmasi semua ucapan ku agar nyonya segera terbangun dari angan-angannya?" Potong Adit mencemooh.
Wajah mama Sera sangat buruk. Ekspresinya tidak sedap dipandang ketika mendengar Adit dengan mudahnya menyangkal semua perkataannya.
"Hah, apapun kamu katakan dan tidak perduli apa Davin adalah keluarga Demian jadi kamu harus membalas kebaikan keluarga Demian ku." Kata Mama Sera tidak mau kalah.
Dia sudah kalah argumen tapi masih mencari celah untuk membenarkan kekalahannya. Lagipula apa yang dia katakan memang benar jika Davin adalah anggota keluarga Demian maka sudah sepatutnya Adit membalas kebaikan keluarga Demian.
"Aku bilang yang membantu ku adalah tuanku, maka dari itu aku mengikutinya kemanapun dia pergi sejak saat itu. Nyonya tidak perlu mengingatkan ku untuk sebuah harga kebaikan karena sejak saat itu aku telah mengabdikan hidupku untuk melayani tuanku dan bukan keluarga Demian. Namun jika nyonya bersikeras aku harus membalas kebaikan maka aku akan mengingatkan nyonya dengan murah hati bila keteguhan ku selama ini melayani tuanku adalah bentuk ketulusan ku kepada keluarga Demian sebab tuanku adalah bagian dari keluarga Demian. Adapun nyonya, tak seharusnya nyonya berbicara atas kebaikan tuanku dan keluarga Demian karena nyonya adalah keluarga sampingan dan bukan kelurga inti. Nyonya tidak bisa ikut campur dalam keluarga inti karena nyonya tidak memiliki hak. Oleh karena itu memaksa keluarga ku dengan otoritas keluarga Demian adalah sebuah pelanggaran dan akan mendapatkan sanksi. Menurut nyonya, sanksi apa yang pantas nyonya dapatkan sebagai keluarga sampingan yang lancang?" Tanya Adit dengan rasa arogansi yang menggetarkan.
Anggi untuk sejenak tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sang calon suami. Sudah lama sekali dia tidak pernah melihat calon suaminya memiliki sikap ini. Terakhir kali Anggi melihatnya ketika Revan ingin memperkosanya di dalam kamar saat menghadiri acara pertemuan keluarga Demian. Saat itu Anggi melihatnya seperti ini. Tatapannya tajam dengan bola mata hitam pekat yang memiliki sentuhan kesuraman. Penampilannya saat itu begitu hidup dan tidak terlupakan di dalam kepalanya. Dan sekarang, setelah dua tahun lamanya kejadian itu, Anggi kembali melihat penampilan calon suaminya yang memukau bercampur sentuhan dingin. Untuk sesaat dia terpana, lalu kemudian dia terpesona, dan setelah itu dia mengembangkan rona merah di pipinya. Di dalam benaknya saat ini berkibar kata-kata angkuh bahwa laki-laki luar biasa ini adalah calon suaminya, pemilik hatinya, dan akan menjadi pendamping sisa hidupnya di dunia ini.
"Ma.." Sera langsung ketakutan mendengar ancaman Adit.
Dia buru-buru memegang tangan Mama Sera agar tidak melawan Adit lagi. Saat memegang tangan Mamanya, dia tidak sengaja menyapu pandangannya melihat Anggi di seberang sana. Anggi menatap Adit dengan tatapan kekagumannya, bahkan wajahnya memiliki rona merah yang manis. Sera menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya pahit. Tempat itu harusnya menjadi miliknya tapi mengapa Adit malah memberikannya kepada wanita lain.
Dia tidak rela tapi apa? Hatinya sudah terlanjur sakit mendengarkan betapa hina dirinya di mata Adit. Dia pikir citranya begitu bagus di depan Adit tapi dia salah karena Adit justru memandangnya dengan sangat buruk.
"Kamu berani?!" Mama Sera berteriak marah.
