
"Selamat datang Melissa. Sudah lama sekali aku tidak melihat mu," kata Ruby yang setengah berlari memeluk gadis seusia dengannya yang baru saja tiba.
"Selamat ulang tahun, Ruby. Maafkan aku yang baru bisa datang sekarang. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali berbaur dengan kalian," jawab gadis yang mengenakan gaun berwarna merah jambu itu.
"Aku mengerti. Sebaiknya kita bahas kapan-kapan saja. Oh ya.., mari aku perkenalkan kepada dua mahasiswa baru di university kita," kata Ruby sambil menarik tangan Melissa Michael ke arah Joe dan Sylash yang berpura-pura tidak melihat ke arah kedatangan mereka.
"Kak Joe, perkenalkan! Ini sahabat ku Melissa Michael. Mel, ini Joe mahasiswa baru di kampus kita. Dan ini adalah temannya bernama Sylash. Mereka berdua ini sangat akrab dengan Tye," kata Ruby memperkenalkan.
"Hai Joe. Senang berkenalan dengan mu," kata Melissa sambil mengulurkan tangannya.
"Hi juga. Aku Joe Iprit. Senang berkenalan dengan mu juga," balas Joe sambil menyambut uluran tangan dari gadis itu.
"Hai Melissa.., aku adalah Sylash. Pangeran dari New Village," kata Sylash yang tanpa basa-basi langsung meraih tangan gadis itu dari genggaman tangan Joe.
"Minggir kau Joe! Ini bagian ku," kata Sylash sambil menghalangi Joe yang tampak pasrah mendapat perlakuan konyol dari sahabatnya itu.
"Oh.., eh. Iy-iya. Senang berkenalan dengan mu," balas Melissa pula sambil tersenyum.
Teng!
Teng!
Teng!
Suara denting jam berbunyi menandakan bahwa sudah pas pukul 12 malam. Pertukaran antara malam dengan subuh.
Semua mata kini tertuju ke arah Ruby yang ditemani oleh beberapa gadis lainnya dan mulai sibuk memasang lilin pada kue ulang tahun tiga tingkat yang terletak di atas meja kecil.
Semua yang ada di ruangan itu kini bernyanyi sambil bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun buat gadis itu.
Setelah berdoa, kini Ruby pun mulai meniup lilinnya diiringi tepuk tangan sekali lagi dari para tamu undangan.
"Ayo Ruby! Kepada siapa akan kau berikan potongan kue pertama itu?" Tanya mereka. Banyak diantara pemuda yang berharap agar potongan pertama pada kue itu mereka-lah yang mendapatkannya.
"Potong kue nya!"
"Potong kue nya!"
"Potong kue nya sekarang juga~~ sekarang~ juga~~ sekarang~ juuuga~"
"Jangan pernah berikan potongan kue pertama mu kepada Daren atau Dilon! Terlebih lagi kepada Duff Clifford. Atau, kau akan menyesal seumur hidup karena akan menjadi boneka mainan bagi mereka. Setelah bosan, kau akan ditinggalkan!" Bisik Melissa Michael ke telinga Ruby.
Ruby mengangguk samar mendengar ucapan dari Melissa dan mulai memotong kue ulang tahun itu.
Tepuk tangan kembali bergemuruh ketika Ruby selesai memotong kue tersebut.
"Ayo Ruby! Kami akan dengan senang hati menerima potongan pertama dari kue ulang tahun mu itu," teriak mereka sambil ditingkahi dengan gelak tawa.
Kini Ruby telah memegang sebuah piring kecil dengan diatasnya terdapat potongan kue kecil lalu mulai menatap liar ke arah beberapa orang pemuda, hingga tiba lah tatapannya tertuju kepada Joe William.
Dengan langkah tenang namun mantap, Ruby pun menghampiri pemuda tampan itu lalu.., "potongan pertama kue ulang tahun ku ini aku berikan kepada Kakak Joe William!" Kata Ruby sambil menyuapi kue tersebut ke mulut Joe.
Bukan hanya Sylash dan Tye yang terbelalak heran. Duff Clifford and the gang pun melongo seperti mulut buaya memancing lalat, melihat adegan itu.
Joe juga seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin Ruby ini bisa memberikan potongan pertama kue ulang tahun nya kepada dirinya. Namun, karena kue tersebut sudah terlanjur masuk ke mulut, ya sudah.., telan saja lah.
Tye, Sylash dan Melissa bertepuk tangan untuk Joe. Bahkan, Naomi Johnson pun ikut bertepuk tangan. Hal ini tentu membuat panas di hati Duff Clifford dan teman-temannya.
"Bisakah kau diam, Naomi?" Tegur Duff Clifford dengan suara tertahan.
"Mengapa, Duff? Kau iri ya? Aku tau kau ini memang kumbang tahi. Melissa itu mantan mu, bukan? Setelah kau puas, kau tinggalkan dia. Aku juga mungkin akan bernasib sama dengan Melissa, yang akan kau tinggalkan juga. Kau ingin mendekati Ruby. Kau kalah bersaing dengan pemuda yang bernama Joe William itu. Lihat saja dirinya, lalu bandingkan dengan mu! Dia jauh lebih tampan kemana-mana dibandingkan dengan dirimu," kata Naomi lalu melenggang meninggalkan Duff Clifford dan kawan-kawannya.
"Selamat bertambah usia ya Ruby! Semoga kebaikan selalu menyertai mu," Naomi memeluk Ruby, lalu mereka pun berpelukan.
Setelah saling melepas pelukan, Naomi pun kini menatap ke arah Melissa dengan sorot mata meminta pengertian.
