Joe William

Joe William
Mentraktir Aurelie



Tiga pasang muda-mudi bergerak santai sambil sesekali bercanda ria keluar dari Luxury Clubs sambil sesekali saling dorong dan sikut.


Mereka saat ini sedang menertawai salah satu dari mereka yang tampak kepayahan berjalan akibat terlalu kekenyangan. Siapa lagi jika bukan Sylash?!


"Tolong perlahan sedikit kalian jalannya! Nafas ku sesak," kata Sylash sambil memegangi pinggang celananya yang melorot.


Bagaimana tidak melorot? Dia sama sekali tidak mengancingkan celananya. Mungkin karena terlalu banyak makan, hingga celananya kini tidak muat lagi dan terpaksa harus membuka satu kancingnya.


"Makanya itu kau jangan terlalu serakah. Apa kau mau seperti yang pepatah bilang, 'Tikus mati di lumbung padi?' aku tentu saja tidak mau seperti itu," kata Joe sambil tertawa.


"Kau ya enak. Uang banyak, kehidupan senang, makan mu pasti tiap hari enak terus. Aku ini, seumur hidup ku jarang sekali makan-makanan yang enak. Makanya aku lupa daratan," kata Sylash membela diri.


"Hmmm. Kau tidak tau saja diriku dulunya seperti apa," kata Joe dalam hati.


"Joe. Bisakah kau saja yang menyetir, kita butuh seorang lelaki yang melindungi," kata Naomi mengajak Joe untuk menyetir di mobil yang dia bawa.


"Terima saja! Rejeki pantang di tolak. Kurang ajar itu namanya, kata orang tua," Tye mendorong pundak Joe dengan pundaknya.


"Mengapa tidak kau saja?" Kata Joe menggoda sahabatnya itu.


"Yang diberikan tawaran itu kamu, bukan aku," cibir Tye. Padahal, dalam hatinya mau sekali.


"Begini saja. Aku dengan Naomi, kau dengan Melissa Michael dan Sylash dengan Ruby. Kan seru," kata Joe.


"Apa kau mau melihat aku mendorong Ruby pakai Troli? Mana aku punya mobil?" Keluh Sylash.


Begitu mendengar kata-kata yang baru saja dikatakan oleh Sylash tadi, spontan batin Joe menjerit dengan kerasnya.


"Troliiiii....!" Kata Joe dalam hati.


"Heh. Aku sedang bicara dengan mu, Joe! Senyum-senyum seperti orang kurang waras,"


"Oh. Eh.., iya iya iya. Aku akan meminjam mobil orang itu. Kau tenang saja," kata Joe lalu segera menghampiri Eagle yang masih berada di dekat pintu. Dia tidak berani masuk sebelum Joe meninggalkan Luxury Clubs ini.


"Eagle, apakah ada mobil yang tidak terpakai? Mobil ku tinggal di Starhill. Nanti aku akan meminta supaya mobil ku dibawa kemari. Bolehkah aku meminjam mobil mu?" Tanya Joe seperti memelas.


"Dengan senang hati. Saya akan meminjamkan mobil saya kepada anda, Tuan muda," kata Eagle sambil tersenyum.


"Ambil tuh mobilnya! Ajak Ruby jalan-jalan!" Kata Joe kepada Sylash.


"Ini sistem perjodohan secara tidak langsung," kata Sylash merengut.


"Apa kau tidak suka dengan ku?" Tanya Ruby sewot.


"Hanya orang buta saja yang tidak menyukai mu," jawab Sylash buru-buru pergi ke arah Eagle.


"Weeee... Ferrari! Hahaha. Mimpi apa aku ya Tuhan..," kata Sylash sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Ayo buruan. Aku ingin membelikan Aurelie pakaian. Biar dia tidak merasa minder lagi ketika kuliah. Aku ingin dia membalas si Daren itu dua atau lima kali lipat dari yang dia terima. Si kurang ajar itu harus menerima balasannya," kata Joe lalu segera memasuki mobil karena sebelumnya dia telah membukakan pintu untuk Naomi terlebih dahulu.


Tiga unit mobil pun melaju santai menuju ke Quantum Jewelry.


*********


Seorang gadis yang cantik memiliki wajah teduh tampak seperti sedang gelisah berada di luar bangunan pusat perbelanjaan di Quantum Jewelry ini.


Gadis yang memakai gaun kuning sederhana dengan jahitan kasar dipinggiran pakaiannya. Namun gadis itu masih tetap kelihatan anggun dengan sebuah tas tangan yang tidak bermerek tergantung di pundak kiri nya.


Dari jauh, kini dia melihat satu unit mobil Ferrari, Satu unit mobil BMW dan satu lagi Mercedez tampak bergerak perlahan menuju area parkir dan berhenti di sana.


Begitu melihat siapa yang datang, gadis itu mendadak ceria dan langsung bergegas menuju area parkir.


"Hi kak Joe. Kak Tye, dan kalian semua!" Kata gadis itu menyapa dengan senyum yang sangat manis.


