Joe William

Joe William
Pertemuan di restoran Samporna



Restoran Samporna


Menjelang sore, tidak seperti biasanya restoran Samporna yang dulunya ramai dikunjungi oleh orang-orang kelas atas, kini kembali ramai.


Memang, semenjak kejadian sekitar dua puluh tahun yang lalu, baik restoran maupun pusat hiburan Dunia gemerlap malam seperti hidup segan mati tak mau. Itu semua terjadi karena berbagai rangkaian peristiwa.


Tapi sore ini tampaknya restoran elite ini sudah akan mulai beroperasi lagi secara normal. Setidaknya, begitulah pandangan dan penilaian orang-orang yang melihat.


Ramai yang tidak mengira bahwa ada banyak unit kendaraan roda empat di restoran tersebut bukanlah karena restoran itu telah beroperasi secara penuh, melainkan adalah, adanya pertemuan diantara beberapa ketua dari bekas geng-geng yang telah bubar. Tujuan mereka melakukan pertemuan kali ini adalah untuk membentuk aliansi. Ini karena, Marven yang merupakan ketua dari geng kucing hitam, menantu dari Togar adik Birong, dan bersahabat dengan Jordan telah bebas dari penjara.


Bukan rahasia lagi bahwa kehancuran geng Jordan di kota Kemuning, kehancuran geng tengkorak di kota batu, dan kehancuran geng kucing hitam di Tasik Putri adalah karena ulah Tigor. Setidaknya, begitulah pandangan mereka. Jadi, begitu Marven bebas dari penjara, kini harapan mereka untuk membalas dendam terhadap Tigor kembali menyala.


Sehari setelah kebebasan Marven, mereka pun sangat antusias dan mengelu-elukan lelaki paruh baya itu untuk membentuk kembali kekuatan. Terlebih lagi, mereka kini mengetahui siapa orang yang berada di balik layar yang akan menginvestasikan sumber daya kepada Marven. Oleh karena itulah mengapa harapan baru timbul di hati mereka.


Terhitung lebih dari lima puluh orang delegasi dari kelompok-kelompok kecil telah berkumpul dan siap meleburkan diri menjadi satu di bawah kepemimpinan Marven. Diantara mereka yang paling berpengaruh adalah Panjol, Ganjang, dan Mokmok.


Jika Panjol menguasai sebagian kecil area di kota batu ini, maka Ganjang juga memiliki beberapa bisnis di Tikungan Pitu. Sementara Mokmok adalah seorang kontraktor yang mempekerjakan semua anggota gengnya di bawah kepemimpinannya sendiri.


Kini, di ruangan besar nan luas yang dulunya hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang tertentu, penuh sesak oleh perwakilan dari kumpulan-kumpulan kepala preman dan Gengster.


Mereka dengan sabar menunggu kedatangan orang yang sangat penting bagi mereka.


Tidak sampai 30 menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba juga. Dia adalah Marven yang tampak lebih rapi dari sebelumnya. Di sisi kirinya ada Butet, di sisi kanannya ada Irfan. Sementara beberapa orang yang berjalan dibelakangnya antara lain adalah Bruno dan Douglas. Kedua orang ini adalah utusan dari MegaTown dulunya sebelum keluarga Miller terusir secara paksa dan terhina dari kota itu untuk kembali ke Hongkong.


"Duduk! Duduk! Duduk!" Kata Marven yang melihat semua orang akan bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya.


Mereka semua akhirnya menurut saja tanpa ada yang berdiri.


Ketika Marven tiba di kursi miliknya, dia tidak segera duduk. Melainkan menatap satu persatu mereka yang hadir di ruangan itu.


"Apa lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan atas rasa semangat dan solidaritas yang kalian tunjukkan? Ucapan terimakasih juga terasa tidak cukup. Aku sangat bangga dengan kalian semua. Ternyata, selama dua puluh tahun ini, kalian sanggup menungguku terbebas dari penjara. Salut untuk kalian semua!" Kata Marven sambil tersenyum diikuti tepuk tangan dari semua orang.


"Mister Bruno dan Mister Douglas. Silahkan duduk dan bentangkan segala rencana kerjasama yang diinginkan oleh majikan anda. Biar semuanya jelas tanpa ada yang ditutup-tutupi!" Kata Marven lagi mempersilahkan.


Mungkin sudah banyak yang mengenal kami berdua diantara semua orang yang hadir ini. Tidak mengapa. Saya akan kembali memperkenalkan diri. Nama saya adalah Bruno Chang. Dan sahabat saya ini adalah Douglas Fernandez.


Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kami telah berada di sini selama dua tahun. Dan kami berdua sering bolak-balik antara MegaTown-Tasik Putri, dan Hongkong ke Tasik Putri setelah perusahaan kami difitnah dan terpaksa terusir oleh Future of Company. Tujuan majikan kami sebenarnya adalah, ingin mengajak kalian semua terutama Tuan Marven untuk melakukan kesepakatan kerja sama yang saling menguntungkan. Di sisi lain, kita juga bisa berkoalisi dalam memerangi musuh yang sama. Karena, jujur saja. Dengan bantuan dari Future of Company dan Tower Sole propier, mustahil kalian semua yang berada di sini mampu membalas kekalahan kalian terhadap Tigor. Oleh karena itu, kita memiliki musuh yang sama. Tapi, semuanya akan kami serahkan kepada Tuan Marven untuk memutuskan!" Kata Bruno dengan cara bicara se-diplomatis mungkin.


"Bagaimana menurut kalian semua?" Tanya Marven sekedar ingin mengetahui tanggapan atas tawaran kerjasama tersebut.


Bisik-bisik kini terjadi diantara mereka atas pertanyaan dari Marven tadi.


Setelah beberapa saat lamanya, mereka pun akhirnya dengan sebulat suara menganjurkan kepada Marven untuk menerima tawaran kesepakatan kerjasama tersebut. Terlebih lagi Irfan yang begitu getol mendesak Abang tirinya itu untuk menyetujui kerjasama tersebut.


"Sebelumnya, kami atas beberapa saran dari Abang telah mendirikan beberapa pusat perjudian. Setelah itu, beberapa proposal untuk membangun pabrik pun telah diluluskan oleh pemerintah daerah. Hanya tinggal kata 'IYA' saja dari Abang, maka kesepakatan ini sah secara hukum antara kedua belah pihak!" Kata Irfan meyakinkan.


"Tuan Marven.., jika anda setuju, maka dalam seminggu ini, majikan kami yaitu Tuan besar Honor Miller beserta jajarannya akan tiba di kota Tasik Putri ini bagi membahas segala sesuatunya. Jika kata sepakat telah tercapai, tidak mustahil sejumlah dana segar akan segera dikucurkan ke dalam perusahaan Martin Group. Dengan dana tersebut, maka anda bisa kembali menjalankan perusahaan sebagai CEO dan berhak atas saham di perusahaan sebesar 40%. Sisanya, 60% saham yang berada di dalam perusahaan akan dimiliki oleh Tuan besar kami. Dengan begitu, Martin Group akan berada di bawah naungan Arold Holding Company. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan, Tuan. Jika itu Arold Holding Company, maka dapat dipastikan bahwa Martin Group akan segera berkembang pesat. Bahkan mungkin bisa menembus pasar Asia!" Sekali lagi Bruno mengumbar kata-kata manisnya.


"40% saham itu tidak sedikit bang. Apa lah arti perusahaan yang sudah lama gulung tikar itu. Terima saja bang! Ini kesempatan bagi kita untuk menyusun kekuatan guna membalas si Tigor itu!" Kata Irfan yang tidak bosan-bosannya meyakinkan Marven.


"Baik. Untuk saat ini, aku dapat memahami maksud dan tujuan dari kerjasama ini. Anda bisa mengabarkan kepada majikan anda bahwa saya bisa saja menyetujui kerjasama ini. Untuk selanjutnya, maka biarkan itu menjadi urusan ku dengan majikan mu!" Kata Marven.


"Baiklah, Tuan Marven yang terhormat. Jika begitu, saya akan segera menyampaikan kepada Tuan besar kami. Dan, ini ada sedikit hadiah dari majikan kami bagi menyambut kebebasan anda," kata Bruno sambil menyerahkan koper yang dia bawa, beserta koper yang berada di tangan Douglas.


Ketika koper tadi di buka, maka semua mata yang berada di tempat itu terbelalak. Bagaimana tidak terbelalak, di dalam koper itu ternyata isinya adalah uang semua dengan pecahan seratus USD.


"Di masing-masing koper ini ada uang sebanyak 500 ribu. Total ada satu juta Dollar. Ini hanya sedikit dari hati majikan kami kepada anda, Tuan. Harap anda sudi menerimanya!" Kata Bruno sambil mendorong koper tadi tepat di hadapan Marven.


"Hmmm. Saya sangat menghargai niat dan kebaikan hati majikan Anda. Baiklah, pertemuan ini kita tutup sampai di sini. Dan selanjutnya, saya akan mengadakan pesta di Komplek elit. Semua orang diundang untuk hadir!" Kata Marven yang tampak seperti sedang berusaha bersikap wajar ketika berhadapan dengan uang tunai satu juta Dollar tadi.


Setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai meninggalkan VIP box di restoran Samporna dan kini langsung berangkat menuju kompleks elite Tasik Putri untuk mengadakan pesta bagi kebebasan Marven dari penjara.


Bersambung...