Joe William

Joe William
Pangeran penunggang Troli



Mutiara Hotel


Saat ini di Hotel Mutiara milik Future of Company itu telah ramai di datangi oleh para tamu.


Terlihat Tuan Brown Gordon, Gerard Gordon, serta putri mereka yaitu Talia sudah duduk di kursi tamu istimewa berdampingan dengan Tuan William, Tuan Walker besama dengan Samson. Tuan Aaron Patrik yang duduk bersebelahan dengan Ivan Patrik dan Istrinya yaitu Lorna Walker.


Selain itu, di tempat acara itu juga ada Kenny bersama dengan Istrinya dan ketiga putra-putrinya. Juga ada Kevin beserta keluarganya dan ada juga David bersama dengan istrinya yaitu Adelle Walker.


Kemeriahan itu semakin bertambah ketika dari arah depan tampak rombongan Jerry dan Clara memasuki aula tempat acara itu sedang berlangsung.


Tampak dibelakangnya berjalan Tuan Barry, Ronald, Austin, Tuan Richard, Tuan Isa, Mr.Brylee serta banyak lagi para jajaran petinggi dari perusahaan Future of Company yang turut serta mengiringi pemilik Hotel mutiara itu.


Kecuali Tiga naga ompong dan Tuan Brown Gordon, semua yang ada di ruangan itu bangkit berdiri menyambut kedatangan raja bisnis di negara ini.


Siapa yang tidak kenal dengan Jerry William? Pemilik perusahaan raksasa bernama Future of Company. Bahkan Gerard Gordon sendiri sampai bangkit dari kursinya dan langsung menghampiri kepala keluarga William dan Smith itu.


"Mohon maaf Tuan. Apakah anda yang bernama Jerry William itu?" Tanya Gerard Gordon sambil mengulurkan tangannya.


"Benar sekali. Maafkan saya juga jika saya bertanya, siapakah Tuan ini?" Kata Jerry balik bertanya sembari menyambut uluran tangan dari Gerard Gordon itu.


"Oh. Nama saya adalah Gerard Gordon. Putra tertua dari keluarga Gordon. Kami baru saja kembali ke Metro City ini dari Kanada." Jawabnya.


"Wah. Kebetulan sekali. Ini adalah satu keberuntungan bagi saya Tuan Gerard. Karena dapat berkenalan dengan anda. Mungkin sepupu ku Kenny dan anak kepala pelayan Lenard yaitu Kevin beruntung bisa berkenalan dan sahabat sepermainan dengan anda." Kata Jerry.


"Mari Tuan Jerry. Saya perkenalkan anda dengan Ayah saya." Kata Gerard mempersilahkan.


"Panggil Jerry saja Tuan Gerard." Pinta Jerry.


"Baiklah. Jika begitu, anda juga harus memanggil saya dengan nama saja tanpa ada embel-embel Tuan. Bagaimana?"


"Baiklah. Saya setuju." Kata Jerry. Lalu mereka sama-sama tertawa dan melangkah ke arah meja di mana ketiga naga ompong dan Tuan Brown Gordon duduk.


"Terima salam hormat ku Kakek William, Kakek Walker dan Kakek Patrik." Kata Jerry membungkuk hormat.


"Eh. Apa-apaan kau ini. Kau adalah pemilik Hotel ini. Seharusnya kami yang memberikan penghormatan kepada mu. Oh ya. Ini adalah Tuan Brown Gordon. Berikan salam hormat mu untuknya!" Kata Tuan Aaron Patrik.


"Saya Jerry William mengucapkan selamat datang di Mutiara Hotel ini dan terimalah salam hormat saya." Kata Jerry.


"Ah. Tidak perlu terlalu sungkan. Aku senang melihat ternyata masih hidup. Dan ternyata kau ini sangat mirip dengan mendiang Ayah mu yaitu Wilson William." Kata Tuan Brown Gordon.


"Terimakasih Tuan." Kata Jerry.


"Tidak. Panggil saja aku paman!" Pinta Tuan Brown Gordon.


"Baiklah Paman." Kata Jerry lalu memperhatikan satu meja lagi yang kosong diantara mereka.


"Kakek, apakah kakek Smith ku belum tiba?" Tanya Jerry.


"Huh. Dari tadi dia masih belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin sedang sibuk mengurusi Putra mu si Joe itu." Jawab Tuan William.


Clara hanya tersenyum saja ketika Jerry melirik kearahnya yang juga sambil tersenyum.


