Joe William

Joe William
Pesta dansa hancur karena kaki Joe



Semua orang yang hadir di acara pesta yang diadakan oleh Tuan William itu serentak memandang ke arah Xenita yang saat ini sedang menarik lengan Joe William.


Mereka semua tampak heran melihat pemuda itu yang memiliki kulit begitu pekat dengan kehitaman yang hakiki.


Memang jika di bandingkan dengan Jerry dan Clara yang memiliki kulit putih kemerahan, sungguh terasa sangat janggal jika mereka memiliki seorang anak yang berkulit hitam. Ini tentu saja tidak bermaksud merendahkan mereka yang memiliki kulit yang hitam. Tapi secara logika nya saja, mana ada seorang anak yang memiliki kulit hitam legam bagai pantat kuali, sedangkan kedua orang tuanya memiliki kulit yang putih. Itu sungguh aneh sekali. Dan hal inilah yang dirasakan oleh mereka semua.


Bukan hanya mereka yang heran. Bahkan orang-orang yang terdekat sekalipun sangat merasa heran.


Baru beberapa bulan yang lalu mereka mengunjungi Joe di Kuala Nipah, tapi sekarang mereka nyaris tidak mengenali Joe gara-gara perubahan ini. Tentunya ini adalah ulah dari Tengku Mahmud.


Entah apa tujuan lelaki tua itu mengubah warna kulit anak itu. Yang jelas, hanya Tengku Mahmud dan Tuhan saja yang tau.


***


Ketika Xenita tiba di deretan meja untuk para tamu yang terhormat, dia kini menghampiri Ayahnya dan berkata. "Benar kan Ayah?! Ini memang Kak Joe William. Xenita tidak mungkin salah." Kata Xenita manja.


"Tapi. Ini..?"


"Kak Joe menjadi sukarelawan di Kalimantan. Makanya dia berubah gosong begini." Jawab Xenita lagi sok tau.


"Sungguh tidak masuk akal. Tapi ya sudahlah. Itu urusan lain. Kali ini kalian bersenang-senang lah. Nikmati pesta ini dan jangan bikin onar!"


"Baik Ayah." Kata Xenita lalu segera duduk kembali ke kursi nya.


"Joe. Kemari kau! Sini uyut kenalkan dengan keluarga Gordon ini." Kata Tuan William.


Dengan raut wajah malas, Joe akhirnya menghampiri juga meja milik kakek uyut nya itu.


"Joe. Ini adalah keluarga Gordon dari Kanada."


"Yang ini bernama Tuan Brown Gordon. Kau boleh memanggilnya dengan sebutan Kakek Gordon."


"Yang ini bernama Gerard Gordon. Kau boleh memanggilnya dengan sebutan Paman Gerard."


"Salam hormat dari saya, Joe William untuk anda Kakek Gor..,"


"Hei. Jangan sentuh troli ku! Biarkan dia berada di situ!" Bentak Joe kepada salah satu panitia pelaksana pesta tersebut yang ingin menyingkirkan troli milik Joe tadi.


"Maafkan saya Kek. Terimalah salah hormat dari saya." Kata Joe memberi hormat kepada Tuan Brown Gordon dan putranya Gerard Gordon secara bergantian.


"Hahaha. Anak baik. Anak baik. Aku suka dengan Joe William ini." Kata Gerard memaksakan diri untuk tersenyum.


Sementara itu, tampak Talia bersembunyi di belakang punggung Ayah nya. Entah karena takut atau apalah itu. Tapi yang jelas, dia sama sekali tidak mau memandang ke arah Joe William.


"Ayo Talia! Sekarang berkenalan dengan calon suami mu!" Pinta Tuan Brown Gordon.


"Hah?" Kata mereka bersamaan.


Kini baik Joe maupun Talia sama-sama terperangah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir kakek nya itu.


"Ayah. Orang ini hitam nya tidak umum. Mengapa bisa seperti itu? Aku takut." Kata Talia berbisik ke telinga Ayahnya.


Dia mungkin mengira bahwa Joe tidak mendengar. Tapi Joe yang sudah belasan tahun di gembleng oleh kedua guru besar tentu memiliki Indra yang tajam.


"Tidak apa-apa. Kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu." Kata Tuan Brown Gordon pula. Dia berusaha untuk membujuk cucunya itu agar mau melakukan pendekatan dengan Joe. Baginya tidak apa hitam. Asal uang nya hijau.


"Baiklah Ayah, Kakek!" Kata Talia menurut.


Sebenarnya Talia ini bukanlah jenis wanita yang sombong. Dia tadi hanya terkejut karena Joe yang dia bayangkan akan sangat tampan dan datang dengan mengendarai mobil super sport malah sangat jelek dan memiliki keanehan. Sudah lah hitamnya melebihi standar, ulahnya juga gila. Masa iya datang ke acara pesta yang sangat meriah itu dengan menaiki troli. Setidaknya itu lah yang ada dalam pikiran Talia saat ini.


"Silahkan duduk nona cengeng!" Kata Joe sambil menarik kursi untuk Talia.


Dia sengaja mengatakan begitu karena dia melihat wajah Talia seperti ingin menangis.


"Terimakasih kak." Kata Talia duduk lalu memandangi ujung taplak meja.


"Apa kau mengira bahwa aku ini sangat menakutkan? Apa kau ingin menghina aku didepan ramai orang begini?" Tanya Joe berpura-pura marah.