Kasihan juga Naomi melihat penampilan gadis cantik yang kecantikannya tertutupi oleh penampilannya itu.


Mereka lalu saling berpelukan dan mengobrol sebentar, sebelum akhirnya Joe mengajak mereka memasuki pusat perbelanjaan itu.


Di dalam, tampak manager dan staf seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Kau sudah makan, Rel?" Tanya Joe.


Dengan wajah malu-malu, gadis itu pun menjawab. "Belum kak. Nanti saja,"


"Ayo kita lihat-lihat ke sana itu! Sepertinya di sana ada banyak gaun yang bagus-bagus," kata Joe sambil menunjuk ke satu arah.


"Di situ memang bagus-bagus kak. Tapi, mungkin untuk membeli satu saja gaun di butik itu, memerlukan gaji empat atau lima bulan kak," tolak gadis itu secara halus.


"Hanya lihat-lihat saja. Aku juga belum tentu mau memakainya," kata Joe membuat Sylash nyaris berguling-guling menahan tawa.


Sementara itu, Aurelie juga mengernyitkan dahinya karena mungkin dia telat mikir maksud dari perkataan Joe tadi.


"Becanda model apa itu Joe?" Tanya Naomi.


"Hahaha. Entahlah. Menurut mu?"


"Tidak lucu!" Jawab gadis itu.


Mereka kembali tertawa membuat beberapa pengunjung memberi teguran kepada kelompok anak muda itu, barulah mereka diam.


"Ayo, Rel! Ini mungkin cocok untuk mu," kata Joe sambil menunjuk ke arah gaun berwarna biru.


Aurelie kini melihat kearah gaun tersebut dan melihat harganya di bagian dalam gaun itu.


"Haaaaaah... Oh my God. Ini tidak murah," batin gadis itu dalam hati sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Kau coba dulu! Siapa tau cocok," kata Joe sambil memanggil seorang gadis pramuniaga yang berada di tempat itu.


"Tolong bantu sahabat ku ini untuk memakai gaun ini!" Pinta Joe dengan sopan.


"Baiklah, Tuan m..,"


"Joe. Namaku Joe Iprit,"


"Oh., Eh. Iy-iya. Iya Joe Iprit," kata pramuniaga itu tergagap. Wajar dia tergagap. Ini karena, seluruh staf di sini sudah mengetahui bahwa Tuan muda mereka akan mengunjungi Quantum Jewelry ini. Dan tadi dia sempat melihat manager hampir saja membungkukkan badannya dihadapan pemuda bermasker itu.


"Apakah ini cantik, kak Joe?" Tanya Aurelie sambil berputar dihadapan Joe dengan maksud menunjukkan gaun yang dia pakai.


Baik itu Tye, Sylash dan Joe melongo melihat gadis itu. Jangankan mereka. Naomi, Jessica dan Ruby pun minder melihat kecantikan Aurelie.


"Ehem ehem ehem. Emmm. Lumayan," kata Joe acuh tak acuh. Padahal, hatinya nyaris rontok melihat gadis itu.


"Bungkus!" Kata Joe memberi perintah.


"Ha? Kakak serius?" Tanya Aurelie melongo.


"Ya!"


"Mulai besok, kau harus tampil seperti mahasiswi pada umumnya. Harus cantik, harus rapi, harus bergaya, dan penuh rasa percaya diri! Kau tidak akan bisa belajar dengan baik dan menjadi pintar ketika mental mu selalu anjlok. Ketika kau selalu merasa rendah diri dan selalu minder, belajar sepuluh tahun juga tidak ada gunanya. Karena, kepercayaan diri mu telah runtuh. oleh karena itu, jangan biarkan siapapun merendahkan mu!"


"Ingat, Aurelie! Kau harus membalas Daren itu!" Kata Joe sambil berbisik.


"Aku tidak berani kak. Bagaimanapun, aku hanya seorang wanita,"


"Kau cukup berpenampilan berbeda dari sebelumnya, maka dia akan menyembah di bawah telapak kaki mu. Di sini nanti kau akan membalasnya. Bila perlu, buat dia bunuh diri!" Kata Joe dengan senyum jahat pada wajahnya.


"Ayo di pilih lagi. Yang ini bagus untuk mu!" Kata Joe menunjuk ke arah boneka yang tampak sedang memperagakan pakaian model terkini.


"Mengapa kau begitu baik kepada ku kak?" Tanya Aurelie heran.


"Aku tidak memiliki saudara perempuan. Apa salahnya jika kau aku anggap seperti adik ku sendiri," kata Joe yang langsung memagari agar gadis itu tidak terbang terlalu tinggi.


"Oh. Iy-iya. Ta-tapi.., uang mu nanti habis,"


"Ayah ku baru saja menjual sapi. Kau tenang saja. Kemarin sapi ku ada yang sudah hamil dan ada yang baru melahirkan. Yang mandul sudah aku jual," kata Joe beralasan.


Bersambung...