Baru saja Jerry duduk di kursi kebesaran miliknya, kini dari arah depan tampak rombongan Tuan Leon Smith berjalan memasuki aula tempat acara itu berlangsung. Namun yang mengherankan, tidak ada Joe di sisinya saat ini. Hal ini tentu saja membuat Tuan William bertanya-tanya apakah Joe berhasil kabur lagi.


Setelah berbasa-basi sejenak, dia langsung menuju kursi miliknya lalu duduk berdampingan dengan Tuan William.


"Kemana anak setan itu Leon?" Tanya Tuan William berbisik.


"Sekali lagi kau katakan anak setan, tinjuku ini akan menghantam gusi mu itu." Gertak Tuan Smith.


"Alah. Apapun itu. Sekarang dimana dia? Apakah kau gagal menangani anak itu?" Tanya Tuan William.


"Enak saja mulut mu itu bicara. Jangan asal mangap kau King! Sebentar lagi dia akan masuk. Kau tenang saja lah!"


Tuan William baru akan menjawab, tapi dia mengurungkan niatnya karena dari arah depan, tampak empat orang wanita cantik sedang mendorong troli yang didalamnya tampak Joe William sedang memberikan aba-aba.


"Ngeeeeng... Ngeeeeng... Ngeng ngeng ngeng! Ke kiri! Kiri lagi! Iya begitu. Ayo sekarang ke kanan. Ngeeeeng...! Awas di depan ada tahi ayam. Hati-hati!" Kata Joe sambil melihat ke kiri dan ke kanan pada roda troli itu. Kelakuannya persis seperti anak beruk.


Beberapa tamu yang hadir merasa heran melihat seorang anak muda berkulit hitam seperti beruk itu berkelakuan sama persis dengan beruk sedang di dorong oleh empat orang wanita muda yang sangat cantik.


Tuan William dan yang lainnya sampai mengetabkan bibir melihat kelakuan cucu cicitnya itu.


Lain halnya dengan Jerry, dia segera berbisik ke telinga Clara.


"Bencana apa lagi yang akan dibawa oleh putra kita itu?"


"Hahaha. Itu adalah bentuk perlawanan darinya. Mungkin dia tau tujuan dari kakek William nya." Jawab Clara.


"Stop stop stop! Kalian pegang troli ini erat-erat ya! Aku akan berdiri dan memberi salam kepada semua orang." Kata Joe kepada empat wanita pengawalnya itu.


"Baik Tuan muda!" Kata mereka lalu memegangi troli itu.


"Wahai semua Tuan-tuan dan Puan-puan yang berada di sini. Terimalah salam hormat dari saya. Perkenalkan! Nama saya adalah Joe William, eh salah. Maksud saya adalah, Joe Iprit. Calon jawara di Metro City ini." Kata Joe sambil berdiri di atas keranjang troli itu dan membungkuk hormat ke setiap sisi.


"Ayah. Aku akan ke sana!" Kata seorang gadis kecil kepada ayahnya.


"Xenita, untuk apa kau menemui orang hitam itu? Aku ragu apakah dia adalah Joe sungguhan."


"Xenita kenal dengan suara itu Ayah. Dia memang Joe William. Xenita akan memastikan apakah dia adalah Joe William atau bukan." Kata Gadis itu lalu melangkah ke tengah ruangan di mana Joe berusaha untuk turun dari troli tersebut.


"Hallo kak Joe. Apakah kau adalah Joe sungguhan?" Tanya Gadis itu kepada Joe.


"Memangnya mengapa? Apakah aku ini Joe tiruan?" Tanya Joe sambil mendelikkan matanya.


"Hehehe. Jika kau benar-benar Joe, aku tau ciri khasnya. Coba lakukan gerakan khas mu ketika di Kuala Nipah dulu!" Pinta Xenita.


"Kau ini ih." Kata Joe sambil menoel hidungnya.


"Nah. Benar. Ini memang benar-benar Joe William. Lalu mengapa dengan kulit mu itu?" Tanya Xenita penasaran.


"Waktu kebakaran hutan di Kalimantan, aku ikut menjadi sukarelawan. Makanya aku menjadi hitam begini. Jika aku tau siapa yang membakar hutan itu, ku Jambak bulu hidungnya." Kata Joe dengan serius. Tapi sejenak kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Benar-benar Joe William. Ya sudah. Ayo kita ke sana itu!" Ajak Xenita sambil menarik lengan Joe.