Joe William

Joe William
Semua jadi kalang-kabut



Kriiiing!


Kriiiing!


Suara deringan telepon memenuhi ruangan di dalam Villa mewah di area bukit teratai.


Seorang pelayan wanita paruh baya tampak sedang tergopoh-gopoh menghampiri seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di sofa. Dia sepertinya juga baru saja melakukan panggilan telepon. Tapi, sepertinya tidak mendapat jawaban.


"Tuan besar. Telepon untuk anda," kata sang Pelayan.


"Hmmm. Terimakasih," jawab lelaki yang dipanggil Tuan besar tadi seraya menerima telepon tersebut.


"Hallo!" Sapa nya.


"Jerry. Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau begitu lamban sekali hah?! Anak mu sedang dalam bahaya, tapi kau sama sekali tidak bergerak. Ada apa dengan otak mu?" Maki si penelepon.


"Iy-iya, Ayah. Aku sedang mencoba menelepon anak itu. Tapi tidak di jawab,"


"Sudah tidak bisa di hubungi. Sekarang, siapkan jet pribadi yang tercepat! Berangkat sekarang juga ke Indonesia! Apa kau masih bisa bersantai ketika cucuku dalam bahaya?"


"Apa yang bisa membahayakan Joe, Ayah? Dia itu sudah di tempa untuk menjadi pebisnis, pemikir dan petarung. Ayah tidak perlu terlalu khawatir!" Kata Jerry berusaha menenangkan si penelepon.


"Kau?! Kalau aku di sana, sudah ku pukul kepala mu itu. Jika terjadi sesuatu terhadap Joe karena kelambanan mu, ingat ya Jerry! Ku bunuh kau!"


"Ba-ba-baik Ayah. Saat ini Kak Arslan sudah mempersiapkan segala sesuatunya. 15 menit lagi kami akan segera berangkat dari Starhill. Ayah bisa berangkat terlebih dahulu dari Metro City!"


"Hmmm. Sampai ketemu di Medan!"


Tut tut tut...!


Panggilan itu pun diputus oleh si penelepon.


Saat ini, Jerry William menghela nafas. Dia dapat merasakan bahwa anaknya pasti baik-baik saja. Naluri seorang ayah pasti dapat merasakan jika anaknya berada dalam bahaya. Apa lagi bahwa dia tau benar seperti apa kelakuan anaknya itu. Selain tengil, Joe juga sangat iseng.


Dia sangat ingat seperti apa Joe William mengerjai Tuan William King dengan permen karet, sampai-sampai orang tua itu harus mencukur rambut nya karena tidak bisa di sisir.


Dari Star housing pula, Ryan, Daniel, Riko dan Arslan sudah bersiap-siap menuju ke bandara Starhill. Semua anak-anak dari Dragon Empire yang mereka bawahi juga ikut bergerak melalui dua jalur. Jalur pertama adalah udara, dan jalur kedua adalah laut dengan tujuan, Kampung Kuala Nipah.


Di Metro City pula, sesepuh dari Dragon Empire yaitu, Drako, Regan dan Jeff pun sudah mulai menuju bandara internasional Metro City. Di sana, mereka ternyata sudah di tunggu oleh Tuan Syam, Leo, Herey, dan Black.


Berita yang menggoncang beberapa kota ini menyebabkan Talia dan Xenita tau bahwa Joe melanjutkan kuliahnya di Indonesia. Hal ini karena, Ivan dan Gerard Gordon juga ikut serta menemani rombongan Tuan Syam ke Indonesia.


*********


Sementara itu, orang-orang di kota Kemuning tidak kalah paniknya.


Terhitung sepuluh orang membawahi sekitar dua ratus orang mulai bergerak ke kota batu.


Mereka adalah Tigor, Andra, Ameng, Timbul, Monang, Ucok, Jabat, Sugeng, Thomas dan Roger.


Di langit kota batu, puluhan helikopter menderu-deru dari kota Kemuning.


Kejadian seperti ini sangat jarang terjadi.


Bagaimana mungkin ada latihan tentara saat ini. Dan pula, helikopter tersebut adalah helikopter komersial, bukan milik angkatan tentara.


Joe, yang melihat kejadian ini sudah merasakan mulas diperutnya. Dan, ini semua adalah karena ulahnya yang iseng.


Kali ini, penuturan dari Joe berhasil membuat pemuda itu tertawa terbahak-bahak.


