Joe William

Joe William
Naik Troli lagi



"Ayah. Aku sudah tidak berada di Kuala Nipah lagi."


Seorang pemuda tampak sedang duduk di dekat jendela kamar hotel sambil memandangi ke bawah.


Berkat latihan memanjat pohon kelapa, kini pemuda itu tidak merasakan fobia lagi di ketinggian.


Dengan menjepit ponsel di antara pundak dan pipinya, dia mulai mengambil peti kayu yang di letakkan di atas meja, membuka lalu mengeluarkan foto hitam putih warisan dari Kakek uyut nya.


Di foto hitam putih tersebut, ada gambar kakek Malik dan Tengku Mahmud ketika berusia sekitar 30-an.


"Anak ku. Di mana kau saat ini?" Terdengar satu suara bertanya di seberang telepon.


"Saat ini Joe berada di Martins Hotel, Ayah." Jawab pemuda itu.


"Joe. Di samping bangunan Tower Mall, ada bangunan apartemen milik Tower Sole propier. Itu adalah salah satu properti milik mu di kota Kemuning. Selain Tower Mall, juga ada pusat hiburan bernama Tower Club di perbatasan tanjung karang. Semua properti dan aset perusahaan di kelola oleh sahabat Ayah bernama Aline. Mungkin kau sudah bertemu dengan Miss Aline ini ketika kau berkunjung ke Tower mall."


"Menurut Ayah, apakah Joe harus terjun langsung mengurusi aset properti milik perusahaan Tower Sole propier ini? Joe belum memiliki kemampuan untuk itu." Kata Joe dengan penuh keraguan.


"Kau perlu belajar dan memberanikan diri. Kelak jika ayah pensiun, siapa yang akan menggantikan? Semuanya itu adalah milik mu. Maka, mulai sekarang kau adalah nakhoda nya. Jika karam, kau akan karam bersama perusahaan mu. Jika mampu melewati badai, maka kau akan mencapai pulau tujuan."


"Joe masih perlu belajar. Joe tidak ingin nantinya setelah jatuh ke tangan Joe, perusahaan malah menjadi bangkrut." Kata Joe lagi.


"Percayakan saja kepada Miss Aline itu sambil belajar. Jika nanti kau sudah menguasai tata cara berbisnis, kau boleh membuka usaha lain dan melebarkan sayap mu di dunia bisnis."


"Baik Ayah. Joe akan melakukan sesuai dengan keinginan Ayah." Kata Joe.


"Lalu apa rencana mu Joe?"


"Inilah yang masih Joe fikirkan. Joe sama sekali tidak tau harus berbuat apa. Selama ini kan memang Joe tidak pernah bersentuhan dengan bisnis apa pun. Jika di suruh berkelahi, Joe mungkin mampu. Tapi untuk masalah ini, Joe sama sekali masih buta dan tidak mengerti apa-apa." Jawab Joe.


"Begini saja Joe. Besok kau adakan pertemuan dengan seluruh staf yang ada dan kau akan di dampingi oleh pak Burhan. Pak Burhan ini adalah pengacara kepercayaan paman Tigor mu. Mulai besok dunia harus mengetahui bahwa kau adalah orang yang cukup berkuasa. Pancing musuh mu keluar untuk mendekati mu. Bukankah seperti itu yang mereka inginkan? Mereka sudah berada di Indonesia hanya untuk mencari keberadaan mu. Kau bisa mengatasi masalah ini. Kelak jika masalahmu sudah selesai, kau harus segera kembali ke Starhill. Masih banyak hal yang harus di urus termasuk kuliah mu di sini." Kata lelaki yang disebut Ayah oleh Joe itu.


"Baik Ayah. Kalau begitu, Joe akan menyerahkan semuanya kepada paman Tigor. Besok Joe akan berangkat untuk mengadakan pertemuan dengan para staf di Tower Sole propier sekaligus melihat-lihat properti kita yang ada di sini." Kata Joe.