Adit tersenyum, tangannya memperbaiki posisi kerahnya. Entah disengaja atau tidak, tapi gerakan tangannya itu membuat kalung silver yang melingkari lehernya terekspos di depan pasangan ibu dan anak itu.
"Aku berani, kenapa tidak? Lagipula aku adalah asisten pribadi tuanku dan segala urusannya akan menjadi urusanku. Jadi bagaimana mungkin aku takut kepada nyonya yang tidak memiliki arti apa-apa dihadapan tuanku?" Tanya Adit tidak habis pikir.
Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Bahkan Mama Sera tidak bisa membantah perkataannya. Meskipun dia marah dan merasa terhina, dia terpaksa menahan semua itu setelah melihat kalung kepercayaan keluarga Demian. Benar, kalung silver itu adalah kalung yang hanya diberikan kepada orang-orang kepercayaan keluarga Demian. Dan satu-satunya orang yang boleh memberikan kalung itu kepada orang lain hanyalah kepala keluarga Demian, yaitu Davin Demian.
Dengan kalung itu mama Sera tidak bisa menyinggung Adit lagi sebab masa depan keluarganya ada di tangan Adit. Bila Adit mau, semua sumberdaya yang keluarga Demian alokasikan setiap tahun ke keluarganya dapat dihentikan. Ini adalah berita yang sangat buruk dan memiliki banyak kerugian. Mama Sera tidak bisa berdebat lagi dengan Adit karena dia sudah kalah telak. Namun gengsinya yang tinggi menolak untuk mengalah.
"Bahkan walaupun kamu adalah orang kepercayaan Davin tapi di mata kami kamu hanyalah orang luar." Kata Mama Sera benci.
Adit tersenyum acuh tak acuh,"Dan bahkan walaupun aku hanyalah orang luar bagi kalian, itu tidak dapat mengubah fakta bahwa aku adalah orang kepercayaan tuan Davin." Balas Adit dengan senyuman yang dibuat-buat.
Mama Sera tersedak dengan kata-katanya. Dia ingin berdebat lagi tapi suara ponsel di tangan kirinya menginterupsi ucapannya. Dia melihat ke layar ponsel. Orang yang menelpon adalah suaminya sendiri. Jadi dia langsung mengangkatnya dan bergerak menjauh dari orang-orang. Padahal dia sebenarnya ingin melarikan diri saking malunya sekarang. Beruntung suaminya memanggil di waktu yang sangat tepat. Bila tidak, dia tidak tahu bagaimana menghadapi semua orang disaat dirinya sendiri tidak bisa mendebat Adit dengan keras.
"Baik, Pa. Aku akan segera pulang ke rumah." Kata Mama Sera bingung.
Saat mengangkat telpon dari suaminya tadi dia langsung terkejut mendengar nada suram suaminya yang tidak biasa. Suaminya adalah orang yang lembut dan tidak suka berbicara kasar ataupun membentak bila tidak sedang marah besar.
"Papa bilang apa, Ma?" Tanya Sera sambil mengelap wajah basahnya dengan tissue.
Mama Sera berkedip bingung,"Entahlah. Papa meminta kita pulang." Kata Mama Sera agak bersyukur karena bisa melarikan diri.
"Dan kalian." Kata Mama Sera sambil melihat mereka semua.
Dia lalu berkata dengan kebencian yang dalam,"Urusan kita belum selesai. Kalian akan melihat bagaimana keluarga Demian ku mengurus kalian semua!" Ancam Mama Sera sambil menarik tangan putrinya pergi.
Sera diseret oleh mamanya pergi tanpa sempat berbicara dengan Adit. Berharap, dia menoleh ke belakang untuk melihat Adit. Dia berangan-angan bila Adit juga kini melihatnya, walaupun hanya sebentar saja. Tapi Adit bahkan tidak melihatnya walupun dia dia bawa pergi. Sera tersenyum pahit, dia tidak bisa menahan kecewa ketika melihat sang pujaan hatinya malah sibuk menghibur wanita lain.
