
Villa Smith Bukit Metro.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya rombongan Tuan besar Smith tiba juga di Villa miliknya itu bersama dengan Joe, empat wanita pengawal dan puluhan lelaki berbadan tegap.
"Ayo turun. Kita sudah sampai. Ubah sedikit ekspresi wajah mu itu! Aku lihat wajah mu begitu tegang persis seperti Bulldog." Kata Tuan Smith.
"Joe bukan tegang. Tapi sedang memikirkan bagaimana caranya agar tidak ikut dalam pesta itu nanti." Kata Joe sambil keluar dari mobil itu dengan cara malas.
"Aku sudah cukup bertengkar dengan setan William itu. Selebihnya terserah kepadamu saja. Tapi, jangan pernah kabur dari Villa ku ini!" Kata Tuan Smith memperingatkan.
"Kalau kakek Uyut mengatakan terserah kepadaku, maka lihat saja di acara itu nanti! Lihat saja apa yang akan aku lakukan." Kata Joe sambil memanggil salah seorang dari pengawal berbadan tegap itu.
"Ya Tuan muda! Apakah anda memiliki pesan yang harus saya kerjakan?" Tanya pengawal itu.
"Carikan aku troli. Aku bosan jika begini terus." Kata Joe.
"Maaf Tuan muda. Tapi untuk apa troli itu?" Tanya pengawal tadi.
"Kau carikan saja! Atau dia akan kabur dari sini. Jika dia kabur, ku potong telinga kalian! Kata Tuan Smith lalu memasuki Villa itu sambil menarik tangan Joe.
"Selamat datang Tuan besar. Apakah anda bertemu dengan Tuan muda itu?" Tanya Samuel. Kepala pelayan di Villa Smith ini.
"Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang bersama dengan siapa?" Tanya Tuan Smith.
"Ini? Apakah anak hitam ini Tuan muda Joe William itu? Oh. Maafkan aku. Apakah anda sedang tidak sehat Tuan?" Tanya Samuel lagi sambil sesekali membandingkan antara Tuan Smith dan Joe William yang hitam legam itu.
"Hahaha. Kau tanyakan saja sendiri kepada anak jin ini!" Kata Tuan Smith melepaskan pegangan tangan nya di lengan Joe lalu melangkah ke arah lift untuk naik ke lantai dua.
"Mengapa anda memperhatikan saya seperti itu? Saya ini Joe William! Bukan hantu." Bentak Joe. Lama-lama kesal juga dia diperhatikan dengan cara seperti itu.
"Oh. Maafkan saya Tuan muda. Sekali lagi Maaf. Mari saya antar anda ke kamar milik almarhum kakek anda yaitu Wilson." Kata Tuan Samuel sambil mempersilahkan Joe untuk mengikutinya.
"Ini adalah kamar milik mendiang kakek dan nenek anda Tuan muda. Mereka dulu menempati kamar ini ketika berkunjung ke Villa ini. Mulai sekarang, kamar ini milik anda." Kata Tuan Samuel.
"Kek. Kira-kira, kalau aku menempati kamar ini, apakah ada hantunya atau tidak?" Tanya Joe.
"Iya hantu. Biar kau di cekik. Hantu saja takut melihat tampang mu itu." Kata Tuan Smith sambil menahan tawa.
"Kek. Apakah aku seburuk itu?" Tanya Joe.
"Aku memiliki ramai kolega berkulit hitam. Tapi kau ini sudah melewati batas ambang kehitaman. Kalau ada level, maka kau ini sudah level sejuta." Jawab Tuan Smith lagi.
"Iya. Ya sudah lah." Kata Joe sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal.
"Tuan muda. Troli anda sudah ada. Ini!" Kata pengawal itu sambil mendorong sebuah troli berukuran besar.
"Untuk apa mu Joe? Kau jangan sampai membuat kekacauan di Villa ku ini. Jika semua berantakan, kau sendirian yang akan membereskannya."
"Percuma banyak pembantu." Kata Joe sambil menaiki Troli itu lalu di dorong oleh beberapa pengawal keliling ruangan di Villa itu.
*********
Mutiara Hotel, Metro City.
Iring-iringan mobil dengan berbagai merek tampak memenuhi area parkir di depan hotel itu. Hal ini menandakan bahwa malam ini sepertinya akan ada acara besar di hotel ini.