"Joe, Ayah akan segera menyuruh Miss Aline untuk mengurus segala sesuatunya untuk mu termasuk mengurus seluruh keuntungan dalam Tower Sole propier ke dalam rekening mu. Biarkan dia yang mengurus dan Ayah akan memasukkan sejumlah uang untuk mu melakukan apa saja yang kau anggap bisa menguntungkan dalam dunia bisnis."


"Ayah mau memberikan aku uang? Berapa banyak? Apakah itu bisa untuk membeli mobil? Karena Joe sudah pandai mengemudi." Kata Joe dengan gembira.


"Beli pabriknya saja sekalian." Kata lelaki itu lalu mengakhiri panggilan.


Kini Tinggallah Joe terbengong sendirian mencerna perkataan dari Ayahnya barusan.


*********


Keesokan harinya, dengan ditemani oleh Tigor dan Pak Burhan, Joe pun menyambangi Tower Mall.


Begitu melihat seseorang yang mengenakan Jaket Hoodie hitam dengan masker lambang kucing serta memakai kalung yang memiliki dua lencana Giok berbentuk naga dan harimau, semua pengawal baik itu Security, maupun tukang gebuk berbaris dan membungkuk memberi hormat kepada ketiga orang itu.


"Ketua, kita harus segera ke lantai paling atas. Mereka telah menunggu kita di sana." Kata Tigor mempersilahkan Joe untuk menuju lift.


Mereka bertiga lalu memasuki ruang lift dan langsung menekan tombol angka 17 di mana mereka telah menyepakati untuk mengadakan pertemuan pada bangunan Mall 17 lantai ini.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu lift tersebut terbuka dan kini Joe melihat puluhan orang-orang berpakaian kemeja putih dipadu dengan jas rompi hitam berbaris menunggu di lorong menuju sebuah ruangan yang akan mereka jadikan sebagai tempat pertemuan itu.


"Selamat datang Tuan muda." Kata mereka serentak.


"Apa yang lainnya sudah berada di tempat?" Tanya Tigor.


"Sudah bang. Mereka telah tiba sekitar tiga puluh menit yang lalu." Jawab mereka.


"Silahkan ketua!" Kata Tigor.


Tiba di depan pintu sebuah ruangan, para lelaki berpakaian putih dengan rompi hitam kembali membuat barisan kemudian mempersilahkan ketiga orang itu untuk masuk.


Setelah mengetuk pintu, Tigor lalu membukakan pintu ruangan itu lalu mempersilahkan Joe untuk masuk terlebih dahulu mendahului dirinya serta Pak Burhan.


Melihat kedatangan orang yang tak di kenal bersama dengan Tigor dan pak Burhan, tanpa di komandoi lagi mereka langsung berdiri dan membungkuk hormat.


Karena walaupun mereka tidak melihat wajah orang yang memakai masker kucing itu, namun dari kalung yang dia pakai, serta dua orang yang mendampinginya, semua orang yang berada di ruangan itu sudah merasa pasti bahwa ini lah Joe William. Tuan muda mereka yaitu pemilik perusahaan Tower Sole propier ini.


"Selamat datang Tuan muda." Kata mereka serentak.


"Silahkan kalian duduk kembali!" Kata Joe dengan membuat gestur mempersilahkan dengan tangannya.


"Terimakasih Tuan muda." Kata mereka juga serentak.


Tak lama setelah itu, tampak seorang wanita setengah baya di dampingi dua orang lelaki dan seorang wanita muda menghampiri kursi khusus yang di tempati oleh Joe, lalu segera mengambil tempat duduk berdampingan dengan Tigor di kanan dan Pak Burhan di kiri.


"Apa kabar Miss Aline? Lama tak bertemu. Aku rindu naik Troli." Kata Joe membuat kedua lelaki tadi saling pandang dengan bibir pucat.


"Kabar baik Tuan muda. Terimakasih atas perhatiannya." Jawab Miss Aline dengan senyum manis.


"Baiklah. Kendurkan ketegangan pada wajah kalian. Aku datang kemari bukan untuk melakukan pemecatan. Aku datang ke mari hanya untuk mengenal kalian lebih dekat sebagai staf yang bernaung di dalam perusahaan yang baru saja berpindah ke tangan ku. Selain ingin naik Troli." Kata Joe.


