Joe William

Joe William
kembali dari kota Kemuning



"Paman! Identitas ku sudah terbongkar!" Kata Joe yang saat ini sedang duduk di kursi pemilik perusahaan.


Semua orang yang berada di tempat itu saling pandang mendengar perkataan dari Joe tadi. Kini, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Joe.


"Ketua. Apa rencana anda selanjutnya?" Tanya Tigor.


"Sudah begini. Mau bagaimana lagi? Aku juga lelah setiap hari harus bersikap seperti buronan yang pengecut. Aku mengetahui seperti apa Honor. Mungkin akan lebih adil jika dia mengetahui diriku. Aku lelah harus menjadi bukan diriku sendiri. Hanya saja, awasi setiap pergerakan dari orang-orang yang sengaja ingin memata-matai diriku. Pangkas habis agar tidak menyusahkan dikemudian hari!"


"Baik, Ketua. Hanya saja, jika saya boleh tau, siapa yang telah membocorkan identitas anda? Apakah itu adalah Namora? Aku akan memotong lidahnya jika dia yang melakukan itu," kata Tigor tidak senang atas kegagalan penyamaran Joe ini.


"Tidak perlu di bahas siapa penyebabnya. Sudah terjadi. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan menyusun rencana antisipasi jika mengharuskan bentrokan terjadi. Hari kebebasan Marven sudah semakin dekat. Segera jalankan program proyek kita di Kuala Nipah!" Kata Joe memberi perintah.


"Kalau masalah itu, Anda tenang saja, Ketua. Semuanya sudah di atur. Sebagian armada transfortasi kita sudah dipindahkan ke Kuala Nipah. Saat ini, kita sedang membangun pemandian air tawar. Itu di jangka akan selesai tidak sampai sebulan. Setelah itu, kita akan membangun beberapa penginapan ekslusif, pusat hiburan dan tugas-tugas maintenance lainnya," jawab Tigor.


"Ya sudah! Aku harus segera kembali ke kota Batu. Apakah mobil ku sudah sampai, Paman?" Tanya Joe.


"Sudah sampai dari sebulan yang lalu bersama dengan R4!" Jawab Tigor.


"Ha? Mengapa aku tidak diberitahu bahwa R4 ada di sini? Mati aku kalau Tiara tau," khawatir betul hati Joe saat ini. Dia takut kalau Tiara nanti akan salah faham terhadap dirinya. Karena, dulu dia pernah mengatakan akan memiliki empat istri. Walau itu hanya becanda, tetap saja Tiara marah. Apa lagi R4 adalah empat gadis Jepang yang sangat cantik. Modar Joe kalau Tiara sampai tau.


"Hahaha. Anda bisa mengatur itu. Kalau urusan anak muda, saya angkat tangan!" Kata Tigor tidak mau ikut menanggung resiko ketika Tiara dan Joe nantinya bertengkar.


"Tahan mereka di kota Kemuning ini, Paman! Aku takut mereka akan mengikuti ku sampai ke kota Batu," kata Joe buru-buru meninggalkan ruangan pertemuan itu.


"Mau kemana anda ketua?"


"Kabur!" Jawab Joe yang langsung ngacir.


Tigor, Ameng dan yang lainnya hanya bisa saling pandang dengan tingkah Joe ini. Baru saja tadi dia seperti orang yang sedang murung. Begitu mendengar mobil miliknya sudah sampai dan telah bisa digunakan, hilang sudah beban pikiran dihatinya.


*********


Para pengendara di jalan raya kota Kemuning sampai ke kota Batu mendadak gempar begitu mereka melihat satu unit mobil super sport Lykan hypersport berwarna hitam metalik dengan mulus membelah jalan raya tersebut.


Dalam hati, mereka bertanya-tanya siapakah gerangan pemilik mobil super wah itu.


Dengan kecepatan tinggi dan suara deru mesin yang gahar, mobil edisi terbatas tersebut terus saja melaju bebas hambatan.


Di dalam, Joe yang mengenakan pakaian kasual tampak sangat tenang mengemudikan kendaraan. Di sampingnya, Tiara juga terlihat sedikit lebih nyaman ketika melihat Joe seperti tanpa beban.


"Kau lapar, Sayang?" Tanya Joe kepada gadis itu.


Tiara hanya tersenyum saja sambil mengangguk.


Joe membelokkan mobilnya ke arah sebuah restoran yang terdapat di kawasan yang dia lalui.


Beberapa orang termasuk tukang jaga parkir membelalakkan matanya melihat mobil tersebut. Selama ini, mereka hanya melihat mobil tersebut di salah satu film action. Kini, mereka bisa melihatnya secara langsung.


Dari dalam mobil, Joe pun keluar dan buru-buru mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Tiara.


Melihat pemuda yang masih sangat belia dengan gaya urakan tersebut, sumpah mati mereka tidak percaya jika dia lah pemilik kendaraan super mahal yang kini sedang menjadi pusat perhatian itu.