"Tidak perlu dijelaskan, Naomi! Aku sudah mendengar semuanya, dan aku dapat memahami keadaan mu. Kalian dijodohkan. Pesan ku, berhati-hatilah dalam bergaul dengan mereka. Jaga kehormatan mu. Seorang gadis harus bisa menjaga kehormatan dirinya. Karena, bila kehormatan telah rusak, antara diri mu dengan sampah, tidak ada bedanya," kata Melissa lalu meraih tubuh Naomi ke dalam pelukannya.
"Naomi, apakah kau betah berpeluk-pelukan seperti Teletubbies? Aku ingin pulang. Jika kau masih betah di sini, maka silahkan tinggal!" Kata Duff Clifford yang telah kehilangan mood.
"Pulang saja. Apa kau kira aku akan nyasar dan tersesat karena tidak tahu jalan pulang? Aku masih betah di sini. Aku rindu dengan sahabatku Melissa. Aku ingin belajar dengannya bagaimana caranya untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan tabah,"
"Kau..! Aish. Dasar wanita sialan," kata Duff lalu segera keluar meninggalkan ruangan tempat acara itu berlangsung dengan diikuti oleh para sahabatnya.
Beberapa tamu yang lain juga telah berpamitan untuk segera kembali ke rumah dan kos mereka masing-masing.
"Ruby, sekali lagi selamat ulang tahun ya. Kami pamit dulu," kata mereka lalu memeluk gadis itu kemudian melangkah meninggalkan tempat acara.
Kini tinggallah Ruby, sebagai pemilik acara, Naomi, Melissa, Joe, Tye dan Sylash saja.
Joe, yang entah ketiban rejeki apa malam ini dapat merasakan bahwa masalah malam ini tidak akan sesederhana yang terlihat. Masalah ini pasti akan berbuntut panjang.
Sedikit sebanyaknya dia memang ada mendengar cerita tentang keluarga Clifford ini dari Tuan Baron dan orang-orangnya.
"Selama ini kalian bisa berkuasa di kampus dan kota ini. Tapi mulai sekarang, aku lah superstar di kampus. Kalian akan tau bagaimana rasanya salah dalam memakan makanan. Perlahan aku akan menunjukkan kepada kalian siapa kakek kalian ini sebenarnya," kata Joe dalam hati.
"Hei Joe. Apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya Ruby.
"Oh. Eh. Tid.., aku tidak memikirkan apa-apa. Hehehe," jawab Joe tergagap lalu menyengir alakadarnya.
"Aku minta maaf untuk yang tadi. Mungkin kau telah merasa malu karena aku memberikan potongan pertama dari kue ulang tahun ku kepada mu," kata Ruby dengan mimik wajah memohon pengertian.
"Tidak masalah. Aku tau apa maksud mu. Hanya saja, mungkin masalahnya tidak akan selesai sampai di situ. Kemungkinan besar, Duff akan terus mengincar mu dan menargetkan aku sebagai salah satu mahasiswa yang harus dia singkirkan,"
"Maafkan aku Joe.., aku telah menyeret mu ke dalam masalah ku,"
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir. Atau, apakah kau benar-benar telah menyukai diriku yang tampan ini?" Tanya Joe yang mendadak saja jiwa ketengilan nya yang hakiki itu meronta-ronta.
"Kau ini, Joe. Percaya diri sekali," kata Ruby diiringi dengan gelak tawa dari yang lainnya.
"Ruby. Kau harus tau bahwa ayah Joe ini adalah pengusaha sapi dari Starhill. Baru saja Ayah nya menjual sapi satu kandang full dan uangnya diberikan semuanya kepada Joe ini," kata Sylash pula yang sukses membuat air yang diminum oleh Tye keluar lagi melalui hidung.
"Sialan kau, Sylash! Lihat ini!" Kata Tye sambil menunjuk ke arah hidungnya.
"Ruby, sudah larut malam. Kami akan pulang dulu. Aku harus mengantar kedua sahabat ku ini kembali ke kediaman mereka masing-masing," kata Tye ingin berpamitan.
"Apakah hanya mereka saja, lalu kami?" Tanya Melissa.
"Benar, Tye. Aku kemari tadi bersama dengan Duff. Sekarang aku telah ditinggal. Sedangkan Melissa kemari dengan taksi. Apa menurutmu kami harus pulang dengan berjalan kaki selarut malam ini?" Tanya Naomi pula.
"Udah, Tye. Rejeki jangan di tolak!" Kata Sylash lagi.
Sekali lagi suara tawa mereka meledak mendengar perkataan dari Sylash yang asal mangap itu.
"Baiklah. Sebagai lelaki sejati, aku akan mengantar kalian kembali dengan selamat sampai di tujuan," kata Joe.
"Hey Joe. Yang punya mobil itu aku. Seharusnya, panggung ini milik ku," kata Tye sambil merengut.
"Hahaha. Ayo lah. Jangan terlalu perhitungan dengan sahabat!"
"Baiklah, Ruby. Kami harus pulang dulu. Sampai ketemu lagi ya besok di kampus," kata mereka.
Setelah berpelukan seperti Teletubbies, kelima muda-mudi itu pun langsung keluar dari ruang acara dengan diiringi lambaian tangan dari Ruby.
Di sini sekali lagi Joe ketiban rejeki.
Bagaimana tidak?
Tye menjadi sopir, sementara Sylash duduk di samping Tye. Sedangkan Joe, dia duduk di kursi belakang dengan diapit oleh Melissa di kiri dan Naomi di kanan. Benar-benar rejeki nomplok buat Joe untuk malam ini.
Bersambung...