Puas dengan tawanya, dia segera meminta maaf kepada Joe. Dan, raut wajahnya kembali ke raut semula. Yaitu, dingin tanpa ekspresi.


"Aku tau apa yang aku lakukan bisa membuat geger di kota batu ini. Tapi, bisakah kau menelepon Paman Tigor? Katakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja!"


"Baiklah. Sebentar! Aku akan menelepon Ayah ku," kata Namora yang mulai mengeluarkan ponselnya.


Sementara itu, Tigor dan rombongannya telah tiba di bukit batu.


Di sana, hampir seribu orang telah bersiaga di sekitar apartemen milik Joe.


Baru saja Tigor turun dari kendaraannya, ponselnya pun berdering.


"Namora? Ada apa anak ini?" Kata Tigor dalam hati. Dia pun segera mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Namora. Ada apa hasian?" Tanya Tigor kepada putra satu-satunya itu.


(Hasian \= kesayangan dalam bahasa Batak)


"Ayah. Apakah helikopter itu memang sengaja terbang dari kota Kemuning ke kota batu atas perintah dari Ayah? Aku lihat, helikopter itu adalah milik Tower Sole propier," tanya Namora.


"Benar, Hasian. Ada masalah dengan ketua kita. Dia telah melakukan panggilan darurat ke segenap ketua di Dragon Empire di seluruh cabang. Oleh karena itu, kami semua berkumpul dan berangkat ke kota batu ini. Bagaimana dengan mu? Mengapa kau tidak tau masalah ini? Kau kan satu kampus dengan Ketua kita,"


"Justru karena itu lah aku menelepon Ayah. Asal Ayah tau saja! Saat ini ketua kita baik-baik saja. Itu semua karena keisengan dia," terang Namora dengan senyum di kulum.


"Apa? Jadi..?"


"Ayah bicara saja langsung dengan orangnya!"


Namora langsung menyerahkan ponselnya kepada Joe William.


"Ini, Joe! Kau bicara saja sendiri dengan Ayah ku!" Kata Namora sembari menyodorkan ponselnya kepada Joe.


"Hallo, Paman!" Kata Joe memulai obrolan.


"Oh Tuhan. Sukur jika anda baik-baik saja. Sebenarnya ada apa? Mengapa anda melakukan panggilan darurat?" Tanya Tigor kepada Joe.


Joe pun menceritakan semuanya dari awal dia tidak bisa tidur, sampai kepada kalung lambang kepemimpinan Dragon Empire miliknya terhempas ke lantai.


"Bagaimana ini, Paman? Pasti Ayah ku dan semua orang di Starhill dan Metro City sudah berangkat," tanya Joe panik.


"Benar, Ketua. Ayah anda bahkan telah melacak lokasi keberadaan Mobil Lykan hypersport milik anda. Apakah anda tidak menggunakan mobil ke kampus? Ini karena, Ayah anda telah mengirim lokasi mobil anda kepada kami. Dan memang, lokasi tersebut adalah apartemen milik anda,"


"Ya sudah. Pasrah saja lah. Sudah jadi begini. Mungkin aku akan di hajar oleh mereka," kata Joe bernada lemas.


"Anda segera kembali. Kita akan berangkat sesegera mungkin ke kota Kemuning. Anda tidak tau seperti apa marahnya senior Drako kepada kami. Nyaris saja saya akan mendapat hukuman. Semua kalang-kabut karena anda. Begitu perintah turun, semua anak buah kita yang berada di kota batu berkumpul di bukit batu. Termasuk orang-orang yang menjaga anda dari kejauhan. Celakanya, mereka tidak melihat anda dan ponsel anda tersambung ketika dihubungi. Namun, tidak ada jawaban. Keadaan seperti ini membuat kami semua gagal berfikir dengan baik," kata Tigor. Ada nada plong ketika dia tau bahwa Joe baik-baik saja.


"Itu lah, Paman! Aku buru-buru ke kampus. Sampai-sampai ponselku pun tinggal di kamar. Aku juga ketakutan ketika tau bahwa yang aku lakukan adalah panggilan darurat. Bagaimana ini?"


"Jalani saja hukuman. Anda pasti mampu melewatinya!" Kata Tigor menjawab pertanyaan dari Joe dengan nada ejekan.


"Ya sudah. Aku pulang sekarang!" Kata Joe lalu mengakhiri panggilan.


Bersambung...