Joe William

Joe William
Kabar buruk dari Macau



"Tuan muda. Ada berita buruk dari Macau,"


Tampak seorang lelaki separuh baya berkulit sedikit gelap kini memberikan laporan kepada pemuda yang saat ini tampak sedang sibuk melayari website di ponsel miliknya.


Dia segera menghentikan aktivitasnya di ponsel tersebut lalu menoleh ke arah lelaki setengah baya tadi.


"Ada berita apa yang anda ketahui dari Macau, Senior?" Tanya Pemuda itu.


"Baru saja aku mendapat kabar bahwa Rudolf Miller telah tewas dalam kecelakaan lalulintas," jawab lelaki setengah baya itu.


"Apa? Hmmm..," kata pemuda itu sambil memegangi dagunya.


"Senior. Sebenarnya itu bukan urusan kita. Namun, aku tertarik juga dengan berita ini. Yang jelas, saat ini Honor itu benar-benar ingin membalaskan dendam atas kematian ayahnya. Aku juga menduga bahwa saat ini dia sedang menyusun kekuatan. Yang pasti, kita harus senantiasa bersiap siaga karena, sewaktu-waktu, dia mungkin saja akan berangkat ke Indonesia," jawab pemuda yang tampak sesekali menoel hidungnya itu.


"Lalu, apakah Tuan muda akan berangkat ke Indonesia?" Tanya lelaki setengah baya itu.


Mendengar pertanyaan ini, pemuda itu spontan menggeleng.


"Lalu, apa rencana anda selanjutnya, Tuan muda?"


"Ini lah yang saat ini sedang aku fikirkan. Aku ingin mencari sebuah kota, lalu melanjutkan kuliah di sana, di mana tidak ada satupun yang mengenal ku. Apakah ada yang bisa anda rekomendasikan, Senior?" Tanya Pemuda itu.


Sejak tadi dia mencari-cari tempat yang sesuai untuk pergi agar tidak ada yang mengenali dirinya. Namun, tetap saja dia tidak bisa menemukan tempat yang sesuai. Metro City tidak. Starhill, apa lagi. Kemudian, Garden Hill, itu sama saja bohong. Saat ini dia benar-benar telah buntu.


"Ada satu kota berkembang bernama Quantum City. Kota ini terletak di bagian Utara Country home. Jika berangkat dari Metro City, membutuhkan waktu tiga hari baru sampai. Tapi, jika menyebrang dari Country home melalui jalan laut, hanya memakan waktu dua belas jam saja. Di sana ada sebuah university bernama Globe's University. Anda bisa belajar dengan tenang di sana," jawab lelaki berkulit sedikit gelap itu.


Pemuda itu kini tampak berfikir sejenak lalu mencoba mencari informasi tentang kota ini melalui Internet.


"Hmmm... Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk memulai sesuatu dari bawah menurut pesan guru ku. Apakah ayah ku memiliki bisnis di sini, Senior?"


"Perusahaan milik Tuan besar berada di mana-mana. Jika di luar negeri saja dia bisa mendirikan perusahaan raksasa, apa lagi hanya di kota seperti Quantum City ini. Di sana ada pusat hiburan bernama Quantum entertainment, anak perusahaan dari Future of Company. Hotel mutiara cabang Quantum City, juga ada pusat perbelanjaan dan banyak lagi restoran, kafe dan home stay milik ayah anda,"


"Anda jangan khawatir, Tuan muda. Walaupun Tuan besar memiliki beberapa cabang perusahaan di sana, namun tidak banyak orang yang mengenal beliau. Ini karena, Tuan besar sendiri tidak terlalu memandang kota yang tidak ada apa-apanya dibanding Starhill. Bahkan, untuk ukuran Country home pun, kota itu masih lebih kecil. Hanya saja, gaya hidup penduduk nya yang sangat mewah. Ada beberapa perusahaan di sana yang bisa dikatakan cukup lumayan walau itu tidak ada se-kuku hitam bagi Future of Company,"


"Hmmm... Sepertinya ini sangat menarik. Aku bosan terus-menerus dihormati oleh setiap orang yang mengenal ku. Aku ingin sebuah tantangan di mana aku bisa memulai sesuatu yang baru. Saat ini, aku belum memikirkan untuk mengunjungi Indonesia. Karena, calon budak keluarga Miller pun masih berada di dalam penjara. Masih ada waktu dua tahun lagi," kata pemuda itu sambil menoel hidungnya.


"Apakah anda ingin berangkat ke Quantum City ini, Tuan muda?"