Setelah pasangan ibu dan anak itu pergi, Mama langsung meraih lengan putranya panik sekaligus cemas.
"Nak, apakah semuanya akan baik-baik saja?" Tanya Mama cemas.
Mereka baru saja berselisih dengan keluarga yang sangat besar, keluarga Demian. Untuk ukuran keluarga mereka yang kecil, mereka tidak akan bisa menang melawan keluarga sebesar Demian.
"Mama jangan khawatir. Mereka hanyalah keluarga sampingan. Di samping itu mereka berani membuat masalah kepadaku dan Anggi, tuan Davin pasti tidak akan pernah membiarkan mereka lolos begitu saja. Jadi Mama tidak perlu khawatir sebab tuanku bukanlah orang yang mudah diprovokasi." Jawab Adit lembut menghibur ketakutan Mama angkatnya.
Urusan orang-orang itu bisa diselesaikan dengan mudah, Adit tidak terlalu memikirkannya. Selain itu... hehehe, bibirnya menyeringai lebar ketika memikirkan kejutan apa yang akan diberikan keluarga congkak itu besok.
"Sungguh, kamu dan Anggi tidak akan mendapatkan masalah?" Tanya memastikan sekali lagi.
Adit tertawa renyah,"Apa yang bisa mereka lakukan kepada kami?" Tanyanya meremehkan.
Melihat kepercayaan diri putranya, Mama akhirnya melepaskan masalah ini. Dia yakin bila Davin tidak akan membiarkan putra dan calon menantunya disakiti.
Setelah sesi menegangkan itu, keluarga kecil itu langsung ke ruang makan untuk makan malam. Dan perlahan satu demi satu saudara Adit mulai berdatangan. Berbanding terbalik dengan orang tua angkat Adit, sikap Adit kepada saudara-saudara itu terkesan dingin dan menjaga jarak. Anggi sekilas bisa menebak alasan itu jadi dia berusaha bersikap senormal mungkin.
Ketika melihat interaksi semua orang, Anggi juga menilai bila ada beberapa laki-laki yang menatap Adit dengan tatapan kecemburuan samar. Walaupun ditutupi dengan baik namun kecemburuannya masih saja bocor dan kebetulan ditemukan oleh Anggi.
"Mas, anak-anak sudah tertidur. Mereka terlihat sangat senang bertemu dengan Mama dan Papa." Kata Anggi mengambil alih fokus calon suaminya.
Dia tahu bila suaminya tidak nyaman dengan orang-orang itu, oleh sebab itu dia mengambil inisiatif untuk memulai obrolan ringan dengan calon suaminya.
Adit tersenyum lembut. Dia mengelus puncak kepala calon istrinya sayang,"Yah, aku senang mereka bisa beradaptasi dengan mudah di sini. Ngomong-ngomong aku tadi sempat khawatir mereka tidak bisa bercampur dengan orang tuaku." Cerita Adit kepada calon istrinya.
Anggi terkekeh,"Aku juga, mas. Aku tadinya khawatir mereka tidak bisa beradaptasi. Tapi syukurlah, anak-anak sangat menyukai Mama dan Papa."
Mungkin karena mereka sudah lama kesepian, orang tua angkat Adit terlihat sangat antusias bermain dengan anak-anak. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak daripada bercengkrama dengan orang-orang dewasa.
"Adit dan Anggi, selamat atas hubungan kalian. Aku harap kalian segera melangsungkan acara sakral untuk mengubah status kalian." Seseorang datang menyapa.
Adit dan Anggi langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah anak tertua orang tua angkat Adit, namanya Tao. Dia sekarang bekerja sebagai sebagai manager di sebuah perusahaan swasta.
Adit mengangguk acuh tak acuh, tampak tidak dekat juga tidak jauh, sekilas dia memberikan rasa jarak seorang kenalan asing.
