Joe William

Joe William
Joe dinaungi keberuntungan



Kriiiiiing!


Kriiiiiing!


Suara deringan telepon seluler milik Black ini membuyarkan lamunan sang pemilik yang sejak tadi sedang memperhatikan saja lalu lalang kendaraan dari atas jembatan penghubung Metro City dan MegaTown.


Ketika melihat nama si penelepon, dia langsung menjawab panggilan itu.


"Hey Leo. Bagaimana perkembangan situasi di sana?" Tanya Black kepada si penelepon yang bernama Leo itu.


Leo ini adalah salah satu anggota seangkatan dengan Black dan Herey di dalam organisasi Tiger. Mereka ini sebenarnya dulu adalah ahli penyusup yang selalu mendapat tugas dari Tuan Syam untuk menjadi mata-mata di pihak musuh. Termasuk ketika Jerry menargetkan Jessica dan Jimmy serta pembunuhan yang dilakukan oleh Black Cat terhadap Fardy. Semuanya berkat informasi yang diberikan oleh Leo ini. Leo ini juga lah yang tadi menghina Tuan Paul di pagar rumah besar milik keluarga Miller.


Karena kerakusan dari keluarga Miller yang terlalu berambisi untuk merekrut orang-orang yang tidak suka dengan keluarga William, hal ini dimanfaatkan oleh Leo untuk menyusup ke dalam lingkungan keluarga Miller. Dan sampai saat ini, ternyata cukup berhasil memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan.


"Black. Di mana kau sekarang?" Tanya Leo melalui panggilan telepon itu.


"Aku saat ini sedang berada di perbatasan. Sedang menunggu laporan dari beberapa anggota baik itu dari Dragon Empire ataupun dari Tiger Syam." Jawab Black.


"Oh ya Leo. Bagaimana dengan perkembangan di sana? Apakah isu yang sedang kita hembuskan itu berhasil membuat keluarga Miller panik?" Tanya Black lagi.


"Efeknya bahkan lebih jauh dari yang aku bayangkan, Black." Kata Leo begitu bersemangat.


"Maksud mu?" Tanya Black penasaran.


"Saat ini keluarga Miller sedang berada dalam kemelut. Isu tentang keluarga Miller ini yang akan menyingkirkan Paul ternyata direspon dengan cepat oleh Paul. Dia sengaja datang ke komunitas elite real estate untuk menemui Adolf Miller untuk meminta klarifikasi tentang kabar angin itu. Kau tau sendiri lah. Kan aku yang menjaga pintu pagar. Aku berhasil memprovokasi Paul dengan hinaan yang membuat si botak itu naik darah."


"Kebetulan juga pada saat itu adik dari Adolf Miller ini datang dari Macau dan menginginkan agar seluruh aset miliknya di perusahaan Arold Holding Company dipisahkan dari perusahaan itu. Dia juga berniat untuk menjual 30% Sahamnya di dalam perusahaan dan dengan hasil dari penjualan saham itu nantinya, mereka berencana akan mendirikan perusahaan sendiri berbasis di Macau." Kata Leo menjelaskan.


"Apa kau tau alasan mereka ingin keluar dari perusahaan induknya itu?" Tanya Black.


"Masalah ini belum aku selidiki. Namun yang jelas, mereka ini tidak mau bermusuhan dengan keluarga William. Maksud itu yang dapat aku tangkap dari kedatangan Rudolf Miller kali ini." Jawab Leo.


"Hmmm... Sepertinya ada keraguan di hati Rudolf Miller ini." Kata Black bergumam.


"Menurut ku, ini hanya masalah persaingan dalam keluarga. Rudolf menganggap bahwa Albern memiliki bakat untuk memimpin keluarga Miller. Bagi Adolf pula, Honor jauh lebih pantas. Mungkin ini lah yang menjadi awal mula dari perpecahan di dalam keluarga itu."


"Bagas. Bagus sekali. Terus pantau perkembangannya. Sedangkan aku akan melaporkan hal ini terlebih dahulu kepada Tuan muda." Kata Black penuh semangat.


"Ok. Kau jangan pernah menghubungi ku, Black! Biarkan aku saja yang menghubungi dirimu." Kata Leo berpesan.


"Jangan khawatir. Aku tau bahwa kau saat ini sedang berada di sarang macan. Ok lah. Kita akhiri dulu obrolan kita ini." Kata Black lalu mengakhiri panggilan telepon itu.


*********


Joe William. Saat ini tampak sedang manggut-manggut di kamar hotelnya.


Dia baru saja mendapat kabar dari Black tentang semua hal yang terjadi di MegaTown.


"Hahaha. Baiklah. Sepertinya akan ada drama yang lebih besar akan terjadi. Sejujurnya saja semua ini bukanlah murni dari rencana ku. Sepertinya ada sesuatu keberuntungan yang menaungi ku." Kata Joe dalam hati.


Bagaimana tidak dikatakan keberuntungan yang datang secara kebetulan?


Yang ke dua, dia hanya memerintahkan kepada Black untuk menyebarkan isu bahwa keluarga Miller ini akan menyingkirkan Tuan Paul bahkan ingin membunuhnya. Namun untuk mencuci tangan selepas melakukan pembunuhan itu, mereka sengaja menjual nama Joe William dengan istilah, lempar batu sembunyi tangan.


