
Selama hampir tiga puluh menit mengobrol dengan sang Ayah, kini tanpa terasa rombongan itu telah tiba di depan kantor besar yang lokasinya kira-kira lima ratus meter dari Lotus Mansion di sebelah kanan, dan lima ratus meter dari Hotel Teratai di sebelah kiri.
Ketika rombongan Jerry dan Joe tersebut tiba, tampak puluhan orang berdiri di depan pintu masuk kantor besar Future of Company itu dengan sebagian lagi langsung berlari membukakan pintu mobil tersebut dan mempersilahkan Jerry William dan putranya yaitu Joe William untuk keluar dari mobil tersebut.
Setelah Jerry, selaku Tuan besar keluar dari mobil Pagani huayra itu, kini dibelakangnya tampak menyusul seorang pemuda dengan penampilan yang sangat misterius.
Semua orang kini melihat sosok yang memakai pakaian serba hitam di balut dengan Jaket Hoodie hitam dan memakai Masker wajah kucing juga berwarna hitam melangkah dengan lagak angkuh diantara barisan para Staf di perusahaan Future of Company itu.
Berjarak beberapa langkah di belakang, Tampak Jeff, Regan, Ryan, Daniel, Riko, Arslan, Herey dan Black menyusul dengan wajah tegang. Hal ini membuat mereka yang berada di situ termasuk Tuan Barry, Ronald dan Austin menjadi heran siapa pemuda yang memiliki tatapan tajam penuh intimidasi ini sebenarnya.
Jangankan Tuan Barry dan Ronald, Austin yang pernah ikut ke Kuala Nipah untuk merayakan ulang tahun Joe yang ke tujuh belas beberapa bulan yang lalu pun tidak dapat mengenali siapa sosok berpakaian serba hitam dan tertutup itu.
"Selamat datang Tuan besar!" Kata mereka serentak menyambut kedatangan Tuan besar pemilik perusahaan Future of Company itu.
"Tuan Barry, Paman Ronald, dan Austin silahkan memasuki ruangan rapat. Begitu juga dengan Ryan, Daniel, Riko, Paman Jeff, Paman Regan, Arslan, Herey dan Black! Yang lainnya tinggal di luar!" Kata Jerry Tampa berhenti melangkah memasuki kantor besar itu dan langsung menuju ke ruang rapat.
Mereka semua serentak mengikuti Jerry dan sosok misterius itu memasuki ruang rapat dan setelah semuanya menempati kursi masing-masing, kini Jerry pun mulai mengucapkan kata sambutannya.
"Selamat sore buat semua yang ada di sini. Perkenalkan! Pemuda yang berada di samping ku saat ini adalah Joe William. Putra ku dan Pewaris tunggal di keluarga William." Kata Jerry.
Kini terjawab sudah pertanyaan di hati Tuan Barry, Ronald dan Austin tentang sosok misterius itu yang ternyata adalah Tuan muda mereka.
"Aku, Jerry William di sini hanya sebagai pendengar dan pemerhati saja. Karena pertemuan kita kali ini akan di pimpin oleh putra ku selaku Ketua dari dua organisasi besar dan juga sebagai pewaris dari keluarga besar William. Untuk itu, aku mempersilahkan kepada Joe William untuk memulai dialog dalam pertemuan ini."
"Terimakasih kepada Ayah, atas ruang dan waktu yang telah diberikan. Terimakasih juga kepada seluruh yang berada di dalam ruangan rapat ini karena telah hadir."
"Perkenalkan! Nama ku adalah Joe William. Putra dari Jerry William dan Clara Drako.