"Benar. Aku akan berangkat besok. Senior bisa mempersiapkan segala sesuatunya. Aku tidak ingin kembali ke Mountain Lotus. Itu karena, aku telah berpamitan kepada ayah dan ibu ku,"


"Baiklah, Tuan muda. Sore ini saya akan mempersiapkan segala sesuatunya. Saya akan memastikan bahwa sore ini semuanya sudah beres,"


"Terimakasih, Senior!" Kata pemuda itu.


*********


Macau (SAR China)


Saat ini seorang pemuda berusia sekitar 20-an tampak sedang menahan tangis.


Baru saja dia menerima telepon dari seorang Manager dari perusahaan bahwa saat ini, ayahnya terlibat dalam kemalangan jalan raya yang merenggut nyawa ayahnya di tempat kejadian itu juga.


Tanpa menghiraukan apapun lagi, dia segera memungut ponselnya dan segera keluar dari Villa miliknya di kawasan Macau itu untuk menuju sebuah rumah sakit yang tadi dikatakan oleh si penelepon.


Ketika pemuda itu tiba di rumah sakit, sudah ada beberapa orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan milik ayahnya telah menunggu di sana.


"Paman Chan. Apa sebenarnya yang terjadi? Katakan bahwa kabar yang aku terima ini adalah bohong!" Kata pemuda itu sambil menggoncang tubuh lelaki setengah baya yang meneleponnya tadi.


"Tabahkan hati anda Tuan muda. Semuanya benar. Ayah anda telah meninggal dunia," jawab lelaki itu dengan mata merah.


"Coba kau jelaskan kepada ku bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi!" Pinta pemuda itu.


"Saya dan Tuan besar Rudolf Miller ingin berangkat ke Taiwan. Namun di perjalanan menuju ke bandara, sebuah bus kosong dengan kecepatan tinggi telah menabrak mobil yang dikendarai oleh Tuan besar. Ketika itu juga mobil tersebut lepas kendali lalu menabrak pembatas jalan, sehingga, mobil itu pun terbalik lalu terbakar," jawab lelaki yang dipanggil dengan sebutan Paman Chan itu.


"Lalu, bagaimana dengan sopir bus itu. Apa alasannya?"


"Tuan muda Albern.., saat ini sopir bus itu sudah diamankan di kantor polisi. Karena, ketika diperiksa, sopir itu dalam keadaan mabuk,"


"Ayo paman, tunjukkan jalan! Aku ingin melihat kondisi ayah ku,"


"Mari Tuan muda, Albern!" Kata lelaki itu mempersilahkan.


Mereka kini memasuki rumah sakit dan terus menelusuri koridor lalu tiba di depan pintu sebuah kamar.


Dengan tangan gemetaran, Albern mendorong pintu tersebut, lalu kini dia melihat sosok yang sedang terbujur kaku di sebuah ranjang dengan kain putih menutupi dari kepala hingga kaki.


"Ayaaah!" Kata Albern sambil berlari lalu jatuh berlutut di depan jenazah itu.


"Tabahkan hati mu, Tuan muda!" Kata lelaki bernama Paman Chan itu.


"Ini pasti perbuatan Honor. Tidak ada orang lain yang memiliki dendam terhadap Ayah ku. Hanya dia yang pernah mengancam untuk melakukan pembalasan," kata Albern dengan sambil terus menangis.


Beberapa orang yang menyertainya mulai sibuk menenangkan dirinya yang terus saja menangis sambil meninju lantai rumah sakit itu.


"Tenangkan diri anda, Tuan muda. Yang telah mati tidak akan bisa hidup lagi. Sekarang anda harus merelakan kepergian Ayah anda! Atau, anda sendiri yang akan dimakan oleh rasa kesedihan anda itu," kata mereka berusaha menenangkan.


"Baiklah. Aku akan tenang. Memang benar kata kalian itu. Yang mati tidak akan bisa hidup kembali walaupun aku sampai menangis darah. Namun, aku tau cara untuk membalas hutang nyawa ini. Tunggu lah Honor! Aku akan melakukan apa saja asalkan aku bisa melampiaskan dendam ku ini,"


"Sekarang, urus pemulangan jenazah orang tua ku! Setelah itu, kita akan mengadakan rapat sore ini!" Kata Albern.


"Itu bisa kita tunda dulu, Tuan muda. Saat ini yang utama adalah mengurus jenazah ayah anda. Setelah itu, baru kita urus masalah perusahaan,"


"Baiklah. Sekarang ayo lakukan!" Perintah Albern.


Merekapun kini mulai mengurus segala sesuatunya untuk membawa jenazah Rudolf Miller kembali ke rumah duka.


...jangan lupa like nya!...


Bersambung...