
Tiga orang lelaki setengah baya tampak berdiri dari kursinya masing-masing ketika melihat dua orang lelaki tua sedang berjalan beriringan sambil bertengkar ke arah ruang tengah di Villa milik Tuan Smith ini.
Ketiga lelaki itu adalah Ryan, Riko dan Arslan yang baru saja tiba dari Garden Hill bagian Timur.
Menurut perintah dari Joe, mereka bertiga harus datang dan menemuinya di Villa milik kakek uyut nya sebelah nenek ini. Itu lah yang membuat ketiga orang ini datang ke Villa milik Tuan Smith.
Begitu kedua orang tua yang tak pernah akur ini tiba di hadapan mereka, ketiga orang ini langsung membungkuk hormat memberi salam.
"Salam dari kami untuk Tuan besar William dan Tuan besar Smith." Kata mereka serentak.
"Hmmm... Silahkan duduk. Tidak perlu terlalu sungkan." Kata Tuan Smith mempersilahkan.
"Terimakasih Tuan besar." Kata mereka lalu kembali duduk.
"Oh ya. Bagaimana perjalanan kalian kemari? Apakah mendapat halangan?" Tanya Tuan Smith.
"Menjawab anda Tuan besar. Kami sama sekali tidak mendapat halangan apapun. Ini karena, setelah kejadian di Garden Hill itu, kami segera menghubungi Tuan muda Joe William. Beliau lalu memerintahkan kami untuk segera meninggalkan lokasi proyek milik keluarga Miller tersebut dan menyuruh kami untuk datang ke sini menemuinya." Kata Ryan menjawab pertanyaan dari tuan rumah.
"Hmmm. Baiklah. Aku mengerti sekarang." Kata Tuan Smith.
"Ryan. Katakan kepadaku bagaimana ceritanya kalian bisa bekerja untuk perusahaan Arold Holding Company itu? Apakah Cicit kami itu ada mengatur rencana dengan kalian bertiga?" Tanya Tuan William.
"Sejujurnya saja bahwa atas kejadian pemecatan kalian bertiga itu, aku sempat menjatuhkan hukuman kepada anak itu. Bahkan aku juga telah memukulinya untuk pelampiasan amarah ku."
"Dan yang paling aku tidak mengerti, bagaimana dia bisa mencari kesalahan kalian lalu membuat kegemparan seolah-olah ini sangat nyata tanpa rekayasa?" Tanya Tuan William lagi secara beruntun.
"Sebelumnya saya meminta maaf kepada anda Tuan besar. Ini semua juga diluar dugaan saya. Saya juga mengira bahwa hukuman ini nyata adanya tanpa rekayasa."
"Semua ini berawal dari keponakan saya yang melakukan kesalahan bersama anak dari Tuan Moreno itu. Untuk hukuman kepada mereka berempat, itu nyata dan bukan rekayasa."
"Awalnya kami bertiga menyangka bahwa Joe akan menghukum kami. Ini semua berawal ketika dia memimpin rapat di Mountain Lotus dan menyita ponsel milik kami semua. Yang tidak saya ketahui ketika itu adalah, bahwa keluarga Miller telah mengirim utusan ke kota Batu untuk mendekati bekas ketua geng kucing hitam demi sebuah kesepakatan kerja sama. Hal ini tidak lepas dari perhatian Joe dan orang-orang Dragon Empire yang berada di sana. Yang tidak mereka duga adalah, kegemaran mereka dalam merekrut orang-orang yang bertentangan dengan kita telah dipelajari oleh Joe secara sungguh-sungguh. Ini lah yang membuat dia berpikir keras untuk membuat jebakan bagi keluarga Miller ini."
"Joe ketika itu hanya membutuhkan satu alasan dan ternyata alasan itu dia dapatkan juga ketika Lilian dan Harvey, sahabat masa kecilnya menelepon dan mengadukan perbuatan keponakan ku kepadanya. Dari sinilah semuanya berawal." Kata Ryan menjelaskan secara panjang lebar.
"Hmmm... Anak ini benar-benar licik." Kata Tuan William. Perkataan nya ini entah pujian atau malah sebaliknya.
"Licik bagaimana maksudmu King? Jelas ada perbedaan antara licik dengan taktik. Ini lah yang dikatakan siasat." Bantah Tuan besar Smith yang tidak setuju dengan persepsi licik yang dikatakan oleh Tuan William tadi.
"Lalu, bagaimana seterusnya?" Tanya Tuan William.
"Joe mungkin berfikir bahwa orang-orang dari keluarga Miller akan mengintai setiap pergerakannya. Oleh karena itu, dia tidak mengatakan bahwa hukuman untuk kami adalah acting semata. Barulah ketika kami menerima keputusan itu, Black menghampiri kami dan menyampaikan rencana yang dibuat oleh Joe. Bahkan sampai saat ini Tuan Barry, Tuan Ronald dan Tuan Austin pun tidak mengetahui hal ini."
"Mungkin Tuan tidak tau bahwa ada ratusan anak buah dari Dragon Empire telah di susupkan ke dalam lingkungan keluarga Miller oleh Joe. Ini termasuk Leo yang ahli dalam menyamar. Atas bantuan dari Leo ini lah, Joe banyak mempelajari tentang musuh. Ini juga termasuk memecah belah antara Tuan Paul dan Adolf Miller. Semua skenario ini telah di susun dengan sangat matang. Bahkan saat ini menurut Black, Leo sudah berhasil menghasut Rudolf Miller untuk menuntut hak saham sebesar 30% dari Adolf Miller. Jika Adolf mampu bertahan saat berbagai pukulan menghantam dirinya dari berbagai sisi, berarti dia sangat hebat. Tapi aku khawatir bahwa Adolf tidak akan mampu bertahan kali ini." Kata Ryan.
