Joe William

Joe William
Kematian Adolf Miller



Tuan besar Adolf Miller tampak duduk tertunduk di kursi kebesarannya sambil memegangi keningnya ketika rombongan Rudolf Miller tiba bersama dengan Leo.


Tampak lelaki setengah baya itu sedikit terkejut melihat siapa yang datang. Karena sejak tadi yang dia tunggu bukanlah kedatangan adiknya itu. Melainkan, keluarga Regnar.


Telah terjadi ancam mengancam antara Frank dengan Adolf Miller yang dilatarbelakangi oleh penutupan proyek milik nya itu yang berada di Garden Hill bagian Timur.


Walaupun Adolf tidak begitu memusingkan tentang ancaman dan makian dari Frank dan Diana Regnar ini melalui pesan WhatsApp, akan tetapi persoalan demi persoalan yang kini datang silih berganti mau tak mau membuat kepala keluarga Miller ini stres juga. Dan tahap akhir dari kestresan itu adalah ketika Rudolf Miller sudah berada di ruangan tempatnya menyendiri ini.


Baru saja dia mendongak untuk melihat kearah rombongan yang datang itu. Kini dari ponselnya berdering sekali lagi menandakan bahwa ada pesan baru yang masuk.


"Tuan Adolf. Tolong katakan kepada penjaga pintu pagar anda untuk memberi izin kami untuk masuk. Kita harus menyelesaikan segala sesuatu yang menyangkut proyek milik anda yang kami kerjakan di Gardenhill."


Begitulah isi pesan tersebut yang dikirim oleh Frank Regnar kepada Adolf Miller.


Sambil sedikit menjambak rambut nya, Dia dengan kasar melempar ponsel itu ke atas meja lalu berkata. "Leo. Pergi temui Regnar bersaudara itu dan katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu tentang proyek itu adalah kesempatan antara mereka dengan Paul. Tidak ada perjanjian yang tertulis antara aku dan keluarga Regnar. Jika mereka ingin menuntut, silahkan tuntut Tuan Paul itu! Jangan lupa sekalian kau panggil Honor kemari!" Kata Adolf sambil bersandar di kursinya layaknya seperti orang yang sedang frustasi.


"Baiklah Tuan besar." Kata Leo lalu bergegas berbalik menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


Tiba di lantai bawah, dia bertemu dengan Honor dan menyampaikan pesan dari Adolf kemudian segera menuju pintu untuk keluar menemui Regnar bersaudara itu.


"Hallo Tuan Frank dan Anda Miss Diana Regnar. Untuk apa lagi anda datang kemari? Semuanya sudah kacau balau." Kata Leo tanpa membuka pintu pagar rumah tersebut.


"Leo. Aku tidak ada urusan dengan mu. Saat ini aku perlu untuk bertemu dengan Tuan Adolf. Dia harus menjelaskan kepada ku tentang proyek itu. Selesaikan pembayarannya agar aku bisa menggaji para pekerja di proyek itu!" Bentak Frank Regnar dengan gusar.


"Tuan Regnar. Justru aku kemari menemui kalian adalah atas perintah dari Tuan Adolf Miller." Kata Leo menjawab perkataan kasar dari Frank Regnar itu.


"Hmmm. Sialan. Apakah dia sudah tidak memiliki nyali lagi untuk bertemu dengan kami?" Tanya Diana.


"Sudah aku katakan kepada kalian bahwa keadaan saat ini sedang kacau balau. Dia (Adolf Miller) hanya berpesan kepada ku bahwa jika kau ingin menuntut tentang pembayaran dari yang kau kerjakan di proyek itu, maka kau bisa menuntut kepada Tuan Paul. Karena, yang melakukan kesepakatan kerjasama adalah kalian dan Tuan Paul. Bukan dengan Tuan Adolf Miller. Kalian tidak bisa menuntutnya. Apakah kalian memiliki surat perjanjian kontrak kerja yang disepakati antara keluarga Regnar dan Tuan Adolf Miller?" Tanya Leo yang seketika itu juga membuat Frank dan Diana kelabakan.


"Baiklah. Jika kalian tidak punya, maka segera angkat kaki dari sini. Jangan membuang waktuku yang berharga." Kata Leo mencibir lalu kemudian berbalik dan pergi sambil berpesan agar para penjaga jangan sampai mengizinkan kedua orang tua itu masuk.


Kini tinggallah Frank dan Diana seperti orang kesurupan.


Dia hanya bisa menendang pintu pagar besi itu lalu jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.