Mungkin sudah menjadi tradisi. Asalkan orang berada, pasti akan diutamakan. Begitulah dengan Joe saat ini. Bahkan, tidak tanggung-tanggung. Pemilik restoran itu yang langsung turun tangan untuk melayani mereka berdua.


"Ini tuh namanya pepes telur bakar," jawab Tiara sambil menambahkan pepes telur tersebut ke piring milik Joe.


"Kalau yang ini?" Tanya Joe.


"Ini tuh namanya Arsik mujair!" Jawab gadis itu lagi dengan sabar.


"Apakah pedas?" Tanya Joe. Jelas dia kapok makan pedas. Pernah dulu dia sampai mencret ketika makan pecal yang sangat pedas. Sampai-sampai, dia harus berulang kali keluar masuk WC.


"Ini adalah masakan khas Batak. Mana ada yang tidak pedas. Kalau perut mu tidak tahan, jangan di makan! Tapi kalau bandel ya sudah. Di depan sana ada perkebunan kelapa sawit. Kalau kau sakit perut, kau bisa buang air di bawah pohon sawit! Hahaha..!" Kata Tiara sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak terlihat.


"Cebok nya di mana?" Tanya Joe serius.


"Haduh, Joe..., Joe! Pikir aja sendiri!" Kata Tiara merasa lelah. Terkadang Joe ini lugu nya minta ampun juga.


"Ya sudah. Berikan aku sedikit saja. Daripada aku penasaran seperti apa rasanya," ujar Joe sambil menyodorkan piringnya.


Tiara pun mengambil sedikit makanan bernama Arsik mujair tersebut dan meletakkannya di piring milik Joe. Lalu, tanpa banyak bicara lagi, mereka pun langsung menyantap makanan masing-masing.


"Eerrrrk!" Kata Joe bersendawa. Dia merasa kekenyangan. Baru kali ini dia makan makanan yang sederhana, tapi mewah di lidah.


"Ternyata Indonesia itu sangat kaya. Kaya segala-galanya!" Kata Joe tulus.


"Siapa bilang kami miskin? Kau lihat negri ku! Batang kayu saja dicampakkan begitu saja bisa tumbuh. Hanya saja, tinggal bagaimana orang-orang yang memiliki kekuasaan saja mengelolanya dengan benar dan jujur demi kesejahteraan rakyat!"


"Ya. Kau benar. Dimana-mana juga sama. Tidak perlu terlalu pintar. Asalkan bijaksana dan jujur. Kurang lebih seperti aku lah. Aku tidak pintar. Hanya saja, tidak pula jujur!" Kata Joe sambil tersenyum.


"Hahaha. Orang seperti mu itu sulit untuk jujur kalau bohong saja bisa dipercaya," cibir Tiara.


"Aku?" Kata Joe sambil menunjuk ke arah hidungnya.


"Ya. Awas kalau macam-macam sama aku! Ku sunat kau. Biar jadi mualaf sekalian," canda Tiara.


"Mualaf?"


"Apakah Tengku Mahmud tidak pernah mengajarkan dirimu apa itu Islam?" Tanya Tiara.


"Tidak. Kakek Tengku Mahmud hanya bertindak. Dia tidak pernah bercerita tentang agama. Hanya saja, dia pernah berkata kepadaku bahwa apapun itu, kita harus menghargainya. Bisa jadi benar menurut kita, tapi salah menurut orang. Dan benar kata orang, tapi salah dari sudut pandang kita. Maka, di sini kita harus bisa menerima perbedaan pendapat!" Kata Joe menjelaskan.


"Maha Guru Tengku Mahmud sangat toleran. Dia adalah orang lama. Bergaul kesana-kemari. Tidak mengherankan."


"Ada hal-hal yang sensitif yang tidak bisa untuk dipaksakan. Itu yang dikatakan oleh Kakek Tengku Mahmud. Aku hanya memperhatikan saja apa yang dia lakukan. Dia bangun di waktu subuh, di waktu lewat tengah hari. Di sakti sore, di waktu pergantian antara siang dan malam, serta di waktu malam. Aku melihatnya. Karena, ketika itu aku yang menyodorkan diri untuk membantunya mengambil air. Aku tidak bertanya. Hanya melihat saja!" Ujar Joe sambil mengenang segala perbuatan Tengku Mahmud.


"Tiba-tiba aku merindukan Kakek Tengku Mahmud!" Kata Joe sendu.


"Ya. Bukan hanya kau saja. Kami semua warga kampung Kuala Nipah juga merindukan. Semenjak dia pergi, kampung Kuala Nipah sudah tidak memiliki sesepuh lagi,"


"Huh. Sudahlah! Ayo selesaikan dulu makan mu! Kita harus segera berangkat ke kota Batu. Nanti terlalu larut malam!" Suruh Joe kepada Tiara.


Mereka lalu menghabiskan makanan mereka sampai kandas. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Kota Batu.


Bersambung...