
Kuala Nipah.
Seorang lelaki paruh baya mengayuh sepedanya dan berhenti tepat di sebuah bangunan yang dikawal oleh dua orang satpam.
Tiba di depan barrier gate, dia segera meminta izin kepada penjaga dan menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke bangunan kantor tersebut.
Setelah beberapa saat bersoal jawab, akhirnya Pak Satpam pun mengizinkan lelaki paruh baya tersebut untuk melewati pos satpam.
Kini, lelaki paruh baya tadi telah tiba di depan pintu kantor tersebut dan langsung dilayani oleh salah seorang petugas wanita di sana.
"Maaf, Bapak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas wanita tersebut.
"Begini dik. Saya ingin mengajukan permohonan pinjaman kepada koperasi ini. Dimana saya bisa melakukan proses peminjaman tersebut?" Tanya Lelaki paruh baya itu.
"Oh. Kebetulan sekali, Pak. Saya akan membawa Bapak untuk bertemu dengan Tuan Kim. Dia adalah pengurus besar di koperasi ini. Mari!" Kata wanita itu dengan ramah.
"Terimakasih dik!" Jawab lelaki paruh baya tadi yang langsung mengikuti wanita itu dari belakang.
Kini, mereka telah tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun memiliki ruangan-ruangan kecil yang disekat-sekat.
"Selamat siang Tuan Kim!"
"Selamat siang. Ada apa?" Jawab lelaki paruh baya berkulit kuning langsat yang memiliki mata sipit dengan ramah.
"Saya membawa calon peminjam di koperasi ini. Apakah anda tidak sibuk?"
"Oh.., tidak. Tentu saja saya punya waktu luang untuk melayani calon peminjam. Bawa orangnya masuk!" Pinta Tuan Kim.
Tak lama kemudian, wanita tadi kini memasuki ruangan itu bersama dengan seorang lelaki yang juga paruh baya, sambil menenteng keresek plastik yang berisi lembaran-lembaran kertas.
"Selamat siang. Maaf, dengan Bapak siapa?" Tanya Tuan Kim sambil bangkit berdiri.
"Nama saya Madun bin Abdul Qodir. Saya adalah putra daerah di kampung Kuala Nipah ini," jawab lelaki paruh baya tadi memperkenalkan dirinya.
"Oh. Hahaha. Senang bertemu dengan anda, Pak Madun. Silahkan duduk!" Kata Tuan Kim sambil membuat gestur mempersilahkan.
Kedua lelaki itu kini duduk saling berhadapan dengan meja kerja Tuan Lim sebagai pembatasnya.
"Apakah Bapak Madun ingin melakukan pinjaman di koperasi yang saya pimpin ini?
"Benar, Tuan Kim. Dan ini adalah syarat-syarat yang diperlukan. Fotokopi KTP, Fotokopi surat tanah, dan lain sebagainya!" Jawab Pak Madun sembari menyodorkan kantong plastik yang dia bawa tadi.
Setelah memperhatikan kesemua berkas yang dibawa oleh Pak Madun tadi, Tuan Kim pun menganggukkan kepalanya.
"Begini, Pak Madun. Sebelum melakukan pinjaman, harap anda fahami terlebih dahulu peraturan yang telah ditetapkan oleh koperasi kami. Bahwa, setiap pinjaman akan dikenakan bunga sebesar 7,5% sebagai biaya untuk berbagai keperluan administrasi. Oleh karena koperasi kami berafiliasi dengan bank central di Hongkong, maka, beberapa hal akan berlaku sesuai dengan peraturan Bank. Bunga sebesar 7,5% bisa saja membengkak apabila Bapak tidak dapat melakukan pembayaran selama 3 bulan berturut-turut, dan akan mencapai 15% jika tidak membayar selama 6 bulan berturut-turut. Selebihnya, kami akan menyita agunan yang Bapak serahkan sebagai jaminan. Andai tidak mencukupi, maka kami akan menempuh jalur hukum. Kemungkinan Bapak bisa terjerat hukum!"
"Saya rasa, semuanya sudah jelas. Sebelum Bapak melakukan pinjaman, ada baiknya bapak berfikir terlebih dahulu. Setelah itu, andai keputusan bapak sudah bulat, maka bapak bisa menyebutkan berapa jumlah yang ingin Bapak pinjam. Dan bapak bisa menandatangani surat-surat perjanjian dengan kami!"