"Hem, secepatnya."
Anggi lebih lembut daripada Adit,"Terima kasih, Kakak. Soal itu kami harus berbicara dengan tuan Davin dan nyonya Rein dulu." Kata Anggi sopan.
Tao mengangguk pengertian. Dia melihat Adit dan Anggi dengan senyuman, sekilas ekspresi di wajahnya mengungkapkan kebahagiaan tapi jauh di dalam hatinya Tao cemburu dengan kehidupan Adit.
Adit sejak kecil dicintai orang tuanya, berteman dengan anak keluarga kaya, dan sekarang dia menjadi orang kepercayaan orang kaya tersebut. Sebelum masuk ke sini dia sudah mendengarnya dari pengurus rumah bila ada keributan sebelumnya di sini.
Seorang wanita bernama Sera ingin menikah dengan Adit namun ditolak. Hah, apakah dia bercanda? Siapa yang tidak mengenal Sera. Memiliki latar belakang keluarga yang baik, kaya, karir yang gemilang, dan tentu saja cantik. Sera adalah dewi yang dikejar-kejar banyak laki-laki kaya di kota mereka. Tapi dihadapan seorang Adit, semua kelebihan Sera tidak ada apa-apanya. Jadi bagaimana mungkin Tao tidak merasa cemburu!
"Lalu saudara, apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Tao kepada Adit.
Adit menggelengkan kepalanya bosan,"Menikah, tentu saja." Jawabannya sangat langsung!
Anggi tidak sengaja tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar jawaban langsung Adit. Sejujurnya yah... menikah adalah keputusan yang baik dan harus disegerakan, em, Anggi tidak sabar melaluinya.
"Oh, sangat tidak sabar ternyata." Kata Tao tersenyum kering.
Benar saja, pikirnya. Adit sudah memiliki semuanya, karir yang gemilang, hidup yang baik uang yang melimpah, dan banyak aset penting lainnya. Tentu saja keputusan selanjutnya adalah menikah untuk melengkapi hidupnya.
"Ini sudah larut malam. Aku harus segera pergi." Kata Adit seraya membantu calon istrinya bangun.
Dia membawa Anggi menyapa orang tua angkatnya, lalu berbasa-basi kepada saudara-saudaranya dan segera pergi membawa anak-anaknya pergi.
Karena Aldi dan Aldo tertidur, Adit memanggil Niko untuk membantunya membawa anak-anak sebab Anggi tidak mungkin mengangkatnya sendiri. Bukan karena Anggi tidak mampu tapi lebih tepatnya Adit tidak mengizinkannya. Anggi memiliki penampilan anggun dan cantik, jadi tidak sepantasnya dia membiarkan calon istrinya membawa anak-anak.
"Malam ini sangat menyenangkan, terima kasih, mas." Bisik Anggi dengan senyuman malu-malu di wajahnya.
Adit tersenyum simpul, dia mengusap puncak kepala calon istrinya penuh kasih.
"Kita akan menikah dua hari lagi." Kata Adit tiba-tiba.
Jika kontrol Niko terhadap mobil ini tidak bagus, maka mereka semua pasti sudah ada di rumah sakit sekarang.
"Ah...mas?" Sama seperti Niko, Anggi juga sangat terkejut karena Adit tiba-tiba mengatakan hal penting ini dr entengnya.
Jika Anggi tidak melihat ekspresi serius calon suaminya, maka mungkin dia akan menganggap calon suaminya sedang bercanda.
Adit mengangguk serius.
Mendengar semua penjabaran Adit yang lugas dan tidak neko-neko, mulut Niko berkedut tidak tahu harus tertawa atau menangis. Bosnya sungguh bukan orang yang romantis. Lihat saja calon istrinya yang terbengong, Niko bisa membayangkan betapa campur aduk nya perasaan Anggi saat ini.
