Joe William

Joe William
Tuan Paul ketakutan



Prak!


Handphone itu terjatuh ke lantai hingga bagian di layarnya retak.


Tampak Tuan Paul dengan tangan gemetar dan wajah yang memucat mundur beberapa langkah lalu terduduk di lantai ruangan itu.


Ketiga orang dengan usia berbeda tampak saling pandang dengan kejadian ini, lantas bertanya.


"Ada apa dengan mu Paul? Mengapa kau tiba-tiba ketakutan seperti itu?" Tanya seorang pemuda yang sering mereka sebut dengan nama Tuan muda Honor Miller itu.


"Di-di-dia mengancam ku. Dia mengancam ku." Jawab Tuan Paul seperti kerasukan.


"Heh. Bicara yang benar! Siapa yang mengancam mu?" Tanya Honor heran.


"Sean dan anak buahnya telah gagal membunuh anak itu. Semuanya sudah dibantai habis. Hanya Sean yang selamat." Jawab Paul sambil beringsut ke arah kursi yang di duduki oleh Frank dan Diana Regnar.


"Apa?"


"Paul. Apakah kau tidak salah dengar?" Tanya Frank.


"Aku belum tuli. Anak itu mengancam akan membunuh ku. Tolong selamatkan aku!" Kata Paul semakin ketakutan.


"Tenangkan dulu diri mu Paul. Coba kau ceritakan apa sebenarnya yang kalian bicarakan tadi di telepon itu?" Kata Diana pula.


Tuan Paul pun menceritakan seluruh percakapannya dengan Joe William tadi termasuk akan mengirim Sean kembali ke MegaTown sebagai bukti kemenangannya atas rencana pembunuhan itu.


"Jangan terlalu takut kepada apa yang tidak kau ketahui Paul. Mungkin dia hanya sekedar mengancam saja." Bujuk Frank yang berusaha untuk menenangkan hati sahabatnya itu.


"Justru itu masalahnya. Aku tidak mengenalnya. Tidak tau seperti apa wajahnya. Tapi dia mengetahui seperti apa aku. Dia bisa saja berada di sekitar kita lalu membunuh ku. Dan lagi, jika anak buah Sean saja bisa dia bunuh, inikan lagi aku. Aku sama sekali tidak bisa melindungi diri ku. Mati aku. Tolong selamatkan aku!" Kata Tuan Paul sambil menatap ke sekeliling ruangan itu seperti orang yang di teror oleh hantu.


"Tidak mungkin seorang anak berusia 17 tahun bisa sehebat dan sekuat itu." Kata Honor sambil tersenyum mengejek.


"Maaf Tuan muda. Anda belum pernah mendengar sepak terjang Ayahnya di satu ketika dahulu. Aku tau persis karena aku tinggal di lingkungan mereka."


"Yang aku tau, anak Jerry ini telah diserahkan kepada lelaki tua seorang jago bela diri di Mountain Slope ketika masih berusia satu tahun. Kemungkinan anak ini telah di didik. Jerry dan Istrinya bernama Clara itu walaupun seorang wanita, jangan remehkan kemahirannya dalam ilmu bela diri. Dia pernah melibas anak buah Robin Patrik yang berjumlah puluhan orang ketika menemani Jerry untuk membunuh anak tertua dari keluarga Patrik itu." Kata Diana menjelaskan.


"Aku dalam bahaya. Aku dalam bahaya." Kata Tuan Paul menjerit lalu berlari meninggalkan ruangan itu.


Tak lama kemudian, terdengar raungan mesin kendaraan meninggalkan area parkir kantor milik Arold Holding Company di MegaTown ini.


"Kacau semuanya. Dia yang mengatur rencana, dia yang terlalu over confidence, dia pula sekarang yang ketakutan setengah mati. Dasar orang tua tak terpakai." Kata Honor lalu segera keluar meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu Diana dan Frank Regnar hanya saling pandang saja melihat perubahan suasana yang terjadi saat ini.


Mereka berdua mulai berfikir bahwa jika ingin selamat, maka jangan membuat silang sengketa dengan anak yang bernama Joe William ini.


*********


Dari dalam, tampak seorang lelaki setengah baya berlari mengitari mobil lalu membukakan pintu di bagian penumpang kemudian membukakan pintu tersebut.


"Silahkan Ketua!" Kata lelaki setengah baya itu.