Mendengar perkataan dari Joe ini, Tigor dan pak Burhan berpura-pura tertunduk seperti mencari sesuatu di bawah meja. Padahal mereka berdua setengah mati menahan tawa.


"Di sini mungkin saudara-saudari semua bertanya-tanya mengapa aku berpenampilan seperti ini. Ini karena aku tidak ingin wajah ku dikenali oleh musuh-musuh ku. Kalian bebas mau mengambil gambar dan video ku seperti yang kalian lakukan tempo hari yang menyebabkan saingan bisnis ayah ku langsung bergerak ke kota Kemuning ini untuk memburu diriku. Andai aku tau siapa yang menyebarkan gambar dan video ku itu, ingin rasanya ku Jambak gigi orang itu." Kata Joe dengan marah. Namun walaupun marah, kata-katanya itu tetap saja membuat Tigor kembali merasakan sakit pada perutnya.


"Miss Aline. Aku tidak punya banyak waktu. Sekarang beberapa orang yang bersangkutan boleh menemani kita untuk melihat-lihat beberapa properti milik Tower Sole propier di kota Kemuning ini. Aku ingin tau seperti apa bangunan apartemen 19 lantai dan seperti apa Tower Club itu."


"Sediakan Troli. Aku mau berangkat sekarang juga." Kata Joe.


"Tuan muda. Kami telah mengurus akun keuangan perusahaan atas nama anda. Jadi, setiap laba bersih dari perusahaan, akan masuk otomatis ke dalam simpanan bank anda. Dan ini adalah Debit card anda. Jika anda menginginkan sesuatu, anda bisa segera menghubungi saya." Kata Miss Aline lalu melanjutkan.


"Tuan muda boleh menunggu beberapa saat. Ada beberapa dokumen penting tentang kepemilikan dalam perusahaan yang harus anda tanda-tangani. Di sini Pak Burhan selaku firma hukum yang bertindak sebagai notaris akan menguatkan lagi tentang perpindahan kepemilikan perusahaan di mata hukum di negara ini." Kata Miss Aline.


"Paman. Bagaimana ini. Aku mana faham yang seperti ini." Bisik Joe kepada Tigor.


"Ketua. Anda baca terlebih dahulu dengan seksama, kemudian baru di tandatangani. Jika ada butiran dalam dokumen itu yang anda tidak mengerti, nanti bisa anda tanyakan langsung kepada Miss Aline ini.


"Ya sudah." Kata Joe lalu mengambil map yang berisi beberapa lembar kertas kemudian membacanya.


Awalnya dia mengira bahwa itu akan berakhir hanya dalam beberapa menit. Padahal sambil berkeringat dingin, tapi dia masih belum selesai membaca butiran dalam surat keterangan kepemilikan itu.


"Bodohnya aku. Mengapa tidak mereka saja yang aku suruh baca menggunakan pengeras suara. Kan aku bisa tinggal mendengarkan saja." Pikir Joe dalam hati.


"Kalian bacakan ini untuk ku!" Kata Joe sambil meletakkan kertas itu di atas meja.


Dengan di dampingi oleh Tigor dan Pak Burhan, akhirnya Joe mengerti juga tentang dokumen kepemilikan perusahaan itu.


Dia kini tanpa ragu lagi langsung menandatangani surat-surat itu lalu segera melangkah menuju troli yang sudah dipersiapkan oleh pengawal untuk nya.


"Manager atau Staf yang memiliki jabatan tinggi yang harus mendorong troli ini. Ini adalah berkah bagi kalian." Kata Joe.


Mereka yang mendengar kata-kata Joe ini hanya saling pandang saja kemudian berebut untuk mendorong troli ini.


"Paman. Buat kegemparan agar musuh memperhatikan kita." Kata Joe sambil berjingkrak riang di atas troli itu.


Beberapa pengunjung tampak sedang merekam kejadian itu lalu mengunggahnya ke media sosial dengan berbagai judul. Ini lah tujuan Joe yang sebenarnya. Membuat keributan dan memancing perhatian lawan.