Joe William

Joe William
Tuan Paul berhasil di tahan



Di waktu yang sama dengan kematian Adolf Miller di MegaTown, saat itu juga di Hillstreet, tepatnya di salah satu Home stay yang di bangun oleh perusahaan Future of Company sekitar dua puluh tahun yang lalu tampa rombongan Joe, Black, empat 'R' baru saja tiba di lokasi di mana Tuan Paul berhasil di temukan.


Ketika Rombongan Joe tiba, mereka sudah di tunggu oleh puluhan anak buah dan di sana juga sudah ada Drako, Syam, Daniel dan juga Herey.


Setelah berbasa-basi sejenak, rombongan itu pun langsung saja menuju sebuah Home stay yang memang bebas disewakan kepada siapa saja yang ingin menikmati keindahan alam di Hillstreet ini.


"Tuan muda. Menurut Leo, disinilah Paul itu tinggal." Kata Black memberi tahu kepada Joe.


Joe hanya mengangguk. Sejenak dia memperhatikan ke sekeliling dan dia memang menemukan beberapa orang sedang bersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon hiasan yang sengaja di tanam di sekitar kawasan itu.


"Panggil manager Home stay ini! Aku menginginkan kunci cadangan untuk rumah nomor 21 ini!" Kata Joe.


Setelah Daniel melakukan panggilan, tak lama kemudian tampak lelaki berusia sekitar 50-an datang bersama dengan para Staf kemudian menyerahkan kunci yang diinginkan oleh Joe tersebut.


Setelah menerima kunci tersebut, Joe langsung membuka pintu rumah yang teridentifikasi bahwa disinilah Tuan Paul menyewa.


Begitu dia memasuki rumah tersebut, kini tampak seorang lelaki dengan usia yang sebaya dengan Drako dan Tuan Syam terlihat sangat terkejut.


"Si-sia-siapa kau? Mengapa kau memasuki rumah ini tanpa seizin ku?" Kata Tuan Paul dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.


"Hahaha. Kemana Anda akan lari Kakek Paul? Sudah ku katakan bahwa aku pasti akan menemukan keberadaan mu."


"Siapa kau ini hah?"


Jelas Paul tidak mengenal siapa pemuda berkulit hitam legam yang berdiri di ambang pintu Home stay yang dia sewa tersebut. Ini karena dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Joe William.


"Kau tidak mengenal ku. Tapi kau bisa mengirim Sean ke kota Kemuning untuk membunuh ku. Anda sehat?" Tanya Joe sambil melangkah masuk.


"Tetap di tempat mu! Atau aku akan melaporkan kepada Manager bahwa ada pencuri masuk ke rumah yang aku sewa ini." Kata Tuan Paul.


"Hahaha. Mau melaporkan aku sebagai pencuri?


Kalian semua yang ada di luar. Silahkan masuk!" Kata Joe memberi perintah.


Tak lama setelah itu, kini dari luar beberapa orang termasuk sang Manager pun mulai memasuki ruangan itu dan ketika melihat mereka yang baru saja masuk itu adalah wajah-wajah yang tidak asing lagi baginya, barulah Tuan Paul menyadari bahwa pemuda hitam legam itu adalah Joe, putra dari Jerry William.


"Sudah tau siapa aku kan? Berani sekali kau bersembunyi di kandang harimau. Harusnya kau lari ke luar negeri, Tuan Paul! Bukan lari ke luar kota."


"Sekarang aku ingin bertanya kepada anda Pak Manager. Sudah berapa lama Tuan Paul ini bersembunyi di sini?" Tanya Joe.


"Su-sud-sudah.., sudah tiga hari ini, Tuan muda."


"Hmmm... Sudah tiga hari. Kau pasti tau bahwa ada dua kelompok yang sedang mencari keberadaan Tuan Paul ini. Yang pertama adalah orang-orangnya Adolf Miller. Dan yang ke dua adalah orang-orang dari Dragon Empire. Tidak mungkin kau tidak mengetahui itu. Iya kan? Lalu, mengapa kau tidak memberikan informasi kepada kami? Coba kau jelaskan alasannya!" Desak Joe dengan tatapan tajam yang sangat mengintimidasi.


"Ma-maafkan saya Tuan muda."


"Katakan! Atau aku potong lidah mu." Ancam Joe membuat Manager tersebut ketakutan.


Melihat keadaan ini, Drako yang terkenal sebagai orang yang memiliki minim kesabaran kesabaran langsung menendang betis sang manager membuat lelaki berusia 50-an itu langsung jatuh berlutut.


Begitu sang Manager tersebut terjatuh, Drako langsung menjambak rambutnya lalu menempelkan pisau di dekat pipi lelaki itu sambil berkata, "jika kau tidak menjawab, maka, ucapan selamat jalan kepada lidah mu!"


