
Mountain Lotus
Joe yang tadi sempat menguping pembicaraan antara Black dan Lenard ketika kepala pelayan keluarga William itu menelepon tadi mendadak pucat.
Beruntung dia tadi mendengar lalu cepat-cepat membisikkan kepada Black bahwa dia sedang tidak berada di Mountain Lotus. Jika tidak, pasti kedua kakek uyut nya itu akan datang ke Mountain Lotus dan dirinya pasti akan di amuk oleh dua dari empat naga yang hanya tinggal gusi itu.
"Mati aku. Mati aku." Kata Joe kalang kabut ketakutan setelah Black selesai meletakkan gagang telepon.
"Senior. Apa kata kepala pelayan uyut ku tadi?" Tanya Joe.
Liar mata Joe menatap langit-langit ruangan Villa milik Ayahnya itu menantikan apa yang akan dikatakan oleh Black kepadanya.
"Sesuai dengan yang Tuan muda bisikkan tadi. Saya mengatakan bahwa anda tidak ada di Mountain Lotus untuk memburu si Paul itu. Paman Lenard tadi mengatakan bahwa dia akan menyampaikan kepada Tuan besar William King bahwa anda tidak berada di sini dan sedang mengincar Paul untuk di bunuh." Jawab Black sambil menahan tawa melihat Joe yang seperti ketakutan.
Dengan mata liar menatap langit-langit Villa dan wajah yang sangat hitam, dapat dibayangkan hanya giginya saja yang putih dan itu membuat Black hampir meledak tawa.
"Jangan ketawa Senior! Ini hanya tiga bulan saja." Kata Joe sambil merengut.
Rupanya, kegelisahan Joe ini diketahui oleh Clara dan Jerry yang hanya mengintai saja kelakuan putra mereka ini dari lantai dua.
"Lihat putra mu itu. Seperti cacing kepanasan saja. Ayo kita tanya ada apa dengan dirinya." Kata Jerry lalu segera menggandeng tangan Clara untuk turun ke lantai bawah.
"Ayah. Tolong aku Yah! Kakek Uyut William mau kemari untuk memarahi aku." Kata Joe melaporkan kepada Jerry William.
"Lalu?" Tanya Jerry cuek.
"Lalu apanya? Bantu lah! Joe kan tidak pernah bertemu dengan mereka. Kata senior Black, kedua kakek uyut ku itu lebih galak dari kakek uyut Malik." Kata Joe ketakutan.
"Ayah tidak punya solusi untuk semua itu. Semua akan selesai jika kau membatalkan rencana mu dan menarik kembali ketiga paman mu itu untuk menduduki jabatan mereka." Kata Jerry sambil tersenyum.
"Mana bisa begitu. Joe sudah terlalu banyak mengorbankan waktu dan lelahnya pun belum hilang. Baru menanam dan belum bertunas. Masa iya harus dicabut lagi? Joe tidak mau." Kata anak itu dengan tegas. Tapi tetap dengan kegelisahan.
"Oh. Kemarin katanya lagak mu bak Hero yang baru turun dari pesawat tempur. Mengapa sekarang kau seperti ketakutan? Ah. Mental mu memang mental kerupuk." Kata Jerry sambil duduk di sofa.
"Ayaaaah. Bantu aku. Joe tidak takut dengan siapapun. Tapi ini kan kakek uyut. Mana Joe berani. Kalau ketahuan membantah oleh kakek Tengku, nanti bisa-bisa Joe di suruh lagi datang ke sana dengan alasan, belum tamat mendidik Joe. Lalu akan di hukum lagi. Kalau di hukum terus, kapan Joe bisa mengaduk-aduk air kolam tempat keluarga Miller itu?" Kata Joe.
"Lalu, apa yang harus Ayah lakukan?" Tanya Jerry.
"Joe akan pergi. Di Starhousing kan kita punya rumah. Mengapa tidak di situ saja Joe bersembunyi?"
"Mana boleh. Rumah kita di Starhousing kan sekarang ditempati oleh Paman Ryan dan Riko serta Arslan. Mereka kan sudah tidak punya apa-apa lagi. Bukankah kau yang menyita semua milik mereka?" Kata Jerry mengingatkan.
"Bukan sita sungguhan. Ini kan sebagian dari acting. Ah bagaimana ini. Apakah aku harus pergi menyerahkan diri kepada kakek uyut? Dengan kulit hitam begini apa iya Joe akan diakui sebagai cicit?" Tanya Joe sambil menahan sesak di dadanya.
"Hahaha. Makanya kau jangan nakal. Pakai acting segala. Lihat saat ini semua mata tertuju kepada kita. Kau yang memulai, maka kau juga yang harus mengakhiri." Kata Jerry.
"Em... Begini saja. Kakek Uyut kan tidak mengenal wajah Joe seperti apa. Joe tidak siap bertemu dengan mereka dengan kulit hitam begini. Joe akan kabur saja ke Garden Hill." Kata pemuda itu.