Begini.., mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa aku kembali ke Starhill ini tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada semua nya. Mengapa aku kembali tidak di sambut dengan meriah. Itu semua tidak aku butuhkan. Apa itu sambutan yang meriah? Membuang-buang waktu saja. Kepulangan ku kali ini ingin mengetahui tentang kesepakatan yang Tuan Barry lakukan dengan pemilik perusahaan Garden Company yang berada di bagian barat Garden Hill. Ini karena, baru beberapa bulan mereka terlepas dari ancaman kebangkrutan, tapi sudah berani mengintimidasi perusahaan kecil lainnya yang berada di bawah perusahaan itu. Silahkan anda jelaskan kepada saya Tuan Barry!" Kata Joe mempersilahkan Tuan Barry untuk membentangkan butiran kerjasama antara Future of Company yang diwakili oleh Tuan Barry bersama dengan perusahaan Garden Company milik Moreno tersebut.
"Selamat sore buat semuanya, terutama kepada Tuan besar Jerry William dan Tuan muda Joe William. Terimakasih atas kesempatan nya."
"Di sini, Saya Barry Morisson selaku presiden perusahaan telah melakukan investasi dan mengucurkan dana ke dalam perusahaan Garden Company atas perintah dari Tuan besar. Adapun butiran dari kesepakatan kerjasama itu adalah, Perusahaan tidak menginginkan memegang saham dari perusahaan milik Moreno ini karena niat awal dari investasi yang kami lakukan adalah untuk menjauhkan perusahaan ini dari Arold Holding Company."
"Namun, seiring berjalannya waktu, maka perusahaan Future of Company telah mengambil alih saham di perusahaan itu sebesar 60% atas nama Joe William." Kata Tuan Barry menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari Tuan Barry ini, Joe langsung melirik ke arah Ayahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Mengapa ayah tidak mengatakan kalau saham di perusahaan itu telah Ayah ambil alih sebanyak 60% atas namaku?" Tanya Joe.
"Hahaha. Sebenarnya Ayah ingin membuat kejutan di nanti ketika usia mu mencapai delapan belas tahun. Tapi perubahan terjadi begitu cepat. Maka, rencana untuk memberi kejutan di hari ulang tahun mu kelak batal direalisasikan." Kata Jerry sambil mengusap kepala Joe William yang di tutupi mantel jaket nya itu.
"Boleh saya lanjutkan?" Tanya Tuan Barry.
"Silahkan Tuan!" Kata Joe mempersilahkan.
"Dalam butiran kesepakatan kerjasama itu, ada sejumlah proyek yang dijalankan oleh perusahaan itu antara lain adalah, membangun lapangan golf, membangun restoran, renovasi Villa milik anda yang terletak di bukit landai Garden Hill. Kemudian ada beberapa proyek lagi yang sedang dijalankan."
"Adapun masalah kepemilikan saham, 60% saham di perusahaan itu adalah atas nama anda. 20% saham lainnya di pegang oleh saya, Ronald dan Austin atas ijin dari Tuan besar. 10% saham lainnya dimiliki oleh para pengusaha kecil di Garden Hill sementara sisanya dimiliki oleh Moreno selaku Founder dari perusahaan itu. Walaupun dia hanya memiliki 10% dari sisa saham yang sudah lepas dari tangannya, namun dia tetap menjabat sebagai CEO di perusahaan itu."
"Kini saya ingin bertanya kepada anda Tuan muda. Mengapa anda tiba-tiba kembali dan menanyakan perihal perusahaan Garden Company ini?" Tanya Tuan Barry dengan Heran.
"Sebentar Tuan Barry. Jika Moreno ini hanya memiliki saham yang tinggal 10% saja. Maka aku akan mengaduk-aduk perusahaan ini agar Moreno merasa mual dan memuntahkan saham yang se-upil bayi itu. Ketika dia memuntahkan saham miliknya, aku akan membeli saham itu dan menginginkan perusahaan itu utuh menjadi milikku."
"Tidak ada kata kasihan kepada orang yang lupa daratan seperti Moreno ini yang hanya mendiamkan putranya bernama Mario untuk menindas perusahaan yang bernaung di bawah perusahaan Garden Company ini. Terlebih lagi yang dia tindas adalah perusahaan milik ayah dari sahabat masa kecil ku. Sungguh tidak dapat aku maafkan."