"Ah...apa kita akan menikah secepat itu?" Tanya Anggi shock.
Adit mengangguk serius sambil menatap istrinya,"Kamu tidak mau?" Tanyanya sedih.
Anggi langsung menggelengkan kepalanya buru-buru membantah. Dia bukannya tidak mau tapi hanya sedikit shock saja! Hanya sedikit, okay!
"Tidak, tidak! Aku mau kok, mas." Bantah Anggi.
Adit tersenyum puas,"Kalau begitu kita akan menikah dua hari lagi." Kata Adit kembali mengejutkan Niko dan Anggi.
Kali ini Niko hampir saja menabrak tiang jalanan saking kagetnya.
"Hati-hati." Peringat Adit serius.
Niko menganggukkan kepalanya gugup,"Ya, bos!" Ini bukan salah dirinya!
Tapi ini adalah salah bosnya karena terlalu blak-blakan dan sangat tidak romantis. Bosnya benar-benar tidak memiliki obat untuk masalah ini.
"Ah...lalu bagaimana dengan persiapan-"
Belum selesai Anggi bertanya, Adit langsung memotong dan menjawabnya dengan akurat.
"Aku sudah mengurusnya tadi siang di rumah. Kita akan menikah di pulau pribadi tuan Davin dan nyonya Rein sesuai dengan permintaan mereka. Gaun pengantin sedang dibuat dan dipastikan selesai besok. Segala macam dekorasi dan pernak-pernik pernikahan akan diurus oleh perusahaan yang mengurusi pernikahan tuan Davin beberapa bulan yang lalu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun dan hanya perlu mempersiapkan diri saja. Bagaimana?"
Anggi tercengang antara merasa kaget atau kagum melihat betapa gesit suaminya mempersiapkan pernikahan mereka. Sedetik kemudian bibirnya membentuk senyuman lembut, memberanikan diri untuk memegang tangan suaminya yang hangat untuknya berbagi kehangatan.
"Terima kasih, mas. Aku akan mempersiapkan diriku dengan baik untukmu." Katanya langsung membuat hati terdalam Adit melembut.
Wanita yang dia cintai ini selalu memiliki cara untuk menyentuh hatinya, membuat hatinya mencair dan melembut dengan kelembutan hati yang belum pernah Adit bayangkan selama ini.
***
Setelah Adit dan Anggi pergi, orang-orang yang ada di dalam rumah segera berebutan melihat hadiah yang Adit bawa untuk orang tua mereka.
Ketika melihat hadiah itu adalah perhiasan mahal yang menghabiskan banyak uang, mereka semua langsung menghirup udara dingin. Iri dan cemburu tidak bisa dilepaskan dari dalam hati mereka.
"Adit sekarang memiliki banyak uang. Dia tidak takut membelanjakannya hanya untuk membeli perhiasan ini." Kata ipar perempuan menatap serakah perhiasan mertuanya.
Mama Adit sangat senang dengan hadiah putranya, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perhiasan itu. Setelah merabanya dengan hati-hati, Mama menyimpan perhiasan ini dengan hati-hati pula di dalam brankasnya. Selain berharga, ini adalah hadiah putranya, hadiah yang diberikan dari dalam hati jadi kalung itu sangat penting untuknya.
"Benar. Dia punya banyak uang tapi tidak mau membelikan kita sebuah hadiah." Kata saudara yang lain menimpali.
Di mata mereka Adit adalah bank berjalan karena diantara mereka semua, hanya Adit lah yang memiliki karir gemilang. Bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai asisten pribadi dan menjadi orang kepercayaan pemilik perusahaan, bagaimana mungkin mereka tidak merasa cemburu?
Salah satu diantara mereka memutar mata jenuh menghadapi kebodohan saudara-saudaranya.
"Memberikan kalian hadiah? Bermimpi lah! Kak Adit mana mungkin melupakan semua yang kalian lakukan kepadanya. Sungguh tidak tahu malu." Katanya langsung menyiram mereka dengan air dingin.
