
"Rey. Aku ingin bicara dengan mu!" Bentak Daren yang sejak tadi memang menunggu Reynold melewati tempatnya duduk.
"Oh. Ada apa, Daren? Kau tampak sangat kusut sekali?" Tanya Reynold yang memang tidak mengetahui antara Daren dan Duff Clifford telah terjadi perkelahian.
"Aku hanya memberimu peringatan! Tolong jauhi Aurelie. Karena dia itu adalah pacar ku. Aku masih ingin memperbaiki hubungan kami. Harap kau jangan mengambil kesempatan dalam kekeruhan hubungan kami!" Kata Daren yang langsung saja pada intinya.
"Hei. Kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan?" Tanya Reynold sambil mendelikkan matanya.
"Apa ada yang aneh dengan kata-kata ku?" Tanya Daren mulai tersulut emosi.
"Kau ini bagaimana, Daren? Kemarin kau yang menghina gadis itu. Katamu dia tidak pantas lah untuk mu. Dia miskin lah, dia jelek lah, dia dekil dan bla bla bla. Sekarang, apakah kau akan menjilat ludah mu sendiri?" Tanya Reynold yang tidak kalah sinis nya.
"Aku tidak ingin membahas itu dengan mu. Hanya akan membuang-buang waktu saja. Yang aku inginkan, kau mengalah demi sahabat. Aku masih ingin memperbaiki hubungan kami," kata Daren mencoba membujuk.
"Daren. Kau itu laki-laki. Aku juga laki-laki. Saat ini Aurelie tidak ada yang punya. Kau telah mengakhiri hubungan kalian. Bukan hanya aku yang mendengar dan melihat. Ketika itu ada Duff, Dilon, Bernard dan aku. Jadi, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Jika kau ingin, merangkak lah kembali dari nol dan mari kita bersaing secara jantan!"
Merah padam wajah Daren menahan emosi.
Dalam hatinya dia berkata, "begini kah yang dinamakan sahabat? Sedikitpun tidak mau mengalah ketika melihat kening licin? Padahal dulu, tidak satupun yang memperdulikan kehadiran Aurelie ini,"
"Begini cara mu bersahabat, Rey?"
"Apa maksud mu, Daren? Please jangan tunjukkan tampang memelas seperti itu dihadapan ku! Kemana kesombongan seorang Daren yang beberapa hari lalu sungguh sangat bangga menghina gadis itu? Hampir saja dia bunuh diri karena ulah mu. Sekarang, kau mengemis di depan ku seolah-olah yang empunya diri adalah aku. Jika kau mau, jangan kepada ku. Pergi datangi Aurelie dan segera tanyakan kepadanya apakah dia mau berbaikan dengan mu atau tidak?! Malu aku memiliki seorang teman seperti ini," kata Reynold lalu segera meninggalkan Daren dengan wajah penuh keputusasaan.
Dengan langkah gontai dan serba acak-acakan, Daren akhirnya berjalan menuju lift untuk naik ke lantai tiga tempat Aurelie sedang menjalani pelajaran di kelasnya.
Dia menduga, pasti kelas Aurelie sudah berakhir.
Dengan menetapkan hatinya, dia pun melangkah terburu-buru keluar dari lift tersebut. Dan...,
Alangkah terkejutnya Daren begitu melihat kini Duff sedang berdiri sambil bercanda ria dengan Aurelie.
"Rel. Apakah kau jadi pergi menonton dengan sahabat ku, Rey itu?" Tanya Duff yang sama sekali mengabaikan keberadaan Daren.
Duff sebenarnya tau saat ini Daren sedang menguping. Namun, dia semakin menjadi-jadi candanya dengan maksud membuat Daren panas hati.
"Kan aku sudah berjanji dengan Reynold bahwa kami akan pergi menonton film baru sore ini. Aku mana bisa membatalkan begitu saja, Kak," kata Aurelie menjawab pertanyaan Duff Clifford tadi.
"Hmmm. Aku terlambat. Padahal, aku ingin mengajak mu jalan-jalan sore ini. Aku tau kalau kau tidak pernah duduk di kursi penumpang di dalam mobil Lamborghini Gallardo milik ku kan?" Tanya Duff.
"Benar kak. Waaaah.., aku sangat ingin sekali masuk ke dalam mobil sport Lamborghini itu. Tapi kak..,"
"Tapi apa?" Tanya Duff dengan mimik wajah sedikit lebih serius.
"Aku takut dengan Kak Naomi. Nanti, dia akan mengira bahwa aku merebut tunangannya," kata Aurelie pula berlagak tidak tau apa yang telah terjadi diantara mereka.
