
Joe yang baru saja meninggalkannya kampus tempat dia sarapan tadi.
Di jalan, dia sengaja berpisah dengan Tiara karena memang kelas mereka berbeda. Namun, baru saja Joe akan menaiki tangga untuk menuju ke kelasnya, tanpa sengaja dia berpapasan dengan anak-anak dari J7.
"Hei anak baru! Pukul berapa kelas mu di mulai?" Tanya Jaiz kepada Joe.
"Pukul delapan. Maaf bang. Ada apa?" Tanya Joe.
"Panggil aku dengan nama saja. Nama ku adalah Jaiz. Oh ya. Sekarang baru pukul 7-30 mengapa buru-buru? Ayo lah kita makan dulu. Kali ini, aku yang akan mentraktir dirimu. Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih atas keberanian mu kemarin menumpahkan kuah bakso di kepala Dhani anak Teladan tunas bangsa itu," ajak Jaiz.
"Ikut saja! Jika kau ingin agar kau tidak disepelekan oleh mahasiswa di sini, maka kau harus bergabung dengan kami! Tidak akan ada yang berani mengganggu dirimu ketika bersama dengan kami!" Kata Jericho mengajak Joe untuk kembali ke kantin bersama mereka.
"Baiklah!" Jawab Joe pasrah. Dia lalu mempersilahkan mereka mendahului, kemudian dia menyusul di belakang.
"Lihatlah! Anak-anak J7 sudah sampai! Ya ampun...! Cool sekali mereka. Tapi, mengapa anak culun itu berada bersama dengan mereka?" Tanya Mira merasa tidak senang dengan keberadaan Joe. Tadi saja dia kaget ketika Joe berani menghina sahabatnya yaitu Dewi dengan menanyakan berapa harga diri sahabatnya itu per kilogram.
"Duduk, Joe! Kau mau pesan apa, ya pesan saja!" Kata Jericho mempersilahkan.
"Hai sayang. Kalian sudah lama?" Baru saja Jericho duduk, tiba-tiba dari belakang dia sudah disamperin oleh seorang gadis yang lumayan imut.
"Tania. Aku baru saja tiba di sini. Oh ya. Silahkan duduk!" Jericho mempersilahkan gadis itu duduk.
Dari arah belakang, kini datang lagi lima orang gadis yang sama cantiknya kemudian mereka pun menghampiri anggota J7, kemudian mendekati pasangan mereka masing-masing.
Kini, hanya Joe seorang saja yang tidak memiliki pasangan. Hal ini menjadikan dirinya sebagai bahan olok-olok oleh mereka yang berada di kantin tersebut.
"Hei Joe! Kau harus lebih berani! Jangan terlalu cupu. Jika kau seperti ini terus, kapan kau bisa mempunyai pasangan?" Jufran kini menepuk pundak Joe dengan lembut.
"Benar Joe. Kau harus mengubah penampilan dirimu. Jika seperti itu terus, Dewi atau Mira tidak akan berkenan melihat mu!" Balas Jaiz pula.
"Hoeeek. Melihatnya saja aku ingin muntah!" Balas Dewi yang memang sudah sewot karena anak-anak J7 sudah didekati oleh mahasiswi lain.
"Hati-hati dengan hinaan mu. Kemakan cabe walaupun pedas masih mending daripada kemakan ucapan sendiri," kata Jufran memperingatkan.
"Lebih baik aku jomblo seumur hidup daripada harus dengan anak baru yang super duper cupu itu!" Maki Dewi lalu segera meninggalkan kantin tersebut.
Joe hanya tersenyum kecut sambil menundukkan kepalanya. Dia cukup merasa malu dengan penghinaan ini.
"Jika bukan karena sedang menyembunyikan identitas, sudah ku sumbat mulut betina ini," pikir Joe dalam hati.
"Sabar Joe. Makanya kau harus mengubah penampilan mu!"
"Terimakasih. Tapi aku juga tidak tertarik dengan gadis itu. Orang seperti itu tidak akan pernah tulus!" Kata Joe. Dia lalu bergegas ke kantin untuk membayar semua tagihan pagi itu.
"Tidak apa-apa! Lain kali kau yang mentraktir ku!" Jawab Joe sambil tersenyum. Dia segera membayar lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih duduk di kantin itu.
*********
Joe berjalan menelusuri koridor kampus tersebut menuju ke kelasnya.
Dia terpaksa buru-buru berjalan karena waktu hanya tinggal beberapa menit lagi untuk memulai kelas pagi ini.
Joe, yang tidak merasakan bahwa dia akan dijahili oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya segera mendorong pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Namun...,
Byur!
Kaget benar Joe ketika dia mendorong pintu, satu ember air jatuh dari atas pintu tersebut dan tepat mengguyur di atas kepalanya.
"Hahahaha..!"
Suara gelak tawa dari mereka yang berada di sana memenuhi ruangan kelas tersebut.
Joe sudah mulai akan hilang kesabarannya. Namun, dia berusaha keras untuk menahan hingga geraham nya berbunyi saking kesalnya.
"Lihatlah orang cupu itu! Persis seperti kucing kurap. Kasihan!"
"Hahaha. Hei. Mengapa kau hanya diam saja? Bersihkan kelas ini! Kau telah membuat lantai menjadi basah dan licin!" Tegur salah seorang dari mahasiswa. Namun mahasiswa tersebut segera diam begitu di belakang Joe tampak seorang lelaki paruh baya berdiri dengan beberapa buku berada di tangannya.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
"Eh. Dosen datang!" Kata mereka lalu mulai berhenti mengolok-olok ke arah Joe.
"Dan kau! Mengapa kau bisa basah seperti ini?" Tanya sang Dosen.
"Maaf pak. Saya tidak tau entah ulah siapa ini semua. Ketika saya mendorong pintu, tiba-tiba saja ember ini jatuh dan menimpa di atas kepala saya. Ternyata ember ini berisi air. Dan saya telah basah seperti yang bapak lihat!" Kata Joe menceritakan semuanya.
"Ayo mengaku kalian semua! Ini pekerjaan siapa?" Tanya sang Dosen. Namun, tidak satupun dari mereka yang menjawab.
"Kau Joe! Kau boleh mengganti pakaian mu!" Kata sang Dosen.
"Baik pak. Saya permisi!" Kata Joe lalu segera melangkah meninggalkan kelas tersebut.
Bersambung...