Mereka cemberut kesal. Diam-diam menyesali kebodohan mereka di masa lalu.
"Lalu adik, darimana kamu mendapatkan perhiasan ini?" Ipar perempuan itu menangkap gelang indah di pergelangan tangan kirinya.
Gelang itu sangat indah, bersinar terang di bawah cahaya lampu rumah. Tanpa bertanya pun mereka tahu bila gelang itu ditaburi banyak berlian, kalau tidak bagaimana mungkin sinarnya akan seindah ini.
Gadis itu segera menyentuh gelangnya. Tidak hanya belang tapi cincinnya juga sangat indah. Mereka jelas berasal dari merk perhiasan yang sama.
"Oh ini, Kak Adit memberikan ku hadiah sebagai ucapan selamat karena aku berhasil masuk ke universitas yang sama dengannya dulu. Dan cincin ini adalah pemberian kak Anggi. Dia bilang cincin ini sangat sesuai dengan warna kulitku, jadi dia memberikannya kepadaku." Katanya dengan senyuman lembut di wajah mungilnya.
Dulu saat Adit masih kuliah, gadis ini merelakan uang tabungannya yang tidak seberapa untuk membantu membayar biaya kuliah Adit. Memang uang itu tidak seberapa namun kebaikannya tidak akan pernah terlupakan di dalam hidupnya. Apalagi saat dia dituduh dulu, gadis ini mati-matian membela nya jadi kesan Adit kepadanya semakin baik.
Dan sejak bekerja. Adit selalu mengirimkan gadis ini uang untuk dibelanjakan. Sampai dengan detik ini, Adit tidak pernah absen mengirimkannya uang belanja perbulan. Ini membuat gadis itu semakin hangat dan menganggap Adit sebagai kakak yang hebat juga kuat. Dia bahkan mengidolakannya.
Melihat keberuntungan gadis ini, para ipar diam-diam mengerucutkan bibir mereka tidak puas.
"Adik sangat beruntung. Dia dicintai oleh saudara Adit." Kata yang lain iri.
Gadis itu menikmati kecemburuan para iparnya dan tanpa malu memamerkan gelang juga cincinnya yang berharga.
"Yah, kak Adit sangat baik. Dia bilang akan memberikan ku sebuah apartemen di gedung edelweiss jika aku lulus dengan IPK yang tinggi." Kata gadis itu tidak menyembunyikan janji Adit kepadanya.
Mendengar itu, para ipar sekali lagi menghirup nafas dingin. Sebuah apartemen di gedung edelweiss, mereka tidak akan sanggup membelinya karena harganya sangat mahal. Tidak, mereka memang orang kaya dan terbilang mampu membelinya- tapi tidak bisa membeli dengan santai karena itu akan menghabiskan seluruh tabungan mereka selama ini.
"Adik bekerja keraslah, semoga kamu beruntung mendapat IPK yang tinggi!" Kata para ipar mencemooh.
Hah, IPK yang tinggi tidak semudah itu didapatkan jadi kemungkinan untuk mendapatkan apartemen itu sangat kecil.
"Tentu saja, kak. Dosen pembimbing ku bilang nilai rata-rata ku di semester ini sangat bagus, hampir menyentuh IPK empat." Katanya bangga!
Pada ipar,"...." Bagaimana mungkin dia memiliki banyak keberuntungan, ah!
***
Di dalam mobil Sera tidak berhenti menangis. Dia terus saja menangis terisak memikirkan bagaimana perlakuan dingin Adit kepadanya. Mamanya bahkan harus melakukan apa lagi untuk membujuk putrinya agar berhenti menangis. Jujur saja, dia juga tidak ingin putrinya menangis seperti ini. Dia berharap putrinya bisa bahagia. Namun apa yang bisa dia lakukan setelah semua upaya, Adit bukannya memilih putrinya tapi malah membencinya.