"Pergilah kalian dari sini. Jangan membuat keributan! Atau aku akan melempar kalian sampai ke jalan?!" Bentak pengawal itu.


"Dasar sialan anda itu Adolf. Semoga Tuhan menenggelamkan dirimu beserta keluarga mu dan juga perusahaan mu." Kata Frank Regnar dengan kemarahan yang meluap-luap.


Namun dia segera kabur ketika melihat puluhan pengawal berdatangan sambil membawa alat pemukul yang biasa digunakan oleh satpam.


*********


Sementara itu di dalam, telah terjadi pertengkaran hebat antara Adolf Miller yang dibantu oleh Honor, dengan Rudolf Miller yang dibantu oleh Albern.


Tampak mereka saat ini sedang beradu argument.


Yang satu mengatakan semuanya pasti baik-baik saja dan masih bisa diatasi. Sedangkan yang satunya lagi tetap ngotot agar Adolf mau membayar saham sebesar 30% miliknya itu.


Ketika Leo tiba di ruangan itu, suasana sudah seperti pasar sayur saja.


Dengan tenang Leo menyetel sesuatu di ponselnya lalu memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku kemudian melangkah dengan santai kedalam ruangan itu.


"Kau percayalah dengan ku Rudolf. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kuncinya ada ditangan Paul. Saat ini Paul pun belum ketahuan keberadaan nya. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya kepada ku!" Kata Adolf berusaha membujuk.


"Kak. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi menunggu dan terus menunggu. Saat ini aku sudah membawa dua pengacara untuk menjadi saksi bahwa aku telah menjual saham ku kepada mu." Kata Rudolf tetap dengan pendiriannya.


"Mengapa ketika keadaan sedang kacau seperti ini, kau malah menambah kemelut? Mengapa Rudolf? Apakah kau ingin membubuhkan garam di atas luka?" Tanya Adolf.


"Hahaha. Aku menuntut hak ku jauh sebelum hari ini tiba. Kau terus saja berjanji dan berjanji. Aku sudah sangat cukup memberi mu waktu."


"Sekarang begini saja kak. Ok jika kau tidak mau mengeluarkan uang untuk membayar harga saham milik ku di dalam perusahaan. Jika begitu, aku akan menjual saham ku secara terbuka kepada siapa saja. Kemungkinan terbesar adalah, perusahaan Future of Company. Jika aku melelang saham ku kepada mereka, aku yakin mereka tidak akan keberatan untuk membayar seharga enam milyar Dollar." Kata Rudolf mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya.


Terlalu alot Adolf ini dan tampak seperti sengaja tidak mau membayar. Hal ini lah yang membuat Rudolf terpaksa mengancam kakaknya yang tidak becus menjalankan roda perusahaan itu.


Sementara itu, bagai disambar petir ketika mendengar ancaman dari Rudolf ini. Bahkan Adolf tampak terlonjak dan langsung berdiri dari kursinya.


"Kurang ajar kau Rudolf. Berani kau menjual saham mu kepada musuh kita, aku bunuh kau!" Kata Adolf dengan mata merah.


"Jerry William adalah musuh mu. Bukan musuh ku. Aku tidak pernah merasa dia pernah mengganggu kehidupan ku. Kau lah yang terus mengekang ku. Bahkan aku sama sekali tidak mendapatkan paedah dari saham yang aku miliki. Kau terus membolot semua keuntungan. Tapi maaf! Jika untung, keuntungan apa yang kau dapatkan? Proyek mu yang berhasil hanya kasino judi itu saja. Sementara proyek mu di Garden Hill terancam gulung tikar." Kata Rudolf sambil tersenyum penuh hinaan.


"Baiklah. Baik! Aku akan membayar harga saham mu itu. Apakah dua milyar cukup?" Tanya Adolf.


"Dua milyar? Kau becanda kak? Saat ini nilai pasar perusahaan adalah 30 milyar. Dan mau ingin menghargai saham ku sebesar 30% hanya dengan dua miliar? Apa kau waras? Aku ingin 4,5 M. Jika tidak, aku akan melelang saham ku ini kepada Jerry William." Kata Rudolf sambil mengajak pengacara dan orang-orang yang bersama dengannya untuk meninggalkan rumah itu.


"Baik lah. Baik. Aku mengalah. Wahai adikku sang penghianat. Kau adalah aib bagi keluarga Miller. Mulai saat ini aku memutuskan hubungan ku dengan mu. Sekarang mari kita selesaikan kesepakatan ini. Dan kau bisa segera kembali ke Macau. Aku mati, jangan kau jenguk. Dan kau mati, tidak akan aku jenguk." Kata Adolf sambil membuka laptopnya dan Rudolf pula mulai membentangkan kertas-kertas dokumen kepemilikan saham.