Geram sungguh hati Duff ketika nama Naomi di sebut oleh Aurelie.
"Naomi itu? Huh. Dia itu sama seperti karet. Menempel di sana, nempel di sini. Sebentar dengan Joe, sebentar dengan Sylash, lalu dengan aku. Iiih..., Aku takut dengan jenis wanita seperti itu," kata Duff bergidik.
"Iya kak. Tapi tetap saja aku takut. Sebenarnya, apakah hubungan kakak dan Naomi itu masih berlanjut atau tidak?" Tanya Aurelie.
"Tidak. Aku tidak ingin dengan wanita murahan seperti itu. Lihat saja beberapa hari ini! Ayah ku pasti akan membuat urusan dengan Ayahnya Naomi itu. Biar dia tau rasa bagaimana rasanya bangkrut dan menjadi pengemis di kaki lima," kata Duff dengan geram.
"Ok. Sekarang aku tau rencana mu," kata Aurelie dalam hati.
"Memangnya, apa yang akan ayah kakak lakukan terhadap keluarga Naomi?" Tanya Aurelie berusaha memancing untuk mengetahui semua yang akan dilakukan oleh Tuan Clifford terhadap keluarga Johnson.
"Wah. Celaka. Berarti ayahnya Naomi sudah di jebak. Siapa yang bisa menolong keluarga Naomi untuk melunasi hutang tersebut? Kak Joe tidak mungkin bisa membantu. Kemungkinan sapi miliknya akan habis di jual untuk membantu keluarga Naomi," kata Aurelie dalam hati.
"Rel. Ayo kita turun! Kakak akan mentraktir mu sesuatu," ajak Duff sambil menggandeng tangan gadis itu.
"Rel. Aku ingin bicara dengan mu!"
Belum lagi mereka jauh berjalan, tiba-tiba satu suara dari samping menghentikan langkah mereka.
Aurelie dan Duff berpaling ke arah datangnya suara tadi, dan di situ dia melihat bahwa Daren telah berdiri dengan tatapan sayu seolah-olah sedang berharap agar Aurelie bisa kembali lagi dengannya.
"Apa lagi yang perlu kita bicarakan?" Tanya Aurelie acuh tak acuh.
"Tolonglah, Rel! Aku ingin bicara dengan mu!" Kata Daren memelas.
"Bicara lah! Aku akan mendengar!" Kata Aurelie mempersilahkan.
"Aku ingin bicara empat mata dengan mu. Tolonglah!" Kata Daren memohon. Lagaknya kini bagaikan seorang pengemis saja.
"Tidak mau. Jika ingin bicara, bicara saja di sini. Jika tidak, aku akan pergi,"
"Sudah lah Rel! Jangan digubris. Ayo kita turun!" Ajak Duff lalu menarik tangan Aurelie agar meninggalkan tempat mereka berdiri itu.
"Rel..!"
"Bangsat kau Duff. Kau dan Rey sama saja. Sialan kalian berdua!" Kata Daren berteriak.
"Bicara apa kau hah? Apakah kau bosan hidup?" Tanya Duff.
"Ya. Memang aku sudah bosan. Tapi, kebosanan ku ini adalah karena kau. Melihat wajah pengkhianat mu itu, aku jadi pingin muntah,"
"Sialan kau!"
Plak!
Bugh!
Perkelahian diantara mereka berdua pun terjadi.
Aurelie, gadis yang dulunya sama sekali tidak dianggap itu hanya tersenyum saja melihat pergelutan kedua pemuda itu.
"Kalian berdua ini benar-benar sialan. Ternyata tidak sulit untuk membalaskan sakit hatiku," kata Aurelie dalam hati.
Aurelie terus saja berdiri melihat kedua orang itu saling bergulingan di lantai.
Baju kedua pemuda itu kini sudah tidak karuan bentuk. Kotor bahkan sobek di beberapa bagian.
"Kau akan menyesal, Daren. Kau telah membuka silang sengketa dengan ku. Tunggu lah saatnya!" Ancam Duff sambil merapikan pakaiannya dan berjalan sambil menarik tangan Aurelie meninggalkan Daren yang saat ini sedang bersandar di dinding kelas.
"Aureeeelie! Huhuhu...,"
Daren kini seperti orang yang benar-benar kurang waras.
Bukan hanya kehilangan Aurelie, dia juga telah kehilangan sahabatnya. Rasa sakit akibat ego benar-benar membuatnya patah arang.
Bersambung...