Mama tidak bisa berkata-kata. Menghela nafas panjang,"Nak, sudahlah. Dia bukan laki-laki yang tepat untukmu. Mama tidak sanggup menyinggungnya lagi karena dia adalah tangan kanan sepupumu di mansion." Kata Mama membujuk putrinya.
Jika bukan karena kendali dan terbakar amarah, Mama lebih baik tidak menyinggung Adit karena keluarganya akan mendapatkan kerugian. Sekarang setelah memikirkannya dengan hati-hati dan merenungi setiap kata Adit, Mama tiba-tiba merasa takut bila Adit benar-benar berurusan dengan keluarganya.
"Ma, hatiku sakit. Hatiku sakit dan air mataku tidak berhenti keluar." Kata Sera mengadu kepada mamanya.
Hatinya sakit, sangat sakit. Cintanya yang telah dia pupuk selama bertahun-tahun ternyata tidak membuahkan hasil apapun. Dia kecewa namun tidak bisa menyalahkan siapapun sebab sedari awal dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Adit, jadi kemarahannya ini sangat mengerikan.
"Maka lupakan dia, nak. Kamu masih memiliki masa depan yang panjang." Kata Mama sambil mengusap puncak kepala putrinya.
"Ini...ini semua gara-gara wanita murahan itu, ma! Dia merayu kak Adit sehingga kak Adit jadi membenciku sekarang!" Tuduh Sera tidak berdamai soal Anggi.
Dia selalu merasa Anggi adalah sumber dari semua kemalangan nya. Jika Anggi tidak ada maka Adit mungkin akan berakhir bersamanya! Tapi wanita murahan ini sungguh tidak mudah. Dia tidak takut sama sekali saat merayu Adit nya.
"Anggi ini, dia benar-benar rubah berekor sembilan, sangat pintar merayu. Yakinlah nak, Mama akan cari cara untuk memporak-porandakan keluarganya agar dia berpikir lagi jika ingin tetap bersama Adit." Menghitung wanita ini, Mama memiliki dendam tersendiri. Padahal Anggi tidak pernah melakukan apa-apa kepadanya tapi selalu dipandang salah juga tercela oleh pasangan ibu dan anak ini.
"Janji ya, ma. Sera ingin dia kapok dan menyesal karena telah merebut kak Adit dariku." Tuntut Sera kepada Mamanya.
Mana tersenyum, dia mengelus puncak kepala putrinya berjanji,"Ya, Mama berjanji. Tapi mama harus melakukannya dengan diam-diam agar tidak diketahui oleh Adit. Jika dia tahu maka keluarga kita akan dihancurkan oleh sepupumu." Kata Mama berpikir serius.
Sera juga mengerti ini jadi dia tidak menuntut banyak dan tidak terlalu mendesak. Toh, pernikahan mereka berdua juga belum ditentukan sehingga dia masih memiliki kesempatan untuk merebut Adit darinya..
"Sera akan mengikuti rencana Mama." Kata Sera mulai mengatur kembali suasana hatinya.
Dia mengambil banyak tissue untuk membersihkan wajah basahnya. Setelah kering dia mengambil makeup untuk merias kembali wajahnya yang kacau karena terlalu banyak menangis.
Bagaimana pun keadaannya dan apapun keadaannya, dia harus tetap terlibat cantik dan berpenampilan baik agar tidak merusak citra baiknya.
Sesampai mereka di rumah, ada hal aneh yang menyambut kedatangan mereka. Di depan pintu masuk rumah mereka telah ditunggu oleh para pengawal rumah. Ini sangat aneh sebab mereka langsung menggiring mereka masuk tanpa menjawab pertanyaan pasangan ibu dan anak itu.
"Ada apa ini?" Tanya Mama tidak senang digiring seperti seorang tahanan.
Padahal para pengawal memperlakukannya dengan sangat sopan.