"Oh ya. Maaf jika saya ingin bertanya. Kemanakah Tuan muda saat ini?" Tanya Ryan.
"Saat ini Joe mungkin sedang berada di rumah keluarga Regnar. Kali ini mungkin anak itu ingin memberikan peringatan terakhir terhadap dua saudara itu untuk menghentikan ulah mereka. Karena selama ini, kita telah memberi cukup banyak kelonggaran kepada mereka. Tapi berbeda dengan Joe ini. Sepertinya dia tidak akan berkompromi seperti yang dilakukan oleh Jerry selama ini." Jawab Tuan Smith.
"Mohon maaf jika saya ikut berbicara. Menurut saya, Tuan besar, Paul ini tidak akan lari jauh. Kemungkinan terbesar adalah, dia sedang menunggu moment yang tepat untuk keluar. Ada dua kemungkinan yang membuat dia saat ini masih bersembunyi. Yang pertama adalah karena rasa takutnya kepada Joe. Hal ini karena dia lah otak dari pengiriman pembunuh bayaran yang berangkat ke Indonesia hanya untuk memburu Tuan muda ini. Yang ke dua adalah, Paul saat ini sedang berfikir apakah dia harus menemui Jerry untuk menyerahkan barang bukti ini sekaligus meminta kepadanya agar Jerry bisa menjamin keselamatan dirinya ketika bertemu dengan Joe ini." Kata Arslan.
"Mengapa Paul bisa sangat ketakutan kepada Joe ini? Apakah ada diantara kalian yang bisa menjelaskan kepada ku?" Tanya Tuan William.
"Maafkan saya Tuan. Izin untuk menjawab pertanyaan anda itu. Tuan Paul ini telah mengirim seorang pembunuh bayaran dari Hongkong bernama Sean bersama dengan puluhan orang anak buahnya ke kota Kemuning untuk melacak keberadaan Joe ini. Anda tau apa yang terjadi? Kesemua anak buah Sean ini habis dibantai oleh mereka diperbatasan kota Kemuning dan kota Batu. Yang parahnya lagi, sebagian besar mereka ini mati di tangan Joe. mungkin Sean sudah mengadukan semuanya kepada Tuan Paul. Oleh karena itulah mengapa dia sangat ketakutan sekali." Jawab Arslan.
"Benar Tuan besar. Yang saya dengar dari Black adalah, bahwa Joe ini dengan sengaja menelepon dan mengancam Tuan Paul itu. Ini sempat membuat Tuan Paul ketakutan dan bertingkah seperti orang gila." Kata Riko pula.
"Hmmm... Ternyata banyak sekali ulah dari anak ini. Yang aku salutkan adalah, dia mampu menutupi semuanya dari kita. Bahkan ketika dia menerima hukuman sekalipun. Ini benar-benar diluar dugaan ku." Kata Tuan William.
"Kakek Uyut. Aku pulang!"
Terdengar suara seorang pemuda dari luar membuat perbincangan mereka yang berada di ruangan itu berhenti.
"Anda sudah sampai di sini Paman Ryan, Paman Riko dan Paman Arslan?!" Kata pemuda berkulit hitam legam itu sambil menyalami mereka bertiga lalu enak saja duduk di tengah-tengah antara Tuan Smith dan Tuan William.
"Kami sudah tiba sekitar satu jam yang lalu." Jawab Ryan sambil tersenyum.
"Joe. Bagaimana dengan keluarga Regnar?" Tanya Tuan Smith.
"Hahaha. Baru sekali wus wus wus... Mereka sudah terkencing dalam celana." Jawab Joe tertawa. Dia sejenak berhenti dari tawanya, bangkit berdiri lalu segera menoel hidungnya. Tindakan nya ini begitu tengil sehingga membuat kedua orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Kakek Uyut, hehehe. Begini kek. Aku kan sudah menyusahkan ketiga paman ini. Jadi, aku ingin kakek berdua membayar gaji mereka. Aku hanya bisa menyuruh saja. Tapi tidak bisa membayar gaji mereka." Kata Joe sambil nyengir kuda sehingga hanya giginya saja yang putih.
"Kau ini. Membuat susah orang tua saja. Aku mana punya uang. Salah mu mengapa berahasia segala dengan kami." Bentak Tuan William.
"Weeee. Jika aku mengatakan segala rencana ku kepada kakek berdua, bisa mentah di tengah jalan. Apa lagi kakek uyut William. Aku waktu itu hanya bermain-main saja meminta kepada Senior Black untuk mengatakan bahwa aku tidak berada di Mountain Lotus karena sedang memburu Paul. Apa yang terjadi? Tidak sampai tiga jam, berita itu langsung tersebar ke segala penjuru. Apa jawab Kakek Uyut untuk Masalah itu?" Tanya Joe membuat Tuan besar William gelagapan.
"Bayar saja gaji mereka kek. Masing-masing satu juta Dollar. Uang segitu bagi kakek berdua hanya se-kuku hitam."
"Senior Black. Aku mau troli. Ayo dorong aku keliling ruangan ini!" Kata Joe.
"Baiklah." Kata Black sambil mendorong Troli itu masuk ke dalam ruangan itu.
"Sambil menunggu kabar dari Kakek Syam, aku mau bersenang-senang dulu."
"Ngeeeeng... Ngeeeeng.... Criiiiit..!"
"Hahaha. Ayo dorong terus. Ah segitu saja sudah ngos-ngosan." Kata Joe sambil tertawa.
"Dasar anak setan!" Kata Tuan William sambil geleng-geleng kepala diikuti gelak tawa dari Tuan besar Smith.
Sementara itu, Ryan, Riko dan Arslan mati-matian menahan agar tawa mereka bertiga tidak meledak di ruangan itu.
Bersambung...