"Terimakasih Paman." Kata pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam dengan jaket Hoodie yang menutupi seluruh kepalanya sampai ke kening. Di bagian mulut dan hidung pula, tampak masker hitam dengan gambar kucing menutupi lebih dari separuh wajahnya sehingga kesannya pemuda itu sangat misterius.


Ketika pemuda itu memasuki lobby hotel, tampak beberapa pengawal dan resepsionis membungkuk memberi hormat kepada pemuda berpakaian serba hitam itu.


Pemuda itu hanya tersenyum walaupun senyum itu tidak terlihat lalu membalas sikap hormat para pengawal dan resepsionis itu dengan ikut-ikutan menunduk pula.


"Paman. Sampai di sini saja. Terimakasih karena telah mengantar aku sampai di Hotel ini." Kata pemuda itu.


"Sama-sama, Ketua. Jika anda perlu sesuatu, segera hubungi saya. Saya akan mengurusnya untu anda." Kata lelaki setengah baya itu.


"Baiklah. Saya naik dulu ke kamar. Anda silahkan sibuk." Katanya lalu segera berjalan menuju lift dan menghilang dari pandangan.


"Ayo kita kembali Meng. Mungkin bang Tigor sudah kembali dari Tanjung karang."


"Ayo lah Jabat! Sepertinya ketua sedang ingin sendirian." Kata Ameng lalu melangkah ke arah mobilnya diikuti oleh Jabat.


"Bagaimana menurut mu ketua kita ini Meng? Aku terkadang bingung dengan sifatnya. Sepertinya ini bukan kepribadian ganda. Tapi ada empat kepribadian sekaligus dalam diri anak itu." Kata Jabat setelah mereka berdua berada di dalam mobil.


"Entah lah Jabat. Aku juga sampai saat ini seperti tidak percaya. Berbulan-bulan aku mengawal Ketua di Kuala Nipah. Tingkahnya persis seperti anak-anak yang baru berumur 10 tahun. Lugu, sangat ceria bahkan terkesan bodoh. Tapi perubahan itu mulai dapat aku rasakan ketika kejadian malam itu. Kau juga lihat sendiri bukan, seperti apa dia membantai orang-orang kiriman dari MegaTown itu?" Jawab Ameng seperti orang yang sedang dilanda rasa keheranan.


"Nafsu membunuh nya itu. Kau dengar tadi seperti apa dia memperlakukan Sean kan?"


"Ya. Sangat sadis. Aku juga mendengar ketika dia mengancam orang yang bernama Tuan Paul tadi. Tapi jika di pikir-pikir lagi, wajar dia marah. Siapapun akan marah jika dijadikan target pembunuhan. Apa lagi ketua kita ini tidak pernah sedikitpun mengusik atau menyinggung perasaan orang lain. Dia bertindak balas ketika dia di ganggu. Selama ini toh dia baik-baik saja dengan kita." Kata Ameng.


"Menurut mu. Apakah dia akan melaksanakan ancamannya itu atau tidak?" Tanya Jabat.


"Aku rasa dia pasti akan memburu orang yang bernama Tuan Paul ini. Itulah sebabnya dia tadi mengatakan akan kembali ke Starhill Minggu depan. Jika tidak, aku rasa dia tidak akan pulang dalam tiga bulan ini." Jawab Ameng.


"Malang sungguh nasib orang yang bernama Tuan Paul itu. Dia salah dalam memilih mangsa. Sepertinya, tidak akan lama lagi kita akan mendengar berita tentang terbunuhnya Tuan Paul itu."


"Kita tinggal tunggu saja. Tidak sulit bagi ketua untuk membunuh Paul itu. Ini karena segalanya dia miliki. Aku katakan yang terlihat saja ya! Harta dia punya. Kekayaan jangan di tanya. Dia juga ketua dua organisasi besar yaitu Dragon Empire dan Tiger Syam. Kemampuan yang dia miliki di atas rata-rata. Apa lagi yang tidak dia miliki? Hampir sempurna sebenarnya." Kata Ameng lagi.


"Eh. Kemana tujuan kita sekarang?" Tanya Jabat.


"Ayo kita ke kantor yayasan. Aku rindu melihat tingkah laku anak-anak yang sedang belajar." Jawab Ameng.


"Ok lah. Berangkat!"


"Berangkat!"


Mereka pun langsung kembali ke yayasan Martin untuk melihat para anak-anak yatim, anak-anak gelandangan yang tidak memiliki orang tua dan tempat bernaung yang layak.