Sejak anak sahabatnya itu kembali dari Kanada, Tuan William yang sejak lama bersahabat dengan Gordon sangat ingin sekali menjalin kekeluargaan dengan keluarga itu.
Tuan besar dari keluarga William ini sangat berambisi menikahkan putra-putranya dengan orang-orang besar di dunia bisnis.
Ketika Wilson menikah dengan Elena Smith, dia pun berencana ingin menikahkan Jackson dengan putri dari keluarga Gordon ini. Namun apa sial? Jackson keburu di jebak oleh Diana dan Robin Patrik sehingga Jackson di fitnah telah merusak kesucian Diana yang pada akhirnya Jackson menikahi Diana karena malu. Maka hancurlah harapan Tuan William untuk menyatukan tiga keluarga besar menjadi satu kerajaan bisnis di negara ini bahkan dunia.
Tidak mengherankan ketika dia mengetahui bahwa dia masih memiliki seorang cicit dari cucunya yang bernama Jerry William, maka hasrat itu kembali muncul. Hal ini didukung dengan kembalinya Joe ke Starhill dan pulangnya keluarga Gordon ini dari Kanada.
Oleh karena itu, Maka Tuan William segera mengatur rencana untuk mengadakan pesta di Hotel Mutiara ini sekaligus memperkenalkan kepada mereka bahwa Joe William ini adalah calon pewaris kerajaan bisnis keluarga William dan keluarga Smith. Sekaligus membahas perjodohan dengan cucu wanita tertua dari keluarga Gordon ini.
Jika mereka setuju, maka setelah Joe berusia dua puluh lima tahun, mereka akan mengadakan pesta pernikahan. Dengan begini, maka kesempatan bagi Future of Company untuk memasuki benua Amerika sangat terbuka.
Seperti yang sudah mereka atur, bahwa pesta ini benar-benar sangat meriah.
Beberapa bintang lokal yang sudah terkenal di manca negara juga turut di undang untuk memeriahkan acara pesta itu. Ini juga termasuk kumpulan orkestra terkenal di Metro City ini juga turut di undang untuk memeriahkan lagi suasana sebagai pengiring sang bintang yang mereka undang.
Saat ini para tamu undangan sudah ramai yang berdatangan dan segera berbasa-basi dengan Tuan Lenard yaitu kepala pelayan keluarga William.
"Wah. Tidak ku sangka ternyata Paman Lenard walaupun sudah berumur tapi masih tetap gagah." Sapa seorang lelaki berusia sekitar 60-an.
"Hahaha. Apa yang anda bicarakan ini Brown Gordon? Kau juga masih sama seperti dulu. Tetap tampan walaupun usia mu sudah kepala enam." Kata Tuan Lenard pula membalas pujian tamu majikannya itu.
"Ketika melihat wajah anda. Sedikit rindu ku terhadap mendiang Ayah ku terobati. Kalian adalah angkatan tua yang seusia. Paman William King, Paman Jasson Walker, Paman Aaron Patrik dan Paman Leon Smith. Mereka adalah seangkatan." Kata Brown sambil menahan kesedihan.
"Ya. Aku juga tidak percaya bahwa Tuan Gordon begitu cepat meninggalkan kami. Menyesal sekali bahwa kami tidak sempat bertemu dengannya." Kata Tuan Lenard sambil menepuk pundak Brown.
"Setelah Ayah meninggal, aku memutuskan untuk pulang kampung ke Metro City ini. Setidaknya aku masih bisa mengobati rinduku dengan melihat orang-orang yang sebaya dengan mendiang ayah ku."
"Oh ya Paman. Perkenalkan! Ini adalah putra ku bernama Gerard Gordon. Dan ini Putri tertuanya bermana Talia Gordon." Kata Tuan Brown memperkenalkan Putra dan cucunya.
"Hormat saya untuk anda Tuan Lenard." Kata Gerard Gordon sambil sedikit membungkuk.
"Brown. Apakah ini putra mu dulu yang sering bermain dengan Kevin?" Tanya Tuan Lenard.
"Benar Paman. Ini adalah Gerard yang nakal itu. Hahaha."
"Hahaha. Tidak ku sangka kau sudah seperti ini sekarang. Oh ya. Sebentar lagi Kevin putra ku dan Tuan muda Kenny akan sampai. Mari silahkan masuk dulu!" Ajak Tuan Lenard.
"Silahkan Paman!" Kata Brown Gordon. Lalu mereka pun berjalan beriringan sambil sesekali bersenda gurau.