Kabar yang begitu cepat berhembus ini membuat Tuan Paul terpaksa harus bertatap muka langsung dengan Adolf Miller untuk meminta klarifikasi. Beruntung bagi Joe karena Leo berhasil menahan dan menghina Tuan Paul sehingga mereka gagal bertemu.


Akibat dari gagalnya menemui majikannya itu, sudah pasti Tuan Paul akan berfikir yang bukan-bukan tentang keluarga Miller itu. Hal ini semakin diperparah dengan kedatangan Rudolf Miller bersama dengan putranya yang menuntut untuk memisahkan diri dari kerajaan bisnis keluarga Miller ini. Ini jelas suatu kebetulan yang sangat-sangat tidak disangka oleh Joe sendiri.


"Maafkan aku Tuan Paul. Sepertinya aku tidak perlu mengotori tangan ku untuk membunuh mu. Karena, kemungkinan besar kau akan mati di tangan majikan mu sendiri." Kata Joe lagi dalam hati.


Sebenarnya, pemikiran Joe ini bukan tanpa alasan. Dengan temperamen Tuan Paul yang mudah kalang-kabut, sudah pasti dia akan mendesak atau bahkan akan terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Adolf Miller. Dengan begitu, pasti akan ada ancam-ancaman yang akan terjadi.


Sebagai kepala keluarga dari keluarga Miller, nama baik adalah segalanya bagi Adolf. Dengan begitu, dia pasti akan mengirim seorang untuk benar-benar membunuh Tuan Paul. Jika sudah begini, isu yang sengaja mereka tiup kan akan benar-benar menjadi kenyataan.


"Aku harus mengatur siasat lagi. Dalam kekacauan ini, mereka tidak boleh menemukan keberadaan Paman Ryan, Riko dan Arslan. Jika tidak, mereka pasti akan mencium adanya suatu kesengajaan. Jika mereka curiga, maka sia-sialah semua rencana ini." Kata Joe lalu segera mengambil ponselnya kemudian menelepon ke nomor Ryan.


"Hallo Tuan muda." Sapa satu suara di seberang sana.


"Panggil Joe saja, Paman! Aku tidak nyaman dengan sebutan Tuan muda itu dari anda." Kata Joe.


"Apa rencana mu selanjutnya Joe?" Tanya lelaki di seberang telepon itu.


"Paman. Besok, aku harap anda, Paman Riko dan Paman Arslan harus meninggalkan Starhousing. Paman bisa kembali ke Mountain Slope, Paman Riko bisa kembali ke Country home dan Paman Arslan bisa pergi ke mana saja."


"Aku ingin membuat sesuatu yang tampak sangat natural. Jangan terlalu mencolok. Kita anggap saja bahwa saat ini kita sedang bermain layangan. Ulur tarik untuk menjaga keseimbangan. Bagaimana menurut Paman?" Tanya Joe.


"Kau memang berbakat Joe. Aku baru saja memikirkan masalah ini dengan Daniel, Riko dan Kak Arslan. Hanya saja, sedikit kita bumbui dengan Drama." Kata Ryan.


"Drama Hindustan kan paman?" Tanya Joe.


"Apalah itu. Mau Drakor atau Hindustan itu tidak penting. Yang terpenting adalah, Daniel harus berpura-pura mengamuk kepada Jerry dan berpura-pura tidak setuju dengan keputusan yang kau ambil karena memecat kami. Dengan begitu, mereka akan mengira bahwa ini benar-benar alami dan bukan permainan." Kata Ryan.


"Nah. Ini baru sepemikiran dengan ku. Ternyata memori Paman sudah di upgrade dari 64 menjadi 128gb. Dengan Chipset Qualcomm Snapdragon. Mantap. Aku suka itu." Kata Joe sambil tertawa.


"Anak kurang ajar. Kau samakan otak ku dengan Chipset Qualcomm Snapdragon ya?!"


"Hahaha. Maafkan Joe ya Paman. Sudah membuat mu susah." Kata Joe dengan nada seperti merasa bersalah.


"Future of Company adalah kami dan kami adalah Future of Company. Jauh sebelum kau lahir. Bahkan wujud mu pun masing seperti angin, kami ini sudah saling berjibaku menghadapi beribu tantangan demi perusahaan ini. Jadi, kau tidak perlu seperti merasa bersalah. Justru kami membutuhkan pemikiran-pemikiran cerdas yang datang dari generasi muda seperti dirimu ini untuk bagaimana caranya agar kita terus dapat menjaga keseimbangan di dalam perusahaan."


"Dulu, otak kami yang belum terkontaminasi ini masih sangat bening karena fokusnya tidak banyak. Sekarang sudah berbeda. Kami sudah punya Istri, punya anak, ada tanggungjawab yang membuat fokus kami tersita di sana sini. Beruntung Jerry memiliki dirimu. Hanya saja pesan Paman, jangan terlalu kekanak-kanakan. Kau sudah mulai beranjak dewasa. Kendalikan diri mu jika kau ingin mengendalikan orang lain." Kata Ryan berpesan.


"Joe dengan segala hormat akan mengingat pesan dari paman ini." Kata Joe.


"Sudah Joe. Kita jangan mengobrol terlalu lama. Tidak baik nanti jika ada yang mencurigai kami di sini." Kata Ryan memperingatkan.


"Baiklah Paman. Sampaikan salam ku kepada Paman Riko dan Paman Arslan." Kata Joe.


"Hmmm..!" Hanya itu jawaban dari Ryan. Lalu panggilan telepon itu pun berakhir.


Bersambung...