"Ampun.., ampuni saya Tuan. Ampuni saya. Saya melakukan ini karena selain kami adalah sahabat lama, dia juga memberiku uang untuk menutup mulut. Makanya saya menyamarkan identitasnya di buku daftar tamu. Tolong jangan potong lidah saya Tuan!" Ratap sang manager itu dengan tubuh menggigil serta keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.


"Empat 'R'. Lempar lelaki ini ke luar! Biarkan dia menjadi mengemis di kaki lima." Kata Joe dengan wajah marah.


Beruntung kulitnya saat ini hitam legam. Andai keadaan kulit wajahnya putih, maka akan sangat jelas terlihat bahwa wajahnya saat ini merah padam menahan marah.


"Ampuni saya Tuan muda. Tolong jangan pecat saya. Ampuni saya." Ratap pak Manager tersebut lalu perlahan suaranya menghilang karena semakin jauh diseret oleh keempat wanita pengawal tersebut.


"Dan kau Tuan Paul. Apa dulu tidak cukup wajah yang diberikan oleh Ayah ku? Kau itu hanya seekor tikus kecil. Sangat kecil untuk melawan kekuatan Future of Company. Kau mengira telah memanfaatkan kekuatan keluarga Miller. Tapi apa yang kau dapat? Saat ini kau bagai pesakitan yang sangat menyedihkan. Lari ke sana dan ke sini seperti anjing kurap. Kau tidak sadar dengan usia mu yang sudah tua itu. Masih saja memikirkan ingin berbuat jahat."


"Aku akan melupakan semua yang telah kau lakukan. Asalkan serahkan surat-surat dokumen mu itu dan berangkat bersama dengan Tuan Syam untuk menjelaskan butiran kesepakatan antara dirimu, keluarga Miller, dan walikota Garden Hill. Jika tidak, aku terpaksa harus membunuh mu di sini sekarang ini juga." Kata Joe lalu meminta pistol kepada Herey.


"Paman Herey. Bagaimana cara menggunakan senjata ini?" Bisik Joe membuat Herey mendelikkan matanya.


"Apakah anda tidak pernah menggunakan pistol? Bisik Herey.


"Memegang benda ini saja baru sekali ini. Bagaimana mungkin aku tau menggunakan nya."


"Pistol ini tidak di kunci. Hati-hati Ketua."


Joe langsung mengangkat pistol dan mengarahkan nya ke kepala Tuan Paul.


"Ku tembak kau sekarang ini jika tidak mengatakan di mana kau sembunyikan surat perjanjian itu."


"Baiklah aku akan menuruti keinginan mu. Asalkan, kau mau memenuhi permintaan ku." Kata Tuan Paul.


"Tidak ada tawar menawar. Cepat berikan atau..,"


Door!


Entah bagaimana ceritanya, Joe yang ingin mengancam Tuan Paul dengan pistol itu malah menekan pelatuk pistol tersebut sehingga memuntahkan peluru dan melesat menghantam pesawat televisi di ruangan itu.


Hening seketika. Bahkan saat ini, Joe pun mendadak pucat dan gemetaran. Hanya saja karena kulit wajahnya yang hitam legam, sehingga tidak ada yang tau kalau dia saat ini sangat terkejut.


"Huh. Senjata sialan ini membuat ku kaget saja." Kata Joe dalam hati.


Dia lalu berusaha menekan keterkejutannya dan kembali berkata. "ehem ehem ehem... Kau lihat itu Tuan Paul? TV saja meledak. Apa lagi kepala mu. Sekarang cepat ikuti keinginan ku!"


"Ba-ba-baiklah. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan." Kata Tuan Paul lalu bergegas ke kamar.


"Nih paman. Senjata sialan ini membuat aku kaget seperempat mati." Kata Joe dengan tangan bergetar menyerahkan pistol tersebut kepada Herey.


Herey menerima senjatanya itu dengan ekspresi senyum tertahan. Sementara itu Drako dan Tuan Syam hanya mengelus kepala Joe saja.


"Makanya kau sangat usil. Untung hanya TV. Jika itu tadi kepala Tuan Paul, maka siapa yang akan dijadikan saksi atas penyelewengan yang dilakukan oleh keluarga Miller itu?' kata Tuan Syam.


"Hehehe. Iya. Nanti aku akan belajar menggunakan pistol itu." Kata Joe.


Tak lama kemudian Tuan Paul pun keluar dari dalam kamar dengan membawa map berisi beberapa lembar dokumen dan menyerahkan kepada Tuan Syam.


"Kau tidak perlu khawatir Tuan Paul. Andai kau masuk penjara sekali lagi, anggaplah itu memang tempat yang layak untuk mu. Aku akan meminta Tuan Syam untuk membantu agar hukuman mu ringan. Tuan Syam pasti akan membantu. Kau tenang saja. Dia memiliki banyak kenalan orang-orang yang berpangkat." Kata Joe lalu bergegas keluar dari rumah itu.