"Lalu rencana mu dengan Paul?" Tanya Jerry.
"Paul? Percaya atau tidak, dia pasti saat ini sedang kencing di celana." Kata Joe.
"Ya sudah. Terserah kau saja. Kau boleh pergi kemana saja yang kau mau. Asalkan ingat untuk tidak membuat onar. Ini bukan kota Kemuning. Kau jangan berbuat aneh dengan menaiki Troli pula." Kata sang Ayah mengingatkan.
"Susahnya begini kalau punya kakek yang pemikirannya mentok. Sudah tidak bisa di Upgrade lagi pemikiran mereka ini. Memory mereka hanya sebatas 512 MB. Dengan chipset jadul." Kata Joe terus ngomel membuat Clara dan Jerry meledak tawanya.
"Uh. Maaf.., maaf. Joe khilaf." Kata Anak itu sambil menampar bibirnya sendiri.
"Joe. Kau belum menemui Kakek Drako dan Kakek Syam mu. Mengapa?" Tanya Jerry penasaran.
"Bagaimana Joe mau menemui mereka dengan kulit seperti ini? Joe malu lah. Kemarin itu saja di kantor cabang Garden Hill, Joe sudah setengah mati menahan malu. Untung ketika itu kemarahan Joe meluap-luap. Jadi, dengan itu Joe bisa menutupi rasa malu dan menumpahkan semua kekesalan Joe terhadap Mario, Charles dan Milner." Kata Joe.
"Coba kau ingat-ingat kembali ilmu pengobatan yang kau pelajari itu. Pasti ada penangkalnya." Kata Jerry.
"Oh tidak. Joe tidak berani. Jika kakek Tengku Mahmud tau, dia bisa mengirim paman Tigor ke sini untuk menjemput ku. Jangan Ayah! Joe tidak berani." Jawab anak itu seperti ketakutan.
Cara Tengku Mahmud mendidik Joe ini benar-benar berbeda. Ini yang membuat Joe ketakutan untuk melanggar larangan dari guru nya itu. Walaupun dia berada di Starhill dan Tengku Mahmud berada di Kuala Nipah, tapi tetap saja dia merasa bahwa tindakannya selalu diperhatikan oleh orang tua itu dari kejauhan.
"Ayah. Joe akan keluar dulu jalan-jalan dengan Senior Black. Boleh?" Tanya Joe.
"Mau kemana kalian?" Tanya Jerry.
"Mau menghilangkan diri sejenak. Mungkin tiga hari baru kembali. Joe khawatir jika masih di sini, sewaktu-waktu kakek uyut bisa saja tiba. Mati lah Joe jika sampai terciduk."
"Ya sudah. Kau boleh pergi. Jaga tingkah laku mu! Hindari Troli!" Pesan Jerry kepada putranya itu.
"Baiklah Tuan besar!" Kata Joe sambil menunduk hormat.
"Kurang ajar!" Kata Jerry bangun dari duduknya.
Minat ini, Joe langsung melarikan diri sambil berkata, "Senior Black. Ayo cepat kabur!"
"Hahaha. Tuan besar. Putra anda ini?!" Kata Black sambil tertawa karena sudah tidak tahan.
"Pergi temani dia. Dia bisa mengacaukan Jewel Star jika tidak ditemani. Ini karena dia sudah tau bahwa Jewel Star itu sama seperti Tower Mall. Bisa mandi keringat manager di sana nanti dikerjai oleh anak itu." Kata Jerry berpesan.
"Baiklah. Saya mohon diri dulu." Kata Black sambil berpikir keras.
"Bagaimana aku bisa mencegah Joe ini. Kalau dia marah, aku bisa di kirim ke keluarga Miller." Katanya dalam hati sambil terus berjalan ke arah Joe yang sudah menunggu di dekat mobil.
"Kemana kita Tuan muda?" Tanya Black.
"Senior Black. Aku ingin anda mencari informasi tentang pembunuh bayaran yang di utus oleh keluarga Miller bernama Sean. Ini karena aku tidak dapat melakukan panggilan ke nomor ponsel nya."
"Kalau saya boleh tau, untuk apa Tuan muda menginginkan Sean ini?" Tanya Black.
"Aku ingin Sean ini memberikan informasi kepada ku tentang Paul ini. Dia telah mengusik ku. Dan aku tidak pernah melepaskan orang yang sudah mengusik ku." Kata Joe. Mendadak tingkah lucu nya tadi di hadapan Ayahnya serta-merta berubah menjadi dingin.
"Baiklah. Kita memiliki banyak mata-mata di setiap pelosok daerah. Nanti akan saya tanyakan kepada mereka." Kata Black sambil membukakan pintu mobil untuk Joe.
"Terimakasih senior!" Kata Joe lalu masuk dan duduk di kursi mobil sport miliknya itu.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Black dan Joe pun berangkat meninggalkan Villa milik Jerry William ini dengan auman suara mesin yang menggelegar.
Jangan lupa di like setelah selesai baca!
Bersambung...