Joe William

Joe William
Gerak cepat Namora membuahkan hasil



Kriiiing...


Kriiiing...


Sore itu, Namora terlihat berlari-lari dari kamar mandi menuju ke kamarnya. Dia ada memberi pekerjaan kepada beberapa orang anak buah dari ayahnya untuk melakukan pengintaian.


Ternyata firasatnya benar. Setelah dia tiba di dekat handphone miliknya, kini tahulah dia bahwa yang menelepon tadi adalah orang suruhannya.


"Hallo Jib. Bagaimana?" Tanya Namora setelah menjawab panggilan itu.


"Tuan muda. Seperti yang anda suruh. Aku sudah menyelidiki tentang Tiara ini," jawab lelaki suruhan Namora yang bernama Ajib.


"Apa yang kau ketahui?" Namora segera memburu dengan pertanyaan.


"Begini, Tuan muda. Tiara ini ternyata berhubungan dengan Honor Miller dari Tasik Putri!"


Sambar gledek. Namora begitu terkejut mendengar penjelasan dari Ajib tadi. Bagaimana mungkin hal yang paling dihindari oleh Joe malah seperti magnet yang menempel pada Tiara.


"Kau jangan main-main Jib!" Kata Namora pula seakan tidak percaya.


"Ngapain aku main-main? Ini benar-benar nyata kok. Apa Tuan muda ingat tentang koperasi simpan pinjam Kuala Nipah?"


"Ya. Aku tau itu."


"Keluarga Tiara ini meminjam uang. Bahkan, bukan hanya Keluarga nya saja. Melainkan hampir mayoritas penduduk Kuala Nipah yang berhutang. Kemungkinan yang besar adalah, Tiara ini didekati oleh Honor karena hutang itu. Untuk membebaskan ayahnya dari jerat hutang, Tiara kemungkinan menerima kedekatan Honor ini. Itu baru pemikiran ku saja," kata Ajib menjelaskan dugaannya.


"Lalu, apa lagi yang kau ketahui?" Tanya Namora lagi.


"Tuan muda.., jika kau ada waktu, datang saja ke restoran milik Tower Sole propier di gang Kumuh. Saat ini mereka baru saja tiba di restoran itu," jawab Ajib pula.


Namora segera mengakhiri panggilan tanpa permisi. Dia harus cepat menghubungi Joe yang mungkin belum tau, atau mungkin memang berusaha tidak mau tau tentang masalah ini.


Namora pun melakukan hal ini karena sudah terlanjur berjanji kepada Ketuanya itu untuk menyelidiki tentang perubahan sikap Tiara.


Kini, dia harus segera melaporkan agar semuanya jelas. Bukan maksud untuk membuat hubungan mereka menjadi berantakan. Akan tetapi, lebih ke arah supaya semuanya menjadi clear tanpa ada yang disembunyikan.


*********


Tower Restauran Gang Kumuh


Hampir dari dua puluh orang lelaki yang berada pada posisi berbeda dan sedikit berjauhan dengan serius memperhatikan kee arah satu unit mobil super mewah yaitu Rolls-Royce Sweptail.


Mobil yang berbentuk seperti kapal pesiar itu berhenti dengan anggunnya di area parkir.


Melihat ada seseorang yang mengunjungi restoran itu dengan mengendarai mobil super mewah tersebut, hal ini membuat baik itu dari tukang parkir, sampai resepsionis menjadi sangat antusias. Maklumlah. Hal ini jarang terjadi. Paling mewah hanya Lykan hypersport. Itupun tidak pernah parkir di area depan restoran tersebut.


Dari dalam, kini keluar seorang pemuda yang sebenarnya cukup tampan. Hanya saja, ketampanannya itu hilang karena kesombongan yang tersirat pada wajahnya.


Jika sepintas lalu orang melihat, pastilah pemuda itu sangat egois, terlalu mendominasi dan suka mengintimidasi.


Setelah pintu terbuka, kini dari dalam keluar seorang wanita cantik mengenakan gaun merah jambu yang terlihat sangat anggun.


"Silahkan, Tiara!" Kata pemuda berusia sekitar 24 tahun itu mempersilahkan.


Tidak ada balasan dari sang gadis. Dia hanya memaksakan untuk tersenyum. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia sama sekali tidak bahagia.


