
Joe dengan didampingi oleh Tigor, Ameng, Andra, Monang, Acong, Timbul dan yang lainnya terus berjalan menuju satu ruangan khusus yang tampak di jaga oleh puluhan lelaki berbadan besar.
Setelah tiba di depan pintu, salah satu dari lelaki berbadan tegap itu membungkuk di hadapan Joe.
"Salam hormat untuk anda, Ketua!"
"Hmmm. Apakah mereka ada di dalam?" (Mereka yang dimaksudkan oleh Joe adalah Jerry William, Drako dan Tuan Syam)
"Menjawab anda, Ketua! Mereka saat ini sedang menunggu anda. Apakah anda akan memasuki ruangan itu sekarang?" Tanya lelaki tadi.
"Tidak ada lagi yang perlu aku tunggu. Segera antar aku ke sana!"
"Lewat sini, Ketua!" Kata lelaki itu sembari merentangkan tangannya sebagai tanda mempersilahkan.
Tok tok tok!
"Siapa di luar?" Terdengar suara serak dan berat bertanya dari dalam.
"Salam untuk anda Tuan besar Jerry William, Sesepuh Drako dan Tuan Syam. Saya meminta izin untuk mempersilahkan ketua untuk memasuki ruangan!"
"Hmmm. Suruh anak setan itu untuk masuk sekarang!"
"Siap!" Jawab lelaki itu.
"Silahkan ketua!"
"Terimakasih," Joe tersenyum kepada lelaki tadi dan langsung mendorong pintu memasuki ruangan itu dengan diikuti oleh Tigor dan yang lainnya.
"Dasar anak setan sialan. Apa yang telah kau lakukan sehingga membuat gempar seluruh organisasi hah?"
Baru saja Joe tiba di ruangan itu, dia sudah di semprot oleh Drako yang tampak merah padam wajahnya.
"Maafkan cucu mu ini kek! Cucu mengaku salah!" Kata Joe dengan kepala tertunduk.
"Kau tau apa kesalahan mu?"
Joe tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia memperhatikan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Kekhawatirannya benar terbukti. Ini karena, di ruangan itu ada Gerard Gordon bersama Talia, ada Ivan Patrik bersama dengan Lorna Warker dan Xenita. Selain itu, di dalam juga ada Herey, Black, Arslan, Leo serta ketiga sahabat ayahnya yang tidak lain adalah Ryan, Daniel dan Riko.
"Aku tau apa kesalahan ku. Walaupun itu aku lakukan tanpa sengaja. Setidaknya, dari ketidak sengajaan ku itu, aku tau apa arti dari kalung lambang kepemimpinan organisasi yang ada di leher ku ini," jawab Joe yang masih tetap berdiri sambil tertunduk.
"Masih berani beralasan? Berlutut kataku sekarang!" Bentak Drako dengan berang.
Tersirap darah Joe mendengar bentakan itu. Jika itu dilakukan di ruangan yang hanya ada mereka sekeluarga saja, dia pasti akan dengan patuh menuruti kemauan kakeknya. Tapi, lain cerita ketika di ruangan itu ada orang dari luar organisasi. Ini tidak bisa dia lakukan dengan berbagai pertimbangan.
"Kakek menyuruhku berlutut? Aku ingin bertanya. Dengan kapasitas apa kakek menyuruhku berlutut? Apakah sebagai kakek kepada cucunya, atau sebagai bagian dari organisasi?" Tanya Joe yang mulai mengangkat kepalanya.
"Kedua-duanya sekalian!" Bentak Drako.
"Tidak bisa begitu kek. Antara organisasi dan pribadi, tidak dapat dicampur aduk. Jadi, apa kapasitas kakek menyuruhku berlutut? Apakah sebagai sesepuh dari Dragon Empire?"
"Kalau memang iya, apakah kau keberatan dan akan membangkang perintah?" Tanya Drako dengan geram.
"Dragon Empire berada di bawah kendali dan kuasa yang aku miliki. Aku adalah ketua dari organisasi ini. Apakah aku yang menyandang status ketua harus berlutut dihadapan anggota? Siapa pun itu anggotanya, baik itu Ayah ku, kakek ku ataupun paman-paman sekalian, kalian semua tidak berhak menyuruhku berlutut dihadapan kalian. Aku berkuasa memerintahkan apa saja dalam organisasi ini. Siapa yang membangkang, hukuman akan dijatuhkan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam organisasi. Pertanyaan ku, apakah Kakek siap dihukum menurut hukum yang ada di dalam organisasi, karena telah berlaku kurang ajar terhadap ketua?" Tanya Joe dengan lantang.