Sambil disaksikan oleh orang-orang yang ada di ruangan itu, maka sah lah sudah Adolf Miller menjadi pemilik saham mayoritas di perusahaan Arold Holding Company dan 4,5 M telah berhasil di transfer. Tinggal besok Rudolf Miller menggelar konferensi pers bahwa dia sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan perusahaan Arold Holding Company.


Begitu semuanya selesai, tiba-tiba ponsel milik Leo berdering dan tampak dengan sigap Leo mengeluarkan ponselnya.


"Hallo." Kata Leo berpura-pura.


"Apa? Hah? Apakah itu benar?"


"Ya Tuhan ku. Selesai sudah. Semuanya sudah selesai." Kata Leo berpura-pura shock dengan ponsel itu terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh di lantai.


Prak!


"Ada apa Leo?" Tanya Adolf merasa sangat penasaran.


"Tuan Paul. Tuan Paul." Jawab Leo terbata-bata.


"Ya. Mengapa dengan Tuan Paul?" Tanya Adolf mulai gelisah.


"Anak buah ku mengatakan bahwa mereka sudah menemukan keberadaan Tuan Paul. Tapi mereka sudah didahului oleh Anak Jerry William yaitu Joe. Dan saat ini Tuan Paul sudah di bekap dan dibawa menggunakan helikopter ke Mountain Lotus." Jawab Leo dengan tangan gemetaran.


"Apa? Oh Tuhan. Aku sudah kalah. Aku kalah."


Lalu..,


Brugh!


Tampak Tuan Adolf jatuh tersungkur di lantai ruangan itu sehingga suasana kembali heboh.


"Ayah. Ayaaaah!" Jerit Honor melihat Ayahnya mendadak kolaps.


"Panggil Ambulans! Ayo Leo! Bantu aku!"


"Mari Tuan muda!" Kata Leo bergegas membantu.


"Kau Rudolf dan kau juga Albern. Kalian berkontribusi atas penderitaan yang dialami oleh Ayah ku. Mulai saat ini, kalian adalah musuh ku. Bahkan lebih berat daripada permusuhan ku dengan keluarga William."


"Cepatlah Tuan muda! Nanti saja urus masalah dengan Tuan Rudolf. Ayah anda terkena serangan jantung!" Kata Leo.


Mereka semua lalu bergegas menuju lift lalu segera menggotong tubuh Adolf Miller.


"Lama sekali Ambulance ini datang."


"Sabarlah Tuan muda. Mungkin sebentar lagi. Kita tunggu saja!" Kata Leo.


Kini tampak jari tangan Adolf bergerak-gerak seperti memanggil putranya.


Melihat kearah Ayahnya itu, Honor pun akhirnya mendekat dan bertanya. "Iya Ayah. Ada apa?"


"Honor. Ayah telah kalah. Ayah tidak bisa menebus kepercayaan yang diberikan oleh Kakek uyut mu Arold Miller. Selanjutnya, perusahaan berada di tangan mu. Segeralah kembali ke daratan dan susun kembali kekuatan di sana. Kita mungkin tidak bisa lagi memasuki negara ini. Tapi di Indonesia juga ada Future of Company dan Tower Sole propier. Kesempatan untuk membalas kekalahan masih ada. Jaga dirimu baik-baik. Setelah tiba di daratan Tiongkok, temui Tiger. Dia adalah orang kepercayaan kakek mu. Dia yang akan membimbing mu."


Selesai berkata seperti itu, tampak tangan Adolf terkulai lemas dan jatuh di atas paha putranya.


"Ayah...! Ayaaaaah..!"


"Tuan muda. Tuan besar sudah mati. Mungkin terlalu banyak tekanan yang dia terima, dan terlalu kaget sehingga membuat jantung nya gagal berfungsi. Relakan dan saya harap anda tabah." Kata Leo berusaha menenangkan.


"Kak!"


Tampak Rudolf dan Albern berusaha mendekati tubuh Adolf.


"Pergi kalian! Pergiii..! Pengawal! Usir orang-orang ini. Aku tidak mau jenazah ayah ku disentuh oleh bangsat ini!"


"Baiklah. Aku akan pergi. Mari Albern!" Kata Rudolf dan mereka pun segera memasuki mobil dan berlalu meninggalkan rumah milik keluarga Miller itu.