Pak Madun termenung sejenak. Tapi, dia sangat optimis bahwa usaha yang akan dia buka nanti pasti bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Oleh karena itu, dia langsung mengatakan bahwa dia tetap akan melakukan transaksi pinjaman.
"Saya sudah mantap untuk tetap melakukan permohonan pinjaman tersebut!" Tegas pak Madun.
"Apakah bapak sudah menentukan berapa nominal yang ingin anda pinjam?" Tanya Tuan Kim.
"Saya ingin mengajukan pinjaman sebesar Rp 500 juta!"
Tuan Kim tersebut dan mengangguk, lalu berkata. "Baiklah Pak. Sekarang, anda bisa menandatangani surat ini. Baca terlebih dahulu sebelum membubuhkan tanda tangan!" Kata Tuan Kim sambil menyodorkan dua lembar kertas bermaterai.
Pak Madun membaca sekilas, lalu segera membubuhkan tanda tangannya di kertas tersebut.
"Hallo Tuan Kim!"
"Hallo Tuan Liem Guan. Saya membutuhkan Uang tunai sebesar Rp 500 juta. Anda bisa mengantarkannya segera ke koperasi simpan pinjam Kuala Nipah!"
"Segera!" Jawab orang di seberang sana singkat sebelum mengakhiri panggilan.
"Maaf, Pak Madun. Apakah tidak apa-apa jika anda menunggu sebentar?"
"Oh. Tidak apa-apa. Tentu saja tidak apa-apa!"
"Baiklah. Untuk menunggu uang tersebut diantar, kita bisa duduk sejenak. Saya ada membawa teh terbaik dari Hongkong! Mari!" Ajak Tuan Kim sambil mempersilahkan Pak Madun menuju ke ruangan lain.
"Silahkan Pak!"
Mereka lalu duduk di kursi santai sambil mengobrol tentang pekerjaan Pak Madun, dan rencana membangun usaha yang nantinya hasilnya juga akan disetor ke koperasi ini juga.
Tuan Kim hanya tersenyum saja mendengar rencana jangka panjang yang dituturkan oleh Pak Madun.
Satu jam berselang, kini dari arah depan berhenti satu unit mobil Nissan Maxima tepat di depan pintu kantor koperasi tersebut.
Dari dalam, keluar seorang lelaki berbadan gendut, berkulit sama dengan warna kulit yang dimiliki oleh Tuan Kim, dan juga bermata sipit.
Di tangan lelaki tadi, tampak sebuah tas yang berukuran lumayan besar.
Tiba di depan Tuan Kim, mereka segera berpelukan sejenak sebelum menyalami Pak Madun.
Tuan Kim yang segera mengambil tas tadi dari tangan lelaki itu langsung menarik resleting tas tersebut dan menumpahkan isi dari tas tadi di atas meja.
"Maaf Pak Madun.., silahkan anda hitung sendiri!"
Pak Madun terbelalak melihat uang sebanyak itu. Sebagai seorang nelayan yang saban hari hanya berkutat di laut, dia sama sekali belum pernah melihat uang bertumpuk dihadapannya.
Dengan sigap, dia segera menghitung seikat demi seikat uang tadi yang langsung dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
"Bagaimana pak? Apakah uang nya kurang?" Tanya Tuan Kim.
"Tidak. Sama sekali tidak kurang!" Jawab Pak Madun.
"Baiklah. Pembayaran pertama di mulai dari bulan depan. Saya doakan semoga usaha anda lancar. Dan jangan lupa untuk mengajak tetangga dan Jiran anda untuk melakukan pinjaman di koperasi ini,"
"Insyaallah!"
"Baiklah. Jika begitu, saya permisi dulu!" Kata Pak Madun.
Mereka pun akhirnya bersalaman sebelum meninggalkan ruangan tadi.
Kini pak Madun berjalan menuju sepedanya dan langsung mengikatkan tas tadi pada tempat duduk di belakang sepeda miliknya.
Dengan perasaan campur aduk, lelaki paruh baya itupun mengayuh sepedanya diikuti tatapan licik dari kedua orang berkulit kuning langsat bermata sipit itu.
"Semakin banyak yang meminjam, semakin baik. Kita akan menguasai kampung ini. Mereka akan menjadi budak kita, atau seluruh hartanya akan di sita. Kampung ini akan dijadikan tempat pabrik raksasa yang akan kita dirikan di atas tanah jarahan. Hahahaha!"
Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa rencana mereka untuk membodohi penduduk Kuala Nipah akan berjalan dengan mulus.
Bersambung...