"Oh.., eh. Tid-tidak Kak. Tapi aku memang sedikit gugup." Jawab Talia tersedak.


"Minum dulu! Aku melihat kau seperti kehausan." Kata Joe sambil menjentikkan jarinya. Lalu tak lama seorang pelayan datang membawakan beberapa gelas minuman dengan beraneka rupa.


"Nafsu minum mu ternyata besar sekali." Kata Joe merasa lucu juga.


Joe kini terus saja menggoda gadis itu. Berharap agar Talia cepat muak dan meninggalkan dirinya sendirian. Tapi lama kelamaan Talia malah merasa asik juga dengan Joe ini. Hal inilah yang membuat Joe merasa seperti terjebak dalam permainannya sendiri.


"Wah. Bisa gawat ini." Kata Joe dalam hati.


Kini acara itu telah sampai pada segmen berikutnya yaitu dansa.


Joe yang seumur hidupnya tidak pernah berdansa merasa panas juga ketika melihat kedua orang tuanya, serta yang lainnya turut berdansa. Bahkan Jackson juga turut berdansa dengan seorang wanita berusia sekitar 50-an. Dan itu adalah adik dari Tuan Brown yang dulu ingin dijodohkan dengan nya sebelum terjebak oleh ulah Diana Regnar dan Robin Patrik.


"Ayo kak. Kita berdansa!" Ajak Talia seraya menarik lengan pemuda hitam legam dan berkarat itu.


"Aku tidak pandai." Jawab Joe seraya menolak.


"Hah? Seorang Tuan muda tidak pandai berdansa? Sungguh malang sekali." Ejek Talia.


Mendengar ejekan ini, panas juga hati Joe. Dia merasa paling pantang jika direndahkan oleh orang lain.


"Ayo lah. Biar kacau sekalian pesta ini." Kata Joe sambil turun ke lantai dansa.


Joe, yang tidak pernah berdansa itu terlihat sangat kaku ketika mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Talia.


Awalnya dia merasa sangat tertekan. Tapi, jangan katakan Joe William jika tidak tengil.


Dengan menggenggam erat tangan Talia, dia mulai mengeluarkan jurus-jurus silatnya menarik gadis itu ke sana ke mari sambil kakinya menendang.


"Kak. Apa ini?" Tanya Talia.


"Ini lah dansa. Dansa hukum rimba ini namanya." Jawab Joe sambil terus berputar ke segenap ruangan.


Saat ini Talia benar-benar merasakan nafasnya nyaris putus mengikuti pergerakan dari Joe. Tidak sedikit orang yang sedang berdansa menghindar karena takut terkena tendangan kaki Joe yang menendang ke kiri dan ke kanan.


"Ciaaat!"


"Ayo Talia!" Kata Joe sambil sepatunya nyaris menyamplok ke arah tengkuk orang lain.


"Sudah kak. Putus nafas ku!" Kata Talia yang nyaris jatuh terduduk.


"Eh. Mana bisa begitu. Aku belum keluar keringat ini. Ayo lagi!" Ajak Joe. Dia malah memperhebat gerakannya menarik Talia sampai kembali ke tengah ruangan.


Tampak lantai dansa itu mulai sepi karena para pasangan yang berdansa tadi mulai kabur karena tidak sedikit diantara mereka yang terkena tendangan kaki Joe.


"Hentikan Joe!" Bentak Tuan William melihat seorang tamu sudah terjatuh terkena tendangan kaki pemuda itu.


"Hehehe. Sudah seperti kapal pecah." Kata Joe tertawa sambil melepaskan pegangan tangannya pada pinggang Talia.


Brugh!


Begitu pegangan tangan Joe lepas, Talia pun langsung ambruk alias terjatuh menjelepok di lantai.


"Ah. Apa kau baik-baik saja Talia?" Tanya Joe sambil mengulurkan tangannya.


Jerry dan Clara hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat melakukan putranya itu. Dia juga tak dapat menahan tawa melihat beberapa meja ada yang terbalik terkena tendangan kaki Joe tadi. Benar-benar spektakuler acara dansa ini.


"Maafkan saya Tuan-tuan sekalian. Jika acara ini telah rusak karena saya. Tapi yang jelas, saya suka dengan pesta ini. Yang tidak saya suka adalah, maksud tersembunyi dibalik pesta ini. Sekali lagi maafkan saya." Kata Joe lalu segera menuju ke arah meja dimana kedua orang tuanya berada.


"Ayah. Aku menolak apapun rencana mereka untuk masa depan ku. Izinkan Joe meninggalkan pesta ini." Kata Joe sambil membungkuk hormat lalu berjalan menuju ke arah Troli miliknya.


"Ayo kita keluar. Aku masih banyak urusan." Kata Joe kepada ke-empat pengawal wanita nya.


Keempat gadis itu lalu memegangi troli yang akan dinaiki oleh Joe tadi, lalu segera mendorong troli tersebut keluar dari aula itu menuju tempat parkir.


Kini tinggallah aula yang seperti kapal pecah itu karena ulah dari Joe tadi.


Semua yang ada di tempat itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil melirik ke arah Jerry yang tersenyum sambil mengangkat bahunya.


Kacau sudah rencana Tuan William yang ingin menjodohkan cicitnya dengan cucu dari keluarga Gordon.