"Ini adalah Tower Restauran yang kau katakan itu. Sebenarnya, restoran ini berada dalam pengawasan anak buah ku. Untung aku menunda untuk membakar restoran ini, karena mereka masih belum membayar uang keamanan. Ternyata ada baiknya juga aku menunda. Jika aku tau bahwa kau suka dengan restoran ini, aku akan membelikannya untukmu!" Kata pemuda itu dengan sangat sombong.


"Ah. Itu tidak perlu. Aku kemari hanya karena paksaan dari mu. Kau yang menyuruh aku untuk memilih restoran. Jika tidak, aku malah akan mengajak mu untuk makan di kaki lima. Aku tidak pernah tau restoran mewah kecuali yang satu ini," kata gadis bernama Tiara itu pula.


Mendengar kaki lima, tanpa sengaja pemuda itu langsung menyambar tangan gadis itu. Dengan mata berkilat-kilat dia berucap. "Kau jangan membuat aku malu dengan mengatakan kaki lima. Najis aku mendengarnya. Apa lagi untuk duduk di sana. Buat wajah mu itu semanis mungkin!. Aku tidak suka orang melihat wajah mu buruk ketika berduaan dengan ku!" Pemuda itu langsung menghempaskan tangan gadis tadi dengan kasar membuat Tiara terpekik kaget. Lalu dia membenarkan kerah kemeja yang dia kenakan, lalu menggandeng tangan gadis itu menuju ke lobby Restoran.


Sekitar satu jam setelah mobil yang dikendarai oleh sepasang kekasih tadi memasuki restoran, kini dari arah kota Batu, menderu dengan laju satu unit mobil super sport Lykan hypersport berwarna hitam dan berhenti tepat di depan pintu masuk restoran tadi.


Dari dalam, keluar dua orang pemuda tampan, walau dari wajah mereka ada guratan kegelisahan. Tepatnya, seperti menahan luapan kemarahan.


Sensasinya jelas berbeda. Karena, jika yang datang pertama tadi sangat dikagumi oleh mereka karena mengendarai mobil super mewah Rolls-Royce Sweptail, kali ini jelas berbeda. Apa lagi melihat cara parkir mobil super sport itu yang sesuka hatinya. Ini membuat para staf di restoran itu menjadi ketakutan dengan tanda tanya besar di kepala masing-masing.


"Selamat datang Tuan muda, Joe. Tuan muda Namora!"


Tidak ada jawaban. Melainkan, pemuda bernama Joe tadi hanya mengangguk saja dan segera memasuki restoran, dan langsung menuju ke ruang kerja Manager.


"Kemana pak Manager?" Jerit Joe dengan keras membuat yang lainnya ketakutan.


"Tuan Muda. Pak Manager saat ini sedang melayani tamu ekslusif di Diamond VIP box," jawab salah seorang dari staf yang bekerja di restoran itu.


"Hmmm. Sepenting itu kah tamu yang datang?" Tanya Joe.


"Dengar ceritanya, tamu itu bernama Honor Miller dari kompleks elite Tasik Putri. Dia datang bersama dengan kekasihnya," jawab staf itu lagi.


"Sediakan uniform pelayan untukku! Aku sendiri yang akan melayani tamu istimewa itu!"


Perintah Joe ini jelas saja membuat orang yang ada di tempat ini terbelalak kaget.


Bagaimana mungkin seorang Tuan muda dari keluarga William yang kaya raya bisa menjadi pelayan di restoran ini. Bahkan, restoran ini hanyalah serpihan dari property yang dia miliki. Bahkan, sangat jarang dilirik.


"Kalian belum tuli kan? Sekarang, sediakan aku pakaian pelayan!" Kali ini Joe mulai gusar karena tidak ada yang mau menuruti perintahnya.


Namora yang menyaksikan ini segera memutar badan kebelakang. Dia mengerti bahwa para staf ini kaget. Makanya, sebelum kekagetan mereka berujung pemecatan, sebaiknya dia harus segera bertindak.


Dengan tatapan dingin, dia segera berkata kepada mereka yang berada di tempat itu. "Kalian mendengar, tapi mengapa tidak menurut?"


"Ba-ba-baik. Kami menuruti keinginan anda, Tuan!" Kata salah satu dari mereka yang langsung keluar dari ruangan manager untuk mengambilkan seperangkat pakaian pelayan di restoran itu.


Bersambung...