"Tuan meminta nyonya dan nona masuk ke dalam rumah. Tuan sudah menunggu di ruang tengah." Kata pengawal itu menjawab dengan ekspresi dan nada datar.
Sera mendengus tidak senang.
"Kami bisa masuk ke dalam rumah sendiri." Katanya tidak ingin dikawal seperti tahanan.
Pengawal itu tidak gentar,"Maaf nona, ini adalah perintah dari tuan langsung." Katanya datar.
"Papa?" Heran Mama.
Dia merasa bila saat ini suaminya sangat aneh. Mulai dari perintah dinginnya untuk segera merelokasi pulang di telpon tadi hingga pengawalan ketat yang tidak biasanya.
"Ma, apa kita memiliki musuh?" Tanya Sera konyol.
Biasanya di novel-novel yang pernah dia baca beberapa keluarga akan memiliki musuh dan saling menyerang, karena itulah pengawal dibutuhkan untuk menjaga anggota keluarga.
Mama menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Kita lihat nanti, nak."
Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang tengah. Di ruang tengah papa tengah berdiri sambil melihat Ipad-nya dengan ekspresi serius. Mama dan Sera langsung menghampirinya tanpa pikir panjang.
"Pa, kami pulang. Hari ini Mama sama Sera kok harus dikawal yah masuk ke dalam-"
Plak
Sebuah tamparan keras mengenai pipi mama hingga hampir terjatuh. Jika Sera tidak segera menangkap Mamanya, maka mungkin dia kini sudah tergeletak di lantai.
Pasangan Ibu dan anak itu shock dengan gerakan tiba-tiba Papa. Mereka tidak menyangka bila Papa akan bersikap kasar kepada Mama, istri yang telah diperlakukan nya dengan baik.
"Pa...papa kok nampar mama?!" Teriak Sera tidak terima.
"Kenapa, kamu juga mau merasakan apa yang dia rasakan?!" Bentak Papa kepada Sera.
Sera sangat marah dan tidak bisa menerimanya,"Papa kenapa gitu-"
"Diam!" Bentak Papa lebih keras sambil menatap putrinya dengan mata tajam.
Sera ketakutan. Dia segera mengecilkan lehernya tidak berani berbicara ataupun membentak Papanya lagi. Selama hidupnya, belum pernah dia melihat papa semarah ini.
"Papa...papa kenapa nampar mama?!" Tanya Mama setelah menenangkan dirinya.
Dia tahu ada sesuatu yang salah dengan suaminya namun dia tidak pernah menyangka bila suaminya akan menjatuhkan tangan kepadanya. Lagipula semarah apapun suaminya, bertindak kasar atau bahkan sampai menjatuhkan tangan seharusnya tidak bisa dibiarkan terjadi. Sebab mereka adalah sepasang suami-istri yang selalu akur juga harmonis.
"Ouh, kamu masih belum tidak tahu kenapa aku menampar mu?" Tanya Papa dingin.
Mama menggelengkan kepalanya tidak tahu. Dia juga yakin tidak melakukan kesalahan apapun di depan suaminya jadi kenapa sang suami menghadiahinya sebuah tamparan?
"Semarah apapun Papa, menggunakan kekerasan tidak bisa dibenarkan apalagi aku adalah istri Papa!" Kata Mama marah.
Papa tertawa dingin,"Oh, begitu. Tapi jika aku tidak menampar mu, maka sampai kapan kamu akan begini terus? Apa kamu senang melihat keluarga ini hancur, hah?!" Bentak Papa mengejutkan mereka berdua.
Mama tercengang, dia tiba-tiba merasakan firasat buruk.
"Maksud Papa, apa? Kenapa aku harus menghancurkan keluarga?" Mama berusaha tenang.
"Benarkah? Lalu lihat ini!" Papa melemparkan Ipad-nya ke lantai.
Dengan bunyi,
Pa
Mama dan Sera langsung melihat ke bawah.