Tergagap Drako mendapat sentilan yang tajam dari pemuda tengil itu.
"Kau?!"
"Sekarang aku sebagai kakek mu memerintahkan agar kau berlutut! Aku akan menghukum mu secara keluarga!" Bentak Drako sambil mengambil rotan yang panjangnya sekitar tiga jengkal.
Bugh!
Plak!
Bugh!
Set!
Plak!
Pukulan demi pukulan bertubi-tubi menghantam tubuh Joe. Saat ini, hanya kepalanya saja yang tidak mendapat pukulan. Selain itu, seluruh tubuhnya dari bawah leher sampai ke kaki tak luput dari pukulan yang lepaskan oleh Drako.
"Kau tidak tau. Sebagai orang tua, bagaimana cemasnya kami memikirkan dirimu. Aku memukulmu bukan karena benci. Tapi ini adalah pelampiasan dari rasa sayang ku yang berlebihan," kata Drako.
Clara, Lorna Warker, Talia dan Xenita sampai membuang muka karena tidak tahan melihat Joe digebuki seperti itu. Bahkan, Gerard Gordon dan Ivan Patrik pun sampai tertunduk tidak sudi menyaksikan adegan itu. Hanya Jerry saja yang tersenyum melihat ayah mertuanya mandi keringat karena memukuli Joe. Padahal, di ruangan itu ber-AC.
"Pukul lah sekuat hatimu, Ayah! Joe tidak akan merasakan apa-apa!" Kata Jerry dalam hatinya.
"Huh. Aku lelah. Anak ini! Benar-benar anak setan. Apa yang dilakukan oleh Paman Malik dan Paman Tengku Mahmud kepada anak ini?mengapa daging mu seperti karet ban?" Tanya Drako sambil terengah-engah. Dia terduduk di sofa tempat duduknya tadi.
"Air! Ambilkan aku air! Aku ingin minum," kata Drako memerintahkan.
Clara langsung bangkit dan mengamalkan segelas air putih lalu dia segera memberikan kepada ayahnya.
"Apakah aku sudah boleh bangun?" Tanya Joe sambil tersenyum.
"Bangun kau! Aku akan memelintir kuping mu itu!" Bentak Drako.
Merinding juga Joe ketika mendengar ancaman dari Drako ini. Ini adalah kelemahan yang nyata baginya, bahwa dia tidak bisa tidak kesakitan ketika telinganya di jewer.
"Kau ini hah! Huh.... Putus kuping mu!" Kata Drako dengan geram.
"Aduh. Ampun kek. Iya ampun. Aduuuuh! Kakek sinting. Sakeeeeet!" Teriak Joe kalang kabut.
"Kena kau sekarang! Mengapa kau nakal sekali haaaaaah?"
"Bu-bu-bukan nakal. Aku hanya tidak tau. Kalian juga yang salah. Memberikan aku kalung itu tanpa memberitahu apa rahasia dibalik kalung tersebut."
"Yah. Memang kami juga bersalah. Hanya saja, kapan kau ada waktu untuk kami? Kau berpindah tempat ke sana kemari seperti orang nomaden saja. Lalu, bagaimana aku memiliki kesempatan untuk memberitahu kepadamu?" Kata Drako tidak mau kalah dan tidak pula mau disalahkan.
"Iya. Tapi tolong lepaskan dulu tangan kakek dari telinga ku ini!" Rengek Joe.
Dia segera menggosok-gosok telinganya begitu Drako melepaskan jewerannya.
"Ayah.., Ibu!" Kata Joe lalu enak saja duduk diantara kedua pasangan paruh baya itu.
"Bagaimana dengan kuliah mu, Putraku?" Tanya Clara dengan lembut sambil membelai rambut mohawk putranya.
"Lancar, Bu. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja, sebagian orang sudah mengetahui identitas ku,"
"Untuk apa terlalu lama menyembunyikan identitas? Jangan terus-terusan menjadi kepompong. Kau harus bisa keluar dari cangkang mu. Kau harus berani mengambil resiko. Sebesar apapun itu!" Kata Jerry William pula.
"Iya, Ayah. Hanya saja, aku kasihan terhadap seseorang. Baru saja kami berdua bahagia, kini aku terpaksa harus menjauhinya. Aku tidak ingin dia terlihat dalam masalah keluarga kita dengan keluarga Miller,"
"Maksud mu Tiara?" Tanya sang ibu.
"Ibu sudah tau. Tapi masih bertanya," jawab Joe manja dengan wajah merah padam. Tapi, Joe tidak menyadari ada wajah yang lebih merah lagi. Pemilik wajah itu adalah